Kamis, 15 Desember 2016

Angin

Terik matahari siang ini
Disapu sudah dengan hembusmu
Bertiup kencang
Namun lembut menyapa

Seakan dibuatku terbang
Tinggalkan semua sementara
Hingga terasa lagi terik matahari
Yang hempaskan ku ke bumi

Dan tersadar diriku

Rabu, 14 Desember 2016

Asing

Tak perduli kau sama
Jika hanya terlihat saja
Tapi di dalam
Kau tetaplah berbeda

Asing
Dan terasingkan
Seakan bukan tempatmu
Walau waktu sudah berlalu

Dan nanti
Hanya akan mengucap
Selamat tinggal
Terimakasih

Selasa, 06 Desember 2016

Gunting Merah

Mungkin ku hentikan saja pelarian ku ini, tidak ada guna lagi. Rasa lelah sudah menggelayuti kaki ku berlari menyusuri jalan sepanjang malam ini. Tak kusangka akan kehilangan semua nya, tak kukira akan secepat ini lebih tepatnya. Dari awal telah kupikirkan yang terburuk, tapi ini jauh lebih buruk. Sekelompok orang itu tidak terlihat manusiawi, membawa benda seperti parang dan golok serta mengayunkan benda yang terlihat seperti golok besar dan melengkung seperti celurit itu. Siapapun yang melihat nya pasti akan menyingkir sejauh mungkin, walau tubuh mereka bersih dan memakai jas rapih tapi tercium bau darah dari setiap jengkal tubuhnya. Tidak ada darah yang tampak dari pakaian mereka tapi tercium dari tubuhnya.

Sudah ku bilang untuk lari, sekuat tenaga, sebelum mereka melangkah lebih dekat, sebelum mereka menghancurkan tempat itu. Kurasa tak ada yang mendengarkan kisah ku yang terdengar seperti cerita horor picisan yang ditemui di majalah yang berisi tentang takhayul dan hantu. Inilah realita nya, satu persatu teman ku dibunuh dengan keji tanpa ada belas kasih yang tampak dari bola mata mereka. Bersyukur aku berhasil menyelinap dari jendela lantai dua, walau sedikit luka di kaki ku ini setelah menerebos pohon dan semak semak pekarangan tetangga ku.

Tak kulihat teman-temanku lagi setelah dengan cepatnya darah menyembur ke muka ku, bahkan tak kulihat pria itu mengayunkan senjatanya. Hanya sekejap aku langsung memutar badan ku, tak peduli lagi dengan keadaan yang ku pikirkan adalah nyawa ku. Tak ada teriakan panjang yang khas seperti di film-film horor, sepertinya para lelaki haus darah itu memenggal semua kepala teman ku, karena hanya bunyi memekik dan sudah hilang suara mereka. Tak peduli lagi dengan itu semua, yang kupikirkan saat itu hanya berlari dan menghindar. Bahkan benda yang seharusnya ku bawa tertinggal begitu saja.

Sebuah botol kaca berisikan contoh darah yang ingin kami berikan ke kepolisian nampaknya sedang diburu oleh kelompok itu. Kami adalah sekelompok ahli tumbuhan dan ahli hewan berusaha mencari tahu tentang pembunuhan massal hewan ternak beserta pemiliknya. Pada TKP itu terlihat banyak darah yang menggenang, bagai hujan darah. Yang aneh dari kejadian tersebut adalah darah pada bangkai hewan dan juga pemiliknya itu bukanlah darah mereka tetapi seperti tercampur oleh zat lain. Mata mereka merah kehitaman seperti darah yang kental dan tidak tercium bau bangkai.

Setelah kami teliti darah tersebut ternyata sama, darah hewan ternak dan pemiliknya. Yang lebih aneh lagi ketika darah tersebut menyentuh tanah maka akan tumbuh sebuah tunas. Dalam dua bulan penelitian tumbuhan itu bertumbuh cepat, bahkan berbunga dan berbuah. Buah nya memiliki daging layak nya manusia atau hewan, pohonnya sendiri memiliki jantung yang berdegup. Ini merupakan fenomena yang luar biasa, bahkan ini melampaui seluruh agama dan pengetahuan yang ada. Setelah penelitian kami memiliki hasil, laboratorium kami dihubungi oleh seseorang yang mengancam keberadaan kami jika hasil penelitian kami diketahui oleh pihak pemerintah dan masyarakat luas.

Setelah itu kami berpindah ke tempat yang lebih banyak penduduk, daerah perumahan yang terbilang cukup padat namun tidak begitu ramai. Kami pun berbincang tentang ancaman tersebut setelah semua barang sudah kami atur tata letaknya, sudah dua minggu setelah ancaman tersebut kami terima dan tak ada satu pun yang datang. Pada akhirnya kita menganggap itu hanya lelucon biasa, begitu pula setelah ku terima panggilan dari handphone ku yang berisi tentang ancaman itu lagi. Semua menganggap aku mengada ada, tapi itu semua sudah terlambat. Ini bukan lelucon, ini nyata.

Aku tak tahu lagi arah dan tujuan ku berlari, selama bau mereka tidak tercium dan tidak terlihat sosok mereka aku akan aman.Tak kusangka aku bisa bernafas lega setelah pelarian ku ini, sebaiknya ku beristirahat di tempat yang lebih ramai. Ku lihat seorang wanita yang biasa ku bertemu sepanjang perjalanan ku mencari bahan makanan sehari hari, beruntungnya aku bertemu yang ku kenal setelah semua yang sudah terjadi. Akhirnya ku bisa mencari pertolongan kepada yang berwajib. Agak aneh memang berbicara kepada orang yang tidak mengerti semua ini, lebih baik tidak terlalu banyak ku bercerita kepadanya agar dia tidak terlibat lebih jauh lagi.

Dalam perjalanan menuju kediamannya ku lihat wanita ini tidak terlalu banyak berbicara seperti biasanya, yang penuh antusias bertanya kepadaku tentang apa yang ku kerjakan. Mungkin dia sedang mencerna atau sedang berhati hati untuk tidak terlalu percaya dengan ku. Tak apalah, keadaan apapun tidak menjadi halangan ku untuk melapor ke yang berwajib dan kediamannya jauh dari tempat ku, jadi tidak mungkin para pembunuh itu menemui ku. Sepertinya ku mengendus bau yang sama seperti para pembunuh itu, ini mungkin hanya ketakutan ku yang menimbulkan halusinasi ku saja, tidak akan mungkin mereka tahu seluk beluk daerah ini.

Rumah wanita ini cukup besar untuk daerah sekitarnya, yang agak lebih masuk ke pedalaman daerah ini. Walaupun masih di daerah kota, tetapi ini cukup terpencil. Segera ku mencari telepon untuk memberi tahu yang berwajib dan juga para petinggi yang bertanggung jawab akan hal yang sedang kami kerjakan. Dalam sekejap aku dihentikan wanita itu, tampaknya dia tidak mau aku terburu buru melapor kepada yang berwajib dalam keadaan panik. Betul juga pikirku, dia menyodorkan segelas air putih untuk menenangkan ku serta menyuruhku untuk duduk sampai aku tenang.

Segelas air telah habis ku tengguk, dan mata ku terasa lelah. Apakah pelarian ku segitu melelahkannya? Mungkin saja, karena ku juga panik dan terus berpikir dari tadi. Tak apa kupikir jika ku beristirahat sejenak, memejamkan mata ku. Aku terkejut, apakah aku melihat seseorang dari kelompok yang mengejarku? Aku pun terbangun dari kantuk ku dan melihat ke sekeliling. Tidak ada siapapun, kecuali, wanita yang memberi ku minum. Tersentak ku melihatnya, ku pikir dia sedang membawa gunting besar di tangannya. Gunting besar itu adalah tangannya. Jadi yang kupikir mereka mengayunkan golok besar dan juga cambuk, tapi sebenarnya itu adalah anggota tubuh mereka. Siapa mereka ini? dan kenapa wanita ini juga seorang seperti mereka?

Wanita itu mendekat perlahan, kulihat wajah nya tanpa ada sedikit pun perasaan hanya menatap ku kosong. Tangannya yang berbentuk gunting besar berwarna merah seperti daging itu terlihat menyeramkan dan diluar nalar ku sebagai manusia dan dia merangkul leher ku, seakan ingin memeluk ku. Ternyata ia berbisik kepadaku. "Jangan kau percaya orang baik, percaya mereka yang jahat kepadamu, karena yang jahat sudah pasti akan berbuat jahat kepadamu". Sejenak aku terdiam mencoba mengerti maksudnya, menunduk tak bergeming bahkan aku pun tak gemetar karena merasa sudah tahu ajal ku. Wanita itu memanggil ku, dengan perlahan ku mengangkat kepalaku, kulihat dia tersenyum begitu manis bahkan ku lupa aku sedang diujung nyawa ku dan gunting besar berwarna merah itu kini mengapit leher ku. Dan....

Senin, 05 Desember 2016

Kembali

Sudah lupa tentang puisi
Yang hanya sekedar
Mencurahkan isi hati

Terjebak dalam kata
Hanya agar berima
Walau tidak ada makna

Kini sudah lupakan
Semua yang pernah ada
Semua salah yang pernah dibuat

Kembali lagi kepada Allah semata
Mengucapkan syukur
Setiap anugrah yang diterima

Alhamdulillah

Minggu, 04 Desember 2016

Ego

Seuntai diam yang kulakukan
Berbuah cemas pada pikirannya

Dan sesal ku melakukannya
Buat dia kecewa

Malam ini ku tutup mataku
Dengan kekecewaan yang ku buat

Untuknya

Takut luka saat lupa

Isi hati
Terkadang malu
Ungkapkan semua

Takut lupa
Takut luka
Takut duka

Diam tidak akan selesai
Marah pun tidak
Hanya dipendam

Aku
Mengecewakan
Dia

Dia
Diam
Marah

Dan aku terdiam...

Kamis, 01 Desember 2016

Fantasi

Terbangun di mimpi
Saat yang nyata
adalah maya

Terbangun di mimpi
Saat luka tak terasa
Sedih tak menangis

Terkulai lemas
Saat mata terbuka
Inikah nyata?

Rabu, 30 November 2016

Kita

Tuturnya baik
Seperti madu
Tanpa cela

Berbagi yang indah
Yang pasti berguna
Tidak sia sia

Sedang yang satu
Tidak pernah tahu
Baik atau buruk

Layaknya sampah
Kotor tuturnya
Tak berguna

Minggu, 13 November 2016

Tak ingin abadi

Tercecer darahnya
Seketika saat pisau menusuknya

Tak sakit jeritnya
Tak dirasa nampaknya

Kekal abadi sepertinya
Luka nya menutup kembali

Wajahnya tertunduk
Menyesal tak hilang nyawanya

Inikah penyesalan
Akan hidup abadi

Bukan anugerah
Tapi kutukan

Seperti merindu
Tapi tak ingin dilihat pilu 

Jika seperti itu
Tak ingin ku abadi

Jumat, 11 November 2016

Dia ke jogja

Resah lah mulai menjalar
Saat pergi jauh dia ke kota nya

Kabar tak datang
Sebelum sampai ke kereta

Resah mulai mengganggu
Mengacau nalar dan dibuat gusar

Kabar pun datang
Dia sudah di kereta

Resah perlahan hilang
Hanya ribut rindu yang tersisa

Senin, 26 September 2016

Dingin hujan malam ini

Hujan
bawa Aku
Lupakan bulan
Dan kenangan

Biarkan mereka
Ditutupi
Oleh dingin
Malam ini

Rabu, 20 Juli 2016

Luka Langit

Lihat lihat kilat menyambar
Langit seperti tersakiti
Tapi tak perduli kilat tetap menyambar

Saat ini badai katanya
Dan kilat tetap menyambar
Walau langit tersakiti

Kilat terus menyambar
Seperti memecut langit
Hujan seperti air mata sang langit

Langit membalas murka
Memanggil sang matahari
Berharap terangnya hempaskan badai

Percuma sudah meminta
Kilat menambah murka
Makin merajalela

Selama badai ada
Kilat tak akan berhenti
Terus membelah langit

Hingga langit pun pasrah
Mereda tenang berisak tangis
Melemah karena lelah hingga terengah

Badai pun sirna
Langit terlihat tenang
Walau bumi basah akan air mata langit

Langit terdiam
Tak ada awan maupun angin
Hanya biru membentang

Secuil awan muncul
Membawa maaf dari sang kilat
Walau sudah tenang langit terdiam

Kilat berkata
Bersabar lah nanti jika badai tiba
Tak ada yang bisa hentikan diri ku

Langit semakin terdiam
Seakan tahu dirinya tak bisa tenang
Karena awan hitam kembali lagi datang

Minggu, 17 Juli 2016

Hilang

Angin datang bawa hujan
Matahari pergi sambil terdiam
Di balik awan Ia menghilang

Sesekali tampak
Walau hanya sinarnya
Menyeruak sedikit di sela sela awan hitam

Angin kembali lagi datang
Bawa ribuan awan
Menghitam tampak kelam

Tak ayal gemuruh guntur berteriak
Cahaya kilat seperti menyilet langit
Membelah asa untuk lihat mentari kembali

Hujan semakin lebat
Jatuh air nya membuat hilang semua sepi
Bukan menenangkan tapi menakutkan

Hanya cahaya kilat yang menerangi
Hanya sekilas tak terasa
Tak membuat hangat hati ini jua

Angin kembali lagi datang
Menambah dingin saat malam
Walau tak jelas ini malam ataupun siang

Mungkin nanti

Matahari tak lagi datang

Jumat, 27 Mei 2016

Ucapan Terimakasih

Hai,,

Terimakasih bagi yang sudah membaca blog ini, apalagi yang sudah rutin membuka dan membaca blog ini. Maaf jika lebih dari sebagian blog ini berisi curahan hati yang spontanitas dikeluarkan.


Maaf belum bisa rutin lagi mengisi blog ini, karena belum ada yang bisa dikeluhkan atau di"galau"kan (bukan berarti gak ada atau gak galau) bisa ditumpahkan dalam tulisan.

Sekali lagi, terimakasih banyak sudah meluangkan waktunya untuk membaca blog ini.


Nasyrah dera aprianto

(Maaf kalo spasinya berantakan,, maklum update di hape)

Minggu, 22 Mei 2016

22

Tak ada risau yang tampak nyata
Hanya senyum menyimpan duka
Duka yang tertutup suka
Suka cita akan bertatap muka

Bukan tak perduli akan esok
Sudah direncana tapi kadang berbelok
Bahagia hari ini berbeda dengan besok
Bahkan bertemu banyak sosok

Berteman tiada batas
Banyak dikenal sedikit yang berbekas
Banyak pula yang sekedar melintas
Beberapa mendapatkan prioritas

Indahnya dunia dari matanya
Kilau semangatnya hapuskan duka
Hidup dengannya seakan berpesta
Fananya hidup tersingkirkan suka
Alihkan lara yang menutup senyumnya

Semoga lengkung senyumnya abadi
Diantara yang tak pasti
Jangan kau sering berdiam diri
Jiwa mu itu selalu memintamu berlari

Rabu, 18 Mei 2016

Kerja katanya

Hidup itu kerja

Pakai kemeja

Jadi eksekutif

Bukan bisnis

Itu bukan kerja

Pedagang

Cuma dagang

Bukan kerja

Kerja itu

Di kantor

Bukan di rumah

Belakang meja

Bukan di sofa

Duduk

Bukan berdiri

Kalo perlu

Pakai dasi

Kerja nak!

Kerja di kantor

Jadi pegawai

Sampai tua

Senin, 16 Mei 2016

Hujan membisu

Bergelimang hujan di sudut jiwa
Tak ada suara di rintiknya
Merintih luka mendengar jiwa
Saat guntur membisu setelah kilat melintas

Raga tak lagi merindu suara
Yang berdentum keras
Membentuk asmara dalam otak
Bersetubuh berbalut peluh rindu

Hujan terus mengguyur
Banjiri semua jiwa
Mulai menyenggama otak
Hilangkan semua suara

Tak ada kata
Tak ada suara
Berisik tak bergemuruh
Sakit namun tak mengaduh

Hilangkan nada
Hanya terucap doa
Tak bersuara
Hanya sementara

Senin, 09 Mei 2016

Belum berakhir

Tak bisa bicara banyak

Apapun yang terjadi

Matahari tetaplah terbit dari timur

Ketika kau melihat nya di barat

Hari mu akan berakhir

Semua yang kini ada

Bukan pagi itu

Matahari masih terbit di timur

Dan harimu masih berlanjut

Hingga nanti senja merona di barat

Sampai nanti malam gelap

Sampai nanti kau tertidur lelap

Lakukan

Layu sudah tak berkata kata
Jika hanyalah sedih yang dirangkai
Walau bahagia pun menyeruak
Tak ada kata untuk bahagia

Kaki lelah melangkah sepi
Yang ada hanya bohongi diri
Setiap ku cinta yang ku lakukan
Semakin jauh dari yang ku lakukan karena cinta

Lihat saja matahari
Dikira berdiam diri memancar sinar
Walau ia berputar mengelilingi semesta
Tak tahu dia cinta atau hanya melakukannya saja

Tak bosan ku menulis
Hanya belum ada kata untuk bahagia
Tak bosan ku menggambar
Hanya belum terbiasa menjalaninya

Jika bahagia saja bisa membuat perut kenyang
Akan kutinggalkan yang ada untuk nya
Ku tekuni demi cinta yang ada
Ku geluti hingga sampai akhirnya

Ini dunia nyata sayangnya
Tak bisa mengalir seperti air
Yang lewati semua batu batu besar
Atau meluap dan berubah menjadi hujan

Ini dunia nyata yang kurasa
Aku hadapi walau tak cinta
Walau merana mendusta harus mencinta
Demi penuhi yang kubawa di pundak ku

Walau dalam sujudku juga mengeluh
Dalam sadarku pun mengerang keluh
Tak sadar bukan satu perut yang menunggu
Harus ku kembali jalani sesuatu yang tak kucintai

Jika terus menunggu dia sampai nanti
Aku akan membusuk berkali kali
Jalani hidup tanpa mencintai
Dan membuang cinta berkali kali

Singkirkan saja semua ini
Yang buat sempit hati ini
Harusnya luas seluas semesta
Tanpa ada batas

Mengeluhku dalam doa
Dalam kata yang kusaji indah
Setiap tutur bicara pada hari biasa
Seakan tak bersyukur ku pada hidup

Saat ku selesai kan kalimat terakhir
Dalam keluhku di puisi ini
Semoga ku bisa mencinta setiap hal yang ada
Bersyukur setiap nafas dan karya yang pernah ada

Semoga ku lakukan yang kucintai
Dan mencintai yang ku lakukan

Rabu, 04 Mei 2016

Hijau untuk anak

Sahut sahut ceracau anak
Membuat ribut taman di tengah beton

Decit sepatu mereka saat melangkah
Membuat tersenyum siapa yang melihatnya

Di sini, di tengah gedung tinggi
Tempat pemukiman baru
Di mana tanah begitu jauh dipijak
Demi mendapat atap berteduh

Di sini, tersisa hijau tengah abu abu
Tempat berkumpul para ibu
Atau terkadang para pembantu
Seringkali para penjual nafsu

Ini taman seribu umat
Bukan pula tempat keramat
Terkadang mereka salah tempat
Malah menjajakan kesenangan sesaat

Selasa, 03 Mei 2016

Tak perlu ku marah

Dari kejauhan aku menghampiri sang jelita, bertanya akan kemana dia berpulang. Tak ditampik pertanyaanku, sang jelita pergi sedikit berlari menuju ke keramaian. Apa salahku!? teriak ku membatin, seorang lelaki yang ingin berbagi malam pada seorang wanita, hanya sekedar berbagi cerita bukan nafsu belaka,

Ini sudah malam ketiga, dimana semua telah saru dalam kekelaman yang abadi. Apakah masih ada yang merindu ketika ku pergi meninggalkan desa? Apakah masih ada yang mencari benak dalam pikiran ku ini?. Tak perlulah ada yang menjawab semua yang aku tanyakan, jika pun aku teriak kencang kencang di tengah terminal kota yang kotor penuh debu dan berwarna abu abu walau terik siang menguning dari matahari tak kuasa menembus semua debu debu itu.

Terlantung hidup dalam kemalangan, disaat semua harap telah sirna, disaat semua orang telah menghilang. Bukanlah menghilang karena mati, tapi menghilang karena tidak perduli. Mereka bersembunyi di balik beton beton itu, duduk di kursi empuk yang sedikit bergoyang, atau sedang menonton televisi yang berisikan hiburan semata tanpa ada edukasi. Mereka berkata kita adalah keluarga, datanglah ke kota ini dan kita akan menyambut mu.

Sudah hari ketiga semenjak aku menginjak kota ini, semua tempat yang ku tahu ku kunjungi dan tak satu pun pintu terbuka. Semua nomor telepon ku hubungi, hanya terdengar bunyi berulang seperti tanda tak mau berbicara. Inikah keluarga! inikah bentuk kasih sayang!. Lebih baik aku bergumul di sawah sana, bercampur lumpur dan menyatu dengan alam. Sedikit lapar memang ku akui, tapi disana ku bahagia dan tak terhina.

Ku akhiri saja kisah ini, ketika ada sekumpulan orang yang penuh amarah, meminta hak nya, hak yang dulu pernah ada tapi hilang dimakan tikus yang berwibawa dengan alasan yang dibuat logis. Aku berkumpul dengan mereka, amarah mereka adalah amarah ku juga, tak perlu ku tahu lebih dalam apa hak mereka tapi yang penting aku mendapat makan setelah ini, setelah berjalan sejauh mungkin sambil berteriak menuntut hak yang tidak ku ketahui pasti.

Di depan gedung yang berpagar tinggi, yang terlihat megah saat muncul di televisi, yang terlihat nyaman isi nya yang membuat didalamnya tertidur saat membela yang memilihnya, yang pernah diduduki oleh kaum cendekia muda karena menginginkan perubahan besar, reformasi, dan kini ku keluarkan amarah ku. Tak usah banyak bicara lagi, kita robohkan pagar ini, kalian sudah membenci mereka bukan? Kalian sudah ingin megeluarkan kata kata kalian di depan telinga sang tikus tikus yang berwibawa bukan?.

Inilah saatnya, ku kerahkan seluruh tenaga ku dan menerobos barisan pengaman dan menghantam pagar itu, seidkit bergoyang ku rasakan, sedikit semangat ku melakukannya kembali dan kini beratus orang membantu. Emosi mereka menjadi satu, menjadi semangat yang menggebu yang hancurkan pagar tinggi bercat hitam seperti tanda kebengisan. Pagar sudah rubuh tuan tuan, berteriaklah lebih kencang tuan tuan, kini kita masuki tempat ini tuan tuan! Bangga rasanya kekesalan ku tertumpahkan, menyeringai senyum ku seperti layaknya petinju yang memenangkan pertandingan di ronde pertama.

Sejenak ku melihat gerombolan lain yang datang dari dalam, membawa tongkat hitam yang diayunkan begitu murka, aku tak kuasa terdiam, terpana begitu cepatnya mereka datang tanpa aba aba seperti kita. Hitam yang kulihat terakhir, gelap dibarengi dengan sedikit bunyi keras dan pecah. Aku kemudian berdiri dalam sunyi senyap yang gelap tak ada sesuatu atau apapun itu. Terdiam dan berpikir kenapa aku ada di sini, sendiri, bukankah aku pemuda desa yang ingin mendapat kerja di kota ini? Bukankah aku buruh tani yang hanya tahu kapan panen tiba dan kerbau haus ataupun lapar? Kenapa aku di sini?

Dan aku membuka mata, kulihat keramaian masih tersisa, kali ini membentuk lingkaran seperti memandang ke arah dalam lingkaran itu. Kulihat dibalik mereka memandangi ku, tapi bukan ke mata ku atau ke tubuh ku melainkan ke arah bawah kaki ku. Mereka menatapku, bukan diri ku tapi tubuh ku. Kenapa aku seperti ini? Ini bukan mau ku!? Aku hanya lapar dan ingin bekerja, bertemu keluarga, dan menjadi bangga, bukan menjadi pemarah.

Memaafkan doa

Mati itu sudah pasti
Bukan seperti pelangi setelah hujan
Yang kadang tak kunjung tiba

Jika dalam doa terucap iba
Memohon ampun akan yang pernah ada
Salah yang terucap lantang
Atau bisik rindu yang samar

Kita akan terbiasa
Saat nanti ditinggal yang dicinta
Atau meninggalkannya

Jika maaf terucap sembarang
Malah benci diterima
Jika benci diutarakan lantang
Hanya dendam yang kita rasa

Saat nanti diujung zaman
Harusnya kita tak lagi fana
Karena waktu berhenti dan semua dosa jadi nyata

Senin, 02 Mei 2016

Saat ini

Biar benci memakan jiwa ini
Sosok penyendiri yang pembenci
Penebar iri yang lemah hati
Yang tak tahu diri membuang yang mencintai

Terjun saja kau ini ke jurang dan mati
Yang berkali kali terus mengingkari
Setiap kata dan janji layaknya orang suci
Dan diakhiri lagi dan lagi dengan sepi

Neraka terlalu damai bagi yang mengingkari
Biarkan berteriak lagi dalam senyap yang sepi
Sampai putus uratnya nanti hingga tak bisa berteriak lagi
Tergolek lemas terkulai kosong tak ada isi

Lantang bersikap mengubah diri namun tak kunjung pasti
Duduk merana ratapi tembok sambil menangisi
Sesal yang terjadi tak bisa dirajut bagus lagi
Biar biar saja kau mati dalam balutan sepi yang abadi

Minggu, 01 Mei 2016

Gugur

Aku melihat daun berguguran
Berserakan di atas tanah
Mengering menyedihkan

Perlahan makin banyak yang berjatuhan
Dibiarkan saja berbaring di sana
Mengering hingga bertulang

Helai demi helai daun jatuh menerus
Terus berjatuhan sampai tak bersisa
Hanya ranting kering terpatahkan angin

Yang tersisa hanya sama seperti yang gugur
Kering muram seakan gugur kapan saja
Seakan hilang sudah walau masih tersisa

Daun berguguran biarkan saja di tanah
Agar kelak jadi guna untuk tanah
Jadi guna untuk yang lain

Dan kini aku melihatnya semua
Dengan batang dan ranting yang kering
Inilah aku pohon yang mati kering

Melihat semua daunku berguguran
Membiarkannya agar baik mereka berguna nantinya
Harapku demikian

Dan biar saja aku mengering
Kemudian hancur perlahan
Jadi debu di udara

Keropos
Tidak gugur menjadi kompos
Melainkan dimakan angin dan hujan

Jika nanti tersisa akar ku di dalam tanah
Biar saja cacing dan semut bersarang disana
Semoga itulah guna dari sisa ku nanti

Sabtu, 30 April 2016

Jatuh di kelilingi hampa

Tertutup mata arah nya hilang
Jejak nya masih jelas
Masih beranjak terus ke depan
Karena di belakang longsor sudah

Berhenti sejenak melangkah
Mata masih memejam gelap
Lupa longsor mengejar
Terperosok ke dalam tanpa terasa

Tak merosot di tanah merah
Hanya jatuh lepas di antara tiada
Terus menghilang menuju gelap
Menuju bawah jatuh ke dasar

Mata tak perlu melihat
Karena kulit ini melihatnya bagai mata
Merasanya begitu jelas
Ketiadaan yang melintas menyentuh kulit

Seakan tahu terjatuh
Tak perlu meronta meminta
Hanya merasakannya saja
Tenang karena hening diantaranya tiada

Takut tak lagi jadi soal
Hanya tahu bahwa kita kan kembali
Ke permukaan di mana tapak menginjak
Ke permukaan dimana ke depan laju langkahnya

Biar saja hancur berantakan
Saat jatuh menghantam bumi
Biar saja tercecer kecil
Biar merasa kecil kembali sebelum besar

Belum saatnya ku terhancur
Belum terasa dasarnya
Kini biar saja senang sendiri
Karena kisah ini belum berakhir

Kamis, 28 April 2016

Riang

Pagi terang
Kaki melenggang
Dengar adik berdendang
Bernyanyi senang
Walau bernada sumbang

Siapa tahu hati mengenang
Tentang apa yang hilang
Janganlah merasa kurang
Saat masih bisa berjuang
Biarlah biar hati kita tenang

Supir angkot terus menerjang
Membelah aspal yang membentang
Hari hari mereka sangat tertantang
Pemberani saat mencari uang
Asal jangan menabrak yang menyebrang

Hati ini merasa terang
Tak ada rasa lelah di tulang
Semoga hari ini terus riang
Sampai nanti saatnya berpulang
Kaki terasa riang melenggang

Rabu, 27 April 2016

Tertutup kelabu

Barisan abu kelabu tutupi si nona pagi
Hanya berkas sinarnya yang tembus awan yang kian menyendu
Perlahan rintik hujan perlahan turun
Begitu perlahan serasa embun subuh tadi

Deru kendaraan mengerang di jalan
Menggilas aspal yang terus terkikis karet bundar
Membuat nya jadi serpihan debu yang tak kasat mata
Yang terhirup pengguna trotoar yang berjalan tergesa gesa

Si kelabu yang sendu buat pekerja tertipu
Membuat si nona pagi tertutup rona nya
Hingga menutup sebagian semangat yang menggebu
Tak tertahankan bagi jiwa yang sudah kian lesu

Wahai nona pagi beranikan dirimu
Tunjukan ragamu sebelum mereka melemah merindumu
Buat lengkung senyum di wajah para pencari rezeki
Agar ringan langkah tergesa mereka tak jadi sia sia

Selasa, 26 April 2016

Tua nanti

Jika manusia adalah padi
Seharusnya ketika tua semakin merunduk karena berisi

Walau kadang seperti rumput liar yang terus tumbuh tinggi
Bertumbuh liar tak terhenti

Walau begitu manusia itu punya hati
Saling mengerti dan menghormati

Walau pada akhirnya nanti akan mati
Sebelumnya harus saling memaafkan setulus hati

Berkaca sendiri

Aku sang pemalu
Yang tidak punya kata kata

Perih tak bisa diungkap
Karena kata kata ku tak berarti
Karena kata kata ku tak dimengerti
Merajuk jadinya bagi mereka

Malam selalu sama
Bagai pisau yang mengiris pelan
Perihnya terasa lama

Aku ini pemalu
Tidak bisa berkata kata

Selalu buat kecewa yang mendekat
Membuat kata jadi bual belaka
Membuat cinta jadi fana
Pendusta aku jadinya

Kisah cinta selalu sama
Bagai bongkah besar batu gunung
Yang terus mengecil menghilang jadi pasir

Aku ini malu
Tak ada lagi kata

Mengulang sebuah cerita
Dari yang lalu tentang hal malu
Seperti radio yang rusak mengulang melulu
Membuat tak maju maju

Seakan tak bosan
Menipu semua perasaan
Yang akhir malah seperti benalu tak tahu malu

Malu
Tak berkata

Inilah sang sepi senyap dalam gelap
Yang dituju saat dihancur realita
Karena tak ada lagi sinar merona
Yang ada hanya sesal aku telan

Sudah lah diam saja jika malu
Lakukan saja jika benar dan mau
Sudah tua jangan tidak tahu malu

Senin, 25 April 2016

Cerita kereta pagi

Sedikit bergumam dalam hati
Tentang peron di seberang
Tempat menunggu untuk ke ibukota
Dimana awal terjadi waktu itu

Tak ada waktu yang menjelaskan
Tak ada kata yang menegaskan
Layaknya terang matahari
Nikmati saja terangnya

Nikmati pada waktu itu
Sebuah tatapan tanpa isyarat
Yang berujung saling mendekat
Mungkin saling terpikat

Tatapku melihat ke seberang
Tatapan yang melintas waktu
Inilah layar kaca penembus waktu
Kilas balik cerita lalu

Setiap langkah jelas terlihat
Menatapnya seakan dekat
Perlahan memelan geraknya
Semakin jelas semuanya

Di peron seberang yang lalu
Sebuah awal dari sebuah kisah
Yang kini mungkin berlalu
Menunggu cerita mereka bersatu

Dan kini ku menunggu di seberangnya
Menuju arah sebaliknya
Di titik awal keberangkatan
Untuk kembali ke tempat yang dituju

Sedikit menyesal di hati
Gerbong ini penuh orang menyesaki
Dan kiri ini ditinggal yang memiliki
Mungkin kusimpan saja sampai nanti

Minggu, 24 April 2016

Bintang rembulan

Jauh jauh puan disambangi
Tak terasa lelah ditempuh
Ucap rindu selalu diumbar
Terungkap jika masih disayang

Sudah jauh yang sudah lalu
Bertahun sudah ditinggal pergi
Tak lapuk tapi perasaan yang dirajut
Tetap menyala walau redup terlihat

Baiknya tuan bereskan kertas
Hadapi yang akan datang
Jemput yang sudah menunggu
Belumlah telat matahari terbenam

Hadirmu kini jelaskan semua
Semoga inilah jalan yang tuan ingin
Menemui puan yang gundah hati
Yang ingin lepas beban yang ada

Kini tuan ditunggu yang mengandung
Menunggu selesai kertas dirangkum
Ingin lihat yang pertama berhasil
Selama menunggu hampir dua windu

Jika puan inginkan tuan
Janganlah ada sebuah prahara
Biarlah kembali bintang pada rembulan
Biar mentari tertidur lelap

Jumat, 22 April 2016

Membatu rindu

Beritahu mereka tentang berita
Tanpa membuat mereka membencinya
Tuang seluruh rindu dalam cerita
Dan biar mereka tertawa setiap kata

Sudah usai kata benci
Ketika puan sudah menepi
Diujung rindu menuju lupa
Katakan saja pagi tak lagi ada

Semua yang fana tak ada disini
Terasa nyata walau tak terasa menggenggam
Semua semu hilang seperti debu
Tapi nyatanya tetaplah ada bagai patung batu

Cerita tentang dia
Tak habis rindu dibenci
Selalu ada tempat
Di akhir menoleh tahiyat akhir

Berikan mereka berita tanpa benci
Saat rindu tidak tersenyum lagi
Walau tak habis rindu dihirup
Tetaplah harap tak lagj hidup

Senin, 18 April 2016

Gerutu hujan kala malam

Lihat bangku basah disapu hujan
Niat hati menunggu ramai
Tak apalah berdiri sambil berandai
Tentang hujan dan harapan

Awan sudah berlalu pergi
Tampaklah rembulan ditutupi kabut
Sinarnya bias dihalang awan tipis
Seakan merona malu bertemu bumi

Terbentuk cincin bias sinar rembulan
Saru terlihat di tengah angkasa malam
Besar melingkari dirinya
Mungkin inilah pelangi kala malam

Mereka yang berharap setelah hujan
Ingin melihat langit bersolek pelangi
Tak usahlah menunggu sampai pagi
Tak usah menunggu tiba mentari

Malam tak perlu warna
Tak perlu bersolek begitu ramai
Hanya pendar sinar rembulan
Cincin cahaya hadiah setelah hujan

Harapan janganlah dinanti
Seperti menunggu pelangi di malam hari
Tak nikmati rembulan yang ada kini
Menggerutu hingga datang si nona pagi

Hujan kala malam
Kadang usir semua harapan
Termangu hingga kesal dibawa lelap
Tertidur sampai pagi usir gelap

Malam itu manusia

Banyak berucap syukur terhadap dunia
Tentang apa yang kita punya
Seakan kita tak punya apa apa
Kosong kelam hampa tak ada isi

Layaknya langit malam tanpa bintang
Hanya gelap yang dalam terlihat
Seakan tak berpijak
Seakan tak berujung

Sesatlah orang jika kesana
Ke malam tanpa bintang
Tanpa ada cahaya terang bersinar
Tak akan tahu arah

Itulah kita sang manusia
Diciptakan kosong tanpa isi
Dipenuhi nanti dengan kata dan gerak
Tutur ucapan dan tindakan

Entah diisi apa kita nantinya
Kosong yang bernama manusia
Cahaya kebaikan yang sinari malam
Atau bertambah dalam kelam nya malam

Hanyalah bersyukur kita haturkan
Walau diberi nikmat atau sengsara
Karena kita adalah malam yang kosong
Yang diisi cahaya ucapan syukur Alhamdulillah

Honest (pardon my very bad english)

I fallen sleep in the darkness
Because i just want to be honest
I fallen sleep in the darkness
And I needed a forgiveness

I just stand in the middle of forest
Trying run out in the clueless
I just stand in the middle of forest
And I tried to be the best

Sabtu, 16 April 2016

Bukan akhir pekan

Tak berbeda matahari berpijar
Sinar berkilau menyilau mata
Sedikit hangat namun menyengat
Entah itu hari kerja ataupun berlibur

Senyum berjingkat di wajah mereka
Langkah cepat bukan karena telat
Sabar sudah tak bisa ditahan
Untuk berlibur buang semua bosan

Matahari tak akan berbeda sinarnya
Kepada mereka yang masih bekerja
Kulit mereka merasa sama disengatnya
Hari libur atau bekerja tak ada beda

Tanpa rasa wajah mereka terbaca
Layaknya dinding polos bercat putih
Bosan tak dirasa senang pun tak ada
Ini akhir pekan tapi masih terasa bosan

Mereka yang berlari bahagia
Menggandeng yang dicinta
Si kecil lucu yang tak sabar
Atau kekasih manis yang dicinta

Habiskan pekan ini dengan ceria
Tak perduli mereka yang bekerja
Ini waktunya menghempaskan bosan
Bersama sama ramaikan jalan

Mereka yang bermandi peluh
Yang keringatnya berganti nasi
Berusaha senyum dibalik lelah
Sedikit harap upah dibayar segera

Si kecil menanti di bawah atap sana
Yang dicinta cemberut menggerutu
Bosan dirasa ditinggal sang pekerja
Mencari rezeki di akhir pekan

Jumat, 15 April 2016

Hujan menyendu syahdu

Malam hujan turun menyendu
Menggugah risau disudut pilu
Semu rasanya karena tak bertemu
Liat perasaan ini tak menentu

Kala malam teduh menunggu
Menggumam tentang reda merindu
Hujan deras memelan syahdu
Menjadi rintik air berhawa semu

Orang berjalan lalu
Tak perduli air basahi baju
Berlalu terus tak perduli rindu
Entah kemana puan melaju

Semoga pagi rindu telah disapu
Sudah menumpuk di titik jemu
Jika nanti wujud raga ini bertemu
Sebuah peluk hilangkan semua ragu

Rabu, 13 April 2016

Keluar

Terbentuk bagai asap tebal
Bukan gelap pekat
Karena terhirup pun bisa
Sebuah sepi yang kelam

Berkumpul dalam rongga dada
Menggeliat memenuhi semua ruang
Kelam menyesakkan hidup
Menyebar ke seluruh nadi

Darah tercampur gelapnya sepi
Mata berubah hitam dicelup kegelapan
Bukannya menjadi buta
Hanya lah hitam yang dilihat

Hentikanlah ini semua
Berhentilah saja bernafas
Agar sepi tak masuk menyeruak
Dan gelap menutupi mata

Sesaat nafas terhenti
Seberkas cahaya terlihat mengintip
Setitik dari pekatnya sepi
Sebuah harapan yang dinanti

Gemilang titik cahaya itu
Mempesona mengajak kesana
Kakipun melangkah
Walau terasa tak menjejak tanah

Kusibak asap sepi dengan harapan
Kedua tangan mengibas menggila
Membuat jalan demi cahaya disana
Yang memanggil di ujung sepi

Titik membesar pendarnya menyala
Semakin terang mengalahkan kelam
Merasuk hangat ke dalam sela mata
Mata seakan tercelup air surga

Sekitar masih terasa asap sepi
Membentuk pintu menuju terang cahaya
Selangkah lagi menuju sana
Cahaya terang ramai penuh bahagia

Selasa, 12 April 2016

Melepas kekang

Tali kekang kendali arah
Dipecut hanya menambah cepat
Berdarah kadang dibuatnya
Menyiksa saat kekang ditarik

Hanya berjalan lurus ke depan
Tak perduli halang dan rintang
Terus dipacu lompati rintangan
Tak perduli duri belukar

Kekang ditarik bersamaan
Berhenti bukan karena patuh
Tersiksa terasa sebenarnya
Hati melemah walau pikiran memberontak

Kaki dipalu dipasang sepatu
Sebuah besi penguat pijakan
Lumatkan tanah setiap langkah
Derap tinggalkan jejak berbentuk

Pelana berkulit sapi
Diletakkan si kelana di punggung ini
Pelindung genital dan pijakan kaki
Ditendang perut agar cepat larinya

Mata memandang kejauhan
Lihat ujung tak bertepi
Hanya derap langkah kuatkan diri
Terus dipacu, dipecut perih terasa

Empat kaki ini kokoh ku banggakan
Tidak seperti mata, sayu lelah terlihat
Badan penuh luka pecut
Kadang berlari walau lelah tak kenapa

Tujuan tak dicapai
Tapi memutar jalannya bercabang
Banyak mendapat cerita
Saat dipacu dengan nafas menderu

Bermimpi ke tempat yang dituju
Rasakan setiap jengkal tempat itu
Merasakan setiap sudut yang fana
Walau tak pernah sekali kesana

Kekang pun ditarik sangat keras
Terjungkal si kelana
Tersungkur kemudian sirna
Menghilang menjadi bumi

Kini kekang sudah terlepas
Melegakan hidup rasakan bebas
Ku lari sekencang mungkin bisa
Berbelok kemana tanpa di kekang

Hilang mungkin sebuah tujuan
Dan berlari kemana saja
Nantinya ku melangkah pasti
Peraduan terakhir ke sang pencipta

Tulang yang tak lelah

Ingatkah tulang ini
Tentang lelah nya
Menopang darah dan daging
Hati dan juga pikiran

Mengurung jantung
Dibalik tulang iga
Bersarang bagai burung
Berdegup bukan berkicau

Tengkorak yang keras
Memeluk otak dengan lembut
Tanpa membuatnya sesak
Layaknya ibu menggendong bayi

Menegakkan punggung
Membusungkan dada
Melindungi yang lemah
Hanya dilindungi selembar kulit

Mereka tidak tahu akan lelah
Mereka hanya susunan tulang
Yang keras yang tak mungkin berubah

Saat organ dijaga dalam hampa
Pikiran dipeluk mesra
Diajak semua melangkah
Tak pernah mereka lelah

Tulang belulang akan jadi saksi
Saat semua mati dan membusuk
Merekam ingatan setiap langkah
Tanpa lelah ingat itu semua

Tapi kini saat nya sudah
Istirahat lah tulang untuk sesaat
Biar nanti kembali tegap
Hidup kembali dan bersujud syukur

Senin, 11 April 2016

Dibakar benci sendiri

Lirih gontai bersuara serak
Kaki tak kuasa melangkah
Bersandar pun lunglai
Hilang semua tulang belulang

Lemas semua rasanya
Saat hati dilihat jahat
Sampai bergetar badan ini
Menahan diri mengucap kata

Salah memang hujan turun
Maksud hati berbuat baik
Malah berulah menjadi banjir
Merusak menghancurkan yang ada

Awalnya menimang disayang
Kemudian salah ku membuang
Yang berujung mengerang
Sakit setelah kubuang

Cerah pagi dirasa hangat
Begitu nyaman semangat terasa
Hingga siang datang mencekam
Menebar terik yang menusuk hati

Akhirnya liat pun disusun jadi rumah
Batu batu disusun menuju langit
Agar terik tak lagi sakit
Agar tak hilang ditinggal cahaya

Semua akhirnya sembunyi
Dari sakit yang terus ku sisipi
Benci yang kubuat tidak sengaja
Yang melahirkan banyak benci

Lelah kaki melangkah
Panas dengkul menekuk
Akhirnya tumbang dibakar benci
Benci yang kubuat sendiri

Rindu Embun

Tak ada lagi embun pagi
Setelah kembali ke sini
Tinggal di kota ini
Dimana debu membumbung tinggi

Siang belum waktunya tiba
Tapi hangat sudah sinar sang surya
Seakan menyapu gundah gulana
Menghilangkan sedih yang sia sia

Riuh ramai dirasa kembali
Bekerja mencari rezeki
Naik kereta lagi
Beli koran pagi

Siang hari belum waktunya
Panas nya sudah terasa
Hanya berjarak dua jam saja
Hawa nya terasa berbeda

Di kota itu dingin sekali
Walau sama sama pagi
Embun seakan selimuti diri
Menahan diri beranjak pergi

Seakan ingin kembali lusa
Setelah pulang kerja
Itu hanyalah mimpi belaka
Sekarang hadapi realita

Rindu akan embun pagi
Walau sudah bersiap diri
Kembali kerja lagi
Naik kereta lagi

Minggu, 10 April 2016

Dua ransel

Sudah lelah punggung ini
Membawa dua ransel
Tak bisa kulepas
Tak bisa kutinggal

Penting lah isi keduanya
Antara sekarang dan masa depan
Lelah tetap saja ku bawa
Sejauh apapun jua

Lelah sudah punggung ini
Istirahat ku melepas keduanya
Ringan pundak dan punggungku
Sedikit meregang lepaskan beban

Lanjut lagi perjalananku
Yang kini tetap selalu kubawa
Masa depan tetap ku bawa serta
Hanya keluh kesah yang kutinggal

Masa depan tak pasti isinya
Berubah setiap ku melangkah
Setiap jalur yang ku ambil
Berubah isi dan bobotnya

Yang kini hanya sedikit berubah
Saat ku berlalu dalam langkahku
Kadang berkurang isi dan bobotnya
Kadang bertambah dan sedikit menusuk

Belum habis perjalanan ku
Belum selesai cerita ku
Akan terus kubawa dua ransel ini
Hingga habis sudah semuanya

Sabtu, 09 April 2016

Mendayu siang hari

Derik serangga dan teriknya matahari membuai mata menutup segera.
Sepoi angin dan lantunan musik yang mendayu ingin membuat kepala bersandar.
Suasana ini bagai sebuah lagu pengantar tidur, yang bahkan membuat tidur raksasa sekalipun.
Segelas kopi dingin tidak mampu meredam keadaan ini, tidak bisa meredam nikmat rayuan ini.

Akhir pekan yang indah untuk dinikmati, tapi sangat sayang untuk diakhiri.
Masih panjang hari ini, masih lama rasanya matahari bertatap muka dengan bumi.
Sedikit menggoda minuman dingin rasa lemon itu, sepertinya dapat hilangkan kantuk ini.
Seakan bisa menggoda mata terus terbuka, mengajaknya mengobrol sampai malam.

Sendiri hadapi hari yang cerah ini, merangkai kata menjadi kalimat hingga tercipta cerita.
Menunggu matahari lelah bersinar agar dapat nikmati sunyi di tempat remang malam kemarin.
Menyesap kopi dingin, menunggu kumandang suara suci yang mungkin tidak terdengar di dalam sini.
Semoga bisa rangkai cerita siang ini sebelum mereka berbondong ramaikan jalanan.

Biar malam ini sebagai akhir dari perjalanan penentu keputusan akan nanti.
Tak perlu tunggu akan jadi apa nanti saat kembali ke jam sembilan hingga jam enam.
Biar nanti dijalani saja, surat titah sudah di tangan biar rakyat yang menjalankan.
Tak ada ragu, semoga saja lega hati untuk kembali hadapi realita.

Jika jumpa lagi wahai perwujudan dari mimpi, kita akan berbincang lagi.
Saat itu mungkin akan tertawa lebih keras dari sebelumnya, dan tak ada drama dari masa lalu.
Saat ini biar derik serangga dan terik matahari ini menemani, dan juga dingin malam nanti.
Tak akan kusesap minuman rasa lemon itu, biar kuhadapi semua ini dengan tersadar akan apa yang terjadi nanti.

Kamis, 07 April 2016

Merindu surga atau menikmati neraka?

Surga kah yang ku rindu?

Atau neraka yang ku nikmati?

Tertatih memanjatkan doa

Tetapi terampil membuat dosa

Jika surga yang ku rindu

Semoga menjauh ku dari dosa

Dan fasihkan diri ku berdoa

Beribu debu rindu

Rindu yang dulu membatu kini hancur menjadi debu

Yang melayang layang di udara beribu ribu debu

Mengisi paru paru dan tidak terasa sendu

Walau tidak sakit seperti diisi paku

Tapi masih terasa pilu

Ketika mendengarkan hampir di setiap lagu

Seakan bercerita tentang kita, antara aku dan dirimu

Gambir

Hanya dilewati pagi dan malam
Hanya melihat tas besar dan koper
Serta mereka yang membawanya

Paras ceria yang berlibur
Atau paras sendu yang berpisah

Kadang berhenti sejenak
Walau hanya di dalam kotak besi
Tak bisa beranjak

Dengan lelah dan resah
Sedikit iri dengan yang menunggu
Iri kepada yang keluar dari kota ini

Dahulu melepas dia yang besar
Selalu menganggap nya besar
Melepas dia menuju kota apel
Tempatnya menimba ilmu

Beritanya dia akan kembali
Akhir tahun ini ke Kranji

Bukan melepas hari ini
Tidak ada yang berpisah kali ini
Hanya berharap bertemu diri sendiri

Di sini berganti melihat mereka
Yang hanya melewati tempat ini
Berganti melihat sang pencari rezeki

Di sini duduk dalam kotak besi
Berbeda dari yang sehari hari
Duduk bersandar lurus ke depan

Berlari menyambut sepi
Hari ini pergi sendiri
Dari Gambir pagi ini

Stasiun itu senja

Stasiun seperti senja, pertemuan dua rasa, datang dan pergi.

Melepas sang hari menyambut sang malam, melepas yang disayang dan menyambut yang dirindu.

Harus rela melepaskan terang dan bersiap arungi malam, siap merindu dan dirindu.

Senyum senang datang disambut pelukan, hiasi wajah yang seterang siang.

Lepaskan lara dan juga rindu, sudah saatnya kita bertemu.

Sedih menggelayut, terbawa hanyut arus sendu, melepas yang disayang mendadak malam tutupi wajah.

Jangan menangis meringis, siapapun resah saat berpisah.

Stasiun seperti senja, merindu dan mencinta, melepas dan menyiksa.

Si nona pagi

Mengintip malu di ujung timur
Merona merah di tepi langit

Belum tampak sosoknya
Hanya bias sinarnya yang dirasa

Perlahan biru menyeruak langit
Masih merona merah di ujung sana

Bagai pertemuan pertama
Masih malu malu tunjukkan dirinya

Bagai malu dipuja
Yang merona merah pipinya

Sungguhlah cantik mentari pagi
Bagai perawan beranjak dewasa
Yang baru saja dilamar kekasihnya

Malu malu beranjak tinggi
Pelan pelan menguning terlihat

Sinarmu cantik di pagi ini
Temani pekerja mencari rezeki

Janganlah marah hai nona pagi
Janganlah terik kau beri di siang hari

Rabu, 06 April 2016

Si pembaca buku

Tak perlu ganggu si pembaca buku, biar dia masuk ke dalam dunia kata kata yang beribu makna, cerita dan mungkin cinta.

Diam berdiri memegang buku, mata nya membuka seakan mempersilahkan masuk semua kata kata yang terlihat menari di depan nya.

Sekitarnya akan hilang terhapus kenyataan yang terpampang pada tumpukan kertas yang rasuki hidupnya.

Tak perlu ganggu si pembaca buku, biar dia menghilang, melebur menjadi atom atom kecil dan menyebar di seluruh dunia yang nyata di buku itu.

Menyatu dengan tinta dan kertas, kabur dari realita yang nyata menuju cerita yang lebih tampak nyata dibanding realita.

Matanya meraba raba tiap helai kertas, dan merobek masuk ke dalam nya.

Jangan ganggu si pembaca buku, biar dunia hilang dalam pikirannya.

Hati seluas semesta

Jika hujan datang dikala susah, tak akan ada kata untuk menikmati hujan itu.

Jika mentari bersinar terik dikala panas hati, tak akan ada syukur cerah hari.

Buailah hidup untuk tersenyum, ajaklah hati menerima yang nyata, yang ada saat ini.

Tetes hujan yang turun laksana ribuan panah dirasa romantis jika hati kita mendayu dayu.

Cahaya terik membakar kulit seakan pagi hari yang cerah ketika akan bertemu sang pujaan hati.

Tak perlu kupaksa kan hati ini, ak perlu ku bujuk, tak perlu senyum merona hiasi wajah, hanya berucap syukur.

Biar perlahan hati ini akan nikmati semua yang ada, yang dirasa kejam ataupun merana.

Hati hanya sekepal tangan, tapi luasnya bisa kalahkan semesta.

Bahagia nanti

Memuja masa depan
Lupakan hari ini
Tinggalkan masa lalu
Jauhkan yang ada

Besok tidak tahu
Yang lalu sudah
Kini saatnya berdiri
Bersiap ke depan

Bersyukurlah hari ini
Ikhlaskan yang lalu
Jika nanti senang
Jangan lupa bersyukur

Besok harus disambut
Jangan membawa lalu
Siapkan dari sekarang
Untuk bahagia nantinya

Beranjak

Beranjak bangun dari tidur
Mencoba hilangkan buruk di kepala
Entah mimpi atau ingatan
Nyata nya begitu berat di kepala

Buruk ku ucap
Karena tak bisa ku tersenyum
Terlihat matahari bersinar
Tapi tak kudapat terang sinarnya

Seakan aku masih tertidur
Bermimpi akan gelapnya dunia
Mata terbelalak terbuka
Namun tiada sinar yang kurasa

Sudahi saja semua ini
Biar nanti terang ku nikmati
Tersenyum di antara cahaya
Mencintai dengan sepenuh jiwa

Jumat, 01 April 2016

Menyesal berdoa

Tak terekam oleh dunia apa yang kita ucapkan dalam doa, dalam bisik kita kepada sang ilahi, pencipta bumi dan seluruh jagat angkasa.

Bisik ucap kita tak perlu berteriak akan terdengar kepada Nya, kadang tengah malam ketika semua orang mendengkur, kita memanjakan doa dan beribadah agar jauh lebih tenang.

Doa akan semua kebaikan, semua yang berkaitan dengan kebaikan, bagi seluruh umat manusia atau hanya untuk kita semata.

Jangan kau ucapkan yang buruk bagi siapapun, bagi apapun, atau diri kita sendiri, daripada nanti terkabulkan doa yang memberikan keburukan bagi mu dan kau menyesali apa yang telah kau ucapkan dalam khidmat doa.

Pemuja

Rasanya ingin memetik bunga dan menyimpannya hingga layu.

Menikmati keindahan tanpa harus membawa semua nya.

Ku petik hanya sekuntum dan ku taruh di atas meja kerja ku.

Masih cerah warnanya dan mungkin kupu kupu pun akan datang karena segar nya masih melekat.

Ingin sekali ku memandang nya seharian tanpa harus melakukan apapun.

Hanya menatap nya lurus nikmati warna nya serta cantiknya bentuk nya.

Tak akan ku sentuh, tak akan ku genggam, hanya dipandang.

Melihat kuntum nya yang selalu memikat serangga mendekat dan penyair akan menulis tentangnya.

Tak akan ku buat sia sia sekuntum bunga.

Daripada jatuh ke tanah dan terinjak kemudian membusuk.

Tak dipandang, tak dipuji, dan diacuhkan.

Bunga yang indah yang tak terlihat, hanya ditanam tanpa diberi pujian seperti biduan tanpa penonton.

Bunga yang indah yang hanya ditanam, disiram setiap harinya, yang hanya penghias taman belaka.

Bunga itu seperti putri jelita yang tidak boleh keluar rumah, dipenjara tanpa boleh orang memuji.

Biar ku petik, ku puji dengan indah, tulus ku puji semua yang ada di kuntum itu.

Walau ku tahu cantiknya tak akan lama, setelah ku petik dia akan perlahan memudar.

Makin lama akan berubah warnanya, akan berkerut permukaannya dan mengering layaknya kertas yang perlahan jadi abu.

Biar saja biar, ku membunuhnya pelan, biar saja biar, ku memisahkannya dari tempatnya berasal.

Biar saja ku jahat, biar ku dihukum, biar saja, agar tak sia sia kecantikan nya dibiarkan begitu saja.

Ku kagumi kuntum bunga itu, ku puji cantik nya, daripada jatuh diacuhkan dan mengering menghilang.

Mencinta Matahari

Seperti cinta, matahari bersinar malu malu pada dini hari di ufuk timur, begitu malunya hingga berkas sinarnya masih bercampur gelap malam dan belum terasa hangat.

Saat bumi sudah rela melepas malam, matahari beranjak naik dan bersinar lebih terang, lebih hangat. Semua celah di bumi disusupi oleh berkas sinarnya, seketika perasaan cerah layaknya jatuh cinta.

Hampir semua makhluk terbangun oleh keberadaan nya, burung burung bersuka cita, bernyanyi bersahutan seakan sambut kedatangan matahari. Tunas tumbuhan menggeliat bermandikan cahaya hangat, menari nari menyambut kelahiran tunas baru. Inilah jatuh cinta penuh suka cita.

Kian siang, kian panas, kian terasa panas matahari menguasai bumi, memaksa air terangkat ke langit dan merubahnya menjadi gumpalan awan awan.

Terkadang terlalu memaksa air ke langit, hingga awan menggumpal hitam dan tak kuasa langit menahan semua itu hingga turun kembali semua air ke bumi, hujan. Seperti itulah kesedihan dalam cinta yang memaksa, yang terlalu panas tak terkendali.

Setelah siang hari puas matahari menghujam langit dan bumi dengan sinarnya yang tak lagi hangat melainkan panas terik, perlahan mereda, berjalan seakan menghindar ke ufuk barat, sinarnya tak begitu panas hanya sedikit terasa panasnya.

Setelah lelah menggelora sinar matahari, kini meredup, melemah bagai remang lampu jalan, kuning sinar nya tak setegas siang namun tak sehangat pagi, kini sedikit menghilang sosoknya. Inilah cinta, kabur terasa setelah begitu panas menggelora.

Pelan pelan langit berwarna jingga, tidak seperti pagi yang berwarna kuning keemasan saat matahari datang, yang begitu terasa besar dan mewah sinarnya, kini jingga terasa malu malu tak jelas kuning maupun merah, jingga namanya.

Begitu romantis cara matahari meninggalkan bumi, diberi warna indah pada langit, rona jingga di ufuk barat, begitu puitis sehingga bumi rela ditinggal matahari yang sudah semestinya pergi.

Ketika malam perlahan datang, dengan sang bulan sebagai pertandanya, matahari mengecup manis bumi yang disebut senja. Begitu indahnya matahari berpisah dengan bumi, tanpa sadar bumi kehilangan cahaya, dan kembali lagi kelam dalam gelap.

Begitu pula cinta yang kadang melepaskan dirinya dengan indah dan begitu romantis, menutupi luka dengan sejuta kelembutan, menutupi amarah dan kekecewaan dengan lembut tipu rayuan.

Dan saat bumi ditelan malam, sinar bulan seakan teduh menyinari bumi di kegelapan, tetapi bumi mengacuhkannya karena tidak hangat sinar rembulan hanya dingin yang dirasa bumi walau indah mempesona berkas sinar sang rembulan.

Bumi tenggelam dalam kelam malam yang suram, acuhkan rembulan yang sinarnya tenang, hanya menunggu lagi jatuh cinta pada matahari yang terus menerus meninggalkan nya.

Seperti cinta, bumi tidak bersuka cita pada rembulan, hanya lirik sedih yang tercipta pada gelap nya malam, tak ada semangat dalam terang nya bulan, tak ada hangat. Menganggap kecil yang lain yang ingin mencinta walau tak besar rasa cinta nya, walau tak membakar rasa cinta nya.

Kamis, 31 Maret 2016

Luka karena kata

Kurang waktu dirasa
Detik lenyap berganti
Sesal masih dihati
Setelah lakukan salah

Lelah hantui malam
Hati menyiksa mata
Yang dirundung salah
Dalam mengucap kata

Mulut yang berkata
Hati yang disiksa
Mata dipaksa terbuka
Walau lelah dirasa

Tertidur tak bisa
Mata merekah merah
Memejam pun susah
Karena mengingat salah

Kata memang tajam
Lukanya tak terlihat
Melukai tanpa darah
Mungkin lama sembuhnya

Kata hanya keluar
Tak mungkin kembali
Yang sudah terucap
Akan terus diingat

Terluka karena kata
Sembuh oleh kata
Diucap dengan ikhlas
Dimulai dengan maaf

Semoga waktu melambat
Agar siap berkata
Biar sesal hilang
Setelah ucapkan maaf

Potong gaji

Berlari lari
Kejar pagi ini
Jemput rezeki
Untuk anak istri

Berlari lari
Kejar kereta pagi
Jangan telat lagi
Nanti dipotong gaji

Mentari telah tinggi
Burung bernyanyi
Bos menanti
Jangan telat lagi

Kereta di cikini
Dua stasiun lagi
Gambir hanya dilewati
Tapi kini masih berhenti

Telat sudah tiga hari
Pasti dipotong gaji
Dipotong rezeki
Lemas kaki ini

Rabu, 30 Maret 2016

Kisah kereta

Hai
Apa kabar rel kereta?
Sampai kapan kita kan bersahabat?
Sampai kapan kita terus bersama?

Hai
Bertemu lagi dengan mu, peron
Hampir tiap hari kita berjumpa
Sampai kapan kita kan terus berjumpa?

Hai
Tak bosan kah denganku, kereta?
Hampir tiap pagi dan malam kita bersama
Menyusuri rel yang kau lintas
Sampai kapan kita nikmati waktu ini?

Di dunia ini ku bertemu banyak manusia
Melihat banyak hal
Dari rindu sampai marah menunggu
Dari lelah sampai riang berjingkat

Dunia kereta
Perjalanan fantastis penuh cerita
Melintas banyak tempat
Bertemu banyak muka

Beralas kerikil yang menopang kayu dan besi
Membawa nyawa ratusan jiwa
Setiap hari tanpa jeda
Tanpa ucapkan lelah kepada semuanya

Banyak yang bertemu cinta
Menyambung saudara
Menciptakan kawan
Dan melahirkan keluarga

Tak pernah usai cerita dari kereta
Yang terus melaju ciptakan cerita
Dari stasiun menuju stasiun
Sampai berhenti di pemberhentian terakhir

Tapi sampai kapan ku bercerita
Tentang kereta, rel, dan juga peron nya
Perjalanannya, kisahnya, dan juga rindunya
Sampai kapan ku menunggu kereta tiba?

Selasa, 29 Maret 2016

Saatnya pulang

Bertemu malam selepas pulang
Tak sempat menyapa senja
Tak sempat melihat rona jingga
Hanya gelap yang kulihat

Gelap malam hanya di langit
Di bawah nya terang dimandikan cahaya
Walau buatan namun terang lebihi rembulan
Merajai malam sampai tiba waktunya

Lelah masih terasa diantara daging dan tulang
Berjalan diantara cahaya buatan
Lelah pula menunggu angkutan
Yang dinginnya bagai ruangan daging

Ditembusnya cahaya yang disisipi gelap
Meruak diantara ruang besi yang bergerak
Diantara aspal dan beton yang keras
Menggerusnya dengan roda karet yang tebal

Duduk lelah nikmati dingin
Nikmati deru mesin angkutan
Rasakan lelah di setiap jengkal otot
Dan melihat muka lelah seluruh penumpang

Malam kian gelap
Disaat yang lelah berpulang ke rumah
Malam kian larut
Disaat deru kendaraan dibungkam sepi

Semua menanti kasur yang empuk
Dan merebakan tubuh lelahnya
Atau menanti air segar untuk bersihkan lelah
Sepulang nanti entah kemana mereka berpulang

Senja sudah lama mati hari ini
Dibunuh gelap sisi bumi
Sedangkan hati dan tubuh ini
Masih hidup walau lelah menggelayuti

Ibu ibu perkasa

Banyak celoteh ibu ibu pagi ini
Terdengar ceria diselingi suara lelaki
Bercanda mereka sebelum bekerja
Sebelum mereka kembali ke meja

Suara yang segar yang penuh energi
Tak ada terdengar suara membenci
Mereka berbincang apa saja
Asal dapat mengusir lara

Tak heran mereka dapat bekerja hingga kini
Mencari nafkah setiap hari
Terus tersenyum tanpa terlihat duka
Mengganti benci dengan bahagia

Usia tidak membuat mereka berhenti
Semangatnya terus menerus berseri
Rambut putih terlihat di kepala
Bukan berarti bendera putih dikibarkan mereka

Suatu saat mereka akan berhenti
Karena berganti generasi
Api semangatnya pindah ke anak mereka
Semoga tidak berhenti sampai mereka tua

Senin, 28 Maret 2016

Hilang dalam tenang

Adakah waktu untuk beristirahat jika lelah yang hanya kita rasa?

Walau orang lain berkata belum waktunya kau untuk tidur dan mendengkur.

Adakah waktu untuk mundur sejenak dalam berusaha yang hanya kita saja yang rasa sudah keras berusaha?

Walau orang lain berkata belum saja kau maju sudah meminta mundur dalam berusaha.

Adakah ruang untuk sendiri disaat semua berkata kepada kita untuk bersama?

Walau orang lain berkata tidak bisa kau sendiri jika kau dikelilingi banyak teman dan orang yang sayang.

Adakah tenang dalam riuh orang berbicara tentang jalan keluar untuk diri kita?

Walau orang lain berkata inilah yang harus kau lakukan untuk menjadi yang terbaik dan maju.

Izinkanlah diam menguasai, sepi menemani, dan tenang mendekati.

Biar didalam kekacauan pikiran yang ditempuh kepala ini bisa tenang mendengar bisik ilahi.

Jika orang lain ingin tubuh ini berbuat sesuatu untuk menjadi baik dari sebelumnya, biarkan sejenak tubuh ini hilang dari rutin nya dunia.

Biarkan hilang dari semuanya, semoga dalam sepi bisa tercipta banyak kreasi dan lebih dekat ke ilahi. Dan rindu tak lagi dibenci.

Jika orang lain ingin jiwa ini menjadi lebih tenang dari sebelumnya, biarkan jiwa ini lenyap dari riuhnya duniawi.

Biarkan lenyap dari dunia, biar kembali tenang walau masih mengenang dan berdoa tak pernah kurang. Dan hilangkan jurang dalam rindu yang menggelapkan terang.

Rambut setengah basah

Dia selalu datang dengan rambut setengah basah, selalu tampak terburu buru. Langkahnya selalu cepat menyebrang rel dan tergesa gesa menyusuri peron. Bukan karena Ia telat menuju tempat kerja, tapi ingin bertemu seseorang di peron itu, orang yang dia sayang.

Rambutnya tidak keriting mau pun ikal, hanya berantakan tak teratur. Tapi rambutnya selalu digulung gulung menyerupai keriting sosis, tak alami dan tak ditata, itu hanya kebiasaannya setelah selesai rapih berpakaian dengan rambut setengaj basahnya.

Selalu Ia berkata tentang ketidak sengajaannya dia berbuat seperti itu, bukan untuk siapapun juga Ia berbuat seperti itu. Rambut nya yang selalu dia keluhkan berantakan tak membuat orang yang Ia temui kesal, tetapi tersenyum melihat tingkahnya yang kikuk ketika dilihat terlalu lama menurutnya.

Sudah lama peron itu tidak lagi dilalui kakinya yang tergesa gesa, sudah lama rambutnya tidak diperlihatkan kepada yang Ia tunggu, sudah lama pula orang yang Ia tunggu merindu rambut nya yang Ia pilin saat rambutnya setengah basah.

Kini semakin lama, semakin sering orang yang Ia tunggu membayangkan rambutnya, sosoknya, dan juga kehadirannya. Jauhnya tempat bukanlah hal yang mereka masalahkan, hanya karena waktu atau takdir atau mereka sendiri.

Minggu, 27 Maret 2016

Rindu tak berkurang

Riang riang senyum siang
Bercanda riang senang senang
Tak ada waktu untuk mengenang
Sedangkan rindu kian menggenang

Bertemu mereka yang selalu riang
Senangnya seperti tak berkurang
Walau sering diulang ulang
Seperti rindu yang selalu mengulang

Habiskan hari diwaktu luang
Walau letih kemarin terasa di tulang
Ingin pergi menonton pun tiada uang
Andai saja rindu bisa dilelang

Selesai makan perut pun kenyang
Bersyukur hanya keluar sedikit uang
Makanan habis tak bersisa tulang
Tak seperti rindu yang menerus diulang

Berteman tak ada kalah atau menang
Hanya berusaha membuat suasana senang
Dan membuat gundah menjadi tenang
Walau rindu tak bisa ditentang

Kadang teman buat kita berang
Tapi selalu berakhir riang
Dan berujung senang senang
Tidak seperti merindu yang tak pernah usang

Mereka teman yang sedikit waktu luang
Kadang hanya bertemu di minggu siang
Atau saat mereka pulang petang
Bukannya merindu mereka yang tak datang

Sabtu, 26 Maret 2016

Oh Jakarta

Takjub ku lihat Jakarta
Saat senja menyapu dirinya
Lembayung jingga mengecup mesra
Berikan kemilau emas di tubuhnya

Perlahan gelap pun tiba
Besar bentuk nya dalam mega
Bagai tirai menutup senja
Menutup hari yang gembira

Kota ini beranjak gelap
Bukan berarti tidur dalam lelap
Sesaat lagi akan timbul germelap
Dan macet yang merayap

Anak muda bersiap siap
Dengan semangat yang meluap
Minuman keras disesap
Riang didapat dalam sekejap

Tak hilang takjubku lihat Jakarta
Ketika gedung gedung bercahaya
Semua ingatan berkata kata
Rindu muncul seketika

Akhirnya nanti akan tiba
Saat rindu tak lagi fana
Makin takjub akan Jakarta
Dan rindu pun jadi gembira

Kamis, 24 Maret 2016

Selamat Anda dibenci

Malam hari
Bicara lagi
Tentang nanti
Malah dibenci

Jantung terasa berhenti
Ketika kau bilang benci
Saat ku khawatir akan nanti
Mungkin kita tak bertemu lagi

Ku arsipkan percakapan kita lagi
Biar ku bisa baca berulang kali
Disaat rindu sudah menemani
Mungkin kelam sedikit menggelayuti

Baca lagi
Dengan hati
Jangan benci
Jangan lari

Kuputar lagu tentang cintai diri sendiri
Mendengarkannya berulang kali
Bermaksud menghibur diri
Malah merindu kembali

Ku putar lagu elektronik untuk menari
Biar riang datang kembali
Ku nyanyikan liriknya dalam hati
Teringat lagi berdansa sampai dini hari

Aku kabari
Sudah di sini
Ketika nanti
Temu kembali

Aku (tak) ingin buta

Enyahlah pandanganku
Pergilah kau entah kemana
Ingin ku buta hanya untuk hal ini
Untuk menjaga semua perasaan ini

Jangan kau beri aku sedih
Setiap ku buka mata
Kau beri aku sebuah penglihatan
Tentang kegagalan esok hari

Sebuah kehilangan
Gagal dalam mempunyai sesuatu
Yang semua orang bilang ikatan
Antara satu dengan yang lain

Kau beri aku sedih
Seakan besok sudah terjadi
Kau beri aku sebuah kehampaan
Akan hilangnya semua ikatan

Walau ku pejam mata ini
Tak bisa hilang semua itu
Apa yang ku bilang sebuah kehilangan
Kehancuran hidupku sebagai sebuah makhluk

Kenyataannya memang seperti ini
Tapi belum semua nya hilang
Perlahan satu persatu gugur
Bagai meranggas di musim panas

Sudahlah sudah
Jangan kau beri lagi pandangan itu
Cukup sudah ku rasa
Jangan kau beri lagi

Mungkin ini bukan salah pandanganku
Bukan salah mata ini
Mata untuk melihat kenyataan
Yang kadang dikubur dengan mimpi

Salahku, ini salahku sendiri
Selalu memberikan ingatan
Tentang kegagalan
Tentang kehilangan

Semua ingatan kembali lagi muncul
Dalam pandangan ini
Terus menerus tak berhenti
Memperlihatkan pandangan itu

Ingin aku buta dan tak melihat lagi
Dan itu tak mungkin ku lakukan
Karena belum berakhir cerita ku
Yang ingin ku lihat sendiri akhir cerita itu

Rabu, 23 Maret 2016

Dibangunkan pagi

Pagi berteriak kencang ingatkan semalam yang sudah terlupa terhapus mimpi, bangunkan diri ini dengan mendung yang menggantung di langit.

Kering di tenggorokan membuat susah ku menelan semua kenyataan yang payah, sedikit ku teguk air berharap akan segera hanyut masuk kedalam perut ini dan segera keluar dengan kotoran pagi ini.

Tak berfungsi normal diriku semalam, membuat kacau dunia yang sudah ku bangun belakangan ini, dunia dengan kota yang akan kuisi dengan orang yang ku cinta.

Mendung ini tidak membuat tambah payah kenyataan, tidak sama sekali, karena aku akan bermimpi dalam sadarku hari ini.

Tak usah jauh ku larutkan kenyataan yang pahit pagi ini, hanya dengan menarik mimpi di kepalaku ini untuk melarutkannya, mimpi yang sudah tentu indah.

Kabur dalam khayal untuk memberi lengkung di wajah agar terlihat riang walau dibaliknya terdapat kenyataan pahit atas perilaku tak pantas semalam.

Pagi ini terasa lamban seperti gerak lambat yang terlihat di sebuah film, terus menerus mengingatkan semua kejadian semalam tanpa ampun.

Khayal ini seakan terus menerus diterobos olehnya, seakan tidak boleh ku riang dengan mimpi mimpi indah yang berujung dengan ekspektasi.

Sudahlah pagi umpatku dalam hati walau pagi tidak akan mendengarkannya, karena hari ini harus dengan penyesalan pikirnya dan meminta maaf kepada semua.

Lelah pikirku jalani pagi ini, semoga mimpi ku mempercepat hari ini hingga tak terasa pagi sampai malam nanti, sampai ku kembali lelap dan melupakan semuanya.

Selasa, 22 Maret 2016

Kilat dan guntur

Sedikit berbeda kali ini
Saat kilat tak lagi bersama guntur
Tak ada suara yang menggema setelah sinar merekah di langit

Seakan kilat membisu
Hanya terus menerus menerangi la git
Seperti matahari kala malam
Walau sekilas saja cahaya nya

Kilat dan guntur seperti dua pribadi
Dua pribadi yang berbicara satu sama lain
Seakan mereka murka
Saling benci satu sama lain

Teriakan guntur
Tamparan kilat
Semua jadi satu dalam badai
Sebuah tempat mediasi bagi mereka

Suatu ketika kilat menyambar bumi
Tak ada suara gemuruh guntur
Guntur sudah hilang
Dan tidak akan lagi suara menggema

Kini kilat hanya sendiri
Tak lagi bersama guntur
Hanya cahaya
Tanpa ada suara

Rezeki yang dibenci

Mereka membenci cara yang lain mencari rezeki, berbeda dengan nya tetapi sama halalnya.

Memuncah amarah mereka saat satu atau dua sesamanya tidak merasakan hak yang sama.

Melampiaskan amarah mereka kepada alat mereka mencari rezeki, tetapi sayang itu bukan miliknya.

Berkumpul dan bersatu mereka karena sama bencinya, berbaris secara teratur dan mengganggu yang lain.

Mereka tidak lelah, mereka bahkan tidak mencari rezeki, tetapi mencari keadilan katanya.

Rakyat melawan rakyat, menyalahkan aturan yang ada, melawan ketidakadilan, dan cemburu tentunya.

Siapa yang salah tidak ada yang perduli, mereka hanya berusaha mendapatkan porsi rezeki yang adil sepertinya.

Mereka tidak rela, ini tidak terjadi sebelumnya, rasa benci terhadap sesama rakyat, benci terhadap kaum nya sendiri.

Mereka yang membenci adalah mayoritas yang dirugikan oleh pihak yang tidak mau disalahkan tentunya.

Sedang minoritas dari mereka sudah ikhlas mungkin dengan rezekinya, sudah cukup dengan apa yang diterima.

Pada akhirnya yang membenci merusak dan mengganggu yang lain agar yang lain merasakan kebencian mereka.

Perjuangan pagi

Pagi bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan waktu yang lalu, kesederhanaan pagi adalah saat membuka mata dan bersyukur atas apa yang kita punya.

Tentunya kita pernah berpikir bahwa sebenarnya kita tidak lah terbangun dalam kenyataan, tetapi terjaga dalam mimpi yang selalu membuat kita semangat.

Mimpi yang kadang tidak terjadi dalam lelapnya tidur bisa menjadi sebuah adrenalin sendiri untuk hidup, inilah hidup kita.

Tidak lah usah kita menyangkal ketika mimpi kita terlalu muluk sehingga membuat kenyataan begitu pahit saat kita rasakan.

Saat terbangun pagi seakan ini adalah mimpi buruk terpanjang dan kita akan bangun dari mimpi ini, entah kapan kita akan tersadar bahwa inilah realita.

Hidupilah mimpi, jika nanti saat terbangun tak perlu lagi takut untuk membuka mata atau hadapi orang orang yang lalu lalang di depan mata mu.

Hidupilah mimpimu agar kau membuka mata saat terbangun diiringi dengan senyum segar walau gelap mendung di luar jendela tercampur dengan petir dan gemuruh guntur.

Sesekali kau merasa membunuh mimpi mimpi mu dengan menunduk kan kepala mu, seakan mencari sesuatu yang berserakan di jalan.

Menunduk karena kegagalan yang kita raih dengan ketololan atau kesalahan yang kita perbuat maupun kesalahan orang lain yang mempengaruhi kita untuk membunuh mimpi.

Jangan lah takut bermimpi di tengah matamu sedang terbuka, walau terasa berat dan seakan ingin sekali menutup mata ini selama lama nya agar terus hidup dalam mimpi saat tertidur.

Mimpi lah yang membuat kita besar, mimpi lah yang membuat kita segar, bermimpilah agar kita tidak takut dengan realita.

Walau pahit getir yang kau kecap saat menelan sebuah kekalahan, sebuah kenyataan yang tak bisa kau hindarkan, inilah waktu dimana mimpi mu hancur dan seakan kau tidak diizinkan untuk hidup, melainkan mati dan bermimpi.

Telan saja pahit itu, telan semua kekalahan itu dan bayangkan mimpi didalam benak otak mu, mimpi atas kebesaran dirimu atas hidup dan kuasa mu.

Pahit itu akan terasa gurih dan nikmat, seakan itulah gizi mu untuk maju, untuk tetap hidup dan hidupi mimpimu.

Bangun lah pagi ini dalam dingin dan berpikir tentang hangat, walau kita gagal dalam hidup janganlah gagal dalam bermimpi.

Bila nanti kau benar benar terpuruk karena kegagalan, mimpilah yang akan menyelamatkan mu yang terus menerus memperjuangkan asa di dalam otak mu.

Mimpilah yang membuat jantungmu berdegup saat memulai lagi hidupmu, dan mengalirkan darahmu keseluruh tubuh untuk bangkit kembali saat nanti kau terjatuh karena dijegal kegagalan.

Senin, 21 Maret 2016

Menunggu sepi

Sampai sini ku selalu menunggu hingga hilang deretan manusia yang ingin segera keluar dari tempat ini.

Entah kenapa pikiran ini mungkin lebih dari sekedar tidak ingin berjejal dengan mereka yang sudah lelah raga nya.

Selalu saja ku sejenak duduk melihat rupa mereka yang turun dari dua gerbong terakhir, melihat cara mereka melihat tempat ini atau mungkin cara mereka melihat dunia.

Terkadang semua hal begitu indah, bukan dari apa yang kita lihat tapi apa yang dilihat mereka dan kita menerka apa yang ada di dalam pikiran mereka.

Tempat ini yang mungkin mereka benci hingga ingin sekali mereka berjejal ingin segera keluar dari tempat ini.

Atau mereka lega dan bersyukur telah sampai dengan selamat, berjejal ingin bertemu seseorang atau keluarga atau kelompok atau ingin berlanjut bertualang.

Langkah mereka yang tidak beraturan, yang sama sekali tak berpola, mereka yang berbeda langkahnya tapi satu tujuan mereka, keluar dari sini.

Malam tak buat mereka lelah untuk berjejal keluar, kadang menyerobot untuk ingin di depan, jadi yang pertama keluar dari tempat ini, tempat terakhir dari perjalanan kereta mereka.

Tak perduli apapun yang mereka tuju, dan apa yang mereka temu nanti diluar tempat ini, tempat yang dinanti mereka ketika mereka masuk ke dalam kotak besi yang bergerak di atas dua batang besi.

Semoga mereka selalu mengingat tempat ini sebagai tempat mereka memulai atau mengakhiri perjalanan yang selalu, selalu mereka nantikan.

Entah kemana

Sekencang angin ku berlari
Lewati gunung dan laut
Menuju entah kemana
Tempat yang mungkin tak ada

Luas dunia bisa terukur angka
Hingga sampai ke tempat terpencil
Atau besar nya samudera
Tapi tetap entah kemana

Raga ini terasa ringan
Tak berbobot, tak terasa tulangnya
Dan juga darah dagingnya
Hingga ringan ku berlari

Walau dunia terukur oleh angka
Tapi percuma dirasa
Jika entah kemana aku kelana
Tak ada tempat ku tuju jua

Angin berhembus kencang
Dan raga ku berpindah
Mata angin tak berfungsi lagi
Tak guna ku gunakan arah

Kadang kadang sudah lelah
Lepaskan langkah ini
Sudah lah biar angin membawa
Entah kemana aku dibawa

Minggu, 20 Maret 2016

Kolam ikhlas

Terbakar hati dan badan ini ketika panas menyeruak entah dari mana, semua sel dari tubuh ini terasa panas.

Begitu panasnya hingga membakar logika yang ada tanpa sempat dirasa, semua rasa seperti tak terpikirkan oleh otak.

Perlahan kesadaran runtuh pada saat logika menghilang, hanya insting yang masih ada untuk menggerakkan seluruh fungsi tubuh.

Bergerak mengikuti apa yang hanya saat itu diinginkan, mendinginkan semua, mencari air atau apapun yang bisa menghilangkan ini semua.

Kaki dan tangan serta semua panca indra terasa hilang atas kendali mereka, tanpa dirasa terus mencari cara tanpa disadar perlahan mereka pun mulai terbakar.

Dalam lari nya perlahan melambat beralih menjadi langkah pelan, namun tetap berusaha mencari cari untuk hilangkan semua ini.

Sebuah kolam bersih kecil yang bernama kejujuran dan ke- ikhlasan lah yang dituju insting ini, sebuah kolam yang mungkin akan hilang kan semua ini.

Hati kecil ternyata masih sedikit berfungsi untuk mengatakan harapannya untuk segera hilangkan semua ini sebelum tubuh ini menghilang dilahap panas.

Mungkin ini doa

Lelap dalam tidur ku, lelah entah karena apa walau sudah kuteguk sedikit cairan pembuat degup jantung jadi cepat.

Badan ku segar tetapi mata ku lelah, ku melemah tidak seperti dulu yang biasa bercinta dengan layar besar dan menggores pena yang tak bertinta.

Apa yang kulakukan di sini, jika mata dan tubuh ku tak bisa saling membantu untuk selesaikan apa yang telah ku mulai?

Rasanya seperti bunga yang tak diberi air dan didiamkan dalam gelap tanpa cahaya, perlahan akan melayu dan membusuk.

Terlelap lebih dulu dan bangun lebih pagi, disini bagai kera yang malas yang tidak tahu mau berbuat apa.

Hari ini terbangun seperti biasa, saat dengung perlintasan kotak besi lebih sering terdengar dan kedua pria masih terlelap dalam istirahatnya mereka.

Untuk apa aku disini jika tubuh ini melemah dan tidak bisa ku pakai lagi seperti dulu menjadi tikus pengerat tata letak.

Ingin rasanya tubuh dan mata ini betistirahat dalam waktu yang lama, setelah semua yang ku alami.

Mungkin jika nanti aku kembali, aku dapat lebih banyak mencinta, lebih banyak bekerja, lebih banyak teman, lebih banyak setia, lebih banyak tersenyum, dan lebih banyak bersyukur.

Amin.

Sabtu, 19 Maret 2016

Kembali malam

Dibuai mata di relung senja
Mata dibawa sendu
Seakan telah lama rindu

Lembutnya senja memeluk jiwa
Warnanya bawa diri ini pergi
Dari sebuah kotak kehidupan

Selalu terpukau akan senja
Pertemuan siang dan malam
Membenturkan warna hingga terbentuk jingga

Selalu terpukau oleh senja
Saat matahari pergi
Dan bulan datang kembali

Semburat matahari masih berbekas
Langit malam bagai dicium jingga
Pertanda matahari kan terbenam

Hari kembali malam
Semua bunyi semakin terdengar
Dan yang merindu semakin sendu

Jumat, 18 Maret 2016

Nanti nya

Terungkap rindu dalam sebuah kalimat, dalam percakapan singkat yang tidak bisa merangkum kerinduan yang panjang.

Tak perlu ada kata rindu untuk mengetahui, yang diucapkan malah kata kata memancing tawa untuk sembunyi kan air mata.

Nantinya sudah tak mungkin bercengkrama atau tak mungkin lagi bertemu muka, tetaplah sudah dan tak akan ada lagi nanti.

Semuanya akan dingin hampa menutupi hari yang bisa dipalsukan dengan kata kata manis untuk orang yang ada.

Bias yang ada perasaan kepada mereka, sebuah ketiadaan yang tak bisa dihilangkan walau diiisi terus menerus dengan galon besar kalimat dan kata kata.

Nuansa remang bersahaja ketika rindu tidak dibenci sudah berganti muram nya warna hitam saat pemakaman.

Bergulat dalam resah digelimangi hampa yang terus menerus mendesak kerongkongan untuk berkata negatif akan sebuah kehidupan.

Pada akhirnya harus bersujud pasrah meminta ampun akan segala yang pernah dilalui kepada yang kuasa pada semesta kita.

Tapi nanti ketika sudah hilang hukuman karena mendengak air penghilang kesetiaan akan diri Nya.

Saat itu akan lebih khidmat dalam doa yang bercampur asin air mata yang akan mengalir dalam ampunan alunan doa.

Hampa udara

Ruang hampa bergerak maju dalam dunia yang fana, bergerak diantara semua benda yang berada di sekitar, yang bernafas maupun tidak.

Mereka yang bernafas tidak rasakan hampa yang bergerak, ditutupi sejumlah gerak dan emosi yang mereka lakukan.

Disela sela kehidupan fana yang dinamis layaknya aliran sungai melewati yang terus laju diantara sela sela batu.

Hampa terus bergerak maju, tidak mengisi apapun, atau menuju apapun, hanya bergerak dengan kehampaannya.

Kosong, lowong, tak ada energi, tak ada isi, tak ada apapun, hampa.

Entah kenapa terus bergerak, sebuah ke hampaan yang tak punya apapun itu, siapa pula yang buat nya bergerak melalui semua yang fana?

Hampa tak mengisi apapun, pula tak memberi apapun atau meninggalkan apapun, siapapun.

Namun ia bergerak, terus melaju tanpa ada yang dituju di dunia fana ini, sampai mungkin nanti dia terhenti.

Kamis, 17 Maret 2016

Langkah pagi

Ringan langkah ini pergi
Menuju barat menaiki kotak besi
Membaca buku tentang perempuan
Perempuan di dalam kotak besi itu

Terlarut diri ini ketika membaca
Dibawa mengayun di dalam kotak besi itu
Perlahan terlelap dan tertidur
Walau berdiri memegang buku yang terbuka

Cerah pagi tak terasa di dalam
Dingin yang lembut memeluk diri ini
Mengajak mata istirahat sejenak
Kotak besi seakan sunyi dalam lelap

Manusia lalu lalang keluar masuk
Pergi bekerja atau sekedar bertemu muka
Bersandar diri membuka buku kembali
Sambil menikmati mereka berlalu lalang

Cerah pagi ini terasa sekali
Bagai dipeluk ibu ketika rindu
Kulangkah kaki di bawah sinar terang
Berharap jalan pulang nanti pun tenang

Rabu, 16 Maret 2016

Senyum langit di senja yang sendu

Sudah hampir malam, langit masih saja terang walau hujan kembali lagi tiba.

Mungkinkah langit menangis bahagia? Walau hujan tetap saja terang.

Atau ia menangis menahan rindu yang ditutupi dengan senyum?

Sekali lagi bumi harus dibahasi tangis sang langit dan mendengar rajukan nya.

Mungkin bumi tak tahu perasaan sang langit, yang ia tahu hanya mendengarkannya saja.

Bumi menatap langit diatas sana mungkin dengan senyuman, memberi terang di sore ini.

Senyum langit yang memberi kesempatan bumi melihat terang.

Sebelum nanti gelap menutup langit bercengkrama dengan bumi.

Seakan langit sendu sendiri dalam gelap dan dinginnya malam.

Langit merajuk, bumi mendengarkan

Inilah sisa semalam
Sang langit meraung raung
Menangis semalam
Sisakan becek di jalan

Sudahkah hilang sedihnya?
Atau nanti dia akan merajuk lagi
Seperti kekasih yang merindu
Atau anak kecil yang ingin bermain

Semoga sang langit bersabar
Untuk apapun yang dia tangisi
Agar cerah nanti malam
Menemani para perindu merindu

Tak perlu langit menghujami bumi
Dengan hujan mengganggu yang merindu
Sudah lelah mungkin mereka
Membenci rindu yang tak kunjung sirna

Sungguhlah sulit bagi sang langit
Tak ada yang bisa tenangkan dia
Hanya bumi yang terdekat baginya
Dan tak mungkin ia turun merajuk ke bumi

Perlahan cerah merambah langit
Terlihat tersenyum langit pagi ini
Mungkin dia sudah tenang
Setelah bumi dengarkan keluhnya semalam

Selasa, 15 Maret 2016

Sedikit berbeda

Sementara tujuan ku berbeda
Hanya sedikit berbeda jalurnya
Tidak melewati Jatinegara
Tapi tetap menunggu di Manggarai

Selalu penuh dengan manusia
Tak perduli pagi atau malam
Berangkat ataupun pulang
Semakin terasa berbeda rasanya

Pagi tetap berhenti di Juanda
Tak ada yang berbeda
Saat malam tidak lagi ku ke Kota
Kembali lagi dari Juanda

Saat ini sungguhlah berbeda
Pagi dan malam tidak lah lagi sama
Sedikit ku benci rindu kali ini
Hanya sedikit karena masih dinanti

Menunggu tetaplah sama
Apapun itu yang kita tunggu
Tak apalah jika sudah penuh
Semoga masih ada tempat untuk pulang

Malam ini

Gelap dan basah menemani pekerja pulang malam ini, ketika langit menangis meraung raung dengan kilat dan guntur nya.

Resah para pekerja dalam jalan pulangnya, tidak bisa menikmati hujan yang begitu mendayu ketika mulai mereda.

Tubuh mereka mungkin lelah dan letih saat melihat jalanan penuh dengan kendaraan layaknya air got yang tersendat karena sampah yang dibuang sembarang.

Perlahan hujan mulai berhenti, sisakan basah dan lembab yang menempel di kulit terasa lengket bercampur keringat.

Lambat laun gelisah menumpuk, saat tujuan pulang semakin menjauh dan hujan kembali turun deras seperti tangis yang membenci rindu.

Tertarik hati

Tertarik hati menyambut malam
Membuka mata menahan kantuk
Harap sesak tidak menjalar
Sebelum mimpi datang dalam lelap

Gigi ini sudah bersih
Selimut sudah menutupi badan
Doa sudah dilafalkan
Hanya berharap sesak tak datang

Tertarik hati mengumbar rindu
Berbicara dengannya sebelum tidur
Ungkapkan semua rasa apapun itu
Karena sesak sudah terasa

Hati ini sudah tegar
Kuat sudah pikiran ini
Pendirian pun sudah mantap
Tapi sesak ini terlalu kuat

Tertarik hati lari dari semua ini
Tinggalkan yang ada sampai tak terasa
Menuju ke sana sumber kebahagiaan
Agar sesak ini tak akan lagi tiba

Lelah sudah badan ini
Mata sudah terasa berat
Pikiran pun sudah entah kemana
Sesak ini pun mengendur menghilang

Tertarik hati ucapkan rindu
Walau hanya kata kata yang terlihat
Semoga yang membaca tahu
Bahwa sesak ini sudah menghilang

Semoga untuk selamanya......

Senin, 14 Maret 2016

Aku dan kau

Kau angkat senjata
Ku angkat pena
Kau muntahkan ratusan peluru
Ku muntahkan ribuan tetes tinta
Kau menghilangkan nyawa dengan itu
Ku hanya bisa melukai sebuah perasaan

Kita sama sama berperang
Walau berbeda tujuan kita
Kapankah kita berdamai
Hingga tidak ada yang terluka
Tak perlu ada peluru yang membunuh
Tak perlu ada kata yang melukai

Kau tak lagi nafsu membunuh
Ku mulai menulis tentang hidup
Kau tak lagi mengantarkan kematian
Ku akan memberi senyum yang membaca
Kau tak perlu bersimbah darah
Ku tak akan lagi mengurai air mata

Mulailah memberi cinta
Bukan menghabisi nyawa
Kita ini saling memiliki
Jadi tak perlu menguasai
Mulai lah mengucap ikhlas
Tidak harus saling menindas

Minggu, 13 Maret 2016

Besok masih hidup

Tak disangka malam itu sehangat pagi, ketika dipeluk matahari saat kau tahu besok masih ada lagi hari.

Besok akan lebih susah dari yang lalu, yang akan membuat mu lebih hidup ketimbang ingin mati.

Malam ini mungkin dingin terasa di kulit mu, atau karena kau merasa sendiri hingga terasa berkali lipat dinginnya.

Ingatlah mereka dari yang lalu, atau mereka yang menyapa mu tadi, kemarin, atau minggu lalu.

Kau masih ada di kepala mereka, esok hari atau selanjutnya sampai nanti mereka benar benar tiada.

Malam ini menjadi hangat dengan mereka yang menyapa mu, karena kamu akan tetap hidup di kepala mereka.

Dan besok akan jadi lebih menyenangkan, lebih sulit, menantang, dan menjadikan mu lebih hidup.

Jangan lupa menyikat gigi malam ini, atau menyelimuti dirimu saat tertidur nanti.

Biar besok pagi kau siap ditantang kerasnya hidup, dan menyapa orang yang telah menyapa mu sebelumnya dimasa lalu mu.

Sabtu, 12 Maret 2016

Penantian Ardi

Jika jodoh itu tak akan kemana, maka seharusnya kita tak perlu lagi bersedih ditinggalkan oleh pasangan kita saat ini. Percuma saja jika sebuah perasaan yang tulus atau perasaan yang menyenangkan ini diakhiri dengan sedih, putus asa, gundah dan terlebih adalah dendam, sungguh lah jadi sia sia sebuah hubungan yang indah dulu, dipenuhi dengan segala macam rupa keceriaan yang ada mulai dari berjalan kaki saja atau berlibur jauh ke tempat yang luar biasa. Terkadang jodoh itu juga tidak butuh apa apa, hanya sekedar kejujuran dan keberanian untuk menjadi pasangan yang terbaik. Hal hal yang lainnya hanya sekedar saja, apalagi materi, sebuah hal yang bahkan bisa membuat sebuah negara menghancurkan negara lainnya, yang bahkan bisa melunturkan sebuah perasaan yang sakral yang dipuja orang, cinta sejati.

Materi dapat berupa apapun yang membuat kita terlihat penting di mata orang lain, tapi tidak semua orang berpandangan seperti itu. Materi yang berbentuk uang adalah materi yang selalu dilihat dari sebagian besar sebuah hubungan asmara. Jika Anda tidak berkecukupan maka janganlah sekali kali berkata muluk atau berjanji manis walau hanya gombal semata, nanti nya bakal menjadi musibah bagi hubungan Anda, atau lebih tepat nya Anda sendiri yang akan menerima musibah itu. Tak ada uang, abang tak disayang, sebuah kalimat yang pastinya sudah pernah kita dengar atau melihatnya tertulis rapih di belakang kendaraan umum atau truk yang terkadang ditambahkan lukisan wanita telanjang yang hanya ditutupi selembar kain. Lebih baik meninggalkan materi untuk mendapatkan cinta? atau meninggalkan cinta untuk mendapatkan materi? atau mengejar materi untuk mendapatkan cinta? Yah apapun itu untuk sebagian orang, cinta itu ada kaitan nya dengan materi.

Sudah jam 3 pagi Ardi masih terjaga di kantor nya, mengerjakan pekerjaan tentunya tapi bukan untuk kantor yang dia pakai komputernya dan juga hal lainnya. Karena alasan pekerjaan kali ini akan berat jika dikerjakan hanya menggunakan komputer yang ia punya di kosan nya, tapi sesekali diselingi dengan pekerjaan kantor yang tanggal tenggat waktunya berbarengan, yaitu besok pagi. Beruntungnya Ardi punya teman yang selalu diandalkan, seperti Doni yang sekarang berada tepat duduk disamping sembari mengerjakan pekerjaan yang sama, mengerjakan pekerjaan sampingan dan juga pekerjaan kantor bersamaan, sebenarnya masih ada satu lagi seorang wanita yang seumuran dengan Ardi bernama Anita. Karena Doni ini usia nya sedikit lebih jauh dari Ardi, maka seringkali Doni dipanggil oom. Anita sendiri tidak ikut membantu Ardi kali ini, karena dia adalah kepala dari divisi desain grafis yang dulu nya jabatan itu dipegang oleh Ardi.

"Di, aku tidur dulu ya, sepertinya pekerjaan ku sudah selesai semua tinggal nanti kamu cek. Sudah aku e-mail untuk pekerjaan sampingan dan juga pekerjaan kantor, aku juga sudah mengirimkannya juga ke Anita biar nanti dia yang cek pekerjaan kantor nya" 

"Baiklah, terimakasih banyak oom, nanti aku akan bangunkan oom jika sudah mau memasuki jam masuk kantor"

Tidak perlu waktu lama untuk membuat Doni terlelap setelah dia menghajar dua pekerjaan sekaligus dalam semalam, tapi perlu waktu yang lama untuk Ardi mengecek pekerjaan sampingan milik Doni. Sembari melihat jam yang sudah waktu nya untuk satpam memukul tiang listrik sebanyak 4 kali, Ardi merasa kewalahan dengan tugas yang berlipat ganda ketika sedang mengecek pekerjaan milik Doni walaupun sudah pasti benar, tidak bisa dipungkiri tubuh Ardi sudah pada ambang batas kewajaran manusia untuk bekerja. Setelah berkutat dengan semua hal yang berhubungan dengan presentasi, akhirnya tiba juga untuk memejamkan mata walau sesaat karena jam 7 nanti harus segera bangun untuk bersiap untuk rapat.

Suara wanita yang dia kenal akhirnya membangunkan tidur kedua desainer grafis itu, "Mas, oom, bangun sudah jam 6. Siap siap yuk buat presentasi, ingat waktu kita itu cuma sejam untuk membahas smeua materi promo yang baru." Anita selalu menjadi penyelamat bagi Ardi setelah menggantikannya sebagai kepala divisi desain setahun lalu dengan alasan tidak bisa bertanggung jawab atas tim divisi tersebut.

"Mas sebentar" Cegah Anita ketika Ardi baru saja merapihkan dirinya sehabis mandi, "Ada apa Nit? Sudah semua ku kirim kan materi presentasi? Ada yang salahkah? Tapi sebentar ya, aku mau merapihkan baju dan meja ku dulu." Belum sempat Anita membalasnya ketika Ardi beranjak pergi. Dengan sedikit kesal yang nampak di wajah Anita, dia berjalan menuju meja Ardi yang selalu dipenuhi dengan tempelan kertas untuk pengingat tenggat waktu pekerjaan. Ada yang mau ia sampaikan kepada Ardi sebagai kepala divisi, tapi ia pun tahu apa yang sedang dikerjakan mantan atasannya itu karena ia pun sempat mengikuti apa yang Ardi kerjakan.

"Mas, aku kan sudah bilang untuk tidak terlalu mengejar kerjaan sampingan. Aku bersedia posisiku ini diambil lagi sama mas, aku tidak bisa bekerja dengan mengetahui bahwa bawahan aku yang notabene mantan atasan aku ini sedang mengerjakan kerjaan lain selain pekerjaan kantor. Kalau memang materi yang mas kejar, silahkan ambil lagi posisi ini. Karena aku tahu juga gaji mas juga diturunkan sesuai dengan posisi mas saat ini." Dengan wajah yang tak kalah kesal, Ardi menatap Anita yang sedang berusaha menahan emosi yang sudah dia kumpulkan pagi ini.

Kantor Ardi adalah sebuah perusahaan belanja online yang baru, dan omzet penjualan nya sedang meningkat, setelah diketahui bahwa materi promo lah yang membuat mereka besar, maka dari itu divisi marketing sangat bergantung sekali dengan divisi desain. Setahun lalu Ardi diturunkan jabatannya sebagai kepala divisi desain, karena mental nya sedang jatuh setelah ditolak menikah dengan kekasih nya yang sudah dijalani selama 3 tahun. Walau begitu, Ardi tidak dipecat karena kemampuan nya sangat mumpuni mengolah materi promosi walaupun saat itu keadaannya tidak memungkinkan Ardi untuk menjadi seperti biasanya, selama 3 bulan berturut turut.

Ardi ditolak menikah karena menurut kekasih nya dia tidak mampu secara materi untuk meghidupinya nanti ketika berkeluarga, Ardi pun kaget ketika tahu bahwa gaji nya saat itu masih tidak mampu membuat nya untuk menjadi seorang suami untuk kekasihnya. Padahal menurutnya dengan gaji seperti itu malah membuat Ardi merasa yakin untuk menafkahi keluarga nya nanti dan lebih dari cukup, tapi tidak seperti yang kekasihnya pikirkan waktu itu. Tidak berapa lama setelah ditolak menikah, kekasihnya memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengan Ardi dengan alasan dia akan mencari calon suami yang sudah mapan dan mampu secara finansial menafkahinya. Saat itulah Ardi mengalami kejatuhan mental yang sangat dalam.

Anita sangat perhatian dengan bawahan nya itu, Ardi dan juga Doni. Mereka seharusnya menjadi senior dan juga atasan bagi Anita yang terbilang masih anak baru, tapi kemampuannya bisa diandalkan. Setelah mendengar keluhan dari Anita, tim desain akhirnya harus menemui pimpinan marketing yang juga anak dari pemilik perusahaan. Memimpin sebuah rapat kecil tidak jadi hambatan bagi Anita dan dua anak buah nya itu, karena sudah menjadi makanan sehari hari mereka untung dibombardir dengan segala revisi dan juga segala macam omongan yang keluar dari mulut divisi marketing.

Rapat pun berakhir dengan sebuah kemenangan bagi divisi desain, hanya sepuluh bagian yang direvisi, terkadang harus merubah semua konten dan tata letak dari semua materi promosi yang sudah dipresentasikan. Anita bergegas mengajak Ardi untuk sarapan, tidak dengan Doni yang memilih untuk tidur di mejanya sendiri.

"Mas, aku tahu kamu sedang menabung, tapi tidak seperti ini. Ini sama saja dengan kerja rodi mas." Dengan nada yang sedikit takut Anita mencoba menasehati Ardi.

"Tak apalah nanti juga ada hasilnya kan, toh pekerjaan aku dibantu juga sama Oom Doni. Aku juga baru dapat lagi pekerjaan sampingan, kamu mau ikut juga tidak? Seperti biasa pembagian honornya, kali ini lumayan besar dari yang terakhir kamu ikut" Tanpa menjawab pertanyaan Anita pergi meninggalkan Ardi, dia merasa sudah tidak tahan dengan sikap keras kepala Ardi yang masih saja mengejar materi demi sebuah pernikahan yang sudah tidak ada lagi.

Penantian seorang kekasih yang telah ditolak menikah membuat orang itu menjadi dendam dan ketika ia merasa masih bisa mengejar semua itu maka akal sehat nya sedikit menghilang, belum berpindah hati nya walau sudah dibuat berantakan ketika dijatuhkan dari sebuah hubungan yang dibalut kesetiaan selama tiga tahun yang indah. Hubungan tanpa cela sampai akhirnya wanita tersebut berubah pikiran tentang arti dari pernikahan, yang sebelumnya sudah direncanakan.

Keyakinan seseorang memang dapat berubah, apalagi berhubungan dengan sebuah ikatan suci yang disebut pernikahan. Hubungan dua insan manusia yang diiringi dengan ikatan dua keluarga bisa saja terjadi banyak konflik, apalagi semakin lama menunda sebuah keputusan bisa memicu banyak alasan untuk membatalkan atau merusak keyakinan seseorang untuk menikah. Seseorang dengan keyakinan yang sudah tidak tergoyahkan bahkan bisa bergeming jika dihadapkan dengan ketidakpastian yang menggerogoti nya secara perlahan bagai kayu jati yang diterpa angin dan hujan, serta terik matahari yang terus bergantian menghantam nya.

Jam pulang kantor yang normal menjadi hal yang aneh bagi seorang Ardi, karena dia pasti akan menuju tempat biasa dia mendapatkan pekerjaan sampingan nya dan hal itu diketahui oleh Anita dan Doni, mereka sudah mengetahui perilaku Ardi sejak memulai mengambil pekerjaan di luar pekerjaan kantor. Sepeda motor nya sudah melaju meninggalkan kantor yang masih akan terus ramai hingga nanti tengah malam, karena banyak kepentingan yang mengharuskan kantor itu selalu buka selama 24 jam persis rumah sakit atau toko waralaba pada umumnya.

Ardi tiba disalah satu ruko yang terletak tidak jauh dari stasiun kereta api yang selalu dijejali oleh para pemudik pada saat lebaran atau pada hari biasa sekalipun. Ruko yang terlihat seperti tempat percetakan pada umumnya ini sebenarnya sebuah perusahaan dibidang advertising atau lebih tepatnya creative boutique karena hanya mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan tata letak dan grafis pada umumnya dan Ardi adalah pekerja sampingan favorit perusahaan tersebut, dengan kemampuan yang dia punya dan juga ketepatan waktu dalam mengerjakan pekerjaannya.

"Permisi mbak, pak Roy nya ada? Saya Ardi mau mengambil materi" Tanya Ardi pada salah seorang yang ada di meja resepsionis, "Oh iya mas sebentar saya panggilkan, mas nya duduk saja dulu" dengan pandangan yang bingung Ardi yang hendak berjalan masuk ke dalam terhenti sejenak, biasanya dengan resepsionis yang biasa dia dipersilahkan masuk untuk segera bertemu dengan pemilik dan juga kepala bagian kreatif.

"Ummm, biasanya saya dipersilahkan masuk untuk bertemu pak Roy langsung" Tanya Ardi yang masih mematung untuk menunggu reaksi dari wanita yang mungkin seorang pegawai baru karena tidak mengenali Ardi yang sudah berulang kali datang.

"Wah kalo begitu saya tidak tahu mas, saya bukan resepsionis sebenarnya, saya Account Executive baru, saya cuma kenal mas Ardi dari omongan pak Roy saja jadi tidak tahu prosedur yang biasanya." Dengan gerakan yang kikuk wanita itu keluar dari belakang meja resepsionis untuk masuk ke dalam ruangan yang agak besar tertutup oleh tembok besar dibelakang meja.

"Ummm, saya Mia, mungkin kita nanti akan bertemu lagi." "Ardi, mungkin saja kalau memang ada pekerjaan yang mbak kasih." Perkenalan yang singkat sebelum Ardi melihat wanita itu berjalan memunggungi nya dan menghilang tertutup oleh tubuh pak Roy.

Setelah obrolan yang singkat dengan pak Roy tentang pekerjaan berikutnya, Mia datang menghampiri mereka. "Ini pak tolong tanda tangani quotation untuk pembayaran freelance proyek kemarin" "Oh ini untuk kamu Di" sahut pak Roy setelah melihat nama Ardi di kertas berwarna merah muda itu.

"Oh iya Mia, lain kali persilahkan Ardi langsung bertemu saya saja di ruangan, jangan disuruh untuk menunggu di ruang tunggu." dengan sedikit tertunduk Mia mengangguk segan "Baik pak" jawab Mia sembari menyerahkan kertas quotation kepada Ardi.

"Tidak apa apa kok pak Roy, mungkin mbak Mia ini belum tahu sebelumnya. Tidak apa apa juga kok mbak, bukan salah mbak juga" Ardi merasa tidak enak ketika Mia diberitahu oleh pak Roy tentang kebiasaan Ardi ketika datang untuk mengambil materi pekerjaan.

"Tidak apa apa juga kok mas, silahkan untuk mengambil uang nya di ruangan finance. Permisi pak Roy, permisi mas." Mia meninggalkan Ardi dan pak Roy yang keduanya terdiam dengan situasi yang aneh itu.

"Santai saja lah pak, jangan seperti itu malah nanti saya tidak enak untuk bertemu mbak Mia jika ada proyek dari dia" Dengan perasaan yang masih tidak enak itu Ardi mencoba untuk menenangkan pak Roy.

"Saya cuma bercanda kok Di, soalnya Mia itu selalu perfeksionis dan handal dalam pekerjaannya, hal seperti ini tidak akan berpengaruh juga dalam dirinya, he he he he he" Sambil terkekeh pak Roy beranjak pergi menuju ruangan nya kembali "Terimakasih ya Di, nanti kita e-mail sisa brief nya" teriak pak Roy sebelum dia menutup pintu ruangan nya.

Pintu ruangan finance sudah tertutup dan tidak ada cahaya dari dalam ruangan itu, dengan wajah yang penuh dengan kekecewaan Ardi memutuskan untuk langsung pulang tanpa harus membawa uang hasil kerja keras nya dan juga bersiap untuk dimarahi oleh oom Doni yang sepertinya sudah menunggu bagian dari proyek itu.

"Mas, mas Ardi" Teriak suara Mia dari dalam ruangan sambil sedikit berlari ketika melihat Ardi sudah terlihat akan keluar, "Maaf mas saya lupa memberitahu bahwa uang untuk pembayaran mas ada di saya, orang finance sudah pulang tadi" "Umm, maaf mas saya ingin bertanya langsung kepada mas Ardi daripada saya mendengar kabar dari orang lain, kalau boleh saya bertanya kenapa mas selalu mengambil pekerjaan dari kita ya mas? padahal mas sendiri sudah menjadi karyawan tetap di perusahaan yang lumayan besar." tanya Mia menyelidik sembari menyerahkan amplop putih yang tebal yang sudah pasti Ardi tahu jumlah nya sama dengan yang sudah disepakati sebelumnya tanpa harus membuka amplop itu.

Sebelum Ardi menjawab pertanyaan itu Mia kembali bertanya dengan singkat "Apakah mas tidak terlalu diforsir untuk sekedar mencari sebuah materi?"

"Wah, tadi nya saya mau menjawab dengan singkat untuk pertanyaan mbak sebelumnya, tetapi jika mbak bertanya seperti itu saya tidak bisa menjawab, karena bisa panjang nanti nya untuk menjelaskan atau menjawab pertanyaan mbak. Terimakasih mbak, saya pulang dulu, permisi." Tanpa melihat ekspresi Mia yang sedikit terguncang karena seperti nya pertanyaan terakhir tadi membuat Ardi merasa terganggu dan sedikit kesal, akhirnya Ardi mengakhiri hari nya dengan lega karena telah menerima bayaran tepat waktu dan bisa membagi bayaran tersebut ke Doni, walaupun pertanyaan Mia tadi memang membuat muka nya bersungut sungut.

Setelah pertemuan dengan Mia pada malam itu, setiap kali Ardi datang selalu disambut oleh Mia, awalnya karena selalu saja ada proyek dari Mia untuk Ardi lambat laun walaupun tidak mengerjakan proyek mereka selalu menyempatkan diri untuk berbincang walau hanya sebentar. Pak Roy merasakan hubungan mereka semakin dekat dan merasa hal yang bagus karena Ardi dapat memberi semangat kepada Mia, bahkan pak Roy berencana untuk merekrutnya untuk menjadi karyawan tetap di perusahaan nya itu walaupun sudah pasti Ardi akan menolak.

''Mia apakah kamu bisa menghubungi Ardi?" Tanya pak Roy ketika Mia baru saja meletakan tas nya di atas meja kerjanya.

"Sama sekali belum pak, saya hubungi melalui sosial media manapun belum dijawab dan juga Ardi tidak terlihat mem-posting apapun di semua akun sosial medianya pak."

"Kalau begitu apakah kamu mau menyusul ke kosan nya dia? Saya punya alamat kos nya saat dia mengirimkan hasil cetak dari kos nya sewaktu dia sakit... Jangan jangan dia juga sakit kali ini?" Secara mendadak pak Roy meninggikan nada suaranya dana mengagetkan keryawan yang berada di sekelilingnya. "Segeralah kesana Mia, saya kirim alamat nya melalu pesan singkat."

Mimik muka Mia berubah sedikit pucat, tidak disangka bahwa dia menaruh perhatian kepada Ardi walaupun hanya sebatas teman dekat dan partner kerja, prinsip Mia tidak mau menaruh perasaan berlebih kepada seorang pria karena dia tidak mau menjalin sebuah hubungan yang intim sebelum pernikahan. Dan juga dia sudah ada pasangan yang menyatakan keinginannya untuk hidup bersama walaupun pria itu bukanlah kekasihnya, tetapi Mia menghormati keputusan pria itu dan menunggu sampai saat itu tiba.

Dalam perjalanannya menuju tempat Ardi, Mia berpikir banyak tentang perasaan yang dia punya. Tentunya perasaan dia bukan hal yang palsu maka dari itu ia merasa tidak pantas untuk pria yang akan menikahi nya nanti. Alamat yang dituju telah Mia temukan dan kamar kosan yang ia cari pun telah terlihat, tetapi ada sepasang manusia yang keluar dari kamar itu, dan sang pria sudah tentu bukan Ardi melainkan orang lain. Dengan rasa penasaran yang ada dan kekhawatiran akan Ardi pasangan itu ia tanya.

"Maaf permisi, apakah betul ini kamar kepunyaan mas Ardi?" Dengan rasa sungkan Mia bertanya dengan kedua orang itu yang sejak tadi ia perhatikan sang wanita selalu berbicara seakan marah dengan suatu hal.

"Iya betul, siapa ya?" dengan ketus wanita itu menjawab.

"Ooh pasti Mia ya? Kita berdua teman kantor nya Ardi. Dia masuk rumah sakit, cuma capek katanya tapi butuh dirawat sepertinya" Jawab pria yang dari tadi memperhatikan Mia. Mereka akhirnya berkenalan, Anita dan Doni mengambil baju ganti untuk Ardi di rumah sakit karena hanya mereka berdua yang dianggap sebagai saudara. Ardi adalah anak rantau yang tidak ada saudara di kota itu.

Mia menjenguk Ardi sendiri pada keesokan hari nya. Di ruangan tempat Ardi dirawat mereka berbincang tentang pekerjaan Ardi yang sudah tentu terlalu banyak dikerjaan untuk seorang diri.

"Buat apa kamu mas mencari materi hanya untuk melamar seorang gadis yang telah mencampakkan kamu, pernahkah kamu berpikir menikah itu untuk mempersatukan tali silahturahmi dan menyempurnakan agama?"

"Aku sedikit mengerti tentang itu Mia, tetapi aku belum menemukan wanita yang membuatku berpikir seperti itu." Ardi terdiam sebentar terlihat berpikir, "Apakah kamu wanita itu Mia? apakah kau mau hidup denganku tanpa harus memikirkan materi untuk menikahi dirimu? Jika memang itu benar setelah ku sembuh aku akan segera melamar mu."

Dengan sedikit ragu Mia menjawab pertanyaan Ardi "Aku sekarang tidak bisa menjawab pertanyaan mu mas, dan tidak bisa memberi kepastian. Janganlah menunggu diri ku." Dengan mengucap salam Mia pergi dari ruangan itu.

Malam hari berikutnya Mia dikunjungi oleh pria yang akan menikahi nya dan beserta keluarganya, setelah bertemu kedua orang tua Mia pria itu berbincang dengan nya.

"Bang, aku punya perasaan kepada orang lain. Aku sayang kepadanya, maaf jika kamu harus mendengar ini tapi aku harus jujur kepada kamu mas."

"Aku tidak bisa melarangmu untuk punya perasaan terhadap pria lain, karena aku belum memiliki mu sepenuhnya. Tapi aku akan tetap melamarmu, izin untuk menikahimu sudah kudapatkan, Aku tidak ragu untuk menjadikan mu istriku walau kau punya perasaan dengan orang lain, asal kau ikhlas menikah dengan ku"

"Iya bang, terimakasih telah percaya kepada ku. Aku ikhlas untuk mengarungi hidup berumah tangga dengan mu." Dengan senyum dan peluk mereka berdua mengakhiri pertemuan mereka hari itu.

Ardi mengunjungi pak Roy setelah seminggu beraktifitas di kantornya untuk sekedar silahturahmi, dia belum diperbolehkan untuk mengambil pekerjaan sampingan oleh Anita dengan alasan kesehatannya. Pak Roy mengusulkan untuk mengajak Ardi makan malam di salah satu cafe dekat kantor Ardi. Setelah bertemu dan berbicara banyak hal tentang pekerjaan tentunya, Ardi pun bertanya.

"Apa kabarnya mbak Mia pak? Sudah lama tidak berkabar dengan dia, saya mencoba menghubungi nya tapi sudah tidak bisa. Ada apa ya pak?"

"Sebenarnya inilah alasan kenapa saya mengajak mu bertemu di luar kantor saya" pak Roy mengeluarkan sebuah kertas yang lebih terlihat sebuah undangan masih berbungkus plastik.

Dengan senyum getir Ardi melihat undangan itu dengan seksama, dan terlihatlah dua buah nama bersanding dengan motif yang indah pada tata letak undangan itu. Mia & Fakhi. Pak Roy meminta bon kepada pelayan menandakan mereka harus segera keluar dari restoran itu sebelum emosi Ardi memuncah.

Dalam perjalanan pulangnya Ardi tersenyum memikirkan semua yang telah ia lalui semenjak hubungan dengan mantan kekasihnya berakhir, dalam lamunan nya ia mensyukuri ini semua terjadi dia mendapatkan banyak kegiatan dan perjuangan untuk menjadi seseorang yang terbaik menurut dia. Kini sudah saatnya dia berlega hati untuk menerima semua nya.

Dalam gelap nya malam pada waktu itu, kilatan cahaya terlihat dari sisi kanan nya setelah tanpa sadar ia menerebos lampu merah di sebuah persimpangan yang tidak jauh dari tempat ia menjejakan kaki nya untuk mengais rezeki tambahan, tempat ia memeras keringat terakhirnya, tempat ia bertemu Mia dan juga siluet sebuah truk yang ia lihat terakhir.