Dari kejauhan aku menghampiri sang jelita, bertanya akan kemana dia berpulang. Tak ditampik pertanyaanku, sang jelita pergi sedikit berlari menuju ke keramaian. Apa salahku!? teriak ku membatin, seorang lelaki yang ingin berbagi malam pada seorang wanita, hanya sekedar berbagi cerita bukan nafsu belaka,
Ini sudah malam ketiga, dimana semua telah saru dalam kekelaman yang abadi. Apakah masih ada yang merindu ketika ku pergi meninggalkan desa? Apakah masih ada yang mencari benak dalam pikiran ku ini?. Tak perlulah ada yang menjawab semua yang aku tanyakan, jika pun aku teriak kencang kencang di tengah terminal kota yang kotor penuh debu dan berwarna abu abu walau terik siang menguning dari matahari tak kuasa menembus semua debu debu itu.
Terlantung hidup dalam kemalangan, disaat semua harap telah sirna, disaat semua orang telah menghilang. Bukanlah menghilang karena mati, tapi menghilang karena tidak perduli. Mereka bersembunyi di balik beton beton itu, duduk di kursi empuk yang sedikit bergoyang, atau sedang menonton televisi yang berisikan hiburan semata tanpa ada edukasi. Mereka berkata kita adalah keluarga, datanglah ke kota ini dan kita akan menyambut mu.
Sudah hari ketiga semenjak aku menginjak kota ini, semua tempat yang ku tahu ku kunjungi dan tak satu pun pintu terbuka. Semua nomor telepon ku hubungi, hanya terdengar bunyi berulang seperti tanda tak mau berbicara. Inikah keluarga! inikah bentuk kasih sayang!. Lebih baik aku bergumul di sawah sana, bercampur lumpur dan menyatu dengan alam. Sedikit lapar memang ku akui, tapi disana ku bahagia dan tak terhina.
Ku akhiri saja kisah ini, ketika ada sekumpulan orang yang penuh amarah, meminta hak nya, hak yang dulu pernah ada tapi hilang dimakan tikus yang berwibawa dengan alasan yang dibuat logis. Aku berkumpul dengan mereka, amarah mereka adalah amarah ku juga, tak perlu ku tahu lebih dalam apa hak mereka tapi yang penting aku mendapat makan setelah ini, setelah berjalan sejauh mungkin sambil berteriak menuntut hak yang tidak ku ketahui pasti.
Di depan gedung yang berpagar tinggi, yang terlihat megah saat muncul di televisi, yang terlihat nyaman isi nya yang membuat didalamnya tertidur saat membela yang memilihnya, yang pernah diduduki oleh kaum cendekia muda karena menginginkan perubahan besar, reformasi, dan kini ku keluarkan amarah ku. Tak usah banyak bicara lagi, kita robohkan pagar ini, kalian sudah membenci mereka bukan? Kalian sudah ingin megeluarkan kata kata kalian di depan telinga sang tikus tikus yang berwibawa bukan?.
Inilah saatnya, ku kerahkan seluruh tenaga ku dan menerobos barisan pengaman dan menghantam pagar itu, seidkit bergoyang ku rasakan, sedikit semangat ku melakukannya kembali dan kini beratus orang membantu. Emosi mereka menjadi satu, menjadi semangat yang menggebu yang hancurkan pagar tinggi bercat hitam seperti tanda kebengisan. Pagar sudah rubuh tuan tuan, berteriaklah lebih kencang tuan tuan, kini kita masuki tempat ini tuan tuan! Bangga rasanya kekesalan ku tertumpahkan, menyeringai senyum ku seperti layaknya petinju yang memenangkan pertandingan di ronde pertama.
Sejenak ku melihat gerombolan lain yang datang dari dalam, membawa tongkat hitam yang diayunkan begitu murka, aku tak kuasa terdiam, terpana begitu cepatnya mereka datang tanpa aba aba seperti kita. Hitam yang kulihat terakhir, gelap dibarengi dengan sedikit bunyi keras dan pecah. Aku kemudian berdiri dalam sunyi senyap yang gelap tak ada sesuatu atau apapun itu. Terdiam dan berpikir kenapa aku ada di sini, sendiri, bukankah aku pemuda desa yang ingin mendapat kerja di kota ini? Bukankah aku buruh tani yang hanya tahu kapan panen tiba dan kerbau haus ataupun lapar? Kenapa aku di sini?
Dan aku membuka mata, kulihat keramaian masih tersisa, kali ini membentuk lingkaran seperti memandang ke arah dalam lingkaran itu. Kulihat dibalik mereka memandangi ku, tapi bukan ke mata ku atau ke tubuh ku melainkan ke arah bawah kaki ku. Mereka menatapku, bukan diri ku tapi tubuh ku. Kenapa aku seperti ini? Ini bukan mau ku!? Aku hanya lapar dan ingin bekerja, bertemu keluarga, dan menjadi bangga, bukan menjadi pemarah.