Kamis, 31 Maret 2016

Luka karena kata

Kurang waktu dirasa
Detik lenyap berganti
Sesal masih dihati
Setelah lakukan salah

Lelah hantui malam
Hati menyiksa mata
Yang dirundung salah
Dalam mengucap kata

Mulut yang berkata
Hati yang disiksa
Mata dipaksa terbuka
Walau lelah dirasa

Tertidur tak bisa
Mata merekah merah
Memejam pun susah
Karena mengingat salah

Kata memang tajam
Lukanya tak terlihat
Melukai tanpa darah
Mungkin lama sembuhnya

Kata hanya keluar
Tak mungkin kembali
Yang sudah terucap
Akan terus diingat

Terluka karena kata
Sembuh oleh kata
Diucap dengan ikhlas
Dimulai dengan maaf

Semoga waktu melambat
Agar siap berkata
Biar sesal hilang
Setelah ucapkan maaf

Potong gaji

Berlari lari
Kejar pagi ini
Jemput rezeki
Untuk anak istri

Berlari lari
Kejar kereta pagi
Jangan telat lagi
Nanti dipotong gaji

Mentari telah tinggi
Burung bernyanyi
Bos menanti
Jangan telat lagi

Kereta di cikini
Dua stasiun lagi
Gambir hanya dilewati
Tapi kini masih berhenti

Telat sudah tiga hari
Pasti dipotong gaji
Dipotong rezeki
Lemas kaki ini

Rabu, 30 Maret 2016

Kisah kereta

Hai
Apa kabar rel kereta?
Sampai kapan kita kan bersahabat?
Sampai kapan kita terus bersama?

Hai
Bertemu lagi dengan mu, peron
Hampir tiap hari kita berjumpa
Sampai kapan kita kan terus berjumpa?

Hai
Tak bosan kah denganku, kereta?
Hampir tiap pagi dan malam kita bersama
Menyusuri rel yang kau lintas
Sampai kapan kita nikmati waktu ini?

Di dunia ini ku bertemu banyak manusia
Melihat banyak hal
Dari rindu sampai marah menunggu
Dari lelah sampai riang berjingkat

Dunia kereta
Perjalanan fantastis penuh cerita
Melintas banyak tempat
Bertemu banyak muka

Beralas kerikil yang menopang kayu dan besi
Membawa nyawa ratusan jiwa
Setiap hari tanpa jeda
Tanpa ucapkan lelah kepada semuanya

Banyak yang bertemu cinta
Menyambung saudara
Menciptakan kawan
Dan melahirkan keluarga

Tak pernah usai cerita dari kereta
Yang terus melaju ciptakan cerita
Dari stasiun menuju stasiun
Sampai berhenti di pemberhentian terakhir

Tapi sampai kapan ku bercerita
Tentang kereta, rel, dan juga peron nya
Perjalanannya, kisahnya, dan juga rindunya
Sampai kapan ku menunggu kereta tiba?

Selasa, 29 Maret 2016

Saatnya pulang

Bertemu malam selepas pulang
Tak sempat menyapa senja
Tak sempat melihat rona jingga
Hanya gelap yang kulihat

Gelap malam hanya di langit
Di bawah nya terang dimandikan cahaya
Walau buatan namun terang lebihi rembulan
Merajai malam sampai tiba waktunya

Lelah masih terasa diantara daging dan tulang
Berjalan diantara cahaya buatan
Lelah pula menunggu angkutan
Yang dinginnya bagai ruangan daging

Ditembusnya cahaya yang disisipi gelap
Meruak diantara ruang besi yang bergerak
Diantara aspal dan beton yang keras
Menggerusnya dengan roda karet yang tebal

Duduk lelah nikmati dingin
Nikmati deru mesin angkutan
Rasakan lelah di setiap jengkal otot
Dan melihat muka lelah seluruh penumpang

Malam kian gelap
Disaat yang lelah berpulang ke rumah
Malam kian larut
Disaat deru kendaraan dibungkam sepi

Semua menanti kasur yang empuk
Dan merebakan tubuh lelahnya
Atau menanti air segar untuk bersihkan lelah
Sepulang nanti entah kemana mereka berpulang

Senja sudah lama mati hari ini
Dibunuh gelap sisi bumi
Sedangkan hati dan tubuh ini
Masih hidup walau lelah menggelayuti

Ibu ibu perkasa

Banyak celoteh ibu ibu pagi ini
Terdengar ceria diselingi suara lelaki
Bercanda mereka sebelum bekerja
Sebelum mereka kembali ke meja

Suara yang segar yang penuh energi
Tak ada terdengar suara membenci
Mereka berbincang apa saja
Asal dapat mengusir lara

Tak heran mereka dapat bekerja hingga kini
Mencari nafkah setiap hari
Terus tersenyum tanpa terlihat duka
Mengganti benci dengan bahagia

Usia tidak membuat mereka berhenti
Semangatnya terus menerus berseri
Rambut putih terlihat di kepala
Bukan berarti bendera putih dikibarkan mereka

Suatu saat mereka akan berhenti
Karena berganti generasi
Api semangatnya pindah ke anak mereka
Semoga tidak berhenti sampai mereka tua

Senin, 28 Maret 2016

Hilang dalam tenang

Adakah waktu untuk beristirahat jika lelah yang hanya kita rasa?

Walau orang lain berkata belum waktunya kau untuk tidur dan mendengkur.

Adakah waktu untuk mundur sejenak dalam berusaha yang hanya kita saja yang rasa sudah keras berusaha?

Walau orang lain berkata belum saja kau maju sudah meminta mundur dalam berusaha.

Adakah ruang untuk sendiri disaat semua berkata kepada kita untuk bersama?

Walau orang lain berkata tidak bisa kau sendiri jika kau dikelilingi banyak teman dan orang yang sayang.

Adakah tenang dalam riuh orang berbicara tentang jalan keluar untuk diri kita?

Walau orang lain berkata inilah yang harus kau lakukan untuk menjadi yang terbaik dan maju.

Izinkanlah diam menguasai, sepi menemani, dan tenang mendekati.

Biar didalam kekacauan pikiran yang ditempuh kepala ini bisa tenang mendengar bisik ilahi.

Jika orang lain ingin tubuh ini berbuat sesuatu untuk menjadi baik dari sebelumnya, biarkan sejenak tubuh ini hilang dari rutin nya dunia.

Biarkan hilang dari semuanya, semoga dalam sepi bisa tercipta banyak kreasi dan lebih dekat ke ilahi. Dan rindu tak lagi dibenci.

Jika orang lain ingin jiwa ini menjadi lebih tenang dari sebelumnya, biarkan jiwa ini lenyap dari riuhnya duniawi.

Biarkan lenyap dari dunia, biar kembali tenang walau masih mengenang dan berdoa tak pernah kurang. Dan hilangkan jurang dalam rindu yang menggelapkan terang.

Rambut setengah basah

Dia selalu datang dengan rambut setengah basah, selalu tampak terburu buru. Langkahnya selalu cepat menyebrang rel dan tergesa gesa menyusuri peron. Bukan karena Ia telat menuju tempat kerja, tapi ingin bertemu seseorang di peron itu, orang yang dia sayang.

Rambutnya tidak keriting mau pun ikal, hanya berantakan tak teratur. Tapi rambutnya selalu digulung gulung menyerupai keriting sosis, tak alami dan tak ditata, itu hanya kebiasaannya setelah selesai rapih berpakaian dengan rambut setengaj basahnya.

Selalu Ia berkata tentang ketidak sengajaannya dia berbuat seperti itu, bukan untuk siapapun juga Ia berbuat seperti itu. Rambut nya yang selalu dia keluhkan berantakan tak membuat orang yang Ia temui kesal, tetapi tersenyum melihat tingkahnya yang kikuk ketika dilihat terlalu lama menurutnya.

Sudah lama peron itu tidak lagi dilalui kakinya yang tergesa gesa, sudah lama rambutnya tidak diperlihatkan kepada yang Ia tunggu, sudah lama pula orang yang Ia tunggu merindu rambut nya yang Ia pilin saat rambutnya setengah basah.

Kini semakin lama, semakin sering orang yang Ia tunggu membayangkan rambutnya, sosoknya, dan juga kehadirannya. Jauhnya tempat bukanlah hal yang mereka masalahkan, hanya karena waktu atau takdir atau mereka sendiri.

Minggu, 27 Maret 2016

Rindu tak berkurang

Riang riang senyum siang
Bercanda riang senang senang
Tak ada waktu untuk mengenang
Sedangkan rindu kian menggenang

Bertemu mereka yang selalu riang
Senangnya seperti tak berkurang
Walau sering diulang ulang
Seperti rindu yang selalu mengulang

Habiskan hari diwaktu luang
Walau letih kemarin terasa di tulang
Ingin pergi menonton pun tiada uang
Andai saja rindu bisa dilelang

Selesai makan perut pun kenyang
Bersyukur hanya keluar sedikit uang
Makanan habis tak bersisa tulang
Tak seperti rindu yang menerus diulang

Berteman tak ada kalah atau menang
Hanya berusaha membuat suasana senang
Dan membuat gundah menjadi tenang
Walau rindu tak bisa ditentang

Kadang teman buat kita berang
Tapi selalu berakhir riang
Dan berujung senang senang
Tidak seperti merindu yang tak pernah usang

Mereka teman yang sedikit waktu luang
Kadang hanya bertemu di minggu siang
Atau saat mereka pulang petang
Bukannya merindu mereka yang tak datang

Sabtu, 26 Maret 2016

Oh Jakarta

Takjub ku lihat Jakarta
Saat senja menyapu dirinya
Lembayung jingga mengecup mesra
Berikan kemilau emas di tubuhnya

Perlahan gelap pun tiba
Besar bentuk nya dalam mega
Bagai tirai menutup senja
Menutup hari yang gembira

Kota ini beranjak gelap
Bukan berarti tidur dalam lelap
Sesaat lagi akan timbul germelap
Dan macet yang merayap

Anak muda bersiap siap
Dengan semangat yang meluap
Minuman keras disesap
Riang didapat dalam sekejap

Tak hilang takjubku lihat Jakarta
Ketika gedung gedung bercahaya
Semua ingatan berkata kata
Rindu muncul seketika

Akhirnya nanti akan tiba
Saat rindu tak lagi fana
Makin takjub akan Jakarta
Dan rindu pun jadi gembira

Kamis, 24 Maret 2016

Selamat Anda dibenci

Malam hari
Bicara lagi
Tentang nanti
Malah dibenci

Jantung terasa berhenti
Ketika kau bilang benci
Saat ku khawatir akan nanti
Mungkin kita tak bertemu lagi

Ku arsipkan percakapan kita lagi
Biar ku bisa baca berulang kali
Disaat rindu sudah menemani
Mungkin kelam sedikit menggelayuti

Baca lagi
Dengan hati
Jangan benci
Jangan lari

Kuputar lagu tentang cintai diri sendiri
Mendengarkannya berulang kali
Bermaksud menghibur diri
Malah merindu kembali

Ku putar lagu elektronik untuk menari
Biar riang datang kembali
Ku nyanyikan liriknya dalam hati
Teringat lagi berdansa sampai dini hari

Aku kabari
Sudah di sini
Ketika nanti
Temu kembali

Aku (tak) ingin buta

Enyahlah pandanganku
Pergilah kau entah kemana
Ingin ku buta hanya untuk hal ini
Untuk menjaga semua perasaan ini

Jangan kau beri aku sedih
Setiap ku buka mata
Kau beri aku sebuah penglihatan
Tentang kegagalan esok hari

Sebuah kehilangan
Gagal dalam mempunyai sesuatu
Yang semua orang bilang ikatan
Antara satu dengan yang lain

Kau beri aku sedih
Seakan besok sudah terjadi
Kau beri aku sebuah kehampaan
Akan hilangnya semua ikatan

Walau ku pejam mata ini
Tak bisa hilang semua itu
Apa yang ku bilang sebuah kehilangan
Kehancuran hidupku sebagai sebuah makhluk

Kenyataannya memang seperti ini
Tapi belum semua nya hilang
Perlahan satu persatu gugur
Bagai meranggas di musim panas

Sudahlah sudah
Jangan kau beri lagi pandangan itu
Cukup sudah ku rasa
Jangan kau beri lagi

Mungkin ini bukan salah pandanganku
Bukan salah mata ini
Mata untuk melihat kenyataan
Yang kadang dikubur dengan mimpi

Salahku, ini salahku sendiri
Selalu memberikan ingatan
Tentang kegagalan
Tentang kehilangan

Semua ingatan kembali lagi muncul
Dalam pandangan ini
Terus menerus tak berhenti
Memperlihatkan pandangan itu

Ingin aku buta dan tak melihat lagi
Dan itu tak mungkin ku lakukan
Karena belum berakhir cerita ku
Yang ingin ku lihat sendiri akhir cerita itu

Rabu, 23 Maret 2016

Dibangunkan pagi

Pagi berteriak kencang ingatkan semalam yang sudah terlupa terhapus mimpi, bangunkan diri ini dengan mendung yang menggantung di langit.

Kering di tenggorokan membuat susah ku menelan semua kenyataan yang payah, sedikit ku teguk air berharap akan segera hanyut masuk kedalam perut ini dan segera keluar dengan kotoran pagi ini.

Tak berfungsi normal diriku semalam, membuat kacau dunia yang sudah ku bangun belakangan ini, dunia dengan kota yang akan kuisi dengan orang yang ku cinta.

Mendung ini tidak membuat tambah payah kenyataan, tidak sama sekali, karena aku akan bermimpi dalam sadarku hari ini.

Tak usah jauh ku larutkan kenyataan yang pahit pagi ini, hanya dengan menarik mimpi di kepalaku ini untuk melarutkannya, mimpi yang sudah tentu indah.

Kabur dalam khayal untuk memberi lengkung di wajah agar terlihat riang walau dibaliknya terdapat kenyataan pahit atas perilaku tak pantas semalam.

Pagi ini terasa lamban seperti gerak lambat yang terlihat di sebuah film, terus menerus mengingatkan semua kejadian semalam tanpa ampun.

Khayal ini seakan terus menerus diterobos olehnya, seakan tidak boleh ku riang dengan mimpi mimpi indah yang berujung dengan ekspektasi.

Sudahlah pagi umpatku dalam hati walau pagi tidak akan mendengarkannya, karena hari ini harus dengan penyesalan pikirnya dan meminta maaf kepada semua.

Lelah pikirku jalani pagi ini, semoga mimpi ku mempercepat hari ini hingga tak terasa pagi sampai malam nanti, sampai ku kembali lelap dan melupakan semuanya.

Selasa, 22 Maret 2016

Kilat dan guntur

Sedikit berbeda kali ini
Saat kilat tak lagi bersama guntur
Tak ada suara yang menggema setelah sinar merekah di langit

Seakan kilat membisu
Hanya terus menerus menerangi la git
Seperti matahari kala malam
Walau sekilas saja cahaya nya

Kilat dan guntur seperti dua pribadi
Dua pribadi yang berbicara satu sama lain
Seakan mereka murka
Saling benci satu sama lain

Teriakan guntur
Tamparan kilat
Semua jadi satu dalam badai
Sebuah tempat mediasi bagi mereka

Suatu ketika kilat menyambar bumi
Tak ada suara gemuruh guntur
Guntur sudah hilang
Dan tidak akan lagi suara menggema

Kini kilat hanya sendiri
Tak lagi bersama guntur
Hanya cahaya
Tanpa ada suara

Rezeki yang dibenci

Mereka membenci cara yang lain mencari rezeki, berbeda dengan nya tetapi sama halalnya.

Memuncah amarah mereka saat satu atau dua sesamanya tidak merasakan hak yang sama.

Melampiaskan amarah mereka kepada alat mereka mencari rezeki, tetapi sayang itu bukan miliknya.

Berkumpul dan bersatu mereka karena sama bencinya, berbaris secara teratur dan mengganggu yang lain.

Mereka tidak lelah, mereka bahkan tidak mencari rezeki, tetapi mencari keadilan katanya.

Rakyat melawan rakyat, menyalahkan aturan yang ada, melawan ketidakadilan, dan cemburu tentunya.

Siapa yang salah tidak ada yang perduli, mereka hanya berusaha mendapatkan porsi rezeki yang adil sepertinya.

Mereka tidak rela, ini tidak terjadi sebelumnya, rasa benci terhadap sesama rakyat, benci terhadap kaum nya sendiri.

Mereka yang membenci adalah mayoritas yang dirugikan oleh pihak yang tidak mau disalahkan tentunya.

Sedang minoritas dari mereka sudah ikhlas mungkin dengan rezekinya, sudah cukup dengan apa yang diterima.

Pada akhirnya yang membenci merusak dan mengganggu yang lain agar yang lain merasakan kebencian mereka.

Perjuangan pagi

Pagi bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan waktu yang lalu, kesederhanaan pagi adalah saat membuka mata dan bersyukur atas apa yang kita punya.

Tentunya kita pernah berpikir bahwa sebenarnya kita tidak lah terbangun dalam kenyataan, tetapi terjaga dalam mimpi yang selalu membuat kita semangat.

Mimpi yang kadang tidak terjadi dalam lelapnya tidur bisa menjadi sebuah adrenalin sendiri untuk hidup, inilah hidup kita.

Tidak lah usah kita menyangkal ketika mimpi kita terlalu muluk sehingga membuat kenyataan begitu pahit saat kita rasakan.

Saat terbangun pagi seakan ini adalah mimpi buruk terpanjang dan kita akan bangun dari mimpi ini, entah kapan kita akan tersadar bahwa inilah realita.

Hidupilah mimpi, jika nanti saat terbangun tak perlu lagi takut untuk membuka mata atau hadapi orang orang yang lalu lalang di depan mata mu.

Hidupilah mimpimu agar kau membuka mata saat terbangun diiringi dengan senyum segar walau gelap mendung di luar jendela tercampur dengan petir dan gemuruh guntur.

Sesekali kau merasa membunuh mimpi mimpi mu dengan menunduk kan kepala mu, seakan mencari sesuatu yang berserakan di jalan.

Menunduk karena kegagalan yang kita raih dengan ketololan atau kesalahan yang kita perbuat maupun kesalahan orang lain yang mempengaruhi kita untuk membunuh mimpi.

Jangan lah takut bermimpi di tengah matamu sedang terbuka, walau terasa berat dan seakan ingin sekali menutup mata ini selama lama nya agar terus hidup dalam mimpi saat tertidur.

Mimpi lah yang membuat kita besar, mimpi lah yang membuat kita segar, bermimpilah agar kita tidak takut dengan realita.

Walau pahit getir yang kau kecap saat menelan sebuah kekalahan, sebuah kenyataan yang tak bisa kau hindarkan, inilah waktu dimana mimpi mu hancur dan seakan kau tidak diizinkan untuk hidup, melainkan mati dan bermimpi.

Telan saja pahit itu, telan semua kekalahan itu dan bayangkan mimpi didalam benak otak mu, mimpi atas kebesaran dirimu atas hidup dan kuasa mu.

Pahit itu akan terasa gurih dan nikmat, seakan itulah gizi mu untuk maju, untuk tetap hidup dan hidupi mimpimu.

Bangun lah pagi ini dalam dingin dan berpikir tentang hangat, walau kita gagal dalam hidup janganlah gagal dalam bermimpi.

Bila nanti kau benar benar terpuruk karena kegagalan, mimpilah yang akan menyelamatkan mu yang terus menerus memperjuangkan asa di dalam otak mu.

Mimpilah yang membuat jantungmu berdegup saat memulai lagi hidupmu, dan mengalirkan darahmu keseluruh tubuh untuk bangkit kembali saat nanti kau terjatuh karena dijegal kegagalan.

Senin, 21 Maret 2016

Menunggu sepi

Sampai sini ku selalu menunggu hingga hilang deretan manusia yang ingin segera keluar dari tempat ini.

Entah kenapa pikiran ini mungkin lebih dari sekedar tidak ingin berjejal dengan mereka yang sudah lelah raga nya.

Selalu saja ku sejenak duduk melihat rupa mereka yang turun dari dua gerbong terakhir, melihat cara mereka melihat tempat ini atau mungkin cara mereka melihat dunia.

Terkadang semua hal begitu indah, bukan dari apa yang kita lihat tapi apa yang dilihat mereka dan kita menerka apa yang ada di dalam pikiran mereka.

Tempat ini yang mungkin mereka benci hingga ingin sekali mereka berjejal ingin segera keluar dari tempat ini.

Atau mereka lega dan bersyukur telah sampai dengan selamat, berjejal ingin bertemu seseorang atau keluarga atau kelompok atau ingin berlanjut bertualang.

Langkah mereka yang tidak beraturan, yang sama sekali tak berpola, mereka yang berbeda langkahnya tapi satu tujuan mereka, keluar dari sini.

Malam tak buat mereka lelah untuk berjejal keluar, kadang menyerobot untuk ingin di depan, jadi yang pertama keluar dari tempat ini, tempat terakhir dari perjalanan kereta mereka.

Tak perduli apapun yang mereka tuju, dan apa yang mereka temu nanti diluar tempat ini, tempat yang dinanti mereka ketika mereka masuk ke dalam kotak besi yang bergerak di atas dua batang besi.

Semoga mereka selalu mengingat tempat ini sebagai tempat mereka memulai atau mengakhiri perjalanan yang selalu, selalu mereka nantikan.

Entah kemana

Sekencang angin ku berlari
Lewati gunung dan laut
Menuju entah kemana
Tempat yang mungkin tak ada

Luas dunia bisa terukur angka
Hingga sampai ke tempat terpencil
Atau besar nya samudera
Tapi tetap entah kemana

Raga ini terasa ringan
Tak berbobot, tak terasa tulangnya
Dan juga darah dagingnya
Hingga ringan ku berlari

Walau dunia terukur oleh angka
Tapi percuma dirasa
Jika entah kemana aku kelana
Tak ada tempat ku tuju jua

Angin berhembus kencang
Dan raga ku berpindah
Mata angin tak berfungsi lagi
Tak guna ku gunakan arah

Kadang kadang sudah lelah
Lepaskan langkah ini
Sudah lah biar angin membawa
Entah kemana aku dibawa

Minggu, 20 Maret 2016

Kolam ikhlas

Terbakar hati dan badan ini ketika panas menyeruak entah dari mana, semua sel dari tubuh ini terasa panas.

Begitu panasnya hingga membakar logika yang ada tanpa sempat dirasa, semua rasa seperti tak terpikirkan oleh otak.

Perlahan kesadaran runtuh pada saat logika menghilang, hanya insting yang masih ada untuk menggerakkan seluruh fungsi tubuh.

Bergerak mengikuti apa yang hanya saat itu diinginkan, mendinginkan semua, mencari air atau apapun yang bisa menghilangkan ini semua.

Kaki dan tangan serta semua panca indra terasa hilang atas kendali mereka, tanpa dirasa terus mencari cara tanpa disadar perlahan mereka pun mulai terbakar.

Dalam lari nya perlahan melambat beralih menjadi langkah pelan, namun tetap berusaha mencari cari untuk hilangkan semua ini.

Sebuah kolam bersih kecil yang bernama kejujuran dan ke- ikhlasan lah yang dituju insting ini, sebuah kolam yang mungkin akan hilang kan semua ini.

Hati kecil ternyata masih sedikit berfungsi untuk mengatakan harapannya untuk segera hilangkan semua ini sebelum tubuh ini menghilang dilahap panas.

Mungkin ini doa

Lelap dalam tidur ku, lelah entah karena apa walau sudah kuteguk sedikit cairan pembuat degup jantung jadi cepat.

Badan ku segar tetapi mata ku lelah, ku melemah tidak seperti dulu yang biasa bercinta dengan layar besar dan menggores pena yang tak bertinta.

Apa yang kulakukan di sini, jika mata dan tubuh ku tak bisa saling membantu untuk selesaikan apa yang telah ku mulai?

Rasanya seperti bunga yang tak diberi air dan didiamkan dalam gelap tanpa cahaya, perlahan akan melayu dan membusuk.

Terlelap lebih dulu dan bangun lebih pagi, disini bagai kera yang malas yang tidak tahu mau berbuat apa.

Hari ini terbangun seperti biasa, saat dengung perlintasan kotak besi lebih sering terdengar dan kedua pria masih terlelap dalam istirahatnya mereka.

Untuk apa aku disini jika tubuh ini melemah dan tidak bisa ku pakai lagi seperti dulu menjadi tikus pengerat tata letak.

Ingin rasanya tubuh dan mata ini betistirahat dalam waktu yang lama, setelah semua yang ku alami.

Mungkin jika nanti aku kembali, aku dapat lebih banyak mencinta, lebih banyak bekerja, lebih banyak teman, lebih banyak setia, lebih banyak tersenyum, dan lebih banyak bersyukur.

Amin.

Sabtu, 19 Maret 2016

Kembali malam

Dibuai mata di relung senja
Mata dibawa sendu
Seakan telah lama rindu

Lembutnya senja memeluk jiwa
Warnanya bawa diri ini pergi
Dari sebuah kotak kehidupan

Selalu terpukau akan senja
Pertemuan siang dan malam
Membenturkan warna hingga terbentuk jingga

Selalu terpukau oleh senja
Saat matahari pergi
Dan bulan datang kembali

Semburat matahari masih berbekas
Langit malam bagai dicium jingga
Pertanda matahari kan terbenam

Hari kembali malam
Semua bunyi semakin terdengar
Dan yang merindu semakin sendu

Jumat, 18 Maret 2016

Nanti nya

Terungkap rindu dalam sebuah kalimat, dalam percakapan singkat yang tidak bisa merangkum kerinduan yang panjang.

Tak perlu ada kata rindu untuk mengetahui, yang diucapkan malah kata kata memancing tawa untuk sembunyi kan air mata.

Nantinya sudah tak mungkin bercengkrama atau tak mungkin lagi bertemu muka, tetaplah sudah dan tak akan ada lagi nanti.

Semuanya akan dingin hampa menutupi hari yang bisa dipalsukan dengan kata kata manis untuk orang yang ada.

Bias yang ada perasaan kepada mereka, sebuah ketiadaan yang tak bisa dihilangkan walau diiisi terus menerus dengan galon besar kalimat dan kata kata.

Nuansa remang bersahaja ketika rindu tidak dibenci sudah berganti muram nya warna hitam saat pemakaman.

Bergulat dalam resah digelimangi hampa yang terus menerus mendesak kerongkongan untuk berkata negatif akan sebuah kehidupan.

Pada akhirnya harus bersujud pasrah meminta ampun akan segala yang pernah dilalui kepada yang kuasa pada semesta kita.

Tapi nanti ketika sudah hilang hukuman karena mendengak air penghilang kesetiaan akan diri Nya.

Saat itu akan lebih khidmat dalam doa yang bercampur asin air mata yang akan mengalir dalam ampunan alunan doa.

Hampa udara

Ruang hampa bergerak maju dalam dunia yang fana, bergerak diantara semua benda yang berada di sekitar, yang bernafas maupun tidak.

Mereka yang bernafas tidak rasakan hampa yang bergerak, ditutupi sejumlah gerak dan emosi yang mereka lakukan.

Disela sela kehidupan fana yang dinamis layaknya aliran sungai melewati yang terus laju diantara sela sela batu.

Hampa terus bergerak maju, tidak mengisi apapun, atau menuju apapun, hanya bergerak dengan kehampaannya.

Kosong, lowong, tak ada energi, tak ada isi, tak ada apapun, hampa.

Entah kenapa terus bergerak, sebuah ke hampaan yang tak punya apapun itu, siapa pula yang buat nya bergerak melalui semua yang fana?

Hampa tak mengisi apapun, pula tak memberi apapun atau meninggalkan apapun, siapapun.

Namun ia bergerak, terus melaju tanpa ada yang dituju di dunia fana ini, sampai mungkin nanti dia terhenti.

Kamis, 17 Maret 2016

Langkah pagi

Ringan langkah ini pergi
Menuju barat menaiki kotak besi
Membaca buku tentang perempuan
Perempuan di dalam kotak besi itu

Terlarut diri ini ketika membaca
Dibawa mengayun di dalam kotak besi itu
Perlahan terlelap dan tertidur
Walau berdiri memegang buku yang terbuka

Cerah pagi tak terasa di dalam
Dingin yang lembut memeluk diri ini
Mengajak mata istirahat sejenak
Kotak besi seakan sunyi dalam lelap

Manusia lalu lalang keluar masuk
Pergi bekerja atau sekedar bertemu muka
Bersandar diri membuka buku kembali
Sambil menikmati mereka berlalu lalang

Cerah pagi ini terasa sekali
Bagai dipeluk ibu ketika rindu
Kulangkah kaki di bawah sinar terang
Berharap jalan pulang nanti pun tenang

Rabu, 16 Maret 2016

Senyum langit di senja yang sendu

Sudah hampir malam, langit masih saja terang walau hujan kembali lagi tiba.

Mungkinkah langit menangis bahagia? Walau hujan tetap saja terang.

Atau ia menangis menahan rindu yang ditutupi dengan senyum?

Sekali lagi bumi harus dibahasi tangis sang langit dan mendengar rajukan nya.

Mungkin bumi tak tahu perasaan sang langit, yang ia tahu hanya mendengarkannya saja.

Bumi menatap langit diatas sana mungkin dengan senyuman, memberi terang di sore ini.

Senyum langit yang memberi kesempatan bumi melihat terang.

Sebelum nanti gelap menutup langit bercengkrama dengan bumi.

Seakan langit sendu sendiri dalam gelap dan dinginnya malam.

Langit merajuk, bumi mendengarkan

Inilah sisa semalam
Sang langit meraung raung
Menangis semalam
Sisakan becek di jalan

Sudahkah hilang sedihnya?
Atau nanti dia akan merajuk lagi
Seperti kekasih yang merindu
Atau anak kecil yang ingin bermain

Semoga sang langit bersabar
Untuk apapun yang dia tangisi
Agar cerah nanti malam
Menemani para perindu merindu

Tak perlu langit menghujami bumi
Dengan hujan mengganggu yang merindu
Sudah lelah mungkin mereka
Membenci rindu yang tak kunjung sirna

Sungguhlah sulit bagi sang langit
Tak ada yang bisa tenangkan dia
Hanya bumi yang terdekat baginya
Dan tak mungkin ia turun merajuk ke bumi

Perlahan cerah merambah langit
Terlihat tersenyum langit pagi ini
Mungkin dia sudah tenang
Setelah bumi dengarkan keluhnya semalam

Selasa, 15 Maret 2016

Sedikit berbeda

Sementara tujuan ku berbeda
Hanya sedikit berbeda jalurnya
Tidak melewati Jatinegara
Tapi tetap menunggu di Manggarai

Selalu penuh dengan manusia
Tak perduli pagi atau malam
Berangkat ataupun pulang
Semakin terasa berbeda rasanya

Pagi tetap berhenti di Juanda
Tak ada yang berbeda
Saat malam tidak lagi ku ke Kota
Kembali lagi dari Juanda

Saat ini sungguhlah berbeda
Pagi dan malam tidak lah lagi sama
Sedikit ku benci rindu kali ini
Hanya sedikit karena masih dinanti

Menunggu tetaplah sama
Apapun itu yang kita tunggu
Tak apalah jika sudah penuh
Semoga masih ada tempat untuk pulang

Malam ini

Gelap dan basah menemani pekerja pulang malam ini, ketika langit menangis meraung raung dengan kilat dan guntur nya.

Resah para pekerja dalam jalan pulangnya, tidak bisa menikmati hujan yang begitu mendayu ketika mulai mereda.

Tubuh mereka mungkin lelah dan letih saat melihat jalanan penuh dengan kendaraan layaknya air got yang tersendat karena sampah yang dibuang sembarang.

Perlahan hujan mulai berhenti, sisakan basah dan lembab yang menempel di kulit terasa lengket bercampur keringat.

Lambat laun gelisah menumpuk, saat tujuan pulang semakin menjauh dan hujan kembali turun deras seperti tangis yang membenci rindu.

Tertarik hati

Tertarik hati menyambut malam
Membuka mata menahan kantuk
Harap sesak tidak menjalar
Sebelum mimpi datang dalam lelap

Gigi ini sudah bersih
Selimut sudah menutupi badan
Doa sudah dilafalkan
Hanya berharap sesak tak datang

Tertarik hati mengumbar rindu
Berbicara dengannya sebelum tidur
Ungkapkan semua rasa apapun itu
Karena sesak sudah terasa

Hati ini sudah tegar
Kuat sudah pikiran ini
Pendirian pun sudah mantap
Tapi sesak ini terlalu kuat

Tertarik hati lari dari semua ini
Tinggalkan yang ada sampai tak terasa
Menuju ke sana sumber kebahagiaan
Agar sesak ini tak akan lagi tiba

Lelah sudah badan ini
Mata sudah terasa berat
Pikiran pun sudah entah kemana
Sesak ini pun mengendur menghilang

Tertarik hati ucapkan rindu
Walau hanya kata kata yang terlihat
Semoga yang membaca tahu
Bahwa sesak ini sudah menghilang

Semoga untuk selamanya......

Senin, 14 Maret 2016

Aku dan kau

Kau angkat senjata
Ku angkat pena
Kau muntahkan ratusan peluru
Ku muntahkan ribuan tetes tinta
Kau menghilangkan nyawa dengan itu
Ku hanya bisa melukai sebuah perasaan

Kita sama sama berperang
Walau berbeda tujuan kita
Kapankah kita berdamai
Hingga tidak ada yang terluka
Tak perlu ada peluru yang membunuh
Tak perlu ada kata yang melukai

Kau tak lagi nafsu membunuh
Ku mulai menulis tentang hidup
Kau tak lagi mengantarkan kematian
Ku akan memberi senyum yang membaca
Kau tak perlu bersimbah darah
Ku tak akan lagi mengurai air mata

Mulailah memberi cinta
Bukan menghabisi nyawa
Kita ini saling memiliki
Jadi tak perlu menguasai
Mulai lah mengucap ikhlas
Tidak harus saling menindas

Minggu, 13 Maret 2016

Besok masih hidup

Tak disangka malam itu sehangat pagi, ketika dipeluk matahari saat kau tahu besok masih ada lagi hari.

Besok akan lebih susah dari yang lalu, yang akan membuat mu lebih hidup ketimbang ingin mati.

Malam ini mungkin dingin terasa di kulit mu, atau karena kau merasa sendiri hingga terasa berkali lipat dinginnya.

Ingatlah mereka dari yang lalu, atau mereka yang menyapa mu tadi, kemarin, atau minggu lalu.

Kau masih ada di kepala mereka, esok hari atau selanjutnya sampai nanti mereka benar benar tiada.

Malam ini menjadi hangat dengan mereka yang menyapa mu, karena kamu akan tetap hidup di kepala mereka.

Dan besok akan jadi lebih menyenangkan, lebih sulit, menantang, dan menjadikan mu lebih hidup.

Jangan lupa menyikat gigi malam ini, atau menyelimuti dirimu saat tertidur nanti.

Biar besok pagi kau siap ditantang kerasnya hidup, dan menyapa orang yang telah menyapa mu sebelumnya dimasa lalu mu.

Sabtu, 12 Maret 2016

Penantian Ardi

Jika jodoh itu tak akan kemana, maka seharusnya kita tak perlu lagi bersedih ditinggalkan oleh pasangan kita saat ini. Percuma saja jika sebuah perasaan yang tulus atau perasaan yang menyenangkan ini diakhiri dengan sedih, putus asa, gundah dan terlebih adalah dendam, sungguh lah jadi sia sia sebuah hubungan yang indah dulu, dipenuhi dengan segala macam rupa keceriaan yang ada mulai dari berjalan kaki saja atau berlibur jauh ke tempat yang luar biasa. Terkadang jodoh itu juga tidak butuh apa apa, hanya sekedar kejujuran dan keberanian untuk menjadi pasangan yang terbaik. Hal hal yang lainnya hanya sekedar saja, apalagi materi, sebuah hal yang bahkan bisa membuat sebuah negara menghancurkan negara lainnya, yang bahkan bisa melunturkan sebuah perasaan yang sakral yang dipuja orang, cinta sejati.

Materi dapat berupa apapun yang membuat kita terlihat penting di mata orang lain, tapi tidak semua orang berpandangan seperti itu. Materi yang berbentuk uang adalah materi yang selalu dilihat dari sebagian besar sebuah hubungan asmara. Jika Anda tidak berkecukupan maka janganlah sekali kali berkata muluk atau berjanji manis walau hanya gombal semata, nanti nya bakal menjadi musibah bagi hubungan Anda, atau lebih tepat nya Anda sendiri yang akan menerima musibah itu. Tak ada uang, abang tak disayang, sebuah kalimat yang pastinya sudah pernah kita dengar atau melihatnya tertulis rapih di belakang kendaraan umum atau truk yang terkadang ditambahkan lukisan wanita telanjang yang hanya ditutupi selembar kain. Lebih baik meninggalkan materi untuk mendapatkan cinta? atau meninggalkan cinta untuk mendapatkan materi? atau mengejar materi untuk mendapatkan cinta? Yah apapun itu untuk sebagian orang, cinta itu ada kaitan nya dengan materi.

Sudah jam 3 pagi Ardi masih terjaga di kantor nya, mengerjakan pekerjaan tentunya tapi bukan untuk kantor yang dia pakai komputernya dan juga hal lainnya. Karena alasan pekerjaan kali ini akan berat jika dikerjakan hanya menggunakan komputer yang ia punya di kosan nya, tapi sesekali diselingi dengan pekerjaan kantor yang tanggal tenggat waktunya berbarengan, yaitu besok pagi. Beruntungnya Ardi punya teman yang selalu diandalkan, seperti Doni yang sekarang berada tepat duduk disamping sembari mengerjakan pekerjaan yang sama, mengerjakan pekerjaan sampingan dan juga pekerjaan kantor bersamaan, sebenarnya masih ada satu lagi seorang wanita yang seumuran dengan Ardi bernama Anita. Karena Doni ini usia nya sedikit lebih jauh dari Ardi, maka seringkali Doni dipanggil oom. Anita sendiri tidak ikut membantu Ardi kali ini, karena dia adalah kepala dari divisi desain grafis yang dulu nya jabatan itu dipegang oleh Ardi.

"Di, aku tidur dulu ya, sepertinya pekerjaan ku sudah selesai semua tinggal nanti kamu cek. Sudah aku e-mail untuk pekerjaan sampingan dan juga pekerjaan kantor, aku juga sudah mengirimkannya juga ke Anita biar nanti dia yang cek pekerjaan kantor nya" 

"Baiklah, terimakasih banyak oom, nanti aku akan bangunkan oom jika sudah mau memasuki jam masuk kantor"

Tidak perlu waktu lama untuk membuat Doni terlelap setelah dia menghajar dua pekerjaan sekaligus dalam semalam, tapi perlu waktu yang lama untuk Ardi mengecek pekerjaan sampingan milik Doni. Sembari melihat jam yang sudah waktu nya untuk satpam memukul tiang listrik sebanyak 4 kali, Ardi merasa kewalahan dengan tugas yang berlipat ganda ketika sedang mengecek pekerjaan milik Doni walaupun sudah pasti benar, tidak bisa dipungkiri tubuh Ardi sudah pada ambang batas kewajaran manusia untuk bekerja. Setelah berkutat dengan semua hal yang berhubungan dengan presentasi, akhirnya tiba juga untuk memejamkan mata walau sesaat karena jam 7 nanti harus segera bangun untuk bersiap untuk rapat.

Suara wanita yang dia kenal akhirnya membangunkan tidur kedua desainer grafis itu, "Mas, oom, bangun sudah jam 6. Siap siap yuk buat presentasi, ingat waktu kita itu cuma sejam untuk membahas smeua materi promo yang baru." Anita selalu menjadi penyelamat bagi Ardi setelah menggantikannya sebagai kepala divisi desain setahun lalu dengan alasan tidak bisa bertanggung jawab atas tim divisi tersebut.

"Mas sebentar" Cegah Anita ketika Ardi baru saja merapihkan dirinya sehabis mandi, "Ada apa Nit? Sudah semua ku kirim kan materi presentasi? Ada yang salahkah? Tapi sebentar ya, aku mau merapihkan baju dan meja ku dulu." Belum sempat Anita membalasnya ketika Ardi beranjak pergi. Dengan sedikit kesal yang nampak di wajah Anita, dia berjalan menuju meja Ardi yang selalu dipenuhi dengan tempelan kertas untuk pengingat tenggat waktu pekerjaan. Ada yang mau ia sampaikan kepada Ardi sebagai kepala divisi, tapi ia pun tahu apa yang sedang dikerjakan mantan atasannya itu karena ia pun sempat mengikuti apa yang Ardi kerjakan.

"Mas, aku kan sudah bilang untuk tidak terlalu mengejar kerjaan sampingan. Aku bersedia posisiku ini diambil lagi sama mas, aku tidak bisa bekerja dengan mengetahui bahwa bawahan aku yang notabene mantan atasan aku ini sedang mengerjakan kerjaan lain selain pekerjaan kantor. Kalau memang materi yang mas kejar, silahkan ambil lagi posisi ini. Karena aku tahu juga gaji mas juga diturunkan sesuai dengan posisi mas saat ini." Dengan wajah yang tak kalah kesal, Ardi menatap Anita yang sedang berusaha menahan emosi yang sudah dia kumpulkan pagi ini.

Kantor Ardi adalah sebuah perusahaan belanja online yang baru, dan omzet penjualan nya sedang meningkat, setelah diketahui bahwa materi promo lah yang membuat mereka besar, maka dari itu divisi marketing sangat bergantung sekali dengan divisi desain. Setahun lalu Ardi diturunkan jabatannya sebagai kepala divisi desain, karena mental nya sedang jatuh setelah ditolak menikah dengan kekasih nya yang sudah dijalani selama 3 tahun. Walau begitu, Ardi tidak dipecat karena kemampuan nya sangat mumpuni mengolah materi promosi walaupun saat itu keadaannya tidak memungkinkan Ardi untuk menjadi seperti biasanya, selama 3 bulan berturut turut.

Ardi ditolak menikah karena menurut kekasih nya dia tidak mampu secara materi untuk meghidupinya nanti ketika berkeluarga, Ardi pun kaget ketika tahu bahwa gaji nya saat itu masih tidak mampu membuat nya untuk menjadi seorang suami untuk kekasihnya. Padahal menurutnya dengan gaji seperti itu malah membuat Ardi merasa yakin untuk menafkahi keluarga nya nanti dan lebih dari cukup, tapi tidak seperti yang kekasihnya pikirkan waktu itu. Tidak berapa lama setelah ditolak menikah, kekasihnya memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengan Ardi dengan alasan dia akan mencari calon suami yang sudah mapan dan mampu secara finansial menafkahinya. Saat itulah Ardi mengalami kejatuhan mental yang sangat dalam.

Anita sangat perhatian dengan bawahan nya itu, Ardi dan juga Doni. Mereka seharusnya menjadi senior dan juga atasan bagi Anita yang terbilang masih anak baru, tapi kemampuannya bisa diandalkan. Setelah mendengar keluhan dari Anita, tim desain akhirnya harus menemui pimpinan marketing yang juga anak dari pemilik perusahaan. Memimpin sebuah rapat kecil tidak jadi hambatan bagi Anita dan dua anak buah nya itu, karena sudah menjadi makanan sehari hari mereka untung dibombardir dengan segala revisi dan juga segala macam omongan yang keluar dari mulut divisi marketing.

Rapat pun berakhir dengan sebuah kemenangan bagi divisi desain, hanya sepuluh bagian yang direvisi, terkadang harus merubah semua konten dan tata letak dari semua materi promosi yang sudah dipresentasikan. Anita bergegas mengajak Ardi untuk sarapan, tidak dengan Doni yang memilih untuk tidur di mejanya sendiri.

"Mas, aku tahu kamu sedang menabung, tapi tidak seperti ini. Ini sama saja dengan kerja rodi mas." Dengan nada yang sedikit takut Anita mencoba menasehati Ardi.

"Tak apalah nanti juga ada hasilnya kan, toh pekerjaan aku dibantu juga sama Oom Doni. Aku juga baru dapat lagi pekerjaan sampingan, kamu mau ikut juga tidak? Seperti biasa pembagian honornya, kali ini lumayan besar dari yang terakhir kamu ikut" Tanpa menjawab pertanyaan Anita pergi meninggalkan Ardi, dia merasa sudah tidak tahan dengan sikap keras kepala Ardi yang masih saja mengejar materi demi sebuah pernikahan yang sudah tidak ada lagi.

Penantian seorang kekasih yang telah ditolak menikah membuat orang itu menjadi dendam dan ketika ia merasa masih bisa mengejar semua itu maka akal sehat nya sedikit menghilang, belum berpindah hati nya walau sudah dibuat berantakan ketika dijatuhkan dari sebuah hubungan yang dibalut kesetiaan selama tiga tahun yang indah. Hubungan tanpa cela sampai akhirnya wanita tersebut berubah pikiran tentang arti dari pernikahan, yang sebelumnya sudah direncanakan.

Keyakinan seseorang memang dapat berubah, apalagi berhubungan dengan sebuah ikatan suci yang disebut pernikahan. Hubungan dua insan manusia yang diiringi dengan ikatan dua keluarga bisa saja terjadi banyak konflik, apalagi semakin lama menunda sebuah keputusan bisa memicu banyak alasan untuk membatalkan atau merusak keyakinan seseorang untuk menikah. Seseorang dengan keyakinan yang sudah tidak tergoyahkan bahkan bisa bergeming jika dihadapkan dengan ketidakpastian yang menggerogoti nya secara perlahan bagai kayu jati yang diterpa angin dan hujan, serta terik matahari yang terus bergantian menghantam nya.

Jam pulang kantor yang normal menjadi hal yang aneh bagi seorang Ardi, karena dia pasti akan menuju tempat biasa dia mendapatkan pekerjaan sampingan nya dan hal itu diketahui oleh Anita dan Doni, mereka sudah mengetahui perilaku Ardi sejak memulai mengambil pekerjaan di luar pekerjaan kantor. Sepeda motor nya sudah melaju meninggalkan kantor yang masih akan terus ramai hingga nanti tengah malam, karena banyak kepentingan yang mengharuskan kantor itu selalu buka selama 24 jam persis rumah sakit atau toko waralaba pada umumnya.

Ardi tiba disalah satu ruko yang terletak tidak jauh dari stasiun kereta api yang selalu dijejali oleh para pemudik pada saat lebaran atau pada hari biasa sekalipun. Ruko yang terlihat seperti tempat percetakan pada umumnya ini sebenarnya sebuah perusahaan dibidang advertising atau lebih tepatnya creative boutique karena hanya mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan tata letak dan grafis pada umumnya dan Ardi adalah pekerja sampingan favorit perusahaan tersebut, dengan kemampuan yang dia punya dan juga ketepatan waktu dalam mengerjakan pekerjaannya.

"Permisi mbak, pak Roy nya ada? Saya Ardi mau mengambil materi" Tanya Ardi pada salah seorang yang ada di meja resepsionis, "Oh iya mas sebentar saya panggilkan, mas nya duduk saja dulu" dengan pandangan yang bingung Ardi yang hendak berjalan masuk ke dalam terhenti sejenak, biasanya dengan resepsionis yang biasa dia dipersilahkan masuk untuk segera bertemu dengan pemilik dan juga kepala bagian kreatif.

"Ummm, biasanya saya dipersilahkan masuk untuk bertemu pak Roy langsung" Tanya Ardi yang masih mematung untuk menunggu reaksi dari wanita yang mungkin seorang pegawai baru karena tidak mengenali Ardi yang sudah berulang kali datang.

"Wah kalo begitu saya tidak tahu mas, saya bukan resepsionis sebenarnya, saya Account Executive baru, saya cuma kenal mas Ardi dari omongan pak Roy saja jadi tidak tahu prosedur yang biasanya." Dengan gerakan yang kikuk wanita itu keluar dari belakang meja resepsionis untuk masuk ke dalam ruangan yang agak besar tertutup oleh tembok besar dibelakang meja.

"Ummm, saya Mia, mungkin kita nanti akan bertemu lagi." "Ardi, mungkin saja kalau memang ada pekerjaan yang mbak kasih." Perkenalan yang singkat sebelum Ardi melihat wanita itu berjalan memunggungi nya dan menghilang tertutup oleh tubuh pak Roy.

Setelah obrolan yang singkat dengan pak Roy tentang pekerjaan berikutnya, Mia datang menghampiri mereka. "Ini pak tolong tanda tangani quotation untuk pembayaran freelance proyek kemarin" "Oh ini untuk kamu Di" sahut pak Roy setelah melihat nama Ardi di kertas berwarna merah muda itu.

"Oh iya Mia, lain kali persilahkan Ardi langsung bertemu saya saja di ruangan, jangan disuruh untuk menunggu di ruang tunggu." dengan sedikit tertunduk Mia mengangguk segan "Baik pak" jawab Mia sembari menyerahkan kertas quotation kepada Ardi.

"Tidak apa apa kok pak Roy, mungkin mbak Mia ini belum tahu sebelumnya. Tidak apa apa juga kok mbak, bukan salah mbak juga" Ardi merasa tidak enak ketika Mia diberitahu oleh pak Roy tentang kebiasaan Ardi ketika datang untuk mengambil materi pekerjaan.

"Tidak apa apa juga kok mas, silahkan untuk mengambil uang nya di ruangan finance. Permisi pak Roy, permisi mas." Mia meninggalkan Ardi dan pak Roy yang keduanya terdiam dengan situasi yang aneh itu.

"Santai saja lah pak, jangan seperti itu malah nanti saya tidak enak untuk bertemu mbak Mia jika ada proyek dari dia" Dengan perasaan yang masih tidak enak itu Ardi mencoba untuk menenangkan pak Roy.

"Saya cuma bercanda kok Di, soalnya Mia itu selalu perfeksionis dan handal dalam pekerjaannya, hal seperti ini tidak akan berpengaruh juga dalam dirinya, he he he he he" Sambil terkekeh pak Roy beranjak pergi menuju ruangan nya kembali "Terimakasih ya Di, nanti kita e-mail sisa brief nya" teriak pak Roy sebelum dia menutup pintu ruangan nya.

Pintu ruangan finance sudah tertutup dan tidak ada cahaya dari dalam ruangan itu, dengan wajah yang penuh dengan kekecewaan Ardi memutuskan untuk langsung pulang tanpa harus membawa uang hasil kerja keras nya dan juga bersiap untuk dimarahi oleh oom Doni yang sepertinya sudah menunggu bagian dari proyek itu.

"Mas, mas Ardi" Teriak suara Mia dari dalam ruangan sambil sedikit berlari ketika melihat Ardi sudah terlihat akan keluar, "Maaf mas saya lupa memberitahu bahwa uang untuk pembayaran mas ada di saya, orang finance sudah pulang tadi" "Umm, maaf mas saya ingin bertanya langsung kepada mas Ardi daripada saya mendengar kabar dari orang lain, kalau boleh saya bertanya kenapa mas selalu mengambil pekerjaan dari kita ya mas? padahal mas sendiri sudah menjadi karyawan tetap di perusahaan yang lumayan besar." tanya Mia menyelidik sembari menyerahkan amplop putih yang tebal yang sudah pasti Ardi tahu jumlah nya sama dengan yang sudah disepakati sebelumnya tanpa harus membuka amplop itu.

Sebelum Ardi menjawab pertanyaan itu Mia kembali bertanya dengan singkat "Apakah mas tidak terlalu diforsir untuk sekedar mencari sebuah materi?"

"Wah, tadi nya saya mau menjawab dengan singkat untuk pertanyaan mbak sebelumnya, tetapi jika mbak bertanya seperti itu saya tidak bisa menjawab, karena bisa panjang nanti nya untuk menjelaskan atau menjawab pertanyaan mbak. Terimakasih mbak, saya pulang dulu, permisi." Tanpa melihat ekspresi Mia yang sedikit terguncang karena seperti nya pertanyaan terakhir tadi membuat Ardi merasa terganggu dan sedikit kesal, akhirnya Ardi mengakhiri hari nya dengan lega karena telah menerima bayaran tepat waktu dan bisa membagi bayaran tersebut ke Doni, walaupun pertanyaan Mia tadi memang membuat muka nya bersungut sungut.

Setelah pertemuan dengan Mia pada malam itu, setiap kali Ardi datang selalu disambut oleh Mia, awalnya karena selalu saja ada proyek dari Mia untuk Ardi lambat laun walaupun tidak mengerjakan proyek mereka selalu menyempatkan diri untuk berbincang walau hanya sebentar. Pak Roy merasakan hubungan mereka semakin dekat dan merasa hal yang bagus karena Ardi dapat memberi semangat kepada Mia, bahkan pak Roy berencana untuk merekrutnya untuk menjadi karyawan tetap di perusahaan nya itu walaupun sudah pasti Ardi akan menolak.

''Mia apakah kamu bisa menghubungi Ardi?" Tanya pak Roy ketika Mia baru saja meletakan tas nya di atas meja kerjanya.

"Sama sekali belum pak, saya hubungi melalui sosial media manapun belum dijawab dan juga Ardi tidak terlihat mem-posting apapun di semua akun sosial medianya pak."

"Kalau begitu apakah kamu mau menyusul ke kosan nya dia? Saya punya alamat kos nya saat dia mengirimkan hasil cetak dari kos nya sewaktu dia sakit... Jangan jangan dia juga sakit kali ini?" Secara mendadak pak Roy meninggikan nada suaranya dana mengagetkan keryawan yang berada di sekelilingnya. "Segeralah kesana Mia, saya kirim alamat nya melalu pesan singkat."

Mimik muka Mia berubah sedikit pucat, tidak disangka bahwa dia menaruh perhatian kepada Ardi walaupun hanya sebatas teman dekat dan partner kerja, prinsip Mia tidak mau menaruh perasaan berlebih kepada seorang pria karena dia tidak mau menjalin sebuah hubungan yang intim sebelum pernikahan. Dan juga dia sudah ada pasangan yang menyatakan keinginannya untuk hidup bersama walaupun pria itu bukanlah kekasihnya, tetapi Mia menghormati keputusan pria itu dan menunggu sampai saat itu tiba.

Dalam perjalanannya menuju tempat Ardi, Mia berpikir banyak tentang perasaan yang dia punya. Tentunya perasaan dia bukan hal yang palsu maka dari itu ia merasa tidak pantas untuk pria yang akan menikahi nya nanti. Alamat yang dituju telah Mia temukan dan kamar kosan yang ia cari pun telah terlihat, tetapi ada sepasang manusia yang keluar dari kamar itu, dan sang pria sudah tentu bukan Ardi melainkan orang lain. Dengan rasa penasaran yang ada dan kekhawatiran akan Ardi pasangan itu ia tanya.

"Maaf permisi, apakah betul ini kamar kepunyaan mas Ardi?" Dengan rasa sungkan Mia bertanya dengan kedua orang itu yang sejak tadi ia perhatikan sang wanita selalu berbicara seakan marah dengan suatu hal.

"Iya betul, siapa ya?" dengan ketus wanita itu menjawab.

"Ooh pasti Mia ya? Kita berdua teman kantor nya Ardi. Dia masuk rumah sakit, cuma capek katanya tapi butuh dirawat sepertinya" Jawab pria yang dari tadi memperhatikan Mia. Mereka akhirnya berkenalan, Anita dan Doni mengambil baju ganti untuk Ardi di rumah sakit karena hanya mereka berdua yang dianggap sebagai saudara. Ardi adalah anak rantau yang tidak ada saudara di kota itu.

Mia menjenguk Ardi sendiri pada keesokan hari nya. Di ruangan tempat Ardi dirawat mereka berbincang tentang pekerjaan Ardi yang sudah tentu terlalu banyak dikerjaan untuk seorang diri.

"Buat apa kamu mas mencari materi hanya untuk melamar seorang gadis yang telah mencampakkan kamu, pernahkah kamu berpikir menikah itu untuk mempersatukan tali silahturahmi dan menyempurnakan agama?"

"Aku sedikit mengerti tentang itu Mia, tetapi aku belum menemukan wanita yang membuatku berpikir seperti itu." Ardi terdiam sebentar terlihat berpikir, "Apakah kamu wanita itu Mia? apakah kau mau hidup denganku tanpa harus memikirkan materi untuk menikahi dirimu? Jika memang itu benar setelah ku sembuh aku akan segera melamar mu."

Dengan sedikit ragu Mia menjawab pertanyaan Ardi "Aku sekarang tidak bisa menjawab pertanyaan mu mas, dan tidak bisa memberi kepastian. Janganlah menunggu diri ku." Dengan mengucap salam Mia pergi dari ruangan itu.

Malam hari berikutnya Mia dikunjungi oleh pria yang akan menikahi nya dan beserta keluarganya, setelah bertemu kedua orang tua Mia pria itu berbincang dengan nya.

"Bang, aku punya perasaan kepada orang lain. Aku sayang kepadanya, maaf jika kamu harus mendengar ini tapi aku harus jujur kepada kamu mas."

"Aku tidak bisa melarangmu untuk punya perasaan terhadap pria lain, karena aku belum memiliki mu sepenuhnya. Tapi aku akan tetap melamarmu, izin untuk menikahimu sudah kudapatkan, Aku tidak ragu untuk menjadikan mu istriku walau kau punya perasaan dengan orang lain, asal kau ikhlas menikah dengan ku"

"Iya bang, terimakasih telah percaya kepada ku. Aku ikhlas untuk mengarungi hidup berumah tangga dengan mu." Dengan senyum dan peluk mereka berdua mengakhiri pertemuan mereka hari itu.

Ardi mengunjungi pak Roy setelah seminggu beraktifitas di kantornya untuk sekedar silahturahmi, dia belum diperbolehkan untuk mengambil pekerjaan sampingan oleh Anita dengan alasan kesehatannya. Pak Roy mengusulkan untuk mengajak Ardi makan malam di salah satu cafe dekat kantor Ardi. Setelah bertemu dan berbicara banyak hal tentang pekerjaan tentunya, Ardi pun bertanya.

"Apa kabarnya mbak Mia pak? Sudah lama tidak berkabar dengan dia, saya mencoba menghubungi nya tapi sudah tidak bisa. Ada apa ya pak?"

"Sebenarnya inilah alasan kenapa saya mengajak mu bertemu di luar kantor saya" pak Roy mengeluarkan sebuah kertas yang lebih terlihat sebuah undangan masih berbungkus plastik.

Dengan senyum getir Ardi melihat undangan itu dengan seksama, dan terlihatlah dua buah nama bersanding dengan motif yang indah pada tata letak undangan itu. Mia & Fakhi. Pak Roy meminta bon kepada pelayan menandakan mereka harus segera keluar dari restoran itu sebelum emosi Ardi memuncah.

Dalam perjalanan pulangnya Ardi tersenyum memikirkan semua yang telah ia lalui semenjak hubungan dengan mantan kekasihnya berakhir, dalam lamunan nya ia mensyukuri ini semua terjadi dia mendapatkan banyak kegiatan dan perjuangan untuk menjadi seseorang yang terbaik menurut dia. Kini sudah saatnya dia berlega hati untuk menerima semua nya.

Dalam gelap nya malam pada waktu itu, kilatan cahaya terlihat dari sisi kanan nya setelah tanpa sadar ia menerebos lampu merah di sebuah persimpangan yang tidak jauh dari tempat ia menjejakan kaki nya untuk mengais rezeki tambahan, tempat ia memeras keringat terakhirnya, tempat ia bertemu Mia dan juga siluet sebuah truk yang ia lihat terakhir.