Jumat, 27 Mei 2016

Ucapan Terimakasih

Hai,,

Terimakasih bagi yang sudah membaca blog ini, apalagi yang sudah rutin membuka dan membaca blog ini. Maaf jika lebih dari sebagian blog ini berisi curahan hati yang spontanitas dikeluarkan.


Maaf belum bisa rutin lagi mengisi blog ini, karena belum ada yang bisa dikeluhkan atau di"galau"kan (bukan berarti gak ada atau gak galau) bisa ditumpahkan dalam tulisan.

Sekali lagi, terimakasih banyak sudah meluangkan waktunya untuk membaca blog ini.


Nasyrah dera aprianto

(Maaf kalo spasinya berantakan,, maklum update di hape)

Minggu, 22 Mei 2016

22

Tak ada risau yang tampak nyata
Hanya senyum menyimpan duka
Duka yang tertutup suka
Suka cita akan bertatap muka

Bukan tak perduli akan esok
Sudah direncana tapi kadang berbelok
Bahagia hari ini berbeda dengan besok
Bahkan bertemu banyak sosok

Berteman tiada batas
Banyak dikenal sedikit yang berbekas
Banyak pula yang sekedar melintas
Beberapa mendapatkan prioritas

Indahnya dunia dari matanya
Kilau semangatnya hapuskan duka
Hidup dengannya seakan berpesta
Fananya hidup tersingkirkan suka
Alihkan lara yang menutup senyumnya

Semoga lengkung senyumnya abadi
Diantara yang tak pasti
Jangan kau sering berdiam diri
Jiwa mu itu selalu memintamu berlari

Rabu, 18 Mei 2016

Kerja katanya

Hidup itu kerja

Pakai kemeja

Jadi eksekutif

Bukan bisnis

Itu bukan kerja

Pedagang

Cuma dagang

Bukan kerja

Kerja itu

Di kantor

Bukan di rumah

Belakang meja

Bukan di sofa

Duduk

Bukan berdiri

Kalo perlu

Pakai dasi

Kerja nak!

Kerja di kantor

Jadi pegawai

Sampai tua

Senin, 16 Mei 2016

Hujan membisu

Bergelimang hujan di sudut jiwa
Tak ada suara di rintiknya
Merintih luka mendengar jiwa
Saat guntur membisu setelah kilat melintas

Raga tak lagi merindu suara
Yang berdentum keras
Membentuk asmara dalam otak
Bersetubuh berbalut peluh rindu

Hujan terus mengguyur
Banjiri semua jiwa
Mulai menyenggama otak
Hilangkan semua suara

Tak ada kata
Tak ada suara
Berisik tak bergemuruh
Sakit namun tak mengaduh

Hilangkan nada
Hanya terucap doa
Tak bersuara
Hanya sementara

Senin, 09 Mei 2016

Belum berakhir

Tak bisa bicara banyak

Apapun yang terjadi

Matahari tetaplah terbit dari timur

Ketika kau melihat nya di barat

Hari mu akan berakhir

Semua yang kini ada

Bukan pagi itu

Matahari masih terbit di timur

Dan harimu masih berlanjut

Hingga nanti senja merona di barat

Sampai nanti malam gelap

Sampai nanti kau tertidur lelap

Lakukan

Layu sudah tak berkata kata
Jika hanyalah sedih yang dirangkai
Walau bahagia pun menyeruak
Tak ada kata untuk bahagia

Kaki lelah melangkah sepi
Yang ada hanya bohongi diri
Setiap ku cinta yang ku lakukan
Semakin jauh dari yang ku lakukan karena cinta

Lihat saja matahari
Dikira berdiam diri memancar sinar
Walau ia berputar mengelilingi semesta
Tak tahu dia cinta atau hanya melakukannya saja

Tak bosan ku menulis
Hanya belum ada kata untuk bahagia
Tak bosan ku menggambar
Hanya belum terbiasa menjalaninya

Jika bahagia saja bisa membuat perut kenyang
Akan kutinggalkan yang ada untuk nya
Ku tekuni demi cinta yang ada
Ku geluti hingga sampai akhirnya

Ini dunia nyata sayangnya
Tak bisa mengalir seperti air
Yang lewati semua batu batu besar
Atau meluap dan berubah menjadi hujan

Ini dunia nyata yang kurasa
Aku hadapi walau tak cinta
Walau merana mendusta harus mencinta
Demi penuhi yang kubawa di pundak ku

Walau dalam sujudku juga mengeluh
Dalam sadarku pun mengerang keluh
Tak sadar bukan satu perut yang menunggu
Harus ku kembali jalani sesuatu yang tak kucintai

Jika terus menunggu dia sampai nanti
Aku akan membusuk berkali kali
Jalani hidup tanpa mencintai
Dan membuang cinta berkali kali

Singkirkan saja semua ini
Yang buat sempit hati ini
Harusnya luas seluas semesta
Tanpa ada batas

Mengeluhku dalam doa
Dalam kata yang kusaji indah
Setiap tutur bicara pada hari biasa
Seakan tak bersyukur ku pada hidup

Saat ku selesai kan kalimat terakhir
Dalam keluhku di puisi ini
Semoga ku bisa mencinta setiap hal yang ada
Bersyukur setiap nafas dan karya yang pernah ada

Semoga ku lakukan yang kucintai
Dan mencintai yang ku lakukan

Rabu, 04 Mei 2016

Hijau untuk anak

Sahut sahut ceracau anak
Membuat ribut taman di tengah beton

Decit sepatu mereka saat melangkah
Membuat tersenyum siapa yang melihatnya

Di sini, di tengah gedung tinggi
Tempat pemukiman baru
Di mana tanah begitu jauh dipijak
Demi mendapat atap berteduh

Di sini, tersisa hijau tengah abu abu
Tempat berkumpul para ibu
Atau terkadang para pembantu
Seringkali para penjual nafsu

Ini taman seribu umat
Bukan pula tempat keramat
Terkadang mereka salah tempat
Malah menjajakan kesenangan sesaat

Selasa, 03 Mei 2016

Tak perlu ku marah

Dari kejauhan aku menghampiri sang jelita, bertanya akan kemana dia berpulang. Tak ditampik pertanyaanku, sang jelita pergi sedikit berlari menuju ke keramaian. Apa salahku!? teriak ku membatin, seorang lelaki yang ingin berbagi malam pada seorang wanita, hanya sekedar berbagi cerita bukan nafsu belaka,

Ini sudah malam ketiga, dimana semua telah saru dalam kekelaman yang abadi. Apakah masih ada yang merindu ketika ku pergi meninggalkan desa? Apakah masih ada yang mencari benak dalam pikiran ku ini?. Tak perlulah ada yang menjawab semua yang aku tanyakan, jika pun aku teriak kencang kencang di tengah terminal kota yang kotor penuh debu dan berwarna abu abu walau terik siang menguning dari matahari tak kuasa menembus semua debu debu itu.

Terlantung hidup dalam kemalangan, disaat semua harap telah sirna, disaat semua orang telah menghilang. Bukanlah menghilang karena mati, tapi menghilang karena tidak perduli. Mereka bersembunyi di balik beton beton itu, duduk di kursi empuk yang sedikit bergoyang, atau sedang menonton televisi yang berisikan hiburan semata tanpa ada edukasi. Mereka berkata kita adalah keluarga, datanglah ke kota ini dan kita akan menyambut mu.

Sudah hari ketiga semenjak aku menginjak kota ini, semua tempat yang ku tahu ku kunjungi dan tak satu pun pintu terbuka. Semua nomor telepon ku hubungi, hanya terdengar bunyi berulang seperti tanda tak mau berbicara. Inikah keluarga! inikah bentuk kasih sayang!. Lebih baik aku bergumul di sawah sana, bercampur lumpur dan menyatu dengan alam. Sedikit lapar memang ku akui, tapi disana ku bahagia dan tak terhina.

Ku akhiri saja kisah ini, ketika ada sekumpulan orang yang penuh amarah, meminta hak nya, hak yang dulu pernah ada tapi hilang dimakan tikus yang berwibawa dengan alasan yang dibuat logis. Aku berkumpul dengan mereka, amarah mereka adalah amarah ku juga, tak perlu ku tahu lebih dalam apa hak mereka tapi yang penting aku mendapat makan setelah ini, setelah berjalan sejauh mungkin sambil berteriak menuntut hak yang tidak ku ketahui pasti.

Di depan gedung yang berpagar tinggi, yang terlihat megah saat muncul di televisi, yang terlihat nyaman isi nya yang membuat didalamnya tertidur saat membela yang memilihnya, yang pernah diduduki oleh kaum cendekia muda karena menginginkan perubahan besar, reformasi, dan kini ku keluarkan amarah ku. Tak usah banyak bicara lagi, kita robohkan pagar ini, kalian sudah membenci mereka bukan? Kalian sudah ingin megeluarkan kata kata kalian di depan telinga sang tikus tikus yang berwibawa bukan?.

Inilah saatnya, ku kerahkan seluruh tenaga ku dan menerobos barisan pengaman dan menghantam pagar itu, seidkit bergoyang ku rasakan, sedikit semangat ku melakukannya kembali dan kini beratus orang membantu. Emosi mereka menjadi satu, menjadi semangat yang menggebu yang hancurkan pagar tinggi bercat hitam seperti tanda kebengisan. Pagar sudah rubuh tuan tuan, berteriaklah lebih kencang tuan tuan, kini kita masuki tempat ini tuan tuan! Bangga rasanya kekesalan ku tertumpahkan, menyeringai senyum ku seperti layaknya petinju yang memenangkan pertandingan di ronde pertama.

Sejenak ku melihat gerombolan lain yang datang dari dalam, membawa tongkat hitam yang diayunkan begitu murka, aku tak kuasa terdiam, terpana begitu cepatnya mereka datang tanpa aba aba seperti kita. Hitam yang kulihat terakhir, gelap dibarengi dengan sedikit bunyi keras dan pecah. Aku kemudian berdiri dalam sunyi senyap yang gelap tak ada sesuatu atau apapun itu. Terdiam dan berpikir kenapa aku ada di sini, sendiri, bukankah aku pemuda desa yang ingin mendapat kerja di kota ini? Bukankah aku buruh tani yang hanya tahu kapan panen tiba dan kerbau haus ataupun lapar? Kenapa aku di sini?

Dan aku membuka mata, kulihat keramaian masih tersisa, kali ini membentuk lingkaran seperti memandang ke arah dalam lingkaran itu. Kulihat dibalik mereka memandangi ku, tapi bukan ke mata ku atau ke tubuh ku melainkan ke arah bawah kaki ku. Mereka menatapku, bukan diri ku tapi tubuh ku. Kenapa aku seperti ini? Ini bukan mau ku!? Aku hanya lapar dan ingin bekerja, bertemu keluarga, dan menjadi bangga, bukan menjadi pemarah.

Memaafkan doa

Mati itu sudah pasti
Bukan seperti pelangi setelah hujan
Yang kadang tak kunjung tiba

Jika dalam doa terucap iba
Memohon ampun akan yang pernah ada
Salah yang terucap lantang
Atau bisik rindu yang samar

Kita akan terbiasa
Saat nanti ditinggal yang dicinta
Atau meninggalkannya

Jika maaf terucap sembarang
Malah benci diterima
Jika benci diutarakan lantang
Hanya dendam yang kita rasa

Saat nanti diujung zaman
Harusnya kita tak lagi fana
Karena waktu berhenti dan semua dosa jadi nyata

Senin, 02 Mei 2016

Saat ini

Biar benci memakan jiwa ini
Sosok penyendiri yang pembenci
Penebar iri yang lemah hati
Yang tak tahu diri membuang yang mencintai

Terjun saja kau ini ke jurang dan mati
Yang berkali kali terus mengingkari
Setiap kata dan janji layaknya orang suci
Dan diakhiri lagi dan lagi dengan sepi

Neraka terlalu damai bagi yang mengingkari
Biarkan berteriak lagi dalam senyap yang sepi
Sampai putus uratnya nanti hingga tak bisa berteriak lagi
Tergolek lemas terkulai kosong tak ada isi

Lantang bersikap mengubah diri namun tak kunjung pasti
Duduk merana ratapi tembok sambil menangisi
Sesal yang terjadi tak bisa dirajut bagus lagi
Biar biar saja kau mati dalam balutan sepi yang abadi

Minggu, 01 Mei 2016

Gugur

Aku melihat daun berguguran
Berserakan di atas tanah
Mengering menyedihkan

Perlahan makin banyak yang berjatuhan
Dibiarkan saja berbaring di sana
Mengering hingga bertulang

Helai demi helai daun jatuh menerus
Terus berjatuhan sampai tak bersisa
Hanya ranting kering terpatahkan angin

Yang tersisa hanya sama seperti yang gugur
Kering muram seakan gugur kapan saja
Seakan hilang sudah walau masih tersisa

Daun berguguran biarkan saja di tanah
Agar kelak jadi guna untuk tanah
Jadi guna untuk yang lain

Dan kini aku melihatnya semua
Dengan batang dan ranting yang kering
Inilah aku pohon yang mati kering

Melihat semua daunku berguguran
Membiarkannya agar baik mereka berguna nantinya
Harapku demikian

Dan biar saja aku mengering
Kemudian hancur perlahan
Jadi debu di udara

Keropos
Tidak gugur menjadi kompos
Melainkan dimakan angin dan hujan

Jika nanti tersisa akar ku di dalam tanah
Biar saja cacing dan semut bersarang disana
Semoga itulah guna dari sisa ku nanti