Terik matahari siang ini
Disapu sudah dengan hembusmu
Bertiup kencang
Namun lembut menyapa
Seakan dibuatku terbang
Tinggalkan semua sementara
Hingga terasa lagi terik matahari
Yang hempaskan ku ke bumi
Dan tersadar diriku
Terik matahari siang ini
Disapu sudah dengan hembusmu
Bertiup kencang
Namun lembut menyapa
Seakan dibuatku terbang
Tinggalkan semua sementara
Hingga terasa lagi terik matahari
Yang hempaskan ku ke bumi
Dan tersadar diriku
Tak perduli kau sama
Jika hanya terlihat saja
Tapi di dalam
Kau tetaplah berbeda
Asing
Dan terasingkan
Seakan bukan tempatmu
Walau waktu sudah berlalu
Dan nanti
Hanya akan mengucap
Selamat tinggal
Terimakasih
Sudah lupa tentang puisi
Yang hanya sekedar
Mencurahkan isi hati
Terjebak dalam kata
Hanya agar berima
Walau tidak ada makna
Kini sudah lupakan
Semua yang pernah ada
Semua salah yang pernah dibuat
Kembali lagi kepada Allah semata
Mengucapkan syukur
Setiap anugrah yang diterima
Alhamdulillah
Seuntai diam yang kulakukan
Berbuah cemas pada pikirannya
Dan sesal ku melakukannya
Buat dia kecewa
Malam ini ku tutup mataku
Dengan kekecewaan yang ku buat
Untuknya
Isi hati
Terkadang malu
Ungkapkan semua
Takut lupa
Takut luka
Takut duka
Diam tidak akan selesai
Marah pun tidak
Hanya dipendam
Aku
Mengecewakan
Dia
Dia
Diam
Marah
Dan aku terdiam...
Terbangun di mimpi
Saat yang nyata
adalah maya
Terbangun di mimpi
Saat luka tak terasa
Sedih tak menangis
Terkulai lemas
Saat mata terbuka
Inikah nyata?
Tuturnya baik
Seperti madu
Tanpa cela
Berbagi yang indah
Yang pasti berguna
Tidak sia sia
Sedang yang satu
Tidak pernah tahu
Baik atau buruk
Layaknya sampah
Kotor tuturnya
Tak berguna
Resah lah mulai menjalar
Saat pergi jauh dia ke kota nya
Kabar tak datang
Sebelum sampai ke kereta
Resah mulai mengganggu
Mengacau nalar dan dibuat gusar
Kabar pun datang
Dia sudah di kereta
Resah perlahan hilang
Hanya ribut rindu yang tersisa
Hujan
bawa Aku
Lupakan bulan
Dan kenangan
Biarkan mereka
Ditutupi
Oleh dingin
Malam ini
Angin datang bawa hujan
Matahari pergi sambil terdiam
Di balik awan Ia menghilang
Sesekali tampak
Walau hanya sinarnya
Menyeruak sedikit di sela sela awan hitam
Angin kembali lagi datang
Bawa ribuan awan
Menghitam tampak kelam
Tak ayal gemuruh guntur berteriak
Cahaya kilat seperti menyilet langit
Membelah asa untuk lihat mentari kembali
Hujan semakin lebat
Jatuh air nya membuat hilang semua sepi
Bukan menenangkan tapi menakutkan
Hanya cahaya kilat yang menerangi
Hanya sekilas tak terasa
Tak membuat hangat hati ini jua
Angin kembali lagi datang
Menambah dingin saat malam
Walau tak jelas ini malam ataupun siang
Mungkin nanti
Matahari tak lagi datang
Hai,,
Terimakasih bagi yang sudah membaca blog ini, apalagi yang sudah rutin membuka dan membaca blog ini. Maaf jika lebih dari sebagian blog ini berisi curahan hati yang spontanitas dikeluarkan.
Maaf belum bisa rutin lagi mengisi blog ini, karena belum ada yang bisa dikeluhkan atau di"galau"kan (bukan berarti gak ada atau gak galau) bisa ditumpahkan dalam tulisan.
Sekali lagi, terimakasih banyak sudah meluangkan waktunya untuk membaca blog ini.
Nasyrah dera aprianto
(Maaf kalo spasinya berantakan,, maklum update di hape)
Tak ada risau yang tampak nyata
Hanya senyum menyimpan duka
Duka yang tertutup suka
Suka cita akan bertatap muka
Bukan tak perduli akan esok
Sudah direncana tapi kadang berbelok
Bahagia hari ini berbeda dengan besok
Bahkan bertemu banyak sosok
Berteman tiada batas
Banyak dikenal sedikit yang berbekas
Banyak pula yang sekedar melintas
Beberapa mendapatkan prioritas
Indahnya dunia dari matanya
Kilau semangatnya hapuskan duka
Hidup dengannya seakan berpesta
Fananya hidup tersingkirkan suka
Alihkan lara yang menutup senyumnya
Semoga lengkung senyumnya abadi
Diantara yang tak pasti
Jangan kau sering berdiam diri
Jiwa mu itu selalu memintamu berlari
Hidup itu kerja
Pakai kemeja
Jadi eksekutif
Bukan bisnis
Itu bukan kerja
Pedagang
Cuma dagang
Bukan kerja
Kerja itu
Di kantor
Bukan di rumah
Belakang meja
Bukan di sofa
Duduk
Bukan berdiri
Kalo perlu
Pakai dasi
Kerja nak!
Kerja di kantor
Jadi pegawai
Sampai tua
Bergelimang hujan di sudut jiwa
Tak ada suara di rintiknya
Merintih luka mendengar jiwa
Saat guntur membisu setelah kilat melintas
Raga tak lagi merindu suara
Yang berdentum keras
Membentuk asmara dalam otak
Bersetubuh berbalut peluh rindu
Hujan terus mengguyur
Banjiri semua jiwa
Mulai menyenggama otak
Hilangkan semua suara
Tak ada kata
Tak ada suara
Berisik tak bergemuruh
Sakit namun tak mengaduh
Hilangkan nada
Hanya terucap doa
Tak bersuara
Hanya sementara
Tak bisa bicara banyak
Apapun yang terjadi
Matahari tetaplah terbit dari timur
Ketika kau melihat nya di barat
Hari mu akan berakhir
Semua yang kini ada
Bukan pagi itu
Matahari masih terbit di timur
Dan harimu masih berlanjut
Hingga nanti senja merona di barat
Sampai nanti malam gelap
Sampai nanti kau tertidur lelap
Layu sudah tak berkata kata
Jika hanyalah sedih yang dirangkai
Walau bahagia pun menyeruak
Tak ada kata untuk bahagia
Kaki lelah melangkah sepi
Yang ada hanya bohongi diri
Setiap ku cinta yang ku lakukan
Semakin jauh dari yang ku lakukan karena cinta
Lihat saja matahari
Dikira berdiam diri memancar sinar
Walau ia berputar mengelilingi semesta
Tak tahu dia cinta atau hanya melakukannya saja
Tak bosan ku menulis
Hanya belum ada kata untuk bahagia
Tak bosan ku menggambar
Hanya belum terbiasa menjalaninya
Jika bahagia saja bisa membuat perut kenyang
Akan kutinggalkan yang ada untuk nya
Ku tekuni demi cinta yang ada
Ku geluti hingga sampai akhirnya
Ini dunia nyata sayangnya
Tak bisa mengalir seperti air
Yang lewati semua batu batu besar
Atau meluap dan berubah menjadi hujan
Ini dunia nyata yang kurasa
Aku hadapi walau tak cinta
Walau merana mendusta harus mencinta
Demi penuhi yang kubawa di pundak ku
Walau dalam sujudku juga mengeluh
Dalam sadarku pun mengerang keluh
Tak sadar bukan satu perut yang menunggu
Harus ku kembali jalani sesuatu yang tak kucintai
Jika terus menunggu dia sampai nanti
Aku akan membusuk berkali kali
Jalani hidup tanpa mencintai
Dan membuang cinta berkali kali
Singkirkan saja semua ini
Yang buat sempit hati ini
Harusnya luas seluas semesta
Tanpa ada batas
Mengeluhku dalam doa
Dalam kata yang kusaji indah
Setiap tutur bicara pada hari biasa
Seakan tak bersyukur ku pada hidup
Saat ku selesai kan kalimat terakhir
Dalam keluhku di puisi ini
Semoga ku bisa mencinta setiap hal yang ada
Bersyukur setiap nafas dan karya yang pernah ada
Semoga ku lakukan yang kucintai
Dan mencintai yang ku lakukan
Sahut sahut ceracau anak
Membuat ribut taman di tengah beton
Decit sepatu mereka saat melangkah
Membuat tersenyum siapa yang melihatnya
Di sini, di tengah gedung tinggi
Tempat pemukiman baru
Di mana tanah begitu jauh dipijak
Demi mendapat atap berteduh
Di sini, tersisa hijau tengah abu abu
Tempat berkumpul para ibu
Atau terkadang para pembantu
Seringkali para penjual nafsu
Ini taman seribu umat
Bukan pula tempat keramat
Terkadang mereka salah tempat
Malah menjajakan kesenangan sesaat
Mati itu sudah pasti
Bukan seperti pelangi setelah hujan
Yang kadang tak kunjung tiba
Jika dalam doa terucap iba
Memohon ampun akan yang pernah ada
Salah yang terucap lantang
Atau bisik rindu yang samar
Kita akan terbiasa
Saat nanti ditinggal yang dicinta
Atau meninggalkannya
Jika maaf terucap sembarang
Malah benci diterima
Jika benci diutarakan lantang
Hanya dendam yang kita rasa
Saat nanti diujung zaman
Harusnya kita tak lagi fana
Karena waktu berhenti dan semua dosa jadi nyata
Biar benci memakan jiwa ini
Sosok penyendiri yang pembenci
Penebar iri yang lemah hati
Yang tak tahu diri membuang yang mencintai
Terjun saja kau ini ke jurang dan mati
Yang berkali kali terus mengingkari
Setiap kata dan janji layaknya orang suci
Dan diakhiri lagi dan lagi dengan sepi
Neraka terlalu damai bagi yang mengingkari
Biarkan berteriak lagi dalam senyap yang sepi
Sampai putus uratnya nanti hingga tak bisa berteriak lagi
Tergolek lemas terkulai kosong tak ada isi
Lantang bersikap mengubah diri namun tak kunjung pasti
Duduk merana ratapi tembok sambil menangisi
Sesal yang terjadi tak bisa dirajut bagus lagi
Biar biar saja kau mati dalam balutan sepi yang abadi
Aku melihat daun berguguran
Berserakan di atas tanah
Mengering menyedihkan
Perlahan makin banyak yang berjatuhan
Dibiarkan saja berbaring di sana
Mengering hingga bertulang
Helai demi helai daun jatuh menerus
Terus berjatuhan sampai tak bersisa
Hanya ranting kering terpatahkan angin
Yang tersisa hanya sama seperti yang gugur
Kering muram seakan gugur kapan saja
Seakan hilang sudah walau masih tersisa
Daun berguguran biarkan saja di tanah
Agar kelak jadi guna untuk tanah
Jadi guna untuk yang lain
Dan kini aku melihatnya semua
Dengan batang dan ranting yang kering
Inilah aku pohon yang mati kering
Melihat semua daunku berguguran
Membiarkannya agar baik mereka berguna nantinya
Harapku demikian
Dan biar saja aku mengering
Kemudian hancur perlahan
Jadi debu di udara
Keropos
Tidak gugur menjadi kompos
Melainkan dimakan angin dan hujan
Jika nanti tersisa akar ku di dalam tanah
Biar saja cacing dan semut bersarang disana
Semoga itulah guna dari sisa ku nanti
Tertutup mata arah nya hilang
Jejak nya masih jelas
Masih beranjak terus ke depan
Karena di belakang longsor sudah
Berhenti sejenak melangkah
Mata masih memejam gelap
Lupa longsor mengejar
Terperosok ke dalam tanpa terasa
Tak merosot di tanah merah
Hanya jatuh lepas di antara tiada
Terus menghilang menuju gelap
Menuju bawah jatuh ke dasar
Mata tak perlu melihat
Karena kulit ini melihatnya bagai mata
Merasanya begitu jelas
Ketiadaan yang melintas menyentuh kulit
Seakan tahu terjatuh
Tak perlu meronta meminta
Hanya merasakannya saja
Tenang karena hening diantaranya tiada
Takut tak lagi jadi soal
Hanya tahu bahwa kita kan kembali
Ke permukaan di mana tapak menginjak
Ke permukaan dimana ke depan laju langkahnya
Biar saja hancur berantakan
Saat jatuh menghantam bumi
Biar saja tercecer kecil
Biar merasa kecil kembali sebelum besar
Belum saatnya ku terhancur
Belum terasa dasarnya
Kini biar saja senang sendiri
Karena kisah ini belum berakhir
Pagi terang
Kaki melenggang
Dengar adik berdendang
Bernyanyi senang
Walau bernada sumbang
Siapa tahu hati mengenang
Tentang apa yang hilang
Janganlah merasa kurang
Saat masih bisa berjuang
Biarlah biar hati kita tenang
Supir angkot terus menerjang
Membelah aspal yang membentang
Hari hari mereka sangat tertantang
Pemberani saat mencari uang
Asal jangan menabrak yang menyebrang
Hati ini merasa terang
Tak ada rasa lelah di tulang
Semoga hari ini terus riang
Sampai nanti saatnya berpulang
Kaki terasa riang melenggang
Barisan abu kelabu tutupi si nona pagi
Hanya berkas sinarnya yang tembus awan yang kian menyendu
Perlahan rintik hujan perlahan turun
Begitu perlahan serasa embun subuh tadi
Deru kendaraan mengerang di jalan
Menggilas aspal yang terus terkikis karet bundar
Membuat nya jadi serpihan debu yang tak kasat mata
Yang terhirup pengguna trotoar yang berjalan tergesa gesa
Si kelabu yang sendu buat pekerja tertipu
Membuat si nona pagi tertutup rona nya
Hingga menutup sebagian semangat yang menggebu
Tak tertahankan bagi jiwa yang sudah kian lesu
Wahai nona pagi beranikan dirimu
Tunjukan ragamu sebelum mereka melemah merindumu
Buat lengkung senyum di wajah para pencari rezeki
Agar ringan langkah tergesa mereka tak jadi sia sia
Jika manusia adalah padi
Seharusnya ketika tua semakin merunduk karena berisi
Walau kadang seperti rumput liar yang terus tumbuh tinggi
Bertumbuh liar tak terhenti
Walau begitu manusia itu punya hati
Saling mengerti dan menghormati
Walau pada akhirnya nanti akan mati
Sebelumnya harus saling memaafkan setulus hati
Aku sang pemalu
Yang tidak punya kata kata
Perih tak bisa diungkap
Karena kata kata ku tak berarti
Karena kata kata ku tak dimengerti
Merajuk jadinya bagi mereka
Malam selalu sama
Bagai pisau yang mengiris pelan
Perihnya terasa lama
Aku ini pemalu
Tidak bisa berkata kata
Selalu buat kecewa yang mendekat
Membuat kata jadi bual belaka
Membuat cinta jadi fana
Pendusta aku jadinya
Kisah cinta selalu sama
Bagai bongkah besar batu gunung
Yang terus mengecil menghilang jadi pasir
Aku ini malu
Tak ada lagi kata
Mengulang sebuah cerita
Dari yang lalu tentang hal malu
Seperti radio yang rusak mengulang melulu
Membuat tak maju maju
Seakan tak bosan
Menipu semua perasaan
Yang akhir malah seperti benalu tak tahu malu
Malu
Tak berkata
Inilah sang sepi senyap dalam gelap
Yang dituju saat dihancur realita
Karena tak ada lagi sinar merona
Yang ada hanya sesal aku telan
Sudah lah diam saja jika malu
Lakukan saja jika benar dan mau
Sudah tua jangan tidak tahu malu
Sedikit bergumam dalam hati
Tentang peron di seberang
Tempat menunggu untuk ke ibukota
Dimana awal terjadi waktu itu
Tak ada waktu yang menjelaskan
Tak ada kata yang menegaskan
Layaknya terang matahari
Nikmati saja terangnya
Nikmati pada waktu itu
Sebuah tatapan tanpa isyarat
Yang berujung saling mendekat
Mungkin saling terpikat
Tatapku melihat ke seberang
Tatapan yang melintas waktu
Inilah layar kaca penembus waktu
Kilas balik cerita lalu
Setiap langkah jelas terlihat
Menatapnya seakan dekat
Perlahan memelan geraknya
Semakin jelas semuanya
Di peron seberang yang lalu
Sebuah awal dari sebuah kisah
Yang kini mungkin berlalu
Menunggu cerita mereka bersatu
Dan kini ku menunggu di seberangnya
Menuju arah sebaliknya
Di titik awal keberangkatan
Untuk kembali ke tempat yang dituju
Sedikit menyesal di hati
Gerbong ini penuh orang menyesaki
Dan kiri ini ditinggal yang memiliki
Mungkin kusimpan saja sampai nanti
Jauh jauh puan disambangi
Tak terasa lelah ditempuh
Ucap rindu selalu diumbar
Terungkap jika masih disayang
Sudah jauh yang sudah lalu
Bertahun sudah ditinggal pergi
Tak lapuk tapi perasaan yang dirajut
Tetap menyala walau redup terlihat
Baiknya tuan bereskan kertas
Hadapi yang akan datang
Jemput yang sudah menunggu
Belumlah telat matahari terbenam
Hadirmu kini jelaskan semua
Semoga inilah jalan yang tuan ingin
Menemui puan yang gundah hati
Yang ingin lepas beban yang ada
Kini tuan ditunggu yang mengandung
Menunggu selesai kertas dirangkum
Ingin lihat yang pertama berhasil
Selama menunggu hampir dua windu
Jika puan inginkan tuan
Janganlah ada sebuah prahara
Biarlah kembali bintang pada rembulan
Biar mentari tertidur lelap
Beritahu mereka tentang berita
Tanpa membuat mereka membencinya
Tuang seluruh rindu dalam cerita
Dan biar mereka tertawa setiap kata
Sudah usai kata benci
Ketika puan sudah menepi
Diujung rindu menuju lupa
Katakan saja pagi tak lagi ada
Semua yang fana tak ada disini
Terasa nyata walau tak terasa menggenggam
Semua semu hilang seperti debu
Tapi nyatanya tetaplah ada bagai patung batu
Cerita tentang dia
Tak habis rindu dibenci
Selalu ada tempat
Di akhir menoleh tahiyat akhir
Berikan mereka berita tanpa benci
Saat rindu tidak tersenyum lagi
Walau tak habis rindu dihirup
Tetaplah harap tak lagj hidup
Lihat bangku basah disapu hujan
Niat hati menunggu ramai
Tak apalah berdiri sambil berandai
Tentang hujan dan harapan
Awan sudah berlalu pergi
Tampaklah rembulan ditutupi kabut
Sinarnya bias dihalang awan tipis
Seakan merona malu bertemu bumi
Terbentuk cincin bias sinar rembulan
Saru terlihat di tengah angkasa malam
Besar melingkari dirinya
Mungkin inilah pelangi kala malam
Mereka yang berharap setelah hujan
Ingin melihat langit bersolek pelangi
Tak usahlah menunggu sampai pagi
Tak usah menunggu tiba mentari
Malam tak perlu warna
Tak perlu bersolek begitu ramai
Hanya pendar sinar rembulan
Cincin cahaya hadiah setelah hujan
Harapan janganlah dinanti
Seperti menunggu pelangi di malam hari
Tak nikmati rembulan yang ada kini
Menggerutu hingga datang si nona pagi
Hujan kala malam
Kadang usir semua harapan
Termangu hingga kesal dibawa lelap
Tertidur sampai pagi usir gelap
Banyak berucap syukur terhadap dunia
Tentang apa yang kita punya
Seakan kita tak punya apa apa
Kosong kelam hampa tak ada isi
Layaknya langit malam tanpa bintang
Hanya gelap yang dalam terlihat
Seakan tak berpijak
Seakan tak berujung
Sesatlah orang jika kesana
Ke malam tanpa bintang
Tanpa ada cahaya terang bersinar
Tak akan tahu arah
Itulah kita sang manusia
Diciptakan kosong tanpa isi
Dipenuhi nanti dengan kata dan gerak
Tutur ucapan dan tindakan
Entah diisi apa kita nantinya
Kosong yang bernama manusia
Cahaya kebaikan yang sinari malam
Atau bertambah dalam kelam nya malam
Hanyalah bersyukur kita haturkan
Walau diberi nikmat atau sengsara
Karena kita adalah malam yang kosong
Yang diisi cahaya ucapan syukur Alhamdulillah
I fallen sleep in the darkness
Because i just want to be honest
I fallen sleep in the darkness
And I needed a forgiveness
I just stand in the middle of forest
Trying run out in the clueless
I just stand in the middle of forest
And I tried to be the best
Tak berbeda matahari berpijar
Sinar berkilau menyilau mata
Sedikit hangat namun menyengat
Entah itu hari kerja ataupun berlibur
Senyum berjingkat di wajah mereka
Langkah cepat bukan karena telat
Sabar sudah tak bisa ditahan
Untuk berlibur buang semua bosan
Matahari tak akan berbeda sinarnya
Kepada mereka yang masih bekerja
Kulit mereka merasa sama disengatnya
Hari libur atau bekerja tak ada beda
Tanpa rasa wajah mereka terbaca
Layaknya dinding polos bercat putih
Bosan tak dirasa senang pun tak ada
Ini akhir pekan tapi masih terasa bosan
Mereka yang berlari bahagia
Menggandeng yang dicinta
Si kecil lucu yang tak sabar
Atau kekasih manis yang dicinta
Habiskan pekan ini dengan ceria
Tak perduli mereka yang bekerja
Ini waktunya menghempaskan bosan
Bersama sama ramaikan jalan
Mereka yang bermandi peluh
Yang keringatnya berganti nasi
Berusaha senyum dibalik lelah
Sedikit harap upah dibayar segera
Si kecil menanti di bawah atap sana
Yang dicinta cemberut menggerutu
Bosan dirasa ditinggal sang pekerja
Mencari rezeki di akhir pekan
Terbentuk bagai asap tebal
Bukan gelap pekat
Karena terhirup pun bisa
Sebuah sepi yang kelam
Berkumpul dalam rongga dada
Menggeliat memenuhi semua ruang
Kelam menyesakkan hidup
Menyebar ke seluruh nadi
Darah tercampur gelapnya sepi
Mata berubah hitam dicelup kegelapan
Bukannya menjadi buta
Hanya lah hitam yang dilihat
Hentikanlah ini semua
Berhentilah saja bernafas
Agar sepi tak masuk menyeruak
Dan gelap menutupi mata
Sesaat nafas terhenti
Seberkas cahaya terlihat mengintip
Setitik dari pekatnya sepi
Sebuah harapan yang dinanti
Gemilang titik cahaya itu
Mempesona mengajak kesana
Kakipun melangkah
Walau terasa tak menjejak tanah
Kusibak asap sepi dengan harapan
Kedua tangan mengibas menggila
Membuat jalan demi cahaya disana
Yang memanggil di ujung sepi
Titik membesar pendarnya menyala
Semakin terang mengalahkan kelam
Merasuk hangat ke dalam sela mata
Mata seakan tercelup air surga
Sekitar masih terasa asap sepi
Membentuk pintu menuju terang cahaya
Selangkah lagi menuju sana
Cahaya terang ramai penuh bahagia
Tali kekang kendali arah
Dipecut hanya menambah cepat
Berdarah kadang dibuatnya
Menyiksa saat kekang ditarik
Hanya berjalan lurus ke depan
Tak perduli halang dan rintang
Terus dipacu lompati rintangan
Tak perduli duri belukar
Kekang ditarik bersamaan
Berhenti bukan karena patuh
Tersiksa terasa sebenarnya
Hati melemah walau pikiran memberontak
Kaki dipalu dipasang sepatu
Sebuah besi penguat pijakan
Lumatkan tanah setiap langkah
Derap tinggalkan jejak berbentuk
Pelana berkulit sapi
Diletakkan si kelana di punggung ini
Pelindung genital dan pijakan kaki
Ditendang perut agar cepat larinya
Mata memandang kejauhan
Lihat ujung tak bertepi
Hanya derap langkah kuatkan diri
Terus dipacu, dipecut perih terasa
Empat kaki ini kokoh ku banggakan
Tidak seperti mata, sayu lelah terlihat
Badan penuh luka pecut
Kadang berlari walau lelah tak kenapa
Tujuan tak dicapai
Tapi memutar jalannya bercabang
Banyak mendapat cerita
Saat dipacu dengan nafas menderu
Bermimpi ke tempat yang dituju
Rasakan setiap jengkal tempat itu
Merasakan setiap sudut yang fana
Walau tak pernah sekali kesana
Kekang pun ditarik sangat keras
Terjungkal si kelana
Tersungkur kemudian sirna
Menghilang menjadi bumi
Kini kekang sudah terlepas
Melegakan hidup rasakan bebas
Ku lari sekencang mungkin bisa
Berbelok kemana tanpa di kekang
Hilang mungkin sebuah tujuan
Dan berlari kemana saja
Nantinya ku melangkah pasti
Peraduan terakhir ke sang pencipta
Ingatkah tulang ini
Tentang lelah nya
Menopang darah dan daging
Hati dan juga pikiran
Mengurung jantung
Dibalik tulang iga
Bersarang bagai burung
Berdegup bukan berkicau
Tengkorak yang keras
Memeluk otak dengan lembut
Tanpa membuatnya sesak
Layaknya ibu menggendong bayi
Menegakkan punggung
Membusungkan dada
Melindungi yang lemah
Hanya dilindungi selembar kulit
Mereka tidak tahu akan lelah
Mereka hanya susunan tulang
Yang keras yang tak mungkin berubah
Saat organ dijaga dalam hampa
Pikiran dipeluk mesra
Diajak semua melangkah
Tak pernah mereka lelah
Tulang belulang akan jadi saksi
Saat semua mati dan membusuk
Merekam ingatan setiap langkah
Tanpa lelah ingat itu semua
Tapi kini saat nya sudah
Istirahat lah tulang untuk sesaat
Biar nanti kembali tegap
Hidup kembali dan bersujud syukur
Lirih gontai bersuara serak
Kaki tak kuasa melangkah
Bersandar pun lunglai
Hilang semua tulang belulang
Lemas semua rasanya
Saat hati dilihat jahat
Sampai bergetar badan ini
Menahan diri mengucap kata
Salah memang hujan turun
Maksud hati berbuat baik
Malah berulah menjadi banjir
Merusak menghancurkan yang ada
Awalnya menimang disayang
Kemudian salah ku membuang
Yang berujung mengerang
Sakit setelah kubuang
Cerah pagi dirasa hangat
Begitu nyaman semangat terasa
Hingga siang datang mencekam
Menebar terik yang menusuk hati
Akhirnya liat pun disusun jadi rumah
Batu batu disusun menuju langit
Agar terik tak lagi sakit
Agar tak hilang ditinggal cahaya
Semua akhirnya sembunyi
Dari sakit yang terus ku sisipi
Benci yang kubuat tidak sengaja
Yang melahirkan banyak benci
Lelah kaki melangkah
Panas dengkul menekuk
Akhirnya tumbang dibakar benci
Benci yang kubuat sendiri
Tak ada lagi embun pagi
Setelah kembali ke sini
Tinggal di kota ini
Dimana debu membumbung tinggi
Siang belum waktunya tiba
Tapi hangat sudah sinar sang surya
Seakan menyapu gundah gulana
Menghilangkan sedih yang sia sia
Riuh ramai dirasa kembali
Bekerja mencari rezeki
Naik kereta lagi
Beli koran pagi
Siang hari belum waktunya
Panas nya sudah terasa
Hanya berjarak dua jam saja
Hawa nya terasa berbeda
Di kota itu dingin sekali
Walau sama sama pagi
Embun seakan selimuti diri
Menahan diri beranjak pergi
Seakan ingin kembali lusa
Setelah pulang kerja
Itu hanyalah mimpi belaka
Sekarang hadapi realita
Rindu akan embun pagi
Walau sudah bersiap diri
Kembali kerja lagi
Naik kereta lagi
Sudah lelah punggung ini
Membawa dua ransel
Tak bisa kulepas
Tak bisa kutinggal
Penting lah isi keduanya
Antara sekarang dan masa depan
Lelah tetap saja ku bawa
Sejauh apapun jua
Lelah sudah punggung ini
Istirahat ku melepas keduanya
Ringan pundak dan punggungku
Sedikit meregang lepaskan beban
Lanjut lagi perjalananku
Yang kini tetap selalu kubawa
Masa depan tetap ku bawa serta
Hanya keluh kesah yang kutinggal
Masa depan tak pasti isinya
Berubah setiap ku melangkah
Setiap jalur yang ku ambil
Berubah isi dan bobotnya
Yang kini hanya sedikit berubah
Saat ku berlalu dalam langkahku
Kadang berkurang isi dan bobotnya
Kadang bertambah dan sedikit menusuk
Belum habis perjalanan ku
Belum selesai cerita ku
Akan terus kubawa dua ransel ini
Hingga habis sudah semuanya
Surga kah yang ku rindu?
Atau neraka yang ku nikmati?
Tertatih memanjatkan doa
Tetapi terampil membuat dosa
Jika surga yang ku rindu
Semoga menjauh ku dari dosa
Dan fasihkan diri ku berdoa
Rindu yang dulu membatu kini hancur menjadi debu
Yang melayang layang di udara beribu ribu debu
Mengisi paru paru dan tidak terasa sendu
Walau tidak sakit seperti diisi paku
Tapi masih terasa pilu
Ketika mendengarkan hampir di setiap lagu
Seakan bercerita tentang kita, antara aku dan dirimu
Hanya dilewati pagi dan malam
Hanya melihat tas besar dan koper
Serta mereka yang membawanya
Paras ceria yang berlibur
Atau paras sendu yang berpisah
Kadang berhenti sejenak
Walau hanya di dalam kotak besi
Tak bisa beranjak
Dengan lelah dan resah
Sedikit iri dengan yang menunggu
Iri kepada yang keluar dari kota ini
Dahulu melepas dia yang besar
Selalu menganggap nya besar
Melepas dia menuju kota apel
Tempatnya menimba ilmu
Beritanya dia akan kembali
Akhir tahun ini ke Kranji
Bukan melepas hari ini
Tidak ada yang berpisah kali ini
Hanya berharap bertemu diri sendiri
Di sini berganti melihat mereka
Yang hanya melewati tempat ini
Berganti melihat sang pencari rezeki
Di sini duduk dalam kotak besi
Berbeda dari yang sehari hari
Duduk bersandar lurus ke depan
Berlari menyambut sepi
Hari ini pergi sendiri
Dari Gambir pagi ini
Stasiun seperti senja, pertemuan dua rasa, datang dan pergi.
Melepas sang hari menyambut sang malam, melepas yang disayang dan menyambut yang dirindu.
Harus rela melepaskan terang dan bersiap arungi malam, siap merindu dan dirindu.
Senyum senang datang disambut pelukan, hiasi wajah yang seterang siang.
Lepaskan lara dan juga rindu, sudah saatnya kita bertemu.
Sedih menggelayut, terbawa hanyut arus sendu, melepas yang disayang mendadak malam tutupi wajah.
Jangan menangis meringis, siapapun resah saat berpisah.
Stasiun seperti senja, merindu dan mencinta, melepas dan menyiksa.
Mengintip malu di ujung timur
Merona merah di tepi langit
Belum tampak sosoknya
Hanya bias sinarnya yang dirasa
Perlahan biru menyeruak langit
Masih merona merah di ujung sana
Bagai pertemuan pertama
Masih malu malu tunjukkan dirinya
Bagai malu dipuja
Yang merona merah pipinya
Sungguhlah cantik mentari pagi
Bagai perawan beranjak dewasa
Yang baru saja dilamar kekasihnya
Malu malu beranjak tinggi
Pelan pelan menguning terlihat
Sinarmu cantik di pagi ini
Temani pekerja mencari rezeki
Janganlah marah hai nona pagi
Janganlah terik kau beri di siang hari
Tak perlu ganggu si pembaca buku, biar dia masuk ke dalam dunia kata kata yang beribu makna, cerita dan mungkin cinta.
Diam berdiri memegang buku, mata nya membuka seakan mempersilahkan masuk semua kata kata yang terlihat menari di depan nya.
Sekitarnya akan hilang terhapus kenyataan yang terpampang pada tumpukan kertas yang rasuki hidupnya.
Tak perlu ganggu si pembaca buku, biar dia menghilang, melebur menjadi atom atom kecil dan menyebar di seluruh dunia yang nyata di buku itu.
Menyatu dengan tinta dan kertas, kabur dari realita yang nyata menuju cerita yang lebih tampak nyata dibanding realita.
Matanya meraba raba tiap helai kertas, dan merobek masuk ke dalam nya.
Jangan ganggu si pembaca buku, biar dunia hilang dalam pikirannya.
Jika hujan datang dikala susah, tak akan ada kata untuk menikmati hujan itu.
Jika mentari bersinar terik dikala panas hati, tak akan ada syukur cerah hari.
Buailah hidup untuk tersenyum, ajaklah hati menerima yang nyata, yang ada saat ini.
Tetes hujan yang turun laksana ribuan panah dirasa romantis jika hati kita mendayu dayu.
Cahaya terik membakar kulit seakan pagi hari yang cerah ketika akan bertemu sang pujaan hati.
Tak perlu kupaksa kan hati ini, ak perlu ku bujuk, tak perlu senyum merona hiasi wajah, hanya berucap syukur.
Biar perlahan hati ini akan nikmati semua yang ada, yang dirasa kejam ataupun merana.
Hati hanya sekepal tangan, tapi luasnya bisa kalahkan semesta.
Memuja masa depan
Lupakan hari ini
Tinggalkan masa lalu
Jauhkan yang ada
Besok tidak tahu
Yang lalu sudah
Kini saatnya berdiri
Bersiap ke depan
Bersyukurlah hari ini
Ikhlaskan yang lalu
Jika nanti senang
Jangan lupa bersyukur
Besok harus disambut
Jangan membawa lalu
Siapkan dari sekarang
Untuk bahagia nantinya
Beranjak bangun dari tidur
Mencoba hilangkan buruk di kepala
Entah mimpi atau ingatan
Nyata nya begitu berat di kepala
Buruk ku ucap
Karena tak bisa ku tersenyum
Terlihat matahari bersinar
Tapi tak kudapat terang sinarnya
Seakan aku masih tertidur
Bermimpi akan gelapnya dunia
Mata terbelalak terbuka
Namun tiada sinar yang kurasa
Sudahi saja semua ini
Biar nanti terang ku nikmati
Tersenyum di antara cahaya
Mencintai dengan sepenuh jiwa
Tak terekam oleh dunia apa yang kita ucapkan dalam doa, dalam bisik kita kepada sang ilahi, pencipta bumi dan seluruh jagat angkasa.
Bisik ucap kita tak perlu berteriak akan terdengar kepada Nya, kadang tengah malam ketika semua orang mendengkur, kita memanjakan doa dan beribadah agar jauh lebih tenang.
Doa akan semua kebaikan, semua yang berkaitan dengan kebaikan, bagi seluruh umat manusia atau hanya untuk kita semata.
Jangan kau ucapkan yang buruk bagi siapapun, bagi apapun, atau diri kita sendiri, daripada nanti terkabulkan doa yang memberikan keburukan bagi mu dan kau menyesali apa yang telah kau ucapkan dalam khidmat doa.
Rasanya ingin memetik bunga dan menyimpannya hingga layu.
Menikmati keindahan tanpa harus membawa semua nya.
Ku petik hanya sekuntum dan ku taruh di atas meja kerja ku.
Masih cerah warnanya dan mungkin kupu kupu pun akan datang karena segar nya masih melekat.
Ingin sekali ku memandang nya seharian tanpa harus melakukan apapun.
Hanya menatap nya lurus nikmati warna nya serta cantiknya bentuk nya.
Tak akan ku sentuh, tak akan ku genggam, hanya dipandang.
Melihat kuntum nya yang selalu memikat serangga mendekat dan penyair akan menulis tentangnya.
Tak akan ku buat sia sia sekuntum bunga.
Daripada jatuh ke tanah dan terinjak kemudian membusuk.
Tak dipandang, tak dipuji, dan diacuhkan.
Bunga yang indah yang tak terlihat, hanya ditanam tanpa diberi pujian seperti biduan tanpa penonton.
Bunga yang indah yang hanya ditanam, disiram setiap harinya, yang hanya penghias taman belaka.
Bunga itu seperti putri jelita yang tidak boleh keluar rumah, dipenjara tanpa boleh orang memuji.
Biar ku petik, ku puji dengan indah, tulus ku puji semua yang ada di kuntum itu.
Walau ku tahu cantiknya tak akan lama, setelah ku petik dia akan perlahan memudar.
Makin lama akan berubah warnanya, akan berkerut permukaannya dan mengering layaknya kertas yang perlahan jadi abu.
Biar saja biar, ku membunuhnya pelan, biar saja biar, ku memisahkannya dari tempatnya berasal.
Biar saja ku jahat, biar ku dihukum, biar saja, agar tak sia sia kecantikan nya dibiarkan begitu saja.
Ku kagumi kuntum bunga itu, ku puji cantik nya, daripada jatuh diacuhkan dan mengering menghilang.
Seperti cinta, matahari bersinar malu malu pada dini hari di ufuk timur, begitu malunya hingga berkas sinarnya masih bercampur gelap malam dan belum terasa hangat.
Saat bumi sudah rela melepas malam, matahari beranjak naik dan bersinar lebih terang, lebih hangat. Semua celah di bumi disusupi oleh berkas sinarnya, seketika perasaan cerah layaknya jatuh cinta.
Hampir semua makhluk terbangun oleh keberadaan nya, burung burung bersuka cita, bernyanyi bersahutan seakan sambut kedatangan matahari. Tunas tumbuhan menggeliat bermandikan cahaya hangat, menari nari menyambut kelahiran tunas baru. Inilah jatuh cinta penuh suka cita.
Kian siang, kian panas, kian terasa panas matahari menguasai bumi, memaksa air terangkat ke langit dan merubahnya menjadi gumpalan awan awan.
Terkadang terlalu memaksa air ke langit, hingga awan menggumpal hitam dan tak kuasa langit menahan semua itu hingga turun kembali semua air ke bumi, hujan. Seperti itulah kesedihan dalam cinta yang memaksa, yang terlalu panas tak terkendali.
Setelah siang hari puas matahari menghujam langit dan bumi dengan sinarnya yang tak lagi hangat melainkan panas terik, perlahan mereda, berjalan seakan menghindar ke ufuk barat, sinarnya tak begitu panas hanya sedikit terasa panasnya.
Setelah lelah menggelora sinar matahari, kini meredup, melemah bagai remang lampu jalan, kuning sinar nya tak setegas siang namun tak sehangat pagi, kini sedikit menghilang sosoknya. Inilah cinta, kabur terasa setelah begitu panas menggelora.
Pelan pelan langit berwarna jingga, tidak seperti pagi yang berwarna kuning keemasan saat matahari datang, yang begitu terasa besar dan mewah sinarnya, kini jingga terasa malu malu tak jelas kuning maupun merah, jingga namanya.
Begitu romantis cara matahari meninggalkan bumi, diberi warna indah pada langit, rona jingga di ufuk barat, begitu puitis sehingga bumi rela ditinggal matahari yang sudah semestinya pergi.
Ketika malam perlahan datang, dengan sang bulan sebagai pertandanya, matahari mengecup manis bumi yang disebut senja. Begitu indahnya matahari berpisah dengan bumi, tanpa sadar bumi kehilangan cahaya, dan kembali lagi kelam dalam gelap.
Begitu pula cinta yang kadang melepaskan dirinya dengan indah dan begitu romantis, menutupi luka dengan sejuta kelembutan, menutupi amarah dan kekecewaan dengan lembut tipu rayuan.
Dan saat bumi ditelan malam, sinar bulan seakan teduh menyinari bumi di kegelapan, tetapi bumi mengacuhkannya karena tidak hangat sinar rembulan hanya dingin yang dirasa bumi walau indah mempesona berkas sinar sang rembulan.
Bumi tenggelam dalam kelam malam yang suram, acuhkan rembulan yang sinarnya tenang, hanya menunggu lagi jatuh cinta pada matahari yang terus menerus meninggalkan nya.
Seperti cinta, bumi tidak bersuka cita pada rembulan, hanya lirik sedih yang tercipta pada gelap nya malam, tak ada semangat dalam terang nya bulan, tak ada hangat. Menganggap kecil yang lain yang ingin mencinta walau tak besar rasa cinta nya, walau tak membakar rasa cinta nya.
Kurang waktu dirasa
Detik lenyap berganti
Sesal masih dihati
Setelah lakukan salah
Lelah hantui malam
Hati menyiksa mata
Yang dirundung salah
Dalam mengucap kata
Mulut yang berkata
Hati yang disiksa
Mata dipaksa terbuka
Walau lelah dirasa
Tertidur tak bisa
Mata merekah merah
Memejam pun susah
Karena mengingat salah
Kata memang tajam
Lukanya tak terlihat
Melukai tanpa darah
Mungkin lama sembuhnya
Kata hanya keluar
Tak mungkin kembali
Yang sudah terucap
Akan terus diingat
Terluka karena kata
Sembuh oleh kata
Diucap dengan ikhlas
Dimulai dengan maaf
Semoga waktu melambat
Agar siap berkata
Biar sesal hilang
Setelah ucapkan maaf
Berlari lari
Kejar pagi ini
Jemput rezeki
Untuk anak istri
Berlari lari
Kejar kereta pagi
Jangan telat lagi
Nanti dipotong gaji
Mentari telah tinggi
Burung bernyanyi
Bos menanti
Jangan telat lagi
Kereta di cikini
Dua stasiun lagi
Gambir hanya dilewati
Tapi kini masih berhenti
Telat sudah tiga hari
Pasti dipotong gaji
Dipotong rezeki
Lemas kaki ini
Hai
Apa kabar rel kereta?
Sampai kapan kita kan bersahabat?
Sampai kapan kita terus bersama?
Hai
Bertemu lagi dengan mu, peron
Hampir tiap hari kita berjumpa
Sampai kapan kita kan terus berjumpa?
Hai
Tak bosan kah denganku, kereta?
Hampir tiap pagi dan malam kita bersama
Menyusuri rel yang kau lintas
Sampai kapan kita nikmati waktu ini?
Di dunia ini ku bertemu banyak manusia
Melihat banyak hal
Dari rindu sampai marah menunggu
Dari lelah sampai riang berjingkat
Dunia kereta
Perjalanan fantastis penuh cerita
Melintas banyak tempat
Bertemu banyak muka
Beralas kerikil yang menopang kayu dan besi
Membawa nyawa ratusan jiwa
Setiap hari tanpa jeda
Tanpa ucapkan lelah kepada semuanya
Banyak yang bertemu cinta
Menyambung saudara
Menciptakan kawan
Dan melahirkan keluarga
Tak pernah usai cerita dari kereta
Yang terus melaju ciptakan cerita
Dari stasiun menuju stasiun
Sampai berhenti di pemberhentian terakhir
Tapi sampai kapan ku bercerita
Tentang kereta, rel, dan juga peron nya
Perjalanannya, kisahnya, dan juga rindunya
Sampai kapan ku menunggu kereta tiba?
Bertemu malam selepas pulang
Tak sempat menyapa senja
Tak sempat melihat rona jingga
Hanya gelap yang kulihat
Gelap malam hanya di langit
Di bawah nya terang dimandikan cahaya
Walau buatan namun terang lebihi rembulan
Merajai malam sampai tiba waktunya
Lelah masih terasa diantara daging dan tulang
Berjalan diantara cahaya buatan
Lelah pula menunggu angkutan
Yang dinginnya bagai ruangan daging
Ditembusnya cahaya yang disisipi gelap
Meruak diantara ruang besi yang bergerak
Diantara aspal dan beton yang keras
Menggerusnya dengan roda karet yang tebal
Duduk lelah nikmati dingin
Nikmati deru mesin angkutan
Rasakan lelah di setiap jengkal otot
Dan melihat muka lelah seluruh penumpang
Malam kian gelap
Disaat yang lelah berpulang ke rumah
Malam kian larut
Disaat deru kendaraan dibungkam sepi
Semua menanti kasur yang empuk
Dan merebakan tubuh lelahnya
Atau menanti air segar untuk bersihkan lelah
Sepulang nanti entah kemana mereka berpulang
Senja sudah lama mati hari ini
Dibunuh gelap sisi bumi
Sedangkan hati dan tubuh ini
Masih hidup walau lelah menggelayuti
Banyak celoteh ibu ibu pagi ini
Terdengar ceria diselingi suara lelaki
Bercanda mereka sebelum bekerja
Sebelum mereka kembali ke meja
Suara yang segar yang penuh energi
Tak ada terdengar suara membenci
Mereka berbincang apa saja
Asal dapat mengusir lara
Tak heran mereka dapat bekerja hingga kini
Mencari nafkah setiap hari
Terus tersenyum tanpa terlihat duka
Mengganti benci dengan bahagia
Usia tidak membuat mereka berhenti
Semangatnya terus menerus berseri
Rambut putih terlihat di kepala
Bukan berarti bendera putih dikibarkan mereka
Suatu saat mereka akan berhenti
Karena berganti generasi
Api semangatnya pindah ke anak mereka
Semoga tidak berhenti sampai mereka tua
Adakah waktu untuk beristirahat jika lelah yang hanya kita rasa?
Walau orang lain berkata belum waktunya kau untuk tidur dan mendengkur.
Adakah waktu untuk mundur sejenak dalam berusaha yang hanya kita saja yang rasa sudah keras berusaha?
Walau orang lain berkata belum saja kau maju sudah meminta mundur dalam berusaha.
Adakah ruang untuk sendiri disaat semua berkata kepada kita untuk bersama?
Walau orang lain berkata tidak bisa kau sendiri jika kau dikelilingi banyak teman dan orang yang sayang.
Adakah tenang dalam riuh orang berbicara tentang jalan keluar untuk diri kita?
Walau orang lain berkata inilah yang harus kau lakukan untuk menjadi yang terbaik dan maju.
Izinkanlah diam menguasai, sepi menemani, dan tenang mendekati.
Biar didalam kekacauan pikiran yang ditempuh kepala ini bisa tenang mendengar bisik ilahi.
Jika orang lain ingin tubuh ini berbuat sesuatu untuk menjadi baik dari sebelumnya, biarkan sejenak tubuh ini hilang dari rutin nya dunia.
Biarkan hilang dari semuanya, semoga dalam sepi bisa tercipta banyak kreasi dan lebih dekat ke ilahi. Dan rindu tak lagi dibenci.
Jika orang lain ingin jiwa ini menjadi lebih tenang dari sebelumnya, biarkan jiwa ini lenyap dari riuhnya duniawi.
Biarkan lenyap dari dunia, biar kembali tenang walau masih mengenang dan berdoa tak pernah kurang. Dan hilangkan jurang dalam rindu yang menggelapkan terang.
Dia selalu datang dengan rambut setengah basah, selalu tampak terburu buru. Langkahnya selalu cepat menyebrang rel dan tergesa gesa menyusuri peron. Bukan karena Ia telat menuju tempat kerja, tapi ingin bertemu seseorang di peron itu, orang yang dia sayang.
Rambutnya tidak keriting mau pun ikal, hanya berantakan tak teratur. Tapi rambutnya selalu digulung gulung menyerupai keriting sosis, tak alami dan tak ditata, itu hanya kebiasaannya setelah selesai rapih berpakaian dengan rambut setengaj basahnya.
Selalu Ia berkata tentang ketidak sengajaannya dia berbuat seperti itu, bukan untuk siapapun juga Ia berbuat seperti itu. Rambut nya yang selalu dia keluhkan berantakan tak membuat orang yang Ia temui kesal, tetapi tersenyum melihat tingkahnya yang kikuk ketika dilihat terlalu lama menurutnya.
Sudah lama peron itu tidak lagi dilalui kakinya yang tergesa gesa, sudah lama rambutnya tidak diperlihatkan kepada yang Ia tunggu, sudah lama pula orang yang Ia tunggu merindu rambut nya yang Ia pilin saat rambutnya setengah basah.
Kini semakin lama, semakin sering orang yang Ia tunggu membayangkan rambutnya, sosoknya, dan juga kehadirannya. Jauhnya tempat bukanlah hal yang mereka masalahkan, hanya karena waktu atau takdir atau mereka sendiri.
Riang riang senyum siang
Bercanda riang senang senang
Tak ada waktu untuk mengenang
Sedangkan rindu kian menggenang
Bertemu mereka yang selalu riang
Senangnya seperti tak berkurang
Walau sering diulang ulang
Seperti rindu yang selalu mengulang
Habiskan hari diwaktu luang
Walau letih kemarin terasa di tulang
Ingin pergi menonton pun tiada uang
Andai saja rindu bisa dilelang
Selesai makan perut pun kenyang
Bersyukur hanya keluar sedikit uang
Makanan habis tak bersisa tulang
Tak seperti rindu yang menerus diulang
Berteman tak ada kalah atau menang
Hanya berusaha membuat suasana senang
Dan membuat gundah menjadi tenang
Walau rindu tak bisa ditentang
Kadang teman buat kita berang
Tapi selalu berakhir riang
Dan berujung senang senang
Tidak seperti merindu yang tak pernah usang
Mereka teman yang sedikit waktu luang
Kadang hanya bertemu di minggu siang
Atau saat mereka pulang petang
Bukannya merindu mereka yang tak datang
Takjub ku lihat Jakarta
Saat senja menyapu dirinya
Lembayung jingga mengecup mesra
Berikan kemilau emas di tubuhnya
Perlahan gelap pun tiba
Besar bentuk nya dalam mega
Bagai tirai menutup senja
Menutup hari yang gembira
Kota ini beranjak gelap
Bukan berarti tidur dalam lelap
Sesaat lagi akan timbul germelap
Dan macet yang merayap
Anak muda bersiap siap
Dengan semangat yang meluap
Minuman keras disesap
Riang didapat dalam sekejap
Tak hilang takjubku lihat Jakarta
Ketika gedung gedung bercahaya
Semua ingatan berkata kata
Rindu muncul seketika
Akhirnya nanti akan tiba
Saat rindu tak lagi fana
Makin takjub akan Jakarta
Dan rindu pun jadi gembira
Malam hari
Bicara lagi
Tentang nanti
Malah dibenci
Jantung terasa berhenti
Ketika kau bilang benci
Saat ku khawatir akan nanti
Mungkin kita tak bertemu lagi
Ku arsipkan percakapan kita lagi
Biar ku bisa baca berulang kali
Disaat rindu sudah menemani
Mungkin kelam sedikit menggelayuti
Baca lagi
Dengan hati
Jangan benci
Jangan lari
Kuputar lagu tentang cintai diri sendiri
Mendengarkannya berulang kali
Bermaksud menghibur diri
Malah merindu kembali
Ku putar lagu elektronik untuk menari
Biar riang datang kembali
Ku nyanyikan liriknya dalam hati
Teringat lagi berdansa sampai dini hari
Aku kabari
Sudah di sini
Ketika nanti
Temu kembali
Enyahlah pandanganku
Pergilah kau entah kemana
Ingin ku buta hanya untuk hal ini
Untuk menjaga semua perasaan ini
Jangan kau beri aku sedih
Setiap ku buka mata
Kau beri aku sebuah penglihatan
Tentang kegagalan esok hari
Sebuah kehilangan
Gagal dalam mempunyai sesuatu
Yang semua orang bilang ikatan
Antara satu dengan yang lain
Kau beri aku sedih
Seakan besok sudah terjadi
Kau beri aku sebuah kehampaan
Akan hilangnya semua ikatan
Walau ku pejam mata ini
Tak bisa hilang semua itu
Apa yang ku bilang sebuah kehilangan
Kehancuran hidupku sebagai sebuah makhluk
Kenyataannya memang seperti ini
Tapi belum semua nya hilang
Perlahan satu persatu gugur
Bagai meranggas di musim panas
Sudahlah sudah
Jangan kau beri lagi pandangan itu
Cukup sudah ku rasa
Jangan kau beri lagi
Mungkin ini bukan salah pandanganku
Bukan salah mata ini
Mata untuk melihat kenyataan
Yang kadang dikubur dengan mimpi
Salahku, ini salahku sendiri
Selalu memberikan ingatan
Tentang kegagalan
Tentang kehilangan
Semua ingatan kembali lagi muncul
Dalam pandangan ini
Terus menerus tak berhenti
Memperlihatkan pandangan itu
Ingin aku buta dan tak melihat lagi
Dan itu tak mungkin ku lakukan
Karena belum berakhir cerita ku
Yang ingin ku lihat sendiri akhir cerita itu
Pagi berteriak kencang ingatkan semalam yang sudah terlupa terhapus mimpi, bangunkan diri ini dengan mendung yang menggantung di langit.
Kering di tenggorokan membuat susah ku menelan semua kenyataan yang payah, sedikit ku teguk air berharap akan segera hanyut masuk kedalam perut ini dan segera keluar dengan kotoran pagi ini.
Tak berfungsi normal diriku semalam, membuat kacau dunia yang sudah ku bangun belakangan ini, dunia dengan kota yang akan kuisi dengan orang yang ku cinta.
Mendung ini tidak membuat tambah payah kenyataan, tidak sama sekali, karena aku akan bermimpi dalam sadarku hari ini.
Tak usah jauh ku larutkan kenyataan yang pahit pagi ini, hanya dengan menarik mimpi di kepalaku ini untuk melarutkannya, mimpi yang sudah tentu indah.
Kabur dalam khayal untuk memberi lengkung di wajah agar terlihat riang walau dibaliknya terdapat kenyataan pahit atas perilaku tak pantas semalam.
Pagi ini terasa lamban seperti gerak lambat yang terlihat di sebuah film, terus menerus mengingatkan semua kejadian semalam tanpa ampun.
Khayal ini seakan terus menerus diterobos olehnya, seakan tidak boleh ku riang dengan mimpi mimpi indah yang berujung dengan ekspektasi.
Sudahlah pagi umpatku dalam hati walau pagi tidak akan mendengarkannya, karena hari ini harus dengan penyesalan pikirnya dan meminta maaf kepada semua.
Lelah pikirku jalani pagi ini, semoga mimpi ku mempercepat hari ini hingga tak terasa pagi sampai malam nanti, sampai ku kembali lelap dan melupakan semuanya.
Sedikit berbeda kali ini
Saat kilat tak lagi bersama guntur
Tak ada suara yang menggema setelah sinar merekah di langit
Seakan kilat membisu
Hanya terus menerus menerangi la git
Seperti matahari kala malam
Walau sekilas saja cahaya nya
Kilat dan guntur seperti dua pribadi
Dua pribadi yang berbicara satu sama lain
Seakan mereka murka
Saling benci satu sama lain
Teriakan guntur
Tamparan kilat
Semua jadi satu dalam badai
Sebuah tempat mediasi bagi mereka
Suatu ketika kilat menyambar bumi
Tak ada suara gemuruh guntur
Guntur sudah hilang
Dan tidak akan lagi suara menggema
Kini kilat hanya sendiri
Tak lagi bersama guntur
Hanya cahaya
Tanpa ada suara
Mereka membenci cara yang lain mencari rezeki, berbeda dengan nya tetapi sama halalnya.
Memuncah amarah mereka saat satu atau dua sesamanya tidak merasakan hak yang sama.
Melampiaskan amarah mereka kepada alat mereka mencari rezeki, tetapi sayang itu bukan miliknya.
Berkumpul dan bersatu mereka karena sama bencinya, berbaris secara teratur dan mengganggu yang lain.
Mereka tidak lelah, mereka bahkan tidak mencari rezeki, tetapi mencari keadilan katanya.
Rakyat melawan rakyat, menyalahkan aturan yang ada, melawan ketidakadilan, dan cemburu tentunya.
Siapa yang salah tidak ada yang perduli, mereka hanya berusaha mendapatkan porsi rezeki yang adil sepertinya.
Mereka tidak rela, ini tidak terjadi sebelumnya, rasa benci terhadap sesama rakyat, benci terhadap kaum nya sendiri.
Mereka yang membenci adalah mayoritas yang dirugikan oleh pihak yang tidak mau disalahkan tentunya.
Sedang minoritas dari mereka sudah ikhlas mungkin dengan rezekinya, sudah cukup dengan apa yang diterima.
Pada akhirnya yang membenci merusak dan mengganggu yang lain agar yang lain merasakan kebencian mereka.
Pagi bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan waktu yang lalu, kesederhanaan pagi adalah saat membuka mata dan bersyukur atas apa yang kita punya.
Tentunya kita pernah berpikir bahwa sebenarnya kita tidak lah terbangun dalam kenyataan, tetapi terjaga dalam mimpi yang selalu membuat kita semangat.
Mimpi yang kadang tidak terjadi dalam lelapnya tidur bisa menjadi sebuah adrenalin sendiri untuk hidup, inilah hidup kita.
Tidak lah usah kita menyangkal ketika mimpi kita terlalu muluk sehingga membuat kenyataan begitu pahit saat kita rasakan.
Saat terbangun pagi seakan ini adalah mimpi buruk terpanjang dan kita akan bangun dari mimpi ini, entah kapan kita akan tersadar bahwa inilah realita.
Hidupilah mimpi, jika nanti saat terbangun tak perlu lagi takut untuk membuka mata atau hadapi orang orang yang lalu lalang di depan mata mu.
Hidupilah mimpimu agar kau membuka mata saat terbangun diiringi dengan senyum segar walau gelap mendung di luar jendela tercampur dengan petir dan gemuruh guntur.
Sesekali kau merasa membunuh mimpi mimpi mu dengan menunduk kan kepala mu, seakan mencari sesuatu yang berserakan di jalan.
Menunduk karena kegagalan yang kita raih dengan ketololan atau kesalahan yang kita perbuat maupun kesalahan orang lain yang mempengaruhi kita untuk membunuh mimpi.
Jangan lah takut bermimpi di tengah matamu sedang terbuka, walau terasa berat dan seakan ingin sekali menutup mata ini selama lama nya agar terus hidup dalam mimpi saat tertidur.
Mimpi lah yang membuat kita besar, mimpi lah yang membuat kita segar, bermimpilah agar kita tidak takut dengan realita.
Walau pahit getir yang kau kecap saat menelan sebuah kekalahan, sebuah kenyataan yang tak bisa kau hindarkan, inilah waktu dimana mimpi mu hancur dan seakan kau tidak diizinkan untuk hidup, melainkan mati dan bermimpi.
Telan saja pahit itu, telan semua kekalahan itu dan bayangkan mimpi didalam benak otak mu, mimpi atas kebesaran dirimu atas hidup dan kuasa mu.
Pahit itu akan terasa gurih dan nikmat, seakan itulah gizi mu untuk maju, untuk tetap hidup dan hidupi mimpimu.
Bangun lah pagi ini dalam dingin dan berpikir tentang hangat, walau kita gagal dalam hidup janganlah gagal dalam bermimpi.
Bila nanti kau benar benar terpuruk karena kegagalan, mimpilah yang akan menyelamatkan mu yang terus menerus memperjuangkan asa di dalam otak mu.
Mimpilah yang membuat jantungmu berdegup saat memulai lagi hidupmu, dan mengalirkan darahmu keseluruh tubuh untuk bangkit kembali saat nanti kau terjatuh karena dijegal kegagalan.
Sampai sini ku selalu menunggu hingga hilang deretan manusia yang ingin segera keluar dari tempat ini.
Entah kenapa pikiran ini mungkin lebih dari sekedar tidak ingin berjejal dengan mereka yang sudah lelah raga nya.
Selalu saja ku sejenak duduk melihat rupa mereka yang turun dari dua gerbong terakhir, melihat cara mereka melihat tempat ini atau mungkin cara mereka melihat dunia.
Terkadang semua hal begitu indah, bukan dari apa yang kita lihat tapi apa yang dilihat mereka dan kita menerka apa yang ada di dalam pikiran mereka.
Tempat ini yang mungkin mereka benci hingga ingin sekali mereka berjejal ingin segera keluar dari tempat ini.
Atau mereka lega dan bersyukur telah sampai dengan selamat, berjejal ingin bertemu seseorang atau keluarga atau kelompok atau ingin berlanjut bertualang.
Langkah mereka yang tidak beraturan, yang sama sekali tak berpola, mereka yang berbeda langkahnya tapi satu tujuan mereka, keluar dari sini.
Malam tak buat mereka lelah untuk berjejal keluar, kadang menyerobot untuk ingin di depan, jadi yang pertama keluar dari tempat ini, tempat terakhir dari perjalanan kereta mereka.
Tak perduli apapun yang mereka tuju, dan apa yang mereka temu nanti diluar tempat ini, tempat yang dinanti mereka ketika mereka masuk ke dalam kotak besi yang bergerak di atas dua batang besi.
Semoga mereka selalu mengingat tempat ini sebagai tempat mereka memulai atau mengakhiri perjalanan yang selalu, selalu mereka nantikan.
Sekencang angin ku berlari
Lewati gunung dan laut
Menuju entah kemana
Tempat yang mungkin tak ada
Luas dunia bisa terukur angka
Hingga sampai ke tempat terpencil
Atau besar nya samudera
Tapi tetap entah kemana
Raga ini terasa ringan
Tak berbobot, tak terasa tulangnya
Dan juga darah dagingnya
Hingga ringan ku berlari
Walau dunia terukur oleh angka
Tapi percuma dirasa
Jika entah kemana aku kelana
Tak ada tempat ku tuju jua
Angin berhembus kencang
Dan raga ku berpindah
Mata angin tak berfungsi lagi
Tak guna ku gunakan arah
Kadang kadang sudah lelah
Lepaskan langkah ini
Sudah lah biar angin membawa
Entah kemana aku dibawa
Terbakar hati dan badan ini ketika panas menyeruak entah dari mana, semua sel dari tubuh ini terasa panas.
Begitu panasnya hingga membakar logika yang ada tanpa sempat dirasa, semua rasa seperti tak terpikirkan oleh otak.
Perlahan kesadaran runtuh pada saat logika menghilang, hanya insting yang masih ada untuk menggerakkan seluruh fungsi tubuh.
Bergerak mengikuti apa yang hanya saat itu diinginkan, mendinginkan semua, mencari air atau apapun yang bisa menghilangkan ini semua.
Kaki dan tangan serta semua panca indra terasa hilang atas kendali mereka, tanpa dirasa terus mencari cara tanpa disadar perlahan mereka pun mulai terbakar.
Dalam lari nya perlahan melambat beralih menjadi langkah pelan, namun tetap berusaha mencari cari untuk hilangkan semua ini.
Sebuah kolam bersih kecil yang bernama kejujuran dan ke- ikhlasan lah yang dituju insting ini, sebuah kolam yang mungkin akan hilang kan semua ini.
Hati kecil ternyata masih sedikit berfungsi untuk mengatakan harapannya untuk segera hilangkan semua ini sebelum tubuh ini menghilang dilahap panas.
Lelap dalam tidur ku, lelah entah karena apa walau sudah kuteguk sedikit cairan pembuat degup jantung jadi cepat.
Badan ku segar tetapi mata ku lelah, ku melemah tidak seperti dulu yang biasa bercinta dengan layar besar dan menggores pena yang tak bertinta.
Apa yang kulakukan di sini, jika mata dan tubuh ku tak bisa saling membantu untuk selesaikan apa yang telah ku mulai?
Rasanya seperti bunga yang tak diberi air dan didiamkan dalam gelap tanpa cahaya, perlahan akan melayu dan membusuk.
Terlelap lebih dulu dan bangun lebih pagi, disini bagai kera yang malas yang tidak tahu mau berbuat apa.
Hari ini terbangun seperti biasa, saat dengung perlintasan kotak besi lebih sering terdengar dan kedua pria masih terlelap dalam istirahatnya mereka.
Untuk apa aku disini jika tubuh ini melemah dan tidak bisa ku pakai lagi seperti dulu menjadi tikus pengerat tata letak.
Ingin rasanya tubuh dan mata ini betistirahat dalam waktu yang lama, setelah semua yang ku alami.
Mungkin jika nanti aku kembali, aku dapat lebih banyak mencinta, lebih banyak bekerja, lebih banyak teman, lebih banyak setia, lebih banyak tersenyum, dan lebih banyak bersyukur.
Amin.
Dibuai mata di relung senja
Mata dibawa sendu
Seakan telah lama rindu
Lembutnya senja memeluk jiwa
Warnanya bawa diri ini pergi
Dari sebuah kotak kehidupan
Selalu terpukau akan senja
Pertemuan siang dan malam
Membenturkan warna hingga terbentuk jingga
Selalu terpukau oleh senja
Saat matahari pergi
Dan bulan datang kembali
Semburat matahari masih berbekas
Langit malam bagai dicium jingga
Pertanda matahari kan terbenam
Hari kembali malam
Semua bunyi semakin terdengar
Dan yang merindu semakin sendu
Terungkap rindu dalam sebuah kalimat, dalam percakapan singkat yang tidak bisa merangkum kerinduan yang panjang.
Tak perlu ada kata rindu untuk mengetahui, yang diucapkan malah kata kata memancing tawa untuk sembunyi kan air mata.
Nantinya sudah tak mungkin bercengkrama atau tak mungkin lagi bertemu muka, tetaplah sudah dan tak akan ada lagi nanti.
Semuanya akan dingin hampa menutupi hari yang bisa dipalsukan dengan kata kata manis untuk orang yang ada.
Bias yang ada perasaan kepada mereka, sebuah ketiadaan yang tak bisa dihilangkan walau diiisi terus menerus dengan galon besar kalimat dan kata kata.
Nuansa remang bersahaja ketika rindu tidak dibenci sudah berganti muram nya warna hitam saat pemakaman.
Bergulat dalam resah digelimangi hampa yang terus menerus mendesak kerongkongan untuk berkata negatif akan sebuah kehidupan.
Pada akhirnya harus bersujud pasrah meminta ampun akan segala yang pernah dilalui kepada yang kuasa pada semesta kita.
Tapi nanti ketika sudah hilang hukuman karena mendengak air penghilang kesetiaan akan diri Nya.
Saat itu akan lebih khidmat dalam doa yang bercampur asin air mata yang akan mengalir dalam ampunan alunan doa.
Ruang hampa bergerak maju dalam dunia yang fana, bergerak diantara semua benda yang berada di sekitar, yang bernafas maupun tidak.
Mereka yang bernafas tidak rasakan hampa yang bergerak, ditutupi sejumlah gerak dan emosi yang mereka lakukan.
Disela sela kehidupan fana yang dinamis layaknya aliran sungai melewati yang terus laju diantara sela sela batu.
Hampa terus bergerak maju, tidak mengisi apapun, atau menuju apapun, hanya bergerak dengan kehampaannya.
Kosong, lowong, tak ada energi, tak ada isi, tak ada apapun, hampa.
Entah kenapa terus bergerak, sebuah ke hampaan yang tak punya apapun itu, siapa pula yang buat nya bergerak melalui semua yang fana?
Hampa tak mengisi apapun, pula tak memberi apapun atau meninggalkan apapun, siapapun.
Namun ia bergerak, terus melaju tanpa ada yang dituju di dunia fana ini, sampai mungkin nanti dia terhenti.
Sudah hampir malam, langit masih saja terang walau hujan kembali lagi tiba.
Mungkinkah langit menangis bahagia? Walau hujan tetap saja terang.
Atau ia menangis menahan rindu yang ditutupi dengan senyum?
Sekali lagi bumi harus dibahasi tangis sang langit dan mendengar rajukan nya.
Mungkin bumi tak tahu perasaan sang langit, yang ia tahu hanya mendengarkannya saja.
Bumi menatap langit diatas sana mungkin dengan senyuman, memberi terang di sore ini.
Senyum langit yang memberi kesempatan bumi melihat terang.
Sebelum nanti gelap menutup langit bercengkrama dengan bumi.
Seakan langit sendu sendiri dalam gelap dan dinginnya malam.
Inilah sisa semalam
Sang langit meraung raung
Menangis semalam
Sisakan becek di jalan
Sudahkah hilang sedihnya?
Atau nanti dia akan merajuk lagi
Seperti kekasih yang merindu
Atau anak kecil yang ingin bermain
Semoga sang langit bersabar
Untuk apapun yang dia tangisi
Agar cerah nanti malam
Menemani para perindu merindu
Tak perlu langit menghujami bumi
Dengan hujan mengganggu yang merindu
Sudah lelah mungkin mereka
Membenci rindu yang tak kunjung sirna
Sungguhlah sulit bagi sang langit
Tak ada yang bisa tenangkan dia
Hanya bumi yang terdekat baginya
Dan tak mungkin ia turun merajuk ke bumi
Perlahan cerah merambah langit
Terlihat tersenyum langit pagi ini
Mungkin dia sudah tenang
Setelah bumi dengarkan keluhnya semalam
Sementara tujuan ku berbeda
Hanya sedikit berbeda jalurnya
Tidak melewati Jatinegara
Tapi tetap menunggu di Manggarai
Selalu penuh dengan manusia
Tak perduli pagi atau malam
Berangkat ataupun pulang
Semakin terasa berbeda rasanya
Pagi tetap berhenti di Juanda
Tak ada yang berbeda
Saat malam tidak lagi ku ke Kota
Kembali lagi dari Juanda
Saat ini sungguhlah berbeda
Pagi dan malam tidak lah lagi sama
Sedikit ku benci rindu kali ini
Hanya sedikit karena masih dinanti
Menunggu tetaplah sama
Apapun itu yang kita tunggu
Tak apalah jika sudah penuh
Semoga masih ada tempat untuk pulang
Gelap dan basah menemani pekerja pulang malam ini, ketika langit menangis meraung raung dengan kilat dan guntur nya.
Resah para pekerja dalam jalan pulangnya, tidak bisa menikmati hujan yang begitu mendayu ketika mulai mereda.
Tubuh mereka mungkin lelah dan letih saat melihat jalanan penuh dengan kendaraan layaknya air got yang tersendat karena sampah yang dibuang sembarang.
Perlahan hujan mulai berhenti, sisakan basah dan lembab yang menempel di kulit terasa lengket bercampur keringat.
Lambat laun gelisah menumpuk, saat tujuan pulang semakin menjauh dan hujan kembali turun deras seperti tangis yang membenci rindu.
Tertarik hati menyambut malam
Membuka mata menahan kantuk
Harap sesak tidak menjalar
Sebelum mimpi datang dalam lelap
Gigi ini sudah bersih
Selimut sudah menutupi badan
Doa sudah dilafalkan
Hanya berharap sesak tak datang
Tertarik hati mengumbar rindu
Berbicara dengannya sebelum tidur
Ungkapkan semua rasa apapun itu
Karena sesak sudah terasa
Hati ini sudah tegar
Kuat sudah pikiran ini
Pendirian pun sudah mantap
Tapi sesak ini terlalu kuat
Tertarik hati lari dari semua ini
Tinggalkan yang ada sampai tak terasa
Menuju ke sana sumber kebahagiaan
Agar sesak ini tak akan lagi tiba
Lelah sudah badan ini
Mata sudah terasa berat
Pikiran pun sudah entah kemana
Sesak ini pun mengendur menghilang
Tertarik hati ucapkan rindu
Walau hanya kata kata yang terlihat
Semoga yang membaca tahu
Bahwa sesak ini sudah menghilang
Semoga untuk selamanya......
Kau angkat senjata
Ku angkat pena
Kau muntahkan ratusan peluru
Ku muntahkan ribuan tetes tinta
Kau menghilangkan nyawa dengan itu
Ku hanya bisa melukai sebuah perasaan
Kita sama sama berperang
Walau berbeda tujuan kita
Kapankah kita berdamai
Hingga tidak ada yang terluka
Tak perlu ada peluru yang membunuh
Tak perlu ada kata yang melukai
Kau tak lagi nafsu membunuh
Ku mulai menulis tentang hidup
Kau tak lagi mengantarkan kematian
Ku akan memberi senyum yang membaca
Kau tak perlu bersimbah darah
Ku tak akan lagi mengurai air mata
Mulailah memberi cinta
Bukan menghabisi nyawa
Kita ini saling memiliki
Jadi tak perlu menguasai
Mulai lah mengucap ikhlas
Tidak harus saling menindas
Tak disangka malam itu sehangat pagi, ketika dipeluk matahari saat kau tahu besok masih ada lagi hari.
Besok akan lebih susah dari yang lalu, yang akan membuat mu lebih hidup ketimbang ingin mati.
Malam ini mungkin dingin terasa di kulit mu, atau karena kau merasa sendiri hingga terasa berkali lipat dinginnya.
Ingatlah mereka dari yang lalu, atau mereka yang menyapa mu tadi, kemarin, atau minggu lalu.
Kau masih ada di kepala mereka, esok hari atau selanjutnya sampai nanti mereka benar benar tiada.
Malam ini menjadi hangat dengan mereka yang menyapa mu, karena kamu akan tetap hidup di kepala mereka.
Dan besok akan jadi lebih menyenangkan, lebih sulit, menantang, dan menjadikan mu lebih hidup.
Jangan lupa menyikat gigi malam ini, atau menyelimuti dirimu saat tertidur nanti.
Biar besok pagi kau siap ditantang kerasnya hidup, dan menyapa orang yang telah menyapa mu sebelumnya dimasa lalu mu.