Sabtu, 30 April 2016

Jatuh di kelilingi hampa

Tertutup mata arah nya hilang
Jejak nya masih jelas
Masih beranjak terus ke depan
Karena di belakang longsor sudah

Berhenti sejenak melangkah
Mata masih memejam gelap
Lupa longsor mengejar
Terperosok ke dalam tanpa terasa

Tak merosot di tanah merah
Hanya jatuh lepas di antara tiada
Terus menghilang menuju gelap
Menuju bawah jatuh ke dasar

Mata tak perlu melihat
Karena kulit ini melihatnya bagai mata
Merasanya begitu jelas
Ketiadaan yang melintas menyentuh kulit

Seakan tahu terjatuh
Tak perlu meronta meminta
Hanya merasakannya saja
Tenang karena hening diantaranya tiada

Takut tak lagi jadi soal
Hanya tahu bahwa kita kan kembali
Ke permukaan di mana tapak menginjak
Ke permukaan dimana ke depan laju langkahnya

Biar saja hancur berantakan
Saat jatuh menghantam bumi
Biar saja tercecer kecil
Biar merasa kecil kembali sebelum besar

Belum saatnya ku terhancur
Belum terasa dasarnya
Kini biar saja senang sendiri
Karena kisah ini belum berakhir

Kamis, 28 April 2016

Riang

Pagi terang
Kaki melenggang
Dengar adik berdendang
Bernyanyi senang
Walau bernada sumbang

Siapa tahu hati mengenang
Tentang apa yang hilang
Janganlah merasa kurang
Saat masih bisa berjuang
Biarlah biar hati kita tenang

Supir angkot terus menerjang
Membelah aspal yang membentang
Hari hari mereka sangat tertantang
Pemberani saat mencari uang
Asal jangan menabrak yang menyebrang

Hati ini merasa terang
Tak ada rasa lelah di tulang
Semoga hari ini terus riang
Sampai nanti saatnya berpulang
Kaki terasa riang melenggang

Rabu, 27 April 2016

Tertutup kelabu

Barisan abu kelabu tutupi si nona pagi
Hanya berkas sinarnya yang tembus awan yang kian menyendu
Perlahan rintik hujan perlahan turun
Begitu perlahan serasa embun subuh tadi

Deru kendaraan mengerang di jalan
Menggilas aspal yang terus terkikis karet bundar
Membuat nya jadi serpihan debu yang tak kasat mata
Yang terhirup pengguna trotoar yang berjalan tergesa gesa

Si kelabu yang sendu buat pekerja tertipu
Membuat si nona pagi tertutup rona nya
Hingga menutup sebagian semangat yang menggebu
Tak tertahankan bagi jiwa yang sudah kian lesu

Wahai nona pagi beranikan dirimu
Tunjukan ragamu sebelum mereka melemah merindumu
Buat lengkung senyum di wajah para pencari rezeki
Agar ringan langkah tergesa mereka tak jadi sia sia

Selasa, 26 April 2016

Tua nanti

Jika manusia adalah padi
Seharusnya ketika tua semakin merunduk karena berisi

Walau kadang seperti rumput liar yang terus tumbuh tinggi
Bertumbuh liar tak terhenti

Walau begitu manusia itu punya hati
Saling mengerti dan menghormati

Walau pada akhirnya nanti akan mati
Sebelumnya harus saling memaafkan setulus hati

Berkaca sendiri

Aku sang pemalu
Yang tidak punya kata kata

Perih tak bisa diungkap
Karena kata kata ku tak berarti
Karena kata kata ku tak dimengerti
Merajuk jadinya bagi mereka

Malam selalu sama
Bagai pisau yang mengiris pelan
Perihnya terasa lama

Aku ini pemalu
Tidak bisa berkata kata

Selalu buat kecewa yang mendekat
Membuat kata jadi bual belaka
Membuat cinta jadi fana
Pendusta aku jadinya

Kisah cinta selalu sama
Bagai bongkah besar batu gunung
Yang terus mengecil menghilang jadi pasir

Aku ini malu
Tak ada lagi kata

Mengulang sebuah cerita
Dari yang lalu tentang hal malu
Seperti radio yang rusak mengulang melulu
Membuat tak maju maju

Seakan tak bosan
Menipu semua perasaan
Yang akhir malah seperti benalu tak tahu malu

Malu
Tak berkata

Inilah sang sepi senyap dalam gelap
Yang dituju saat dihancur realita
Karena tak ada lagi sinar merona
Yang ada hanya sesal aku telan

Sudah lah diam saja jika malu
Lakukan saja jika benar dan mau
Sudah tua jangan tidak tahu malu

Senin, 25 April 2016

Cerita kereta pagi

Sedikit bergumam dalam hati
Tentang peron di seberang
Tempat menunggu untuk ke ibukota
Dimana awal terjadi waktu itu

Tak ada waktu yang menjelaskan
Tak ada kata yang menegaskan
Layaknya terang matahari
Nikmati saja terangnya

Nikmati pada waktu itu
Sebuah tatapan tanpa isyarat
Yang berujung saling mendekat
Mungkin saling terpikat

Tatapku melihat ke seberang
Tatapan yang melintas waktu
Inilah layar kaca penembus waktu
Kilas balik cerita lalu

Setiap langkah jelas terlihat
Menatapnya seakan dekat
Perlahan memelan geraknya
Semakin jelas semuanya

Di peron seberang yang lalu
Sebuah awal dari sebuah kisah
Yang kini mungkin berlalu
Menunggu cerita mereka bersatu

Dan kini ku menunggu di seberangnya
Menuju arah sebaliknya
Di titik awal keberangkatan
Untuk kembali ke tempat yang dituju

Sedikit menyesal di hati
Gerbong ini penuh orang menyesaki
Dan kiri ini ditinggal yang memiliki
Mungkin kusimpan saja sampai nanti

Minggu, 24 April 2016

Bintang rembulan

Jauh jauh puan disambangi
Tak terasa lelah ditempuh
Ucap rindu selalu diumbar
Terungkap jika masih disayang

Sudah jauh yang sudah lalu
Bertahun sudah ditinggal pergi
Tak lapuk tapi perasaan yang dirajut
Tetap menyala walau redup terlihat

Baiknya tuan bereskan kertas
Hadapi yang akan datang
Jemput yang sudah menunggu
Belumlah telat matahari terbenam

Hadirmu kini jelaskan semua
Semoga inilah jalan yang tuan ingin
Menemui puan yang gundah hati
Yang ingin lepas beban yang ada

Kini tuan ditunggu yang mengandung
Menunggu selesai kertas dirangkum
Ingin lihat yang pertama berhasil
Selama menunggu hampir dua windu

Jika puan inginkan tuan
Janganlah ada sebuah prahara
Biarlah kembali bintang pada rembulan
Biar mentari tertidur lelap

Jumat, 22 April 2016

Membatu rindu

Beritahu mereka tentang berita
Tanpa membuat mereka membencinya
Tuang seluruh rindu dalam cerita
Dan biar mereka tertawa setiap kata

Sudah usai kata benci
Ketika puan sudah menepi
Diujung rindu menuju lupa
Katakan saja pagi tak lagi ada

Semua yang fana tak ada disini
Terasa nyata walau tak terasa menggenggam
Semua semu hilang seperti debu
Tapi nyatanya tetaplah ada bagai patung batu

Cerita tentang dia
Tak habis rindu dibenci
Selalu ada tempat
Di akhir menoleh tahiyat akhir

Berikan mereka berita tanpa benci
Saat rindu tidak tersenyum lagi
Walau tak habis rindu dihirup
Tetaplah harap tak lagj hidup

Senin, 18 April 2016

Gerutu hujan kala malam

Lihat bangku basah disapu hujan
Niat hati menunggu ramai
Tak apalah berdiri sambil berandai
Tentang hujan dan harapan

Awan sudah berlalu pergi
Tampaklah rembulan ditutupi kabut
Sinarnya bias dihalang awan tipis
Seakan merona malu bertemu bumi

Terbentuk cincin bias sinar rembulan
Saru terlihat di tengah angkasa malam
Besar melingkari dirinya
Mungkin inilah pelangi kala malam

Mereka yang berharap setelah hujan
Ingin melihat langit bersolek pelangi
Tak usahlah menunggu sampai pagi
Tak usah menunggu tiba mentari

Malam tak perlu warna
Tak perlu bersolek begitu ramai
Hanya pendar sinar rembulan
Cincin cahaya hadiah setelah hujan

Harapan janganlah dinanti
Seperti menunggu pelangi di malam hari
Tak nikmati rembulan yang ada kini
Menggerutu hingga datang si nona pagi

Hujan kala malam
Kadang usir semua harapan
Termangu hingga kesal dibawa lelap
Tertidur sampai pagi usir gelap

Malam itu manusia

Banyak berucap syukur terhadap dunia
Tentang apa yang kita punya
Seakan kita tak punya apa apa
Kosong kelam hampa tak ada isi

Layaknya langit malam tanpa bintang
Hanya gelap yang dalam terlihat
Seakan tak berpijak
Seakan tak berujung

Sesatlah orang jika kesana
Ke malam tanpa bintang
Tanpa ada cahaya terang bersinar
Tak akan tahu arah

Itulah kita sang manusia
Diciptakan kosong tanpa isi
Dipenuhi nanti dengan kata dan gerak
Tutur ucapan dan tindakan

Entah diisi apa kita nantinya
Kosong yang bernama manusia
Cahaya kebaikan yang sinari malam
Atau bertambah dalam kelam nya malam

Hanyalah bersyukur kita haturkan
Walau diberi nikmat atau sengsara
Karena kita adalah malam yang kosong
Yang diisi cahaya ucapan syukur Alhamdulillah

Honest (pardon my very bad english)

I fallen sleep in the darkness
Because i just want to be honest
I fallen sleep in the darkness
And I needed a forgiveness

I just stand in the middle of forest
Trying run out in the clueless
I just stand in the middle of forest
And I tried to be the best

Sabtu, 16 April 2016

Bukan akhir pekan

Tak berbeda matahari berpijar
Sinar berkilau menyilau mata
Sedikit hangat namun menyengat
Entah itu hari kerja ataupun berlibur

Senyum berjingkat di wajah mereka
Langkah cepat bukan karena telat
Sabar sudah tak bisa ditahan
Untuk berlibur buang semua bosan

Matahari tak akan berbeda sinarnya
Kepada mereka yang masih bekerja
Kulit mereka merasa sama disengatnya
Hari libur atau bekerja tak ada beda

Tanpa rasa wajah mereka terbaca
Layaknya dinding polos bercat putih
Bosan tak dirasa senang pun tak ada
Ini akhir pekan tapi masih terasa bosan

Mereka yang berlari bahagia
Menggandeng yang dicinta
Si kecil lucu yang tak sabar
Atau kekasih manis yang dicinta

Habiskan pekan ini dengan ceria
Tak perduli mereka yang bekerja
Ini waktunya menghempaskan bosan
Bersama sama ramaikan jalan

Mereka yang bermandi peluh
Yang keringatnya berganti nasi
Berusaha senyum dibalik lelah
Sedikit harap upah dibayar segera

Si kecil menanti di bawah atap sana
Yang dicinta cemberut menggerutu
Bosan dirasa ditinggal sang pekerja
Mencari rezeki di akhir pekan

Jumat, 15 April 2016

Hujan menyendu syahdu

Malam hujan turun menyendu
Menggugah risau disudut pilu
Semu rasanya karena tak bertemu
Liat perasaan ini tak menentu

Kala malam teduh menunggu
Menggumam tentang reda merindu
Hujan deras memelan syahdu
Menjadi rintik air berhawa semu

Orang berjalan lalu
Tak perduli air basahi baju
Berlalu terus tak perduli rindu
Entah kemana puan melaju

Semoga pagi rindu telah disapu
Sudah menumpuk di titik jemu
Jika nanti wujud raga ini bertemu
Sebuah peluk hilangkan semua ragu

Rabu, 13 April 2016

Keluar

Terbentuk bagai asap tebal
Bukan gelap pekat
Karena terhirup pun bisa
Sebuah sepi yang kelam

Berkumpul dalam rongga dada
Menggeliat memenuhi semua ruang
Kelam menyesakkan hidup
Menyebar ke seluruh nadi

Darah tercampur gelapnya sepi
Mata berubah hitam dicelup kegelapan
Bukannya menjadi buta
Hanya lah hitam yang dilihat

Hentikanlah ini semua
Berhentilah saja bernafas
Agar sepi tak masuk menyeruak
Dan gelap menutupi mata

Sesaat nafas terhenti
Seberkas cahaya terlihat mengintip
Setitik dari pekatnya sepi
Sebuah harapan yang dinanti

Gemilang titik cahaya itu
Mempesona mengajak kesana
Kakipun melangkah
Walau terasa tak menjejak tanah

Kusibak asap sepi dengan harapan
Kedua tangan mengibas menggila
Membuat jalan demi cahaya disana
Yang memanggil di ujung sepi

Titik membesar pendarnya menyala
Semakin terang mengalahkan kelam
Merasuk hangat ke dalam sela mata
Mata seakan tercelup air surga

Sekitar masih terasa asap sepi
Membentuk pintu menuju terang cahaya
Selangkah lagi menuju sana
Cahaya terang ramai penuh bahagia

Selasa, 12 April 2016

Melepas kekang

Tali kekang kendali arah
Dipecut hanya menambah cepat
Berdarah kadang dibuatnya
Menyiksa saat kekang ditarik

Hanya berjalan lurus ke depan
Tak perduli halang dan rintang
Terus dipacu lompati rintangan
Tak perduli duri belukar

Kekang ditarik bersamaan
Berhenti bukan karena patuh
Tersiksa terasa sebenarnya
Hati melemah walau pikiran memberontak

Kaki dipalu dipasang sepatu
Sebuah besi penguat pijakan
Lumatkan tanah setiap langkah
Derap tinggalkan jejak berbentuk

Pelana berkulit sapi
Diletakkan si kelana di punggung ini
Pelindung genital dan pijakan kaki
Ditendang perut agar cepat larinya

Mata memandang kejauhan
Lihat ujung tak bertepi
Hanya derap langkah kuatkan diri
Terus dipacu, dipecut perih terasa

Empat kaki ini kokoh ku banggakan
Tidak seperti mata, sayu lelah terlihat
Badan penuh luka pecut
Kadang berlari walau lelah tak kenapa

Tujuan tak dicapai
Tapi memutar jalannya bercabang
Banyak mendapat cerita
Saat dipacu dengan nafas menderu

Bermimpi ke tempat yang dituju
Rasakan setiap jengkal tempat itu
Merasakan setiap sudut yang fana
Walau tak pernah sekali kesana

Kekang pun ditarik sangat keras
Terjungkal si kelana
Tersungkur kemudian sirna
Menghilang menjadi bumi

Kini kekang sudah terlepas
Melegakan hidup rasakan bebas
Ku lari sekencang mungkin bisa
Berbelok kemana tanpa di kekang

Hilang mungkin sebuah tujuan
Dan berlari kemana saja
Nantinya ku melangkah pasti
Peraduan terakhir ke sang pencipta

Tulang yang tak lelah

Ingatkah tulang ini
Tentang lelah nya
Menopang darah dan daging
Hati dan juga pikiran

Mengurung jantung
Dibalik tulang iga
Bersarang bagai burung
Berdegup bukan berkicau

Tengkorak yang keras
Memeluk otak dengan lembut
Tanpa membuatnya sesak
Layaknya ibu menggendong bayi

Menegakkan punggung
Membusungkan dada
Melindungi yang lemah
Hanya dilindungi selembar kulit

Mereka tidak tahu akan lelah
Mereka hanya susunan tulang
Yang keras yang tak mungkin berubah

Saat organ dijaga dalam hampa
Pikiran dipeluk mesra
Diajak semua melangkah
Tak pernah mereka lelah

Tulang belulang akan jadi saksi
Saat semua mati dan membusuk
Merekam ingatan setiap langkah
Tanpa lelah ingat itu semua

Tapi kini saat nya sudah
Istirahat lah tulang untuk sesaat
Biar nanti kembali tegap
Hidup kembali dan bersujud syukur

Senin, 11 April 2016

Dibakar benci sendiri

Lirih gontai bersuara serak
Kaki tak kuasa melangkah
Bersandar pun lunglai
Hilang semua tulang belulang

Lemas semua rasanya
Saat hati dilihat jahat
Sampai bergetar badan ini
Menahan diri mengucap kata

Salah memang hujan turun
Maksud hati berbuat baik
Malah berulah menjadi banjir
Merusak menghancurkan yang ada

Awalnya menimang disayang
Kemudian salah ku membuang
Yang berujung mengerang
Sakit setelah kubuang

Cerah pagi dirasa hangat
Begitu nyaman semangat terasa
Hingga siang datang mencekam
Menebar terik yang menusuk hati

Akhirnya liat pun disusun jadi rumah
Batu batu disusun menuju langit
Agar terik tak lagi sakit
Agar tak hilang ditinggal cahaya

Semua akhirnya sembunyi
Dari sakit yang terus ku sisipi
Benci yang kubuat tidak sengaja
Yang melahirkan banyak benci

Lelah kaki melangkah
Panas dengkul menekuk
Akhirnya tumbang dibakar benci
Benci yang kubuat sendiri

Rindu Embun

Tak ada lagi embun pagi
Setelah kembali ke sini
Tinggal di kota ini
Dimana debu membumbung tinggi

Siang belum waktunya tiba
Tapi hangat sudah sinar sang surya
Seakan menyapu gundah gulana
Menghilangkan sedih yang sia sia

Riuh ramai dirasa kembali
Bekerja mencari rezeki
Naik kereta lagi
Beli koran pagi

Siang hari belum waktunya
Panas nya sudah terasa
Hanya berjarak dua jam saja
Hawa nya terasa berbeda

Di kota itu dingin sekali
Walau sama sama pagi
Embun seakan selimuti diri
Menahan diri beranjak pergi

Seakan ingin kembali lusa
Setelah pulang kerja
Itu hanyalah mimpi belaka
Sekarang hadapi realita

Rindu akan embun pagi
Walau sudah bersiap diri
Kembali kerja lagi
Naik kereta lagi

Minggu, 10 April 2016

Dua ransel

Sudah lelah punggung ini
Membawa dua ransel
Tak bisa kulepas
Tak bisa kutinggal

Penting lah isi keduanya
Antara sekarang dan masa depan
Lelah tetap saja ku bawa
Sejauh apapun jua

Lelah sudah punggung ini
Istirahat ku melepas keduanya
Ringan pundak dan punggungku
Sedikit meregang lepaskan beban

Lanjut lagi perjalananku
Yang kini tetap selalu kubawa
Masa depan tetap ku bawa serta
Hanya keluh kesah yang kutinggal

Masa depan tak pasti isinya
Berubah setiap ku melangkah
Setiap jalur yang ku ambil
Berubah isi dan bobotnya

Yang kini hanya sedikit berubah
Saat ku berlalu dalam langkahku
Kadang berkurang isi dan bobotnya
Kadang bertambah dan sedikit menusuk

Belum habis perjalanan ku
Belum selesai cerita ku
Akan terus kubawa dua ransel ini
Hingga habis sudah semuanya

Sabtu, 09 April 2016

Mendayu siang hari

Derik serangga dan teriknya matahari membuai mata menutup segera.
Sepoi angin dan lantunan musik yang mendayu ingin membuat kepala bersandar.
Suasana ini bagai sebuah lagu pengantar tidur, yang bahkan membuat tidur raksasa sekalipun.
Segelas kopi dingin tidak mampu meredam keadaan ini, tidak bisa meredam nikmat rayuan ini.

Akhir pekan yang indah untuk dinikmati, tapi sangat sayang untuk diakhiri.
Masih panjang hari ini, masih lama rasanya matahari bertatap muka dengan bumi.
Sedikit menggoda minuman dingin rasa lemon itu, sepertinya dapat hilangkan kantuk ini.
Seakan bisa menggoda mata terus terbuka, mengajaknya mengobrol sampai malam.

Sendiri hadapi hari yang cerah ini, merangkai kata menjadi kalimat hingga tercipta cerita.
Menunggu matahari lelah bersinar agar dapat nikmati sunyi di tempat remang malam kemarin.
Menyesap kopi dingin, menunggu kumandang suara suci yang mungkin tidak terdengar di dalam sini.
Semoga bisa rangkai cerita siang ini sebelum mereka berbondong ramaikan jalanan.

Biar malam ini sebagai akhir dari perjalanan penentu keputusan akan nanti.
Tak perlu tunggu akan jadi apa nanti saat kembali ke jam sembilan hingga jam enam.
Biar nanti dijalani saja, surat titah sudah di tangan biar rakyat yang menjalankan.
Tak ada ragu, semoga saja lega hati untuk kembali hadapi realita.

Jika jumpa lagi wahai perwujudan dari mimpi, kita akan berbincang lagi.
Saat itu mungkin akan tertawa lebih keras dari sebelumnya, dan tak ada drama dari masa lalu.
Saat ini biar derik serangga dan terik matahari ini menemani, dan juga dingin malam nanti.
Tak akan kusesap minuman rasa lemon itu, biar kuhadapi semua ini dengan tersadar akan apa yang terjadi nanti.

Kamis, 07 April 2016

Merindu surga atau menikmati neraka?

Surga kah yang ku rindu?

Atau neraka yang ku nikmati?

Tertatih memanjatkan doa

Tetapi terampil membuat dosa

Jika surga yang ku rindu

Semoga menjauh ku dari dosa

Dan fasihkan diri ku berdoa

Beribu debu rindu

Rindu yang dulu membatu kini hancur menjadi debu

Yang melayang layang di udara beribu ribu debu

Mengisi paru paru dan tidak terasa sendu

Walau tidak sakit seperti diisi paku

Tapi masih terasa pilu

Ketika mendengarkan hampir di setiap lagu

Seakan bercerita tentang kita, antara aku dan dirimu

Gambir

Hanya dilewati pagi dan malam
Hanya melihat tas besar dan koper
Serta mereka yang membawanya

Paras ceria yang berlibur
Atau paras sendu yang berpisah

Kadang berhenti sejenak
Walau hanya di dalam kotak besi
Tak bisa beranjak

Dengan lelah dan resah
Sedikit iri dengan yang menunggu
Iri kepada yang keluar dari kota ini

Dahulu melepas dia yang besar
Selalu menganggap nya besar
Melepas dia menuju kota apel
Tempatnya menimba ilmu

Beritanya dia akan kembali
Akhir tahun ini ke Kranji

Bukan melepas hari ini
Tidak ada yang berpisah kali ini
Hanya berharap bertemu diri sendiri

Di sini berganti melihat mereka
Yang hanya melewati tempat ini
Berganti melihat sang pencari rezeki

Di sini duduk dalam kotak besi
Berbeda dari yang sehari hari
Duduk bersandar lurus ke depan

Berlari menyambut sepi
Hari ini pergi sendiri
Dari Gambir pagi ini

Stasiun itu senja

Stasiun seperti senja, pertemuan dua rasa, datang dan pergi.

Melepas sang hari menyambut sang malam, melepas yang disayang dan menyambut yang dirindu.

Harus rela melepaskan terang dan bersiap arungi malam, siap merindu dan dirindu.

Senyum senang datang disambut pelukan, hiasi wajah yang seterang siang.

Lepaskan lara dan juga rindu, sudah saatnya kita bertemu.

Sedih menggelayut, terbawa hanyut arus sendu, melepas yang disayang mendadak malam tutupi wajah.

Jangan menangis meringis, siapapun resah saat berpisah.

Stasiun seperti senja, merindu dan mencinta, melepas dan menyiksa.

Si nona pagi

Mengintip malu di ujung timur
Merona merah di tepi langit

Belum tampak sosoknya
Hanya bias sinarnya yang dirasa

Perlahan biru menyeruak langit
Masih merona merah di ujung sana

Bagai pertemuan pertama
Masih malu malu tunjukkan dirinya

Bagai malu dipuja
Yang merona merah pipinya

Sungguhlah cantik mentari pagi
Bagai perawan beranjak dewasa
Yang baru saja dilamar kekasihnya

Malu malu beranjak tinggi
Pelan pelan menguning terlihat

Sinarmu cantik di pagi ini
Temani pekerja mencari rezeki

Janganlah marah hai nona pagi
Janganlah terik kau beri di siang hari

Rabu, 06 April 2016

Si pembaca buku

Tak perlu ganggu si pembaca buku, biar dia masuk ke dalam dunia kata kata yang beribu makna, cerita dan mungkin cinta.

Diam berdiri memegang buku, mata nya membuka seakan mempersilahkan masuk semua kata kata yang terlihat menari di depan nya.

Sekitarnya akan hilang terhapus kenyataan yang terpampang pada tumpukan kertas yang rasuki hidupnya.

Tak perlu ganggu si pembaca buku, biar dia menghilang, melebur menjadi atom atom kecil dan menyebar di seluruh dunia yang nyata di buku itu.

Menyatu dengan tinta dan kertas, kabur dari realita yang nyata menuju cerita yang lebih tampak nyata dibanding realita.

Matanya meraba raba tiap helai kertas, dan merobek masuk ke dalam nya.

Jangan ganggu si pembaca buku, biar dunia hilang dalam pikirannya.

Hati seluas semesta

Jika hujan datang dikala susah, tak akan ada kata untuk menikmati hujan itu.

Jika mentari bersinar terik dikala panas hati, tak akan ada syukur cerah hari.

Buailah hidup untuk tersenyum, ajaklah hati menerima yang nyata, yang ada saat ini.

Tetes hujan yang turun laksana ribuan panah dirasa romantis jika hati kita mendayu dayu.

Cahaya terik membakar kulit seakan pagi hari yang cerah ketika akan bertemu sang pujaan hati.

Tak perlu kupaksa kan hati ini, ak perlu ku bujuk, tak perlu senyum merona hiasi wajah, hanya berucap syukur.

Biar perlahan hati ini akan nikmati semua yang ada, yang dirasa kejam ataupun merana.

Hati hanya sekepal tangan, tapi luasnya bisa kalahkan semesta.

Bahagia nanti

Memuja masa depan
Lupakan hari ini
Tinggalkan masa lalu
Jauhkan yang ada

Besok tidak tahu
Yang lalu sudah
Kini saatnya berdiri
Bersiap ke depan

Bersyukurlah hari ini
Ikhlaskan yang lalu
Jika nanti senang
Jangan lupa bersyukur

Besok harus disambut
Jangan membawa lalu
Siapkan dari sekarang
Untuk bahagia nantinya

Beranjak

Beranjak bangun dari tidur
Mencoba hilangkan buruk di kepala
Entah mimpi atau ingatan
Nyata nya begitu berat di kepala

Buruk ku ucap
Karena tak bisa ku tersenyum
Terlihat matahari bersinar
Tapi tak kudapat terang sinarnya

Seakan aku masih tertidur
Bermimpi akan gelapnya dunia
Mata terbelalak terbuka
Namun tiada sinar yang kurasa

Sudahi saja semua ini
Biar nanti terang ku nikmati
Tersenyum di antara cahaya
Mencintai dengan sepenuh jiwa

Jumat, 01 April 2016

Menyesal berdoa

Tak terekam oleh dunia apa yang kita ucapkan dalam doa, dalam bisik kita kepada sang ilahi, pencipta bumi dan seluruh jagat angkasa.

Bisik ucap kita tak perlu berteriak akan terdengar kepada Nya, kadang tengah malam ketika semua orang mendengkur, kita memanjakan doa dan beribadah agar jauh lebih tenang.

Doa akan semua kebaikan, semua yang berkaitan dengan kebaikan, bagi seluruh umat manusia atau hanya untuk kita semata.

Jangan kau ucapkan yang buruk bagi siapapun, bagi apapun, atau diri kita sendiri, daripada nanti terkabulkan doa yang memberikan keburukan bagi mu dan kau menyesali apa yang telah kau ucapkan dalam khidmat doa.

Pemuja

Rasanya ingin memetik bunga dan menyimpannya hingga layu.

Menikmati keindahan tanpa harus membawa semua nya.

Ku petik hanya sekuntum dan ku taruh di atas meja kerja ku.

Masih cerah warnanya dan mungkin kupu kupu pun akan datang karena segar nya masih melekat.

Ingin sekali ku memandang nya seharian tanpa harus melakukan apapun.

Hanya menatap nya lurus nikmati warna nya serta cantiknya bentuk nya.

Tak akan ku sentuh, tak akan ku genggam, hanya dipandang.

Melihat kuntum nya yang selalu memikat serangga mendekat dan penyair akan menulis tentangnya.

Tak akan ku buat sia sia sekuntum bunga.

Daripada jatuh ke tanah dan terinjak kemudian membusuk.

Tak dipandang, tak dipuji, dan diacuhkan.

Bunga yang indah yang tak terlihat, hanya ditanam tanpa diberi pujian seperti biduan tanpa penonton.

Bunga yang indah yang hanya ditanam, disiram setiap harinya, yang hanya penghias taman belaka.

Bunga itu seperti putri jelita yang tidak boleh keluar rumah, dipenjara tanpa boleh orang memuji.

Biar ku petik, ku puji dengan indah, tulus ku puji semua yang ada di kuntum itu.

Walau ku tahu cantiknya tak akan lama, setelah ku petik dia akan perlahan memudar.

Makin lama akan berubah warnanya, akan berkerut permukaannya dan mengering layaknya kertas yang perlahan jadi abu.

Biar saja biar, ku membunuhnya pelan, biar saja biar, ku memisahkannya dari tempatnya berasal.

Biar saja ku jahat, biar ku dihukum, biar saja, agar tak sia sia kecantikan nya dibiarkan begitu saja.

Ku kagumi kuntum bunga itu, ku puji cantik nya, daripada jatuh diacuhkan dan mengering menghilang.

Mencinta Matahari

Seperti cinta, matahari bersinar malu malu pada dini hari di ufuk timur, begitu malunya hingga berkas sinarnya masih bercampur gelap malam dan belum terasa hangat.

Saat bumi sudah rela melepas malam, matahari beranjak naik dan bersinar lebih terang, lebih hangat. Semua celah di bumi disusupi oleh berkas sinarnya, seketika perasaan cerah layaknya jatuh cinta.

Hampir semua makhluk terbangun oleh keberadaan nya, burung burung bersuka cita, bernyanyi bersahutan seakan sambut kedatangan matahari. Tunas tumbuhan menggeliat bermandikan cahaya hangat, menari nari menyambut kelahiran tunas baru. Inilah jatuh cinta penuh suka cita.

Kian siang, kian panas, kian terasa panas matahari menguasai bumi, memaksa air terangkat ke langit dan merubahnya menjadi gumpalan awan awan.

Terkadang terlalu memaksa air ke langit, hingga awan menggumpal hitam dan tak kuasa langit menahan semua itu hingga turun kembali semua air ke bumi, hujan. Seperti itulah kesedihan dalam cinta yang memaksa, yang terlalu panas tak terkendali.

Setelah siang hari puas matahari menghujam langit dan bumi dengan sinarnya yang tak lagi hangat melainkan panas terik, perlahan mereda, berjalan seakan menghindar ke ufuk barat, sinarnya tak begitu panas hanya sedikit terasa panasnya.

Setelah lelah menggelora sinar matahari, kini meredup, melemah bagai remang lampu jalan, kuning sinar nya tak setegas siang namun tak sehangat pagi, kini sedikit menghilang sosoknya. Inilah cinta, kabur terasa setelah begitu panas menggelora.

Pelan pelan langit berwarna jingga, tidak seperti pagi yang berwarna kuning keemasan saat matahari datang, yang begitu terasa besar dan mewah sinarnya, kini jingga terasa malu malu tak jelas kuning maupun merah, jingga namanya.

Begitu romantis cara matahari meninggalkan bumi, diberi warna indah pada langit, rona jingga di ufuk barat, begitu puitis sehingga bumi rela ditinggal matahari yang sudah semestinya pergi.

Ketika malam perlahan datang, dengan sang bulan sebagai pertandanya, matahari mengecup manis bumi yang disebut senja. Begitu indahnya matahari berpisah dengan bumi, tanpa sadar bumi kehilangan cahaya, dan kembali lagi kelam dalam gelap.

Begitu pula cinta yang kadang melepaskan dirinya dengan indah dan begitu romantis, menutupi luka dengan sejuta kelembutan, menutupi amarah dan kekecewaan dengan lembut tipu rayuan.

Dan saat bumi ditelan malam, sinar bulan seakan teduh menyinari bumi di kegelapan, tetapi bumi mengacuhkannya karena tidak hangat sinar rembulan hanya dingin yang dirasa bumi walau indah mempesona berkas sinar sang rembulan.

Bumi tenggelam dalam kelam malam yang suram, acuhkan rembulan yang sinarnya tenang, hanya menunggu lagi jatuh cinta pada matahari yang terus menerus meninggalkan nya.

Seperti cinta, bumi tidak bersuka cita pada rembulan, hanya lirik sedih yang tercipta pada gelap nya malam, tak ada semangat dalam terang nya bulan, tak ada hangat. Menganggap kecil yang lain yang ingin mencinta walau tak besar rasa cinta nya, walau tak membakar rasa cinta nya.