Terlalu pagi untuk datang kesini
Ayam pun belum terbangun disini
Masih banyak ruang kosong
Pojok yang terang menjadi pilihan
Habiskan sisa halaman yang ada
Terlintas cahaya berganti warna
Layar putih terbentang di bawahnya
Pengatur suara pun terlihat disampingnya
Sepertinya akan ramai pada saat bulan terbangun
Perlahan satu persatu datang
Kosong pun jadi isi
Suara sedikit riuh
Tetapi tetap khusuk dipojok terang ini
Segelas air berwarna hijau hampir habis
Sepotong roti telah habis dimakan
Dan semoga malam tidak cepat datang
Kamis, 31 Desember 2015
Ceracau Malam Dunia Nyata
Rabu, 30 Desember 2015
Malam
Malam memeluk ku kembali
Datang lagi di hidup ku
Memasuki lagi bagian kepalaku
Malam kembali menemani ku
Kembali mencekam di kepalaku
Membisikkan ketenangan abadi
Untuk selalu berada di dalam malam
Malam datang lagi memegang erat nadi ku
Mengencangkan jaringan otak ku
Buatku terjaga dalam malam
Kuras cemas dalam hidup ku lagi
Malam kini sama lagi
Sama sewaktu aku menjadi matahari
Yang selalu merindu bulan
Kini tidak ku rindu bulan
Kini tidak lagi ku matahari
Tapi malam ini sama
Ketika kini aku merindu kereta
Ketika kini aku menjadi batang rel kereta
Malam kini datang dengan lembut
Lembut berkata tinggalkan semua
Dan bersatu dengannya
Selasa, 29 Desember 2015
Tenang basah
Tenang selalu ada sebelum badai tiba
Menunggu tenang dengan sedikit angin bertiup
Perlahan gejolak meningkat
Angin berhembus kencang
Kilat saling bercerita
Dentum dentum guntur bersautan
Hujan datang sebagai bintang utama
Membahasi semua dataran yang ada
Ramai bagai pesta akhir tahun
Dan mereka pun lelah
Kilat hanya sekali menampakan wajahnya
Guntur lelah berdentuman
Angin pun mulai berlarut pergi
Sang bintang tamu pun undur diri
Mulai menurunkan gejolak yang tadi ada
Perlahan semua mulai kembali
Suasana kembali tenang
Tenang sesudah badai
Minggu, 27 Desember 2015
Kabar ditunggu
Rima irama melantun dari nada
Cerita cinta sedih dilantunkan
Perlahan mengayun mata menjadi sayu
Mata memudar menjadi gelap
Kepala ini masih berat memikirkannya
Satu bunyi ditunggu dari kotak komunikasi
Berharap kabar darinya
Biarkan saja tidak usah ditunggu
Biar tenang degup jantungku
Sabtu, 26 Desember 2015
Kutunggu malam
Larut malam kini kutunggu
Bukan untuk tidur tapi menunggu
Setiap malam dia selalu ku ganggu
Tidurnya ku ganggu
Larut malam selalu kutunggu
Kadang secangkir kopi membantu
Kadang juga menjadi segar karena rindu
Sosoknya tidak boleh kutunggu
Karena keputusannya tidak bisa diganggu
Aku kini bersikap lugu
Menunggu habis ceritamu
Kita menjauh tapi pesanmu selalu kutunggu
Kadang pula menunggu sampai sayu
Atau mendengarkan lagu yang tentu darimu
Kini larut malam kutunggu
Biarkan saja mata ini sayu
Suaramu kudengar tak pernah jemu
Sampai nanti sampai habis ceritamu
Nikmati yang jauh
Jauh atau dekat selalu jadi masalah
Menikmati suasana selalu jadi masalah
Dimana kita berada tak akan sama
Dekat ku berteman, seakan jauh aku terasa
Walau jauh kau disana, dekat ku terasa
Jumat, 25 Desember 2015
Dua puluh tujuh
Dua puluh tujuh tahun
Dan selama hampir 20 tahun ini
Jiwa ini tidak bisa keluar
Kehilangan masa bahagia
Terkungkung dalam gelap wujud orang dewasa
Jiwa ini yang selalu ingin dikenal
Selalu ingin diajak bicara
Andai jika tubuh ini mempunyai pintu
Sekecil pintu itu
Mungkin kesadaran ku yang sekarang
Akan masuk untuk menemani jiwa itu
Selama ini, bukan aku yang butuh
Jiwa ini lah yang selalu merongrong ku
Andai tubuh ini tidak menjadi dewasa
Andai aku tetap menjadi anak 7 tahun itu
Aku akan berkata kepada merek semua
"Bawa aku pergi
Perlihatkan dunia kepadaku
Perkenalkan aku kepada semua orang
Biarkan aku mengutarakan semua
Biarkan aku berpidato, layaknya seorang pemimpin
Buang aku ke hutan, gunung, pantai dan laut
Ijinkan aku untuk pergi ke desa terpencil dan kota terbesar se dunia
Lepaskan aku,
Biar kan aku punya luka di tubuh ini
Biar aku merasa bebas
Biar aku bisa menyesuaikan sesuai dengan tubuh yang aku tumpangi ini
Karena tubuh ini mungkin akan membesar, terlihat dewasa, dan bertanggung jawab nanti nya
Bertanggung jawab atas semua yang ia pikirkan dan ia lakukan"
Sekarang
Jiwa ini masih berumur 7 tahun
Andai bisa aku buka pintu untuknya
Untuk dia bebas keluar mewujudkan mimpinya
Kenapa
Lumbung sudah terisi penuh
Sumur tak pernah kering
Kenapa ini selalu terjadi
Sepi disini seakan abadi
Kutemukan rasanya pendamping abadi
Tapi entah dia terus menampik
Kulihat langit berganti awan
Tapi tak pernah langit itu terganti
Mungkin doa orang yang datang menghantui
Belenggu kaki ini karena aku menebar benci
Jika malam silih berganti
Kenapa pagi selalu sepi
Kering nya pohon saat kemarau
Tapi tak mati karena membuang daunnya
Kenapa harus aku tak pernah pasti
Walau sekarang aku merasa menemukan hidup aku kembali
Sendiri dalam terang
Kulingkari hari dengan hati yang telah mati
Berjalan terus dengan langkah yang tak lagi pasti
Hidup ini selalu kunikmati dengan kata "tapi"
Selalu menyangkal setiap kesempatan dengan mantap
Memusnahkan orang yang disayang dengan membuang kepercayaan
Karena merasa hari nanti sudah mati
Kulihat kembang di pasar yang sudah layu
Tetap dijual dengan harga yang tinggi
Kulihat diri ini yang selalu sendu
Selalu sendu karena selalu merindu
Merindu akan kebahagiaan yang tak pernah dirasa
Dan tetap lebih rendah dari bunga yang layu itu
Teman dekat dijauh kan
Mencari lagi yang baru untuk segera dijauhkan lagi
Berulang dan berulang seperti rekaman yang rusak
Matahari telah tinggi
Mata ini harus nya tidak lagi mendulang air mata
Harus nya gelap lah yang menjadi saksi
Kini tak lagi kenal gelap ataupun terang
Sendiri kini menghantui setiap detik
Rusak bisa dibetulkan
Tetapi hancur
Hanya bisa dihidupkan kembali
Entah dengan apa
Semua bicara tentang agama
Agama yang selalu bisa menghidupkan apa saja
Kecuali nyawa
Ilmu jiwa yang bisa membetulkan pikiran apakah bisa menghidupkan?
Menghidupkan yang hancur?
Atau sekedar mengumpulkan yang ada? Dan menguburnya dalam dalam
Kemudian diganti dengan pikiran yang terbuat dari plastik
Yang sama dengan yang lain
Yang mungkin berlabel "made in china"
Sepi ini siapa yang akan buat gaduh?
Sendiri ini siapa yang akan buat ramai?
Jika jiwa dan pikiran ini selalu membuat gedung gedung tinggi
Selalu membuat dinding dinding yang tebal
Untuk mengurung si anak kecil yang brengsek itu
Siapa yang bisa meruntuhkan semua itu dan membuang jauh si anak kecil itu !?
Jauhkan dia dari saya!
Mugkin saya akan menjadi abu abu
Atau menjadi tak berwarna
Atau mungkin sama dengan yang lainnya
Tolong lah aku tuan dan nyonya
Beritahu semua aku ini sepi dalam hari dan malam
Dalam gelap dan terang
Bawa saya diarak ramai
Berbicara tanpa henti
Sampai nanti waktu saya berhenti
Kamis, 24 Desember 2015
Pinang
Kau bukan angsa bertelur emas
Yang harus dijaga agar tidak terluka
Bukan pula itik buruk rupa
Yang malu untuk bertemu muka
Entah ini aku merasa apa
Dirimu ingin kupinang
Dengan bismillah
Biar kau lega berteman siapa saja
Dan selalu ada diri ku untuk menjaga
Bukan mengurung tapi siaga
Bukan cemas tapi lugas
Malas mungkin
Penuh pun kita datang menyambangi
Jauh pun tidak jadi masalah
Bertemu, berkumpul canda jadi tawa itulah alasannya
Tapi tidak dengan mereka
Hanya sehari tapi mereka sudah menyerah untuk
Kesini
Jarak
Banyak alasan dengan jarak
Seberapa pun kau merindu jarak selalu dibenci
Kekhawatiran akan kehilangan
Tidak bisa melihat, tidak bisa menjaga, dan selalu merindu
Rindu, rindu, rindu
Ketika kita sudah berjarak
Tetapi jarak bukanlah satuan sebuah ukuran
Namun bisa jadi sebuah halangan
Halangan untuk memiliki, mencintai, dan menyayangi
Sedekat apapun kau berada, tetap saja jauh kau merasa
Tidak perlu
Tidak perlu sesepi ini
Tidak perlu sekosong ini
Aku hanya perlu duduk dan nikmati ini, saat ini
Rindu aku berdua di tempat ramai itu
Dimana meja kecil dan bangku tinggi menjadi dunia kita
Tidak perlu sesepi ini
Tidak perlu serindu ini
Aku hanya ingin di sampingmu
Nikmati keberadaan mu
Bukan saat saat bersamamu
Karena saat bersamamu, semua kegiatan kita menjadi ingatan yang tak terganti
Andai
Ooh andai saja bertemu dirimu semudah memesan kopi atau menenggak sebotol bir
Ooh andai saja perasaan tidak membelenggu kita, pasti gelak tawa yang kita rasa
Ooh andai saja tidak usah berandai, dimana menyayangi dan memiliki tidak seperih tertusuk jarum jarum kecil
Ooh baiklah, hanya ini yang kita bisa, tidak usah berandai lagi
Ooh yasudahlah, duduk saja tidak usah menunggu
Beda tapi sama
Bertolak tempat kita menikmati malam ini
Walau dalam hati kita di tempat yang sama
Ketika kita melangkah, rindu selalu menyapa
Kau mencari ramai untuk hilangkan rindu
Sedang aku duduk sendiri menikmati rindu
Kita berjauhan, tapi saling merindu
Kita dipisahkan jarak, tapi saling memiliki
Kita dipisahkan waktu, tapi sama meminum kafein
Kamu
Debur ombak bertemu pantai
Menyapu kerang kecil bercampur pasir
Riak kecil diatasnya membangun riang diantara sela kaki
Cuaca pun cerah
Gelak tawa dan canda baur dengan suara ombak
Lari berjingkat atau menimbun didalam pasir
Semuanya dihiasi dengan lengkung di bawah hidung
Berjemur atau berbincang nikmati ujung cakrawala
Bergembira walau hanya duduk bersampingan atau berlarian berkejaran
Jika kau berpikir ini puisi tentang pantai
Kau salah
Ini tentang mu
Kau bukan bulan
Dijalan kutatap langit malam
Bulan pun jelas terlihat
Putih sinarnya tak seperti biasanya
Walau sama indahnya
Ooh engkau jauh di timur sana
Lihatkah bulan ini?
Mungkin kamu tidak tahu rasanya menjadi malam
Karena kau bukan rembulan
Kuyakin kau tahu diriku
Dimana kau menjadi dirimu
Dan aku menyayangimu
Rabu, 23 Desember 2015
Bukan Lingkaran
Lihat mereka bertatap muka
Bertutur sapa
Apa yang ingin aku utarakan?
Tidak ada rasanya
Mungkin hanya nikmati musik
Atau mengagumi bulan yang terlihat di atas ku ini
Ya tentu saja dentuman pembangunan gedung itu pun merdu
Aku hanya nikmati ini
Mungkin ini caraku menikmati lingkaran ini
Hanya ini caraku yang kutahu
Luka Ilusi
Tidak ada pisau yang menancap di tubuh ku
Tidak ada luka yang tampak menganga di dadaku
Kulihat tidak ada darah yang menetes
Permainan apa yang dibuat kepalaku terhadap tubuhku
Seperti menelan seribu jarum
Dan menusuk nusuk di dalam tubuhku
Sesekali sebilah pedang besar menusuk dalam ulu hati ku
Inikah penolakan?
Atau diri ku yang lemah terhadap sepi dan gelap?
Kini terang telah datang di mata ku
Tapi sepi ini tetap membuat gelap sekeliling ku
Dan beberapa bilah pedang kini bertambah menusuk dada ku
Manusia gua
Selalu pagi dicengkram hawa dingin
Hawa dingin yang disertai oleh rindu dan kecemasan
Dia disana pergi menjauh
Walau dekat rasanya
Kepala ini selalu dipenuhi dia
Dan seribu rasa cemas akan kehidupan ku
Tubuh bagai makanan dingin yang ditaruh dilemari pendingin
Kaku dan tak bernyawa
Membuka mata tanpa nyawa
Merasa hidup tapi tanpa jiwa
Semua menjauh perlahan
Tinggalkan malam tadi dengan menaruh jangkar di kepalaku
Pagi ini bangun tanpa ada pesan
Dengan hening tanpa ada lisan
Mungkin semuanya mulai bosan
Kepadaku yang primitif tidak mau meninggalkan gua ku sendiri
Selasa, 22 Desember 2015
Alien
Dia dunia ku
Bumi bagi ku
Tapi entah kenapa diri ku ini nampak seperti makhluk asing
Dia dunia ku dulu
Rumah bagi ku dulu
Tapi kini saatnya aku pergi
Karena keberadaan ku membuatnya pusing
Minggu waktu itu
Kisah seru di hari minggu
Dimana bertemu menjadi tak jemu
Dimana menunggu menjadi seru
Oh, minggu
Semua cuaca menjadi indah waktu itu
Semua amarah keluar waktu itu
Semua rasa terlepas menderu
Dan senin pun membuat semua menjadi biru sendu
Karena minggu berakhir dan semua kembali rindu
Rindu kereta
Lintas kereta selalu ku rindu
Tatap wajah para penumpang
Bisik bisik mereka yang bercengkrama
Hingga sosok baru yang tak kukenal
Semakin aku mengendarai dua roda
Semakin aku menjauh dari rel kereta
Semakin aku mendekatkan diri dari rindu
Ketika ku genggam tangan kanan mu
Ketika semua berawal
Senin, 21 Desember 2015
RHK
Pilar pilar tertancap
Debu debu terbang kemana mana
Lalu lalang roda semakin membuat debu menggila
Jalan bergelombang dan berlubang
Yang tidak melihat mungkin akan tumbang
Sampai akhir diberhentikan cahaya merah
Dan suara wanita menjelaskan RHK
Dipersimpangan itu selalu nantinya jadi cerita
Ke jatibening ku akhiri malam
Menutupnya dengan kecupan di tangan kanan nya
Dingin
Dingin ini masih terasa
Tak perduli berapapun banyak selimut kupakai
Seberapa banyak jaket ku pakai
Kurasa dingin dari dalam dadaku
Dan menjalar ke kepalaku
Bagai air yang mengalir terbalik
Sampai kapan dingin ini luluh lantah
Dan diganti dengan hangat
Tanpa harus kulupakan hangat darimu
Minggu, 20 Desember 2015
Nikmati(lah)
Riang riang aku berjingkat
Nikmati sore bersama kawan
Senang senang aku bercerita
Nikmati sore bercanda gurau
Tenang tenang aku merindu
Tidak ku nikmati sore ini
Larang larang aku menyangkal
Tidak ku nikmati rindu ini
Sabtu, 19 Desember 2015
(Bukan) Akhir
Ini akhirnya
Tapi bukan akhir dari cerita ini
Anggaplah ini terakhir
Walau masih ada ujung dari cerita ini
Jumat, 18 Desember 2015
Hujan tidak sama
Hujan sepertinya akan datang
Gemuruh suara guntur telah terdengar
Kilatan cahaya menakuti setiap warna
Ini Desember
Dimana hujan datang bermigrasi
Buat basah setiap lekuk dunia
Hujan kali ini tidak akan sama
Walau gemuruh guntur sering terdengar
Kilat cahaya masih menakutkan
Tapi hujan kali ini beda
Dan kau pun tau kenapa
Senang datang
Lalu lalang manusia datang
Seperti ilalang yang membentang
Selalu bergoyang tidak pernah menentang
Perasaan untuk senang selalu punya ruang
Walau sedih selalu menang tetap nanti nya akan senang
Disini manusia akan datang dan akan selalu datang
Yang pergi akan hilang kemudian sedih pun datang
Tidak usah memaksa tenang nikmatilah rasa ini sampai nanti senang
Jika kamu nanti akan datang untuk kembali maka aku akan bersiap untuk senang
Gelap
Cahaya tidak akan lagi sama
Siang malam sama saja
Ini tidak pernah terjadi
Ku melihat banyak cahaya digelapku
Tapi gelap tetaplah gelap
Seberapa besar cahaya itu
Kamis, 17 Desember 2015
Hay
Tidak ada yang lebih mungkin sakit dari kita
Atau mungkin banyak?
Saling meninggikan
Saling memuja
Ketika kita tinggi
Dan kita saling meninggalkan satu sama lain
Tidak kenal atas dan bawah
Tidak kenal terbang lebih tinggi dan jatuh ke dasar
Karena itu sama sakit nya
Selasa, 15 Desember 2015
Bodoh
Ingin kulumat ego ku waktu itu
Ku hancur kan hingga tak berbekas
Yang tak pasti kian tak pasti
Perjuangan sebelumnya terasa seperti sampah
Aaaah menyesal lah diriku
Luka dan puing
Luka disayat tak sedalam ditinggal oleh yang kita sayang
Kemana pun dia pergi sakit nya tidak berbeda
Puing kenangan tertinggal tak perduli lagi akan lalu
Ditinggal berantakan karena tak ingin hancur ketika nanti merasa rindu
Kamis, 10 Desember 2015
Tak tahan
Iya benci membuncah
Dendam karena lemah
Mengutuk karma karena merasa
Ah, sial!
Tak kuduga berat hati
Aku harus menanti
Biar aku merajuk
Aku butuh bukan karena ku mau
Inilah hidup untuk mengisi
Dia telah mengisi
Hanya aku yang tidak sabar
Tenanglah
Mengucap sendiri itu tak pasti
Tunggulah nanti kita akan bicara
Biar dikuras semua rindu
Biar diganti dengan ikhlas
Menulis
Aku merasa sesak, tak merasa bebas
Bukan nya tak mau melepas
Tapi rasa ini yang harus ku kuras
Jangan berhenti aku menulis
Seberapapun tak berarti tulisan yang ku tulis
Ku pupuk semua perasaan ini
Biar tak terpakai
Aku hanya meyakini
Jika itu terbaik maka pertahankan lah
Tak ada kata sia sia
Akan kutulis setiap gundahku
Risauku yang ku pendam
Kutulis dalam kertas
Kuketik di telepon pintar
Jika nanti, nantinya kau dapatkan yang terbaik
Kau bisa melihat bahwa
Aku menikmati setiap detik
Menunggu kamu
Didalam tulisan tulisan ku ini
Cahaya
Pendar bohlam yang redup
Cahaya nya yang sejuk
Kulihat wajahmu berselimut cahaya itu
Minuman minuman itu yang disajikan
Tidak bisa membuat lupa sensasi ini
Riuh suasana tidak bisa menghilangkan rasa ini
Saat itu wajah mu seperti terekam
Terekam seperti gambar bergerak
Di dalam ingatanku
Kurindu kamu sampai nanti
Kutunggu kamu sampai nanti
Selasa, 08 Desember 2015
Sungkan
Diam diam aku melihat dari ujung mata
Senyumnya bukan senang
Dan juga bukan riang
Senyumnya tenang walau terlihat sintetis
Ada banyak cerita dahulu dibalik senyum itu
Itu dari yang aku lihat bukan yang aku dengar
Padahal tangan kiri ini sedang berada dikedua tangannya
Tapi senyumnya bukan karena ini
Aku tenang karena nya
Walau bukan untuk aku dan bukan karena aku dia tersenyum
Pelan pelan aku merasa memiliki
Detik waktu buat kita saling dekat
Dekat karena bercakap
Dari jarak antara kranji menuju juanda
Sedikit getir aku mengakuinya
Secuil rasa takut kehilangannya
Sepetik rindu tapi setiap detik kurasa
Hei, apa senyum itu untuk aku?
Atau kau sedang bahagia?
Bukan denganku pastinya
Karena sungkan aku mengakui kamu
Sungkan mengakui bahwa nanti senyum yang aku beri selalu kamu pakai
Gelisah
Degup jantung bertambah cepat
Cemas terus dirasa
Tidak mau berpikir macam macam
Tapi otak ini berkata lain
"Sabarlah otak sabarlah, hati ini sudah tenang jangan kau buat ak gundah" sahut hati
Diriku tenang tapi pikiranku tak jelas
Semua yang ku sayang tak buat ini berbeda
Kucoba berdiskusi dengan otak
Kucoba berdiam dengan kosong
Lupa semua lupa biar aku tidak cemas
"Tenanglah otak, tenanglah!"
Aku bersahut dengan gila didalam hati
Tidak sanggup ak berdiskusi dengannya lagi
Gelisah lah aku
Semoga semua nanti buat aku tenang
Semoga doa ini buat aku tenang
Pintu
Bangunlah aku dari tidurku
Semalam sudah ak mendengarmu
Hingga pukul 2 ketika berbicara
Tidurku lelap setelah itu
Bangunlah diriku dari kasur tanpa alas
Sudah pagi segera bergegas
Ingatan yang ada masih berbekas
Ku buka pintu dan tak ada ragu
Banyak pintu yang dibuka
Semua jenis hampir kubuka
Melihat yang ada dibalik itu
Tak ragu walau aku salah membuka
Pintu, pintu, pintu selalu tertutup
Maaf jika aku akan membukamu
Jangan marah karena itu
Karena mungkin dibalikmu ada masa depanku
Lebar ku buka pintu pintu itu
Jika nanti dia pergi aku masih
Masih perlahan melihatnya
Sampai kamu menutup perlahan
Rabu, 02 Desember 2015
Hilang
Semua pergi hilang dan mungkin tidak akan kembali.
Bukan milik ku tapi ak merasa hilang.
Kosong mulai terasa, perlahan mulai lengang.
Mulai sepi diantara hari.
Mulai sakit di dalam hati.
Selamat bahagia yang pergi, semoga bahagia di sana.
Pergilah dengan senyum.
Hanya ini yang buat ku hangat diantara kosong.
Kejar dia
Selalu ku lihat telepon pintarku
Ketika bangun dan di sepanjang perjalanan
Untuk sekedar melihat waktu
Atau pesan dari kamu
Mengetik pesan agar mereka terkesan
Sampai bermain permainan biar tidak bosan
Tidak ada yang ku tuju
Masa depan tidaklah pasti
Tapi kejarlah
Hingga nanti
Selasa, 01 Desember 2015
Ruang
Semua gerah jika tidak punya
Resah karena hanya dia yang punya
Kecil atau besar semua diperebutkan
Saling merasa memiliki
Walau dia bukan pemiliknya
Diperkosa sampai merasa jijik sendiri
Hingga meninggalkannya untuk mencari yang baru
Tak pernah dirawat karena cinta
Selalu menggunakannya karena butuh
Kini yang ada jagalah sudah
Biar kita nikmati bersama
Rawat bersama
Dan miliki bersama
Gemuruh
Kutakut akan nanti
Dimana mati jadi pasti
Walau kepala jadi kaki
Dan tak lagi kumakan nasi
Tubuh ini akan pucat pasi
Marah tak kunjung henti
Semua kata jadi caci maki
Membuat orang merasa keki
Saat nanti aku mati
Aku benci