Rabu, 04 Mei 2022

Ambil rindu kembali

Rangkai kata nada ini
Untuk bawa kembali rindu
Yang sudah dilabeli harga
Dan dipajang di lemari kaca

Untuk apa dulu dihindari?
Buat apa dulu dipindah tangan kan?
Kenapa begitu ingin tak ada?
Apakah segitu lelah nya merindu?

Nyanyikan nada ini
Jika sudah ingin kembali merindu
Walau tau sudah tak ada harganya
Dan kembali lagi ke hidupmu

Kini terima lah kembali
Jangan diserahkan dan jangan dibuang
Kini tetapkan selalu ingin ada
Tetaplah merindu walau kau sendu

Selasa, 03 Mei 2022

Kranji - Gondangdia - Juanda

Aku ingat bagaimana seru nya mengejar kereta 07.30 pagi tahun 2008
Ketika ku keluar dari gerbang pintu rumah pukul 06.15 pagi
Dan mereka tidak perduli pada penumpang
Mereka hanya menjalankan jadwal yang sudah ada
 
Banyak orang ku temui, banyak orang yang ku kenal hingga sekarang
Banyak juga yang kulupakan dan banyak juga yang hanya lewat dalam hidupku
Kereta membuat hidup ku tak terasa hampa
Karena tiap meter dari rel itu membuat ku banyak berpikir untuk apa aku hari ini
 
Hampir setiap stasiun jalur Bekasi - Kota ku kunjungi
Hampir di setiap stasiun tersebut ada cerita
Mulai dari yang dikenang sampai yang lupa kuingat
Tapi rasa dan getaran tiap stasiun selalu berbeda
 
Kuingat sedikit awal pertama kali ku kerja
Celana bahan hitam dan kemeja kotak kotak hijau tua
Turun di Stasiun Gondangdia yang sesak dengan bapak bapak tua
Waktu itu tertarik dengan lanyard yang kupikir bagus juga untuk ku
 
09.00 waktu dimana hampir seluruh kantor di Jakarta meminta karyawan untuk absen
Tapi tidak semua karyawan rajin dan tepat waktu, seperti aku yang malas
Karena menikmati waktu dan hiruk pikuk ini sangatlah nikmat
Kita tidak tahu kapan lagi bisa tidak terlihat diantara beratus orang yang lalu lalang
 
Adrenalin, kecemasan, kefrustasian, kebanggaan, ketakutan
Ragam emosi yang keluar sungguh terasa dari mimik muka yang terlihat
Oh ya jangan lupa bau yang keluar dari kelenjar keringat mereka
Haha, sungguh tak terkendali
 
Aku ingat bagaimana pulang mengejar kereta terakhir 09.30 malam tahun 2015
Ketika ku berlari ke peron stasiun Juanda pukul 08.40 malam
Dan mereka bahkan belum datang
Walaupun jadwal sudah ada
 
Sedikit yang kutemui tapi beberapa kukenal hingga sekarang
Tidak banyak yang kulupakan karena kuterpaku dengan buku
Buku dan kereta membuat ku nyata
Karena tiap kata dan peron yang kulewati membuat ku merasa ada

Yang kurasa
Aku meninggalkan kereta
Meninggalkan hidup di dalam gerbong dan melewati peron peron
Dan meninggalkan hidup ku yang dulu

Aku ingin merasa nyata
Aku ingin merasa ada
Aku ingin mengenal
Aku ingin hidup

Raya

Gema suara yang sama bertalu tiap pelosok kota dan desa
Langkah kaki yang berbeda derapnya beriring menuju tempat berkubah
Sumber suara yang bergema tadi yang suci bagi banyak orang
Dari yang kecil mungil sampai yang renta kumpul di sana

Langit berwarna biru cerah bersahabat sekali di pagi hari
Sinar matahari bahkan lembut menyapu hangat tiap orang yang sudah berkumpul
Suara yang sama terus dikumandangkan berbarengan dengan cuitan burung burung
Semua orang sudah duduk bersila dibawah cerah hangat pagi yang damai

Sepulang selesai dari tempat suci selalu kembali berkumpul dalam rumah
Ramai riuh dalam balutan hangat sebuah keluarga yang berkumpul
Celoteh bayi hingga kumpulan canda bapak bapak yang tak lucu kadang dicerna
Sampai rumpi ibu ibu yang tak puas dengan yang dikenakan dari kepala hingga kaki

Penuh riuh didalam rumah dengan segala macam makanan yang dihamparkan tak cukup di meja
Dari sesederhana kacang hingga serumit kuning opor ayam dengan sedikit hijau lontong dan dicampur merah sambal kentang
Mulai dari pekat kopi tanpa gula orang tua hingga putih susu formula anak bayi dan balita
Denting piring beradu dengan sendok dan garpu bersautan dengan obrolan khas hari raya

Terus bergulir kadang dari rumah ke rumah disambangi demi silahturahmi
Bertemu muka yang kadang hanya setahun sekali
Walau kadang terlihat sama makanan di meja di tiap rumah yang disambangi
Dan muka harap sang bocah untuk dapat penghasilan tanpa bekerja di hari liburnya para pekerja

Hangat sinar matahari berganti sejuk damai lembut angin malam yang berhembus
Baju bersih putih rapih berganti sederhana kaos oblong, celana santai, tapi tetap wanginya baru
Meja yang penuh sajian sudah berkurang banyak kadang tak bersisa
Dan para bocah mulai menghitung penghasilan mereka

Hari raya suci sudah berlalu
Kembali lagi dari kosong
Yang menang merasa senang
Yang mengerti pasti sedih ditinggal hari raya ini