Mungkin ku hentikan saja pelarian ku ini, tidak ada guna lagi. Rasa lelah sudah menggelayuti kaki ku berlari menyusuri jalan sepanjang malam ini. Tak kusangka akan kehilangan semua nya, tak kukira akan secepat ini lebih tepatnya. Dari awal telah kupikirkan yang terburuk, tapi ini jauh lebih buruk. Sekelompok orang itu tidak terlihat manusiawi, membawa benda seperti parang dan golok serta mengayunkan benda yang terlihat seperti golok besar dan melengkung seperti celurit itu. Siapapun yang melihat nya pasti akan menyingkir sejauh mungkin, walau tubuh mereka bersih dan memakai jas rapih tapi tercium bau darah dari setiap jengkal tubuhnya. Tidak ada darah yang tampak dari pakaian mereka tapi tercium dari tubuhnya.
Sudah ku bilang untuk lari, sekuat tenaga, sebelum mereka melangkah lebih dekat, sebelum mereka menghancurkan tempat itu. Kurasa tak ada yang mendengarkan kisah ku yang terdengar seperti cerita horor picisan yang ditemui di majalah yang berisi tentang takhayul dan hantu. Inilah realita nya, satu persatu teman ku dibunuh dengan keji tanpa ada belas kasih yang tampak dari bola mata mereka. Bersyukur aku berhasil menyelinap dari jendela lantai dua, walau sedikit luka di kaki ku ini setelah menerebos pohon dan semak semak pekarangan tetangga ku.
Tak kulihat teman-temanku lagi setelah dengan cepatnya darah menyembur ke muka ku, bahkan tak kulihat pria itu mengayunkan senjatanya. Hanya sekejap aku langsung memutar badan ku, tak peduli lagi dengan keadaan yang ku pikirkan adalah nyawa ku. Tak ada teriakan panjang yang khas seperti di film-film horor, sepertinya para lelaki haus darah itu memenggal semua kepala teman ku, karena hanya bunyi memekik dan sudah hilang suara mereka. Tak peduli lagi dengan itu semua, yang kupikirkan saat itu hanya berlari dan menghindar. Bahkan benda yang seharusnya ku bawa tertinggal begitu saja.
Sebuah botol kaca berisikan contoh darah yang ingin kami berikan ke kepolisian nampaknya sedang diburu oleh kelompok itu. Kami adalah sekelompok ahli tumbuhan dan ahli hewan berusaha mencari tahu tentang pembunuhan massal hewan ternak beserta pemiliknya. Pada TKP itu terlihat banyak darah yang menggenang, bagai hujan darah. Yang aneh dari kejadian tersebut adalah darah pada bangkai hewan dan juga pemiliknya itu bukanlah darah mereka tetapi seperti tercampur oleh zat lain. Mata mereka merah kehitaman seperti darah yang kental dan tidak tercium bau bangkai.
Setelah kami teliti darah tersebut ternyata sama, darah hewan ternak dan pemiliknya. Yang lebih aneh lagi ketika darah tersebut menyentuh tanah maka akan tumbuh sebuah tunas. Dalam dua bulan penelitian tumbuhan itu bertumbuh cepat, bahkan berbunga dan berbuah. Buah nya memiliki daging layak nya manusia atau hewan, pohonnya sendiri memiliki jantung yang berdegup. Ini merupakan fenomena yang luar biasa, bahkan ini melampaui seluruh agama dan pengetahuan yang ada. Setelah penelitian kami memiliki hasil, laboratorium kami dihubungi oleh seseorang yang mengancam keberadaan kami jika hasil penelitian kami diketahui oleh pihak pemerintah dan masyarakat luas.
Setelah itu kami berpindah ke tempat yang lebih banyak penduduk, daerah perumahan yang terbilang cukup padat namun tidak begitu ramai. Kami pun berbincang tentang ancaman tersebut setelah semua barang sudah kami atur tata letaknya, sudah dua minggu setelah ancaman tersebut kami terima dan tak ada satu pun yang datang. Pada akhirnya kita menganggap itu hanya lelucon biasa, begitu pula setelah ku terima panggilan dari
handphone ku yang berisi tentang ancaman itu lagi. Semua menganggap aku mengada ada, tapi itu semua sudah terlambat. Ini bukan lelucon, ini nyata.
Aku tak tahu lagi arah dan tujuan ku berlari, selama bau mereka tidak tercium dan tidak terlihat sosok mereka aku akan aman.Tak kusangka aku bisa bernafas lega setelah pelarian ku ini, sebaiknya ku beristirahat di tempat yang lebih ramai. Ku lihat seorang wanita yang biasa ku bertemu sepanjang perjalanan ku mencari bahan makanan sehari hari, beruntungnya aku bertemu yang ku kenal setelah semua yang sudah terjadi. Akhirnya ku bisa mencari pertolongan kepada yang berwajib. Agak aneh memang berbicara kepada orang yang tidak mengerti semua ini, lebih baik tidak terlalu banyak ku bercerita kepadanya agar dia tidak terlibat lebih jauh lagi.
Dalam perjalanan menuju kediamannya ku lihat wanita ini tidak terlalu banyak berbicara seperti biasanya, yang penuh antusias bertanya kepadaku tentang apa yang ku kerjakan. Mungkin dia sedang mencerna atau sedang berhati hati untuk tidak terlalu percaya dengan ku. Tak apalah, keadaan apapun tidak menjadi halangan ku untuk melapor ke yang berwajib dan kediamannya jauh dari tempat ku, jadi tidak mungkin para pembunuh itu menemui ku. Sepertinya ku mengendus bau yang sama seperti para pembunuh itu, ini mungkin hanya ketakutan ku yang menimbulkan halusinasi ku saja, tidak akan mungkin mereka tahu seluk beluk daerah ini.
Rumah wanita ini cukup besar untuk daerah sekitarnya, yang agak lebih masuk ke pedalaman daerah ini. Walaupun masih di daerah kota, tetapi ini cukup terpencil. Segera ku mencari telepon untuk memberi tahu yang berwajib dan juga para petinggi yang bertanggung jawab akan hal yang sedang kami kerjakan. Dalam sekejap aku dihentikan wanita itu, tampaknya dia tidak mau aku terburu buru melapor kepada yang berwajib dalam keadaan panik. Betul juga pikirku, dia menyodorkan segelas air putih untuk menenangkan ku serta menyuruhku untuk duduk sampai aku tenang.
Segelas air telah habis ku tengguk, dan mata ku terasa lelah. Apakah pelarian ku segitu melelahkannya? Mungkin saja, karena ku juga panik dan terus berpikir dari tadi. Tak apa kupikir jika ku beristirahat sejenak, memejamkan mata ku. Aku terkejut, apakah aku melihat seseorang dari kelompok yang mengejarku? Aku pun terbangun dari kantuk ku dan melihat ke sekeliling. Tidak ada siapapun, kecuali, wanita yang memberi ku minum. Tersentak ku melihatnya, ku pikir dia sedang membawa gunting besar di tangannya. Gunting besar itu adalah tangannya. Jadi yang kupikir mereka mengayunkan golok besar dan juga cambuk, tapi sebenarnya itu adalah anggota tubuh mereka. Siapa mereka ini? dan kenapa wanita ini juga seorang seperti mereka?
Wanita itu mendekat perlahan, kulihat wajah nya tanpa ada sedikit pun perasaan hanya menatap ku kosong. Tangannya yang berbentuk gunting besar berwarna merah seperti daging itu terlihat menyeramkan dan diluar nalar ku sebagai manusia dan dia merangkul leher ku, seakan ingin memeluk ku. Ternyata ia berbisik kepadaku. "Jangan kau percaya orang baik, percaya mereka yang jahat kepadamu, karena yang jahat sudah pasti akan berbuat jahat kepadamu". Sejenak aku terdiam mencoba mengerti maksudnya, menunduk tak bergeming bahkan aku pun tak gemetar karena merasa sudah tahu ajal ku. Wanita itu memanggil ku, dengan perlahan ku mengangkat kepalaku, kulihat dia tersenyum begitu manis bahkan ku lupa aku sedang diujung nyawa ku dan gunting besar berwarna merah itu kini mengapit leher ku. Dan....