Rabu, 20 Juli 2016

Luka Langit

Lihat lihat kilat menyambar
Langit seperti tersakiti
Tapi tak perduli kilat tetap menyambar

Saat ini badai katanya
Dan kilat tetap menyambar
Walau langit tersakiti

Kilat terus menyambar
Seperti memecut langit
Hujan seperti air mata sang langit

Langit membalas murka
Memanggil sang matahari
Berharap terangnya hempaskan badai

Percuma sudah meminta
Kilat menambah murka
Makin merajalela

Selama badai ada
Kilat tak akan berhenti
Terus membelah langit

Hingga langit pun pasrah
Mereda tenang berisak tangis
Melemah karena lelah hingga terengah

Badai pun sirna
Langit terlihat tenang
Walau bumi basah akan air mata langit

Langit terdiam
Tak ada awan maupun angin
Hanya biru membentang

Secuil awan muncul
Membawa maaf dari sang kilat
Walau sudah tenang langit terdiam

Kilat berkata
Bersabar lah nanti jika badai tiba
Tak ada yang bisa hentikan diri ku

Langit semakin terdiam
Seakan tahu dirinya tak bisa tenang
Karena awan hitam kembali lagi datang

Minggu, 17 Juli 2016

Hilang

Angin datang bawa hujan
Matahari pergi sambil terdiam
Di balik awan Ia menghilang

Sesekali tampak
Walau hanya sinarnya
Menyeruak sedikit di sela sela awan hitam

Angin kembali lagi datang
Bawa ribuan awan
Menghitam tampak kelam

Tak ayal gemuruh guntur berteriak
Cahaya kilat seperti menyilet langit
Membelah asa untuk lihat mentari kembali

Hujan semakin lebat
Jatuh air nya membuat hilang semua sepi
Bukan menenangkan tapi menakutkan

Hanya cahaya kilat yang menerangi
Hanya sekilas tak terasa
Tak membuat hangat hati ini jua

Angin kembali lagi datang
Menambah dingin saat malam
Walau tak jelas ini malam ataupun siang

Mungkin nanti

Matahari tak lagi datang