Harapan kadang menjadi sebuah penderitaan, yang kadang bukan membuahkan kebahagiaan namun kesengsaraan yang menahun. Dari harap timbul sebuah kecemasan disaat semua yang diharapkan tidak terlihat nyata. Membuat diri kita berharap sama hal nya meniti jembatan dari seutas tali yang tipis, mungkin saja kita dapat menyebrangi nya atau kita terjatuh jauh di jurang kenyataan.
Beri bekal pada diri kita agar ketika menitinya kita merasa aman, apalagi ketika kita jatuh di jurang kenyataan itu. Ketika jatuh mungkin saja kita bisa membawa parasut atau payung besar untuk melayang saat jatuh agar bisa mendarat dengan selamat di dasar jurang kenyataan.
Tak akan pernah bisa kita mengabaikan harapan, karena harapan adalah produk dari pendidikan yang kita jalani sewaktu kecil. Hanya pengalaman hidup lah yang membuat kita bertahan dari kegagalan sebuah harapan. Berbesar hati menerima kenyataan dan menjalaninya.
Anggap saja harapan menjadi sebuah mitos bagi seorang Tera. Mahasiswa jurusan sastra Indonesia semester akhir yang mengorbankan studi kuliah nya untuk mengejar materi, atau karir atau apapun alasannya agar orang lain bisa menerima keputusannya untuk cuti dari kuliahnya. Kedua adiknya sudah lulus terlebih dahulu dan satu diantara nya melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Alasan utama Tera adalah ingin membantu keluarga nya, karena orang tua nya berpisah semenjak Tera baru menginjak bangku sekolah menengah pertama. Kakak dan adik pertamanya dibawa oleh ibu nya, sedangkan adik kedua nya dibawa oleh bapak nya karena adik keduanya sedang menjalani pengobatan rutin untuk menyembuhkan asma nya. Bapaknya seorang pengusaha kelas menengah yang menikah dengan janda kaya yang bisa dibilang teman berbinis nya, maka dari itu adik kedua nya dibawa oleh bapaknya.
Tera sendiri disuruh memilih mau ikut siapa hidupnya nanti, sebuah pilihan sulit untuk anak 13 tahun. Akhirnya dia dipinta kakak nya untuk menemani adik kedua nya di keluarga baru bapaknya. Dengan berat hati Tera meninggalkan ibu dan dua saudara kandung nya. Ibu kandung Tera seorang dosen salah satu universitas swasta terkemuka, merasa masih mampu menafkahi kedua anaknya, anak pertama nya seorang siswa sekolah teknik yang pandai matematika dan mesin sedangkan anak keduanya yang juga adik pertama Tera adalah siswi sekolah menengah yang bersekolah sama dengan Tera. Saat sekarang kakak pertama Tera menjadi mahasiswa abadi di suatu kampus swasta di sekitaran jawa timur dan adik pertamanya menjadi mahasiswi lulusan terbaik di kampus negeri di Jakarta.
"Mas Tera, aku mau urus skripsi ku dulu baru jenguk ibu ya" terburu buru Cahya yang biasa dipanggil Aya karena tidak mau dipanggil Cah oleh Tera. Aya adalah adik kedua Tera, yang sudah sembuh dari penyakit asma nya 3 tahun yang lalu. "Iya Ya, hati hati, nanti aku jemput ya di rumah sakit setelah aku selesai kerja" teriak Tera dari kamarnya. Jam 6 pagi dan Aya harus mengejar kereta pagi untuk sampai ke kampus nya demi mendapatkan tanda tangan pembimbing nya, sedangkan Tera belum mau beranjak dari kamar nya setelah semalaman mengerjakan tulisan untuk buku cerita anak, Tera berkerja sampingan menjadi penulis untuk buku anak anak.
Tera sebenarnya mau tidak mau bekerja dan meninggalkan kuliah nya, semenjak ibu kandung nya masuk rumah sakit dan kakaknya menjadi tak karuan setelah meninggalkan ibu nya untuk kuliah. Tak usah lagi lah dipikirkan apa yang kakaknya kerjakan, itu pikir Tera selama ini, dia hanya khawatir dengan ibu kandungnya yang terus dirawat karena penyakit yang sudah pasti akan merenggut nyawa ibunya cepat atau lambat. Inilah Tera yang penuh dengan kebencian, karena bapak kandungan nya sudah tiada lebih dahulu dan ibu angkatnya tidak mau perduli dengan apa yang terjadi
Keseharian Tera selalu dipojokkan oleh ibu tiri nya yang selalu saja tidak mengerti apa yang dikerjakan Tera, karena ibu tiri nya itu selalu memberi perhatian yang lebih dengan adik tiri Tera hasil perkawinan dari bapak kandung Tera. Keberhasilan Aya dalam pendidikan nya semakin membuat Tera dikucilkan di dalam rumah, padahal Tera pernah menyampaikan maksud kenapa dia harus meninggalkan kuliah kepada ibu tiri nya. Pekerjaan sampingan nya itu sebenarnya tidak lah terlalu sulit bagi Tera, hanya saja karena ingin mendapat uang lebih dia harus menulis banyak cerita dan tentu nya dengan kualitas yang bagus, maka dari itu lah seringkali Tera tidur larut hanya untuk mendapatkan cerita yang bagus untuk dia jual.
Sejak ayah kandungnya meninggal Tera tidak pernah lagi meminta uang jajan dari ibu tiri nya, dia anggap diri nya sudah besar dan sudah bisa mendapat uang dari hasil keringat dia sendiri, mulai dari menjajakan koran sampai harus kerja menjadi penjaga distro. Sampai akhirnya uang dari hasil kerja tersebut tidak sanggup untuk membantu biaya perawatan ibu kandung nya yang sedang sakit Tera harus membuang semua pekerjaan itu dan mencari pekerjaan yang lebih menghasilkan uang, walaupun mengorbankan waktu untuk mengenyam pendidikan.
Aya sendiri awalnya ikut untuk membantu Tera, karena dia merasa ikut andil untuk membantu ibu kandungnya yang sedang sakit itu, sampai dimana Tera sangat marah ketika Aya sering pulang larut dan nilai kuliah nya anjlok selama 2 semester. "Buat apa kamu cari uang segala! Kamu itu fokus saja untuk kuliah biar aku yang membantu ibu" sifat temperamen nya memang tak bisa dibendung ketika tahu bahwa Aya nilai nya anjlok "Tapi mas aku kan anak nya ibu juga! aku punya hak untuk ikut bantu!" sahut Aya tak mau kalah ketika Tera tidak mau adik nya itu ikut mencari uang, dengan menarik nafas panjang Tera akhirnya tenang dan menjelaskan maksud dari amarah yang dia keluarkan "lebih baik kamu membantu setelah kamu lulus nanti, percepat lah studi kamu dan segera lulus dengan nilai yang bagu, nanti ada giliran kamu ikut andil membantu ketika kamu diterima kerja kantoran yang gaji nya lebih besar dari upah tulis mas", Aya pun segera mengerti maksud kakak nya dan menyetujuinya segera.
"Mas Har! Mau sampai kapan kamu main main dengan tugas akhir kamu!? Lihat ibu di rumah sakit sana mengerang menyebut nama kamu mas! Gak ada tega nya apa mas masih mau nunda nunda terus tugas akhir mas!?" seluruh ruangan kantor penerbit buku itu sontak dikagetkan dengan teriakan Tera yang memaki kakak nya, Matahari atau singkatnya Hari, terdiam sejenak Tera menunggu balasan dari kakaknya itu dan tak lama terdengar nada suara telepon ditutup "BRENGSEK!" tangan Tera terangkat seperti hendak membanting telepon genggam nya dan terhenti ketika teringat Aya yang akan sidang skripsi esok hari. Lagi lagi kakaknya harus mengulang tugas akhir setelah Tera diberitahu bahwa kakaknya tidak membayar uang kuliah. Benci makin menumpuk dan dendam nya makin berkelanjutan dengan mas Hari, mengingat bahwa mas hari adalah panutan dia dari sejak kecil dan sosok yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga.
Muncul sesosok wanita tinggi berwajah ketus saat pintu dibuka "Dah selesai ngomong sama mas mu yang super itu?" dengan nada ketus wanita itu bertanya sembari membalik badannya, inilah Gun, kependekan dari Unggun sang adik pertama, wanita ini telah lanjut ke S-2 untuk mengambil gelar master dibidang komunikasi. Bekerja sebagai Marketing Komunikasi sebuah perusahaan telekomunikasi terkemuka, dia tinggal di kosan yang dekat dengan kantor nya dan juga dekat dengan rumah sakit yang merawat ibu nya. Tera masuk kedalam kamar kos milik Gun yang sama pemilik kos nya sudah dianggap wajar wajar saja karena pemilik kos nya sudah tahu Tera itu siapa, "Gila mas mu satu itu, sudah aku telpon tetap saja gak digubris juga, gila!" "ya lagi kamu sih mas, tiba tiba aja langsung marah marah!" balas Gun dengan nada yang mencoba membela kakak yang paling tua itu, "lah kamu malah belain mas Har? Aku kan ngomong apa ada nya" setelah itu omongan Tera tidak digubris oleh Gun yang sedang masak untuk mereka berdua, dan Tera tetap mencoba untuk membuat argumen tentang apa yang sudah dia lakukan terhadap kakak pertama nya dan Gun tetap diam.
Suara nada dering telpon yang khusus pertanda telpon dari Gun, "Kakak cantiiikk! Haloooo..." dengan ceria Aya mengangkat telpon dari Gun, hubungan mereka sangat dekat dibanding dengan hubungan Tera dan Hari, "Hai Cah, besok bawa surat lamaran kamu dan juga CV kamu terbaru! Gak pake tanya apa apa okeh?" Gun yang tak suka basa basi ini langsung memerintah adik kecil nya yang selalu cemberut jika dipanggil "Cah" oleh kakak perempuan satu satu nya ini dengan cepat padahal Aya baru menjawab sepatah kata dan langsung ditutup oleh Gun. Tera yang mengetahui hal tersebut merasa ringan badannya dan pikirannya plong, dia merasa bisa melanjutkan kuliah nya kembali jika Gun dan Aya bekerja di kantoran dengan perkiraan gaji mereka berdua sama dengan upah tulis nya selama 4 bulan dan kembali menulis cerita berikut nya dengan ceria.
Aya lolos tes masuk ke perusahaan yang sama dengan Gun, duo kakak beradik ini menjadi buah bibir di seluruh divisi. Sebenarnya Tera juga mau direkrut ke dalam divisi Marketing Komunikasi bahkan sebelum Gun masuk, karena Tera sering membantu untuk urusan penulisan konten marketing untuk iklan televisi dan radio. "Sekarang aku bisa konsen buat kuliah, tabungan siap, kerjaan lagi lancar dan gak ada revisi revisi, sip!" Mulai dari itu timbul harapan bagi seorang Tera.
Ketika semua memberikan rasa pengharapan muncul lah suatu keadaan yang dimana kita hanya melihat cahaya terang diujung jalan, yang pasti akan kita rengkuh cahaya terang itu. Harapan membuat suasana menjadi riang dan kita hanya melihat semua dengan rasa percaya diri dan optimis dan juga dibutakan dengan semua itu. Hal yang biasa kita waspadai kadang menjadi samar, tak terlihat, tak terasa, bahkan kita abaikan. Lubang dijalan menuju cahaya itu tidak tampak karena berkas sinarnya begitu menyilaukan, tapi kita masih bisa merasakan tapak kaki kita menuju sana.
Perlahan lubang lubang di jalan itu akan muncul ketika kita terlena. Satu lubang kita lewati dan makin jumawa kita menghadapi masalah, makin lama lubang lubang makin banyak dan kita masih bisa loncat jauh ke depan dan mendarat dengan selamat. Tapi rasa sombong ini lah yang membuat kita akhirnya jatuh di lubang disaat kita akan menapaki jalan yang bersinar itu.
"Aya kamu sudah mau pulang belum? mama sudah mau pergi nih jam 8 nanti" "Sebentar lah mas, aku masih ada kerjaan ini" "Cepetan maka nya.... Huft, langsung ditutup! Sudah mulai kurang ajar ini adik satu mulai ikut perangai si Gun Begundal!" Tera selalu menjemput Aya pulang kantor karena satu arah pulang dari kampus nya. Kehidupan kantor Aya membuat dirinya ingit berpacu mengikuti jejak kakak perempuannya, padahal dia fisik nya tidak sama dengan Gun yang jauh lebih sehat. "Ayaaa.. sudah dulu kerja nya, besok saja kita rangkum lagi, kamu pulang sana sama mas Tera. Ini aku malah kena damprat gegara kamu main tutup telpon nya mas" tidak ada jurus lain bagi Tera untuk menyuruh Aya segera pulang istirahat karena fisik nya sudah mulai lemah lag setelah dihajar habis habisan dengan karir baru nya.
Gun mendapat telpon dari rumah sakit, katanya ada seorang pria yang menjenguk ibu nya di rumah sakit. Setelah mendengar penjelasan dan ciri ciri dari pria tersebut Gun pun menyuruh petugas rumah sakit untuk menahan pria itu jika pria itu sudah mau pergi "Mas! Mas Har ke rumah sakit sendiri!" dengan panik Gun menelpon Tera yang sedang mengerjakan ujian di kampus nya, tanpa basa basi seperti biasanya Gun pun langsung menutup telpon nya tanpa menunggu reaksi dari Tera. Setelah menyelesaikan ujian nya dengan cepat mahasiswa sastra itu berlari menuju parkiran motor, tanpa pikir panjang dia langsung memacu motornya menuju rumah sakit.
Aya berlari lebih dulu daripada Gun yang sempat tertahan untuk administrasi rumah sakit, dengan cepat membuka pintu ruangan tempat ibu nya dirawat. DIlihat nya sesosok pria tinggi walaupun dia sedang duduk di bangku lipat bertulang besi itu, tidak menoleh nya sedikit pun pria itu menanggapi panik nya gadis kecil yang rambutnya diikat poni itu. "Mas Har!" sedikit teriak ketika Gun sudah di belakang Aya yang belum berani melangkah kan kaki nya untk masuk ke ruangan. Aya punya memori yang tidak indah ketika berhadapan dengan kakak tertua nya itu, sifat nya yang lebih temperamen jika sedang marah daripada Tera membuat Aya pernah dibentak ketika masih kecil sampai asma nya kambuh.
Ketika mereka berdua telah memberanikan diri untuk masuk ke ruangan Hari hanya memutar badan nya untuk melihat dua bidadari yang rambutnya sudah berantakan itu, tubuh Hari terlihat lusuh dan mata nya seperti tidak bernyawa. "Mas Hari ada apa kemari!?" dengan sedikit emosi Gun langsung bertanya dengan singkat, "Aku mimpi ibu dua hari yang lalu, disitu aku lihat ibu sedang berjalan menjauh dari pintu kosan aku, sejauh aku mengejar nya ibu semakin jauh dan semakin jauh dan jauh. Aku tidak sempat mengabarkan kalian, maaf, karena aku langsung mengejar pesawat menuju jakarta tadi pagi" dengan lemas Hari menjelaskan kedatangannya kepada Gun. Sedangkan Aya mulai aneh, dia tidak berhenti meremas baju nya di bagian dada, dan tidak ada yang menyadari itu.
Parkiran motor rumah sakit heboh dengan jatuh nya pengendara motor yang hendak mau masuk, makin senewen lah Tera melihat kejadian itu, tidak mau kehilangan waktu dia memberi uang dua puluh ribu kepada petugas parkir untuk menitip kan motor nya yang tidak dikunci setang. Ketika sampai di ruangan, ibu akhirnya bangun sedari tadi tertidur pulas karena pengaruh obat "mas Tera kok buru buru gitu? ada apa?" sahut ibu dengan lemah menyambut kedatangan Tera yang masih tersengal nafasnya. Mata nya tidak melihat ke arah ibu kandung nya yang masih terbujur lemah di ranjang rumah sakit melainkan ke arah kakak nya, Matahari.
Dengan sigap Gun menahan Tera yang sudah tahu akan menuju Hari, sedari tadi memang Gun sengaja menempatkan dirinya berdiri di ujung tempat tidur, sedangkan Aya duduk disamping nya dan masih menahan dada nya. Aya duduk membelakangi Gun, sedangkan Hari menatap kosong Tera. "Sudah, sudah, uhuk uhuk, kalian ini baru ketemu sudah pake emosi" "gak kok bu, mas Tera cuma capek aja mungkin jadi sedikit emosi, ya kan mas?" Gun yang selalu bisa menjadi penengah berusaha meyakinkan ibu nya dan mencoba membuat tenang Tera.
Akhirnya mereka semua terperangkap dalam situasi yang canggung dalam sebuah keluarga, semua terdiam dan memikirkan perasaan mereka masing masing. Hari masih diam tidak satu pun kata yang diucapkan dan tatapannya masih kosong walau sedang menatap Tera yang sudah mulai menata kembali nafas nya yang tersengal sengal tadi, Gun berjalan menuju samping Aya dan menaruh tangan nya di pundak adiknya itu. Semua masih tidak sadar ada yang berubah dari Aya.
Tidak berapa lama kemudian dokter masuk ke dalam ruangan dan menjelaskan kesehatan ibu mereka, penjelasan dokter sedikit membuat mereka semua tersenyum, Hari pun sedikit menunjukkan perasaan senangnya melalui wajah nya yang sedikit ceria dan tanpa kata dia beranjak pergi begitu saja setelah dokter meninggalkan ruangan, dan tidak ada satu pun yang mencegah nya pergi. Para gadis merapat menuju sisi kiri dan kanan ibunya, memijat mijat pundak ibu nya yang sudah lemah karena penyakit yang diderita. Tera tidak mau berlama lama dalam harapan yang dia rasakan ini, beranjak pergi kembali ke kantor nya.
Seminggu berlalu tanpa ada kabar lagi dari Hari, dia kembali menjadi ksatria yang hilang dari peradaban yang hanya muncul ketika akan menang dari peperangan, Tera tidak lagi ambil pusing karena semua yang dia jalani lancar adanya. "Aya kamu sudah makan belum? Kemarin aku lihat kamu lemas sekali sepulang dari kantor, ada apa memangnya?" "Iya mas aku sudah makan, ini sedang makan disebelah kak Gun, aku lagi tidak ada pekerjaan mendesak mungkin saja aku lagi tidak enak perasaan nya karena beberapa hari ini projek aku sama kak Gun banyak yang ditolak, tapi aku baik baik saja mas aku lanjut makan ya, daaa" percakapan singkat ini dianggap suatu hal yang biasa setelah Aya masuk ke dalam tim Gun, ajaran dari Gun adalah tidak boleh ada telepon jika sedang makan karena yang menelpon adalah kakak kandung nya sendiri maka diberi kelonggaran untuk itu.
Setelah curiga dengan keadaan adik kecil nya itu Tera bermaksud untuk lebih memerhatikannya jika sedang di rumah, padahal beberapa waktu ini waktu bertemu mereka sangat lah sedikit untuk memerhatikan adiknya. Telepon pun berdering kali ini Tera yang kebagian mendapatkan kabar dari rumah sakit tempat ibu nya dirawat, setelah berulang kali Gun yang biasanya dikabari terlebih dahulu] ditelpon oleh pihak rumah sakit tidak dijawab yang pasti nya sedang dalam rapat. Tanpa ada rasa takut, Tera dengan motor nya beradu cepat dengan detak jantungnya karena tiba tiba ibu nya melemah dan tidak bangun setelah tidur semalam, sudah 10 jam dan tidak ada reaksi ibu nya akan terbangun.
Pintu ruangan Gun dibuka dengan tergesa-gesa, dilihatnya wajah yang dikenal sepanjang hidup nya, Tera masuk ke dalam ruangan Gun yang sedari tadi sibuk melayani rapat sehingga lupa untuk menjawab pesan dari Tera, "Ibu makin parah dan kamu disini sibuk dengan dunia kamu sendiri!" dengan perasaan yang makin marah setelah melihat adik kecilnya juga sibuk tanpa sempat membuka telepon genggam nya, Tera hanya duduk sebelum dipersilahkan disamping Aya yang kaget kakak nya datang. Ketika menceritakan bahwa ibu kandung mereka memburuk keadaannya otomatis mereka berdua menghentikan aktifitas mereka. Gun tidak lagi bisa menyelesaikan pekerjaan yang harusnya ia kerjakan karena lemas mendengar berita yang diceritakan setelah Tera datang ke rumah sakit.
"Ada apa mas Tera? Kamu dapat kabar dari rumah sakit? Ibu kritis?" Gun terbangun setelah Tera menelpon nya di tengah malam, panik langsung menyerang Gun karena ia takut mendapat kabar buruk lagi, "Aya kemana Gun!? Sampai sekarang belum pulang! Kantor kamu tuh dah mulai keterlaluan deh, aku mencoba telepon nya tapi tidak bisa" "Aya sudah pulang daritadi sore mas, dia pulang bareng aku keluar dari kantor!" tidak berapa lama dari percakapan mereka pintu rumah tempat kediaman Tera dan Aya digedor, seketika semua yang tinggal di rumah itu bangun dan keluar dari kamar nya termasuk ibu tiri nya Tera dan Aya. Tera segera turun dari kamar nya yang terletak di lantai 2 dia pikir ada maling atau sejenis nya karena sedang marak nya pencurian di daerah sekitar rumah kediaman ibu tiri nya itu.
Tak pernah disangka memang, Aya dibopong oleh salah satu kenalan nya karena Tera mengenalinya bahwa dia adalah teman satu kampus Aya sewaktu masih kuliah, teman nya memasang raut wajah yang panik serta ketakutan saat memasuki rumah tersebut. Aya dibawa masuk ke kamar nya dan segera dibaringkan di ranjang, sementara Tera berusaha tenang mendengar penjelasan dari teman kuliah nya Aya bahwa mereka mendapatkan proyek sampingan dan sedang memasuki tahap deadline, mereka tidak mengetahui bahwa penyakit asma yang diderita Aya kembali lagi setelah dinyatakan sembuh total. Setelah teman nya dibolehkan untuk pamit, Tera mencoba menghubungi Gun untuk segera mengurus rumah sakit untuk Aya.
Gun tidak hadir dalam setiap rapat tiga hari setelah Aya dimasukan ke rumah sakit yang sama seperti ibu nya walau berbeda lantai, penyakit nya berbeda jadi tidak bisa dimasukan ke ruangan yang lantai nya sama seperti ruangan ibu nya. Gun menyesal bahwa ia tidak mengetahui apa yang sedang Aya kerjakan diluar jam kantor, sama hal nya dengan Tera setelah ia mengetahui Aya berusaha membantu pengobatan ibu nya dengan mengambil banyak proyek sampingan dengan teman sekampus nya, mereka berdua lebih menyesal penyakit Aya ternyata muncul kembali tanpa sepengetahuan mereka. Gun mengajukan cuti panjang setelah tiga hari absen dan Aya semakin memburuk kesehatannya.
Sepanjang hari Gun tidak tenang karena kedua kakak kandung nya tidak dapat dihubungi, Tera menghilang ketika tahu bahwa adik pertamanya bisa menjaga ibu kandung nya dan adik kedua nya di rumah sakit dan Gun sedikit benci saat dia menelpon kantor Tera, "Jadi dia sudah tidak lagi kerja!? Sejak kemarin?" Gun semakin tidak tenang karena sudah dua hari dia tidak bisa menghubungi kedua kakak kandung nya itu. Sementara Tera sendiri sedang berjalan menuju bangunan yang sudah lama dia tidak kunjungi, kos kosan tempat Hari, kakak kandung nya tinggal selama ini, "Lho apa kabar mas Tera? Sudah lama betul tidak kesini" seorang wanita yang tidak ia kenali menyapanya dan berbincang dengan nya "Apa!? Sudah pindah dari 4 tahun yang lalu? Terus maksud kamu sekarang mas Hari masuk penjara? Jangan bercanda kamu Rin!?" Tera pun mengetahui bahwa wanita itu adalah anak pemilik kos karena sudah lama maka Tera tidak mengenali awalnya, dan cerita dari Ririn mengejutkan Tera.
Ternyata Matahari masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang kesatuan polisi di daerahnya, dia terlibat pembunuhan yang menurut kabar hanya untuk membela diri bukan suatu pembunuhan berencana. Kehadirannya di kota tempat saudara kandung dan ibu nya dirawat waktu itu hanya sekedar untuk melarikan diri dari kejaran para polisi, setelah mengetahui kondisi ibu nya Hari kembali lagi dan menyerahkan diri tanpa diketahui oleh keluarga nya sendiri. Tera mengunjungi Hari di penjara, Hari meneteskan air mata dengan semua penyesalan yang sudah ia lakukan tanpa memberitahu Tera bahwa dia melakukan pekerjaan yang tidak halal untuk membantu pengobatan ibu nya, niat yang baik tapi diselesaikan dengan buruk.
Gontai tubuh Tera ketika masuk ke dalam ruangan tempat Aya dirawat, Gun masih terisak duduk disamping tubuh adik ya yang terbujur di ranjang. Aya telah tiada walaupun telah dilakukan upaya penyelamatan yang maksimal oleh dokter, tubuh Aya tidak lagi kuat untuk melanjutkan hidup nya penyesalan dibebankan oleh Gun yang mengajak nya ke dunia kerja. Tera tak tahu lagi apa yang mau ia katakan, ia pun menyesal tidak mengetahui penyakit Aya ternyata sudah kembali parah dan fakta bahwa Aya berusaha jauh lebih keras untuk membantu keuangan pengobatan ibu kandung nya sendiri.
Sudah sebulan setelah pemakaman Aya mereka bertiga kembali lagi bersatu, Matahari, Lentera, dan Unggun bukan untuk reuni atau temu kangen, melainkan mengubur jenazah ibu nya. Tidak berapa lama setelah Aya meninggal, Gun dipecat dari kantor nya karena performa di kantor nya menurun, walaupun kantor nya mengerti keadaan nya tetapi profesionalitas lah yang dijunjung di perusahaan itu, di kamar kosannya Gun selalu murung sembari mencari lagi pekerjaan untuk meneruskan pengobatan ibu nya. Harap malah jadi beban dan Gun susah untuk mendapatkan pekerjaannya lagi sedangkan Tera tidak bisa menutupi pengobatan ibu nya dengan penghasilan yang ia terima.
Hari datang dengan dikawal beberapa orang dari kepolisian, itu pun setelah di telepon oleh Tera meminta ijin untuk menghadiri pemakaman ibu kandung nya sendiri, pihak kepolisian akhir nya melunak dan mengijinkan nya. Hari menangis tanpa suara, begitu juga Gun, sedangkan Tera mencoba menahan tangis nya ketika membersihkan nisan yang bertuliskan nama ibu kandung nya Nur dan juga adik kecil nya Cahaya, jenazah kedua nya disatukan dalam satu liang kubur atas permintaan ibu nya. Mereka bertiga menyesali atas tindakan mereka selama hidup yang mereka jalani dan lagi Tera terpukul karena berharap terlalu besar ketika Aya mulai bekerja untuk membantu pengobatan ibu kandung nya.
Gun tidak lagi mengejar karir, kini ia menghadapi hidup nya dengan hidup berdua kakak kandung nya. Mereka berdua pindah ke kota tempat Hari di penjara. Sudah tidak ada lagi yang bisa mereka pertahankan selain ikatan persaudaraan yang masih mereka punya. Kini harapan Tera adalah hidup, hanya hidup untuk menjaga yang masih ada agar tetap dekat untuk selamanya.