Tidak perlu waktu lama untuk membuat Doni terlelap setelah dia menghajar dua pekerjaan sekaligus dalam semalam, tapi perlu waktu yang lama untuk Ardi mengecek pekerjaan sampingan milik Doni. Sembari melihat jam yang sudah waktu nya untuk satpam memukul tiang listrik sebanyak 4 kali, Ardi merasa kewalahan dengan tugas yang berlipat ganda ketika sedang mengecek pekerjaan milik Doni walaupun sudah pasti benar, tidak bisa dipungkiri tubuh Ardi sudah pada ambang batas kewajaran manusia untuk bekerja. Setelah berkutat dengan semua hal yang berhubungan dengan presentasi, akhirnya tiba juga untuk memejamkan mata walau sesaat karena jam 7 nanti harus segera bangun untuk bersiap untuk rapat.
Suara wanita yang dia kenal akhirnya membangunkan tidur kedua desainer grafis itu, "Mas, oom, bangun sudah jam 6. Siap siap yuk buat presentasi, ingat waktu kita itu cuma sejam untuk membahas smeua materi promo yang baru." Anita selalu menjadi penyelamat bagi Ardi setelah menggantikannya sebagai kepala divisi desain setahun lalu dengan alasan tidak bisa bertanggung jawab atas tim divisi tersebut.
"Mas sebentar" Cegah Anita ketika Ardi baru saja merapihkan dirinya sehabis mandi, "Ada apa Nit? Sudah semua ku kirim kan materi presentasi? Ada yang salahkah? Tapi sebentar ya, aku mau merapihkan baju dan meja ku dulu." Belum sempat Anita membalasnya ketika Ardi beranjak pergi. Dengan sedikit kesal yang nampak di wajah Anita, dia berjalan menuju meja Ardi yang selalu dipenuhi dengan tempelan kertas untuk pengingat tenggat waktu pekerjaan. Ada yang mau ia sampaikan kepada Ardi sebagai kepala divisi, tapi ia pun tahu apa yang sedang dikerjakan mantan atasannya itu karena ia pun sempat mengikuti apa yang Ardi kerjakan.
"Mas, aku kan sudah bilang untuk tidak terlalu mengejar kerjaan sampingan. Aku bersedia posisiku ini diambil lagi sama mas, aku tidak bisa bekerja dengan mengetahui bahwa bawahan aku yang notabene mantan atasan aku ini sedang mengerjakan kerjaan lain selain pekerjaan kantor. Kalau memang materi yang mas kejar, silahkan ambil lagi posisi ini. Karena aku tahu juga gaji mas juga diturunkan sesuai dengan posisi mas saat ini." Dengan wajah yang tak kalah kesal, Ardi menatap Anita yang sedang berusaha menahan emosi yang sudah dia kumpulkan pagi ini.
Kantor Ardi adalah sebuah perusahaan belanja online yang baru, dan omzet penjualan nya sedang meningkat, setelah diketahui bahwa materi promo lah yang membuat mereka besar, maka dari itu divisi marketing sangat bergantung sekali dengan divisi desain. Setahun lalu Ardi diturunkan jabatannya sebagai kepala divisi desain, karena mental nya sedang jatuh setelah ditolak menikah dengan kekasih nya yang sudah dijalani selama 3 tahun. Walau begitu, Ardi tidak dipecat karena kemampuan nya sangat mumpuni mengolah materi promosi walaupun saat itu keadaannya tidak memungkinkan Ardi untuk menjadi seperti biasanya, selama 3 bulan berturut turut.
Ardi ditolak menikah karena menurut kekasih nya dia tidak mampu secara materi untuk meghidupinya nanti ketika berkeluarga, Ardi pun kaget ketika tahu bahwa gaji nya saat itu masih tidak mampu membuat nya untuk menjadi seorang suami untuk kekasihnya. Padahal menurutnya dengan gaji seperti itu malah membuat Ardi merasa yakin untuk menafkahi keluarga nya nanti dan lebih dari cukup, tapi tidak seperti yang kekasihnya pikirkan waktu itu. Tidak berapa lama setelah ditolak menikah, kekasihnya memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengan Ardi dengan alasan dia akan mencari calon suami yang sudah mapan dan mampu secara finansial menafkahinya. Saat itulah Ardi mengalami kejatuhan mental yang sangat dalam.
Anita sangat perhatian dengan bawahan nya itu, Ardi dan juga Doni. Mereka seharusnya menjadi senior dan juga atasan bagi Anita yang terbilang masih anak baru, tapi kemampuannya bisa diandalkan. Setelah mendengar keluhan dari Anita, tim desain akhirnya harus menemui pimpinan marketing yang juga anak dari pemilik perusahaan. Memimpin sebuah rapat kecil tidak jadi hambatan bagi Anita dan dua anak buah nya itu, karena sudah menjadi makanan sehari hari mereka untung dibombardir dengan segala revisi dan juga segala macam omongan yang keluar dari mulut divisi marketing.
Rapat pun berakhir dengan sebuah kemenangan bagi divisi desain, hanya sepuluh bagian yang direvisi, terkadang harus merubah semua konten dan tata letak dari semua materi promosi yang sudah dipresentasikan. Anita bergegas mengajak Ardi untuk sarapan, tidak dengan Doni yang memilih untuk tidur di mejanya sendiri.
"Mas, aku tahu kamu sedang menabung, tapi tidak seperti ini. Ini sama saja dengan kerja rodi mas." Dengan nada yang sedikit takut Anita mencoba menasehati Ardi.
"Tak apalah nanti juga ada hasilnya kan, toh pekerjaan aku dibantu juga sama Oom Doni. Aku juga baru dapat lagi pekerjaan sampingan, kamu mau ikut juga tidak? Seperti biasa pembagian honornya, kali ini lumayan besar dari yang terakhir kamu ikut" Tanpa menjawab pertanyaan Anita pergi meninggalkan Ardi, dia merasa sudah tidak tahan dengan sikap keras kepala Ardi yang masih saja mengejar materi demi sebuah pernikahan yang sudah tidak ada lagi.
Penantian seorang kekasih yang telah ditolak menikah membuat orang itu menjadi dendam dan ketika ia merasa masih bisa mengejar semua itu maka akal sehat nya sedikit menghilang, belum berpindah hati nya walau sudah dibuat berantakan ketika dijatuhkan dari sebuah hubungan yang dibalut kesetiaan selama tiga tahun yang indah. Hubungan tanpa cela sampai akhirnya wanita tersebut berubah pikiran tentang arti dari pernikahan, yang sebelumnya sudah direncanakan.
Keyakinan seseorang memang dapat berubah, apalagi berhubungan dengan sebuah ikatan suci yang disebut pernikahan. Hubungan dua insan manusia yang diiringi dengan ikatan dua keluarga bisa saja terjadi banyak konflik, apalagi semakin lama menunda sebuah keputusan bisa memicu banyak alasan untuk membatalkan atau merusak keyakinan seseorang untuk menikah. Seseorang dengan keyakinan yang sudah tidak tergoyahkan bahkan bisa bergeming jika dihadapkan dengan ketidakpastian yang menggerogoti nya secara perlahan bagai kayu jati yang diterpa angin dan hujan, serta terik matahari yang terus bergantian menghantam nya.
Jam pulang kantor yang normal menjadi hal yang aneh bagi seorang Ardi, karena dia pasti akan menuju tempat biasa dia mendapatkan pekerjaan sampingan nya dan hal itu diketahui oleh Anita dan Doni, mereka sudah mengetahui perilaku Ardi sejak memulai mengambil pekerjaan di luar pekerjaan kantor. Sepeda motor nya sudah melaju meninggalkan kantor yang masih akan terus ramai hingga nanti tengah malam, karena banyak kepentingan yang mengharuskan kantor itu selalu buka selama 24 jam persis rumah sakit atau toko waralaba pada umumnya.
Ardi tiba disalah satu ruko yang terletak tidak jauh dari stasiun kereta api yang selalu dijejali oleh para pemudik pada saat lebaran atau pada hari biasa sekalipun. Ruko yang terlihat seperti tempat percetakan pada umumnya ini sebenarnya sebuah perusahaan dibidang advertising atau lebih tepatnya creative boutique karena hanya mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan tata letak dan grafis pada umumnya dan Ardi adalah pekerja sampingan favorit perusahaan tersebut, dengan kemampuan yang dia punya dan juga ketepatan waktu dalam mengerjakan pekerjaannya.
"Permisi mbak, pak Roy nya ada? Saya Ardi mau mengambil materi" Tanya Ardi pada salah seorang yang ada di meja resepsionis, "Oh iya mas sebentar saya panggilkan, mas nya duduk saja dulu" dengan pandangan yang bingung Ardi yang hendak berjalan masuk ke dalam terhenti sejenak, biasanya dengan resepsionis yang biasa dia dipersilahkan masuk untuk segera bertemu dengan pemilik dan juga kepala bagian kreatif.
"Ummm, biasanya saya dipersilahkan masuk untuk bertemu pak Roy langsung" Tanya Ardi yang masih mematung untuk menunggu reaksi dari wanita yang mungkin seorang pegawai baru karena tidak mengenali Ardi yang sudah berulang kali datang.
"Wah kalo begitu saya tidak tahu mas, saya bukan resepsionis sebenarnya, saya Account Executive baru, saya cuma kenal mas Ardi dari omongan pak Roy saja jadi tidak tahu prosedur yang biasanya." Dengan gerakan yang kikuk wanita itu keluar dari belakang meja resepsionis untuk masuk ke dalam ruangan yang agak besar tertutup oleh tembok besar dibelakang meja.
"Ummm, saya Mia, mungkin kita nanti akan bertemu lagi." "Ardi, mungkin saja kalau memang ada pekerjaan yang mbak kasih." Perkenalan yang singkat sebelum Ardi melihat wanita itu berjalan memunggungi nya dan menghilang tertutup oleh tubuh pak Roy.
Setelah obrolan yang singkat dengan pak Roy tentang pekerjaan berikutnya, Mia datang menghampiri mereka. "Ini pak tolong tanda tangani quotation untuk pembayaran freelance proyek kemarin" "Oh ini untuk kamu Di" sahut pak Roy setelah melihat nama Ardi di kertas berwarna merah muda itu.
"Oh iya Mia, lain kali persilahkan Ardi langsung bertemu saya saja di ruangan, jangan disuruh untuk menunggu di ruang tunggu." dengan sedikit tertunduk Mia mengangguk segan "Baik pak" jawab Mia sembari menyerahkan kertas quotation kepada Ardi.
"Tidak apa apa kok pak Roy, mungkin mbak Mia ini belum tahu sebelumnya. Tidak apa apa juga kok mbak, bukan salah mbak juga" Ardi merasa tidak enak ketika Mia diberitahu oleh pak Roy tentang kebiasaan Ardi ketika datang untuk mengambil materi pekerjaan.
"Tidak apa apa juga kok mas, silahkan untuk mengambil uang nya di ruangan finance. Permisi pak Roy, permisi mas." Mia meninggalkan Ardi dan pak Roy yang keduanya terdiam dengan situasi yang aneh itu.
"Santai saja lah pak, jangan seperti itu malah nanti saya tidak enak untuk bertemu mbak Mia jika ada proyek dari dia" Dengan perasaan yang masih tidak enak itu Ardi mencoba untuk menenangkan pak Roy.
"Saya cuma bercanda kok Di, soalnya Mia itu selalu perfeksionis dan handal dalam pekerjaannya, hal seperti ini tidak akan berpengaruh juga dalam dirinya, he he he he he" Sambil terkekeh pak Roy beranjak pergi menuju ruangan nya kembali "Terimakasih ya Di, nanti kita e-mail sisa brief nya" teriak pak Roy sebelum dia menutup pintu ruangan nya.
Pintu ruangan finance sudah tertutup dan tidak ada cahaya dari dalam ruangan itu, dengan wajah yang penuh dengan kekecewaan Ardi memutuskan untuk langsung pulang tanpa harus membawa uang hasil kerja keras nya dan juga bersiap untuk dimarahi oleh oom Doni yang sepertinya sudah menunggu bagian dari proyek itu.
"Mas, mas Ardi" Teriak suara Mia dari dalam ruangan sambil sedikit berlari ketika melihat Ardi sudah terlihat akan keluar, "Maaf mas saya lupa memberitahu bahwa uang untuk pembayaran mas ada di saya, orang finance sudah pulang tadi" "Umm, maaf mas saya ingin bertanya langsung kepada mas Ardi daripada saya mendengar kabar dari orang lain, kalau boleh saya bertanya kenapa mas selalu mengambil pekerjaan dari kita ya mas? padahal mas sendiri sudah menjadi karyawan tetap di perusahaan yang lumayan besar." tanya Mia menyelidik sembari menyerahkan amplop putih yang tebal yang sudah pasti Ardi tahu jumlah nya sama dengan yang sudah disepakati sebelumnya tanpa harus membuka amplop itu.
Sebelum Ardi menjawab pertanyaan itu Mia kembali bertanya dengan singkat "Apakah mas tidak terlalu diforsir untuk sekedar mencari sebuah materi?"
"Wah, tadi nya saya mau menjawab dengan singkat untuk pertanyaan mbak sebelumnya, tetapi jika mbak bertanya seperti itu saya tidak bisa menjawab, karena bisa panjang nanti nya untuk menjelaskan atau menjawab pertanyaan mbak. Terimakasih mbak, saya pulang dulu, permisi." Tanpa melihat ekspresi Mia yang sedikit terguncang karena seperti nya pertanyaan terakhir tadi membuat Ardi merasa terganggu dan sedikit kesal, akhirnya Ardi mengakhiri hari nya dengan lega karena telah menerima bayaran tepat waktu dan bisa membagi bayaran tersebut ke Doni, walaupun pertanyaan Mia tadi memang membuat muka nya bersungut sungut.
Setelah pertemuan dengan Mia pada malam itu, setiap kali Ardi datang selalu disambut oleh Mia, awalnya karena selalu saja ada proyek dari Mia untuk Ardi lambat laun walaupun tidak mengerjakan proyek mereka selalu menyempatkan diri untuk berbincang walau hanya sebentar. Pak Roy merasakan hubungan mereka semakin dekat dan merasa hal yang bagus karena Ardi dapat memberi semangat kepada Mia, bahkan pak Roy berencana untuk merekrutnya untuk menjadi karyawan tetap di perusahaan nya itu walaupun sudah pasti Ardi akan menolak.
''Mia apakah kamu bisa menghubungi Ardi?" Tanya pak Roy ketika Mia baru saja meletakan tas nya di atas meja kerjanya.
"Sama sekali belum pak, saya hubungi melalui sosial media manapun belum dijawab dan juga Ardi tidak terlihat mem-posting apapun di semua akun sosial medianya pak."
"Kalau begitu apakah kamu mau menyusul ke kosan nya dia? Saya punya alamat kos nya saat dia mengirimkan hasil cetak dari kos nya sewaktu dia sakit... Jangan jangan dia juga sakit kali ini?" Secara mendadak pak Roy meninggikan nada suaranya dana mengagetkan keryawan yang berada di sekelilingnya. "Segeralah kesana Mia, saya kirim alamat nya melalu pesan singkat."
Mimik muka Mia berubah sedikit pucat, tidak disangka bahwa dia menaruh perhatian kepada Ardi walaupun hanya sebatas teman dekat dan partner kerja, prinsip Mia tidak mau menaruh perasaan berlebih kepada seorang pria karena dia tidak mau menjalin sebuah hubungan yang intim sebelum pernikahan. Dan juga dia sudah ada pasangan yang menyatakan keinginannya untuk hidup bersama walaupun pria itu bukanlah kekasihnya, tetapi Mia menghormati keputusan pria itu dan menunggu sampai saat itu tiba.
Dalam perjalanannya menuju tempat Ardi, Mia berpikir banyak tentang perasaan yang dia punya. Tentunya perasaan dia bukan hal yang palsu maka dari itu ia merasa tidak pantas untuk pria yang akan menikahi nya nanti. Alamat yang dituju telah Mia temukan dan kamar kosan yang ia cari pun telah terlihat, tetapi ada sepasang manusia yang keluar dari kamar itu, dan sang pria sudah tentu bukan Ardi melainkan orang lain. Dengan rasa penasaran yang ada dan kekhawatiran akan Ardi pasangan itu ia tanya.
"Maaf permisi, apakah betul ini kamar kepunyaan mas Ardi?" Dengan rasa sungkan Mia bertanya dengan kedua orang itu yang sejak tadi ia perhatikan sang wanita selalu berbicara seakan marah dengan suatu hal.
"Iya betul, siapa ya?" dengan ketus wanita itu menjawab.
"Ooh pasti Mia ya? Kita berdua teman kantor nya Ardi. Dia masuk rumah sakit, cuma capek katanya tapi butuh dirawat sepertinya" Jawab pria yang dari tadi memperhatikan Mia. Mereka akhirnya berkenalan, Anita dan Doni mengambil baju ganti untuk Ardi di rumah sakit karena hanya mereka berdua yang dianggap sebagai saudara. Ardi adalah anak rantau yang tidak ada saudara di kota itu.
Mia menjenguk Ardi sendiri pada keesokan hari nya. Di ruangan tempat Ardi dirawat mereka berbincang tentang pekerjaan Ardi yang sudah tentu terlalu banyak dikerjaan untuk seorang diri.
"Buat apa kamu mas mencari materi hanya untuk melamar seorang gadis yang telah mencampakkan kamu, pernahkah kamu berpikir menikah itu untuk mempersatukan tali silahturahmi dan menyempurnakan agama?"
"Aku sedikit mengerti tentang itu Mia, tetapi aku belum menemukan wanita yang membuatku berpikir seperti itu." Ardi terdiam sebentar terlihat berpikir, "Apakah kamu wanita itu Mia? apakah kau mau hidup denganku tanpa harus memikirkan materi untuk menikahi dirimu? Jika memang itu benar setelah ku sembuh aku akan segera melamar mu."
Dengan sedikit ragu Mia menjawab pertanyaan Ardi "Aku sekarang tidak bisa menjawab pertanyaan mu mas, dan tidak bisa memberi kepastian. Janganlah menunggu diri ku." Dengan mengucap salam Mia pergi dari ruangan itu.
Malam hari berikutnya Mia dikunjungi oleh pria yang akan menikahi nya dan beserta keluarganya, setelah bertemu kedua orang tua Mia pria itu berbincang dengan nya.
"Bang, aku punya perasaan kepada orang lain. Aku sayang kepadanya, maaf jika kamu harus mendengar ini tapi aku harus jujur kepada kamu mas."
"Aku tidak bisa melarangmu untuk punya perasaan terhadap pria lain, karena aku belum memiliki mu sepenuhnya. Tapi aku akan tetap melamarmu, izin untuk menikahimu sudah kudapatkan, Aku tidak ragu untuk menjadikan mu istriku walau kau punya perasaan dengan orang lain, asal kau ikhlas menikah dengan ku"
"Iya bang, terimakasih telah percaya kepada ku. Aku ikhlas untuk mengarungi hidup berumah tangga dengan mu." Dengan senyum dan peluk mereka berdua mengakhiri pertemuan mereka hari itu.
Ardi mengunjungi pak Roy setelah seminggu beraktifitas di kantornya untuk sekedar silahturahmi, dia belum diperbolehkan untuk mengambil pekerjaan sampingan oleh Anita dengan alasan kesehatannya. Pak Roy mengusulkan untuk mengajak Ardi makan malam di salah satu cafe dekat kantor Ardi. Setelah bertemu dan berbicara banyak hal tentang pekerjaan tentunya, Ardi pun bertanya.
"Apa kabarnya mbak Mia pak? Sudah lama tidak berkabar dengan dia, saya mencoba menghubungi nya tapi sudah tidak bisa. Ada apa ya pak?"
"Sebenarnya inilah alasan kenapa saya mengajak mu bertemu di luar kantor saya" pak Roy mengeluarkan sebuah kertas yang lebih terlihat sebuah undangan masih berbungkus plastik.
Dengan senyum getir Ardi melihat undangan itu dengan seksama, dan terlihatlah dua buah nama bersanding dengan motif yang indah pada tata letak undangan itu. Mia & Fakhi. Pak Roy meminta bon kepada pelayan menandakan mereka harus segera keluar dari restoran itu sebelum emosi Ardi memuncah.
Dalam perjalanan pulangnya Ardi tersenyum memikirkan semua yang telah ia lalui semenjak hubungan dengan mantan kekasihnya berakhir, dalam lamunan nya ia mensyukuri ini semua terjadi dia mendapatkan banyak kegiatan dan perjuangan untuk menjadi seseorang yang terbaik menurut dia. Kini sudah saatnya dia berlega hati untuk menerima semua nya.
Dalam gelap nya malam pada waktu itu, kilatan cahaya terlihat dari sisi kanan nya setelah tanpa sadar ia menerebos lampu merah di sebuah persimpangan yang tidak jauh dari tempat ia menjejakan kaki nya untuk mengais rezeki tambahan, tempat ia memeras keringat terakhirnya, tempat ia bertemu Mia dan juga siluet sebuah truk yang ia lihat terakhir.