Kamis, 18 Februari 2016

Sudah

Mungkin benar adanya
Menjijikan
Mungkin ada baiknya
Ini ditiadakan

Tak pantas
Karena memang tidak seharusnya
Mungkin
Lebih pantas dihentikan

Atau lebih baik
Hanya yang pantas saja
Yang harus diperlihatkan
Atau tidak sama sekali

Maaf
Mungkin ini terakhir
Biar selanjutnya lebih baik
Lebih baik tidak dilanjutkan

Sapa

Lihat ini hening disapa, tiada kawan maupun lawan tapi tak ada yang mendekati.

Biarlah sudah ini terjadi, nikmati hawa ini yang sedikit berbau kesedihan ataupun kematian.

Jika waktunya tiba mungkin saja ini tidak akan terasa lagi, sepi ini dalam kotak kaca.

Banyak orang bilang sapa dahulu biar nanti disapa, mungkin saja kurang bersyukur akan ini.

Bagus di sanjung tapi cacat akan dicaci sampai malu tak kesampaian seakan akan cacat dari mula.

Banyak tawa, canda tanpa lara, tapi ini terasa hampa jika tiada jiwa yang menyapa.

Diam saja diam, biar nanti diam diam kita menjadi benar jika pun tidak benar nanti nya akan keluar.

Sudahlah yang sudah lanjutkan saja menatap dan membuat bentuk, tak usah banyak cakap dan keluh.

Besok jadi baik atau lebih baik, bisa jadi besok terseok masuk ke dalam nista yang dalam karena sedikit cacat.

Biarlah sudah, syukuri yang ada dan nikmati selagi bisa, ucapkan banyak syukur semoga tidak akan tersungkur.

Pagi ini

Siapa bilang pagi itu indah?
Pagi itu perjuangan
Suatu pertarungan
Melawan kantuk dan lelah

Pagi itu tidak indah
Melainkan kekejaman
Membunuh kantuk yang berjasa
Yang semalam buat kita beristirahat

Pagi itu tidak ada indahnya!
Mandi dengan air yang dingin
Setelah semalam mengusir dingin
Berselimut dan memeluk guling

Pagi itu...
Pagi itu indah ternyata
Menyenangkan dan sangat hangat
Setelah menerima kabar darimu

Aku laki laki!

Tak usah beri aku duduk
Aku kuat
Aku pria
Aku lelaki

Aku tidak akan duduk
Aku tetap berdiri
Aku temani ibu berdiri
Karena aku lelaki

Aku ini lelaki
Aku kuat untuk berdiri
Sampai nanti kita sampai
Aku temani ibu berdiri

Tidak, terimakasih
Aku tetap berdiri
Aku belum lelah
Aku ini pria

Jangan panggil aku "adik"
Aku ini pria
Aku temani ibu berdiri
Aku akan menjaga ibu

Selasa, 16 Februari 2016

Beda padahal sama

Aih lelah lah hari ini, berdiri lagi menuju pintu rumah ibu, tak ada jalan cepat menuju sana.

Gemetar sedikit kaki ini berdiri menunggu bus ini mencapai halte terakhir, sedikit lama menuju sana.

Nanti ku menyambung naik kereta, sedikit beruntung bisa duduk dan tidur tapi tetap saja lama.

Kupikir lagi hal ini, rasanya sama seperti hal lain yang ku lakukan saat ini, menunggu saja.

Walau sudah ku lalui sejak lama tapi tetap senyum walau lelah, padahal menunggu jauh lebih lama.

Mungkin karena dia seakan menunggu itu jadi lebih berwarna dan tidak melelahkan, padahal sama.

Ah, aku lupa memakai senyum yang dia beri, biar menunggu menjadi tidak sama dan tidak terasa lama.

C A M i

Mata lelah melihat mu
Terang benderang di depan ku
Begitu besar dirimu di depan ku
Tak bisa ku lepaskan pandanganku

Sudah seharusnya aku memandang
Tanpa paksaan ku melakukannya
Bahkan ini suatu kewajiban
Tanggung jawab yang ku tanggung

Beri aku jeda untuk memandangmu
Sejenak aku memejamkan mataku
Lepaskan penat dari pandanganku
Aku nanti akan kembali melihatmu

Kau penuhi mata ini dengan warna
Penuhi dengan berbagai bentuk
Sinari pandangan ini terus menerus
Kau tak akan lelah dan tak akan pernah

Ada saatnya ku tinggalkan mu
Untuk berhenti memandangmu
Hanya semalam ku tinggalkan mu
Karena esok aku kembali memandangmu

Minggu, 14 Februari 2016

Jumat, 12 Februari 2016

Lalu dan nanti

Ini pagi bukan malam
Seharusnya riang bukan kepalang
Bukannya sesak yang terasa

Waktu kian datang
Menjemput kita dari lalu
Mengantar menuju ke kini

Manusia selalu datang
Mengusir sepi dengan berkawan
Mengisi hati dengan mencinta

Manusia pasti akan pergi
Menambah dendam dengan khianat
Menabur benci dengan keputus asa-an

Manusia selalu saja sendiri
Menjadi kuat dengan pengalaman
Menahan gundah dengan keikhlasan

Pagi ini terasa sesak
Melihat manusia akan pergi
Tanpa ada satu pun yang akan datang

Mungkin waktu sudah bosan
Meninggalkan aku disini
Diantara lalu dan nanti

Rabu, 10 Februari 2016

Biar mereka bahagia

Terlihat berantakan katanya
Tidak pantas menurut mereka
"Jangan kau seperti ini!"
Sahut mereka
Walau tidak secara bersamaan

Inilah saat aku turuti mereka
Biar mereka lihat apa yang mereka mau
Sampai nanti
Saat aku tak perduli

Jalani saja semua nya
Biar aku merasa senang
Dan semoga sama
Merasakan yang aku rasa

Saat nanti
Saat aku memutuskan sendiri
Biar mereka tahu aku bahagia
Saat nanti

Selasa, 09 Februari 2016

Menyenangkan nya

Kuluaskan pandangan ku ke penjuru kamar ini, setelah 4 hari aku tinggalkan.

Ku cari hal yang menyenangkan untuk ku tulis, sekilas hanya kulihat tumpukan baju kotor.

Dan benda lainnya yang berserakan berantakan tak beraturan, seharunya tidak ku abaikan.

Tapi nanti ku akan bereskan ketika sudah berkenan, hanya alasan tapi tetap aku bereskan.

Akhirnya ku lihat benda berwarna putih, dan aku tahu bulat ia bentuknya dengan tangkai untuk digenggam.

Sebuah kipas, dari salah satu acara musik terbesar tahun lalu yang bergenre musik dansa elektrik.

Terkenang kembali hal yang menyenangkan, diantara riuh lautan manusia berjingkrak.

Wajah nya yang sumringah melihat idola nya dikejauhan sana, memainkan alat musik tertata di atas meja.

Berjoget riang sambil berdendang lagu yang kadang ia hapal dan kebetulan diputar.

Ah, dia lagi dia lagi, kupikir dia hanya ada di barisan rindu di dalam pikiranku.

Mungkin hal yang menyenangkan ini bagian dari rindu, dan bagian dari dia pula.

Melihat dia senang itu adalah hal yang menyenangkan, menyenangkan sekali.

Tingkah lakunya di acara itu, sewaktu idola nya di atas panggung sungguh menyenangkan.

Lepas sepertinya energi yang ada di tubuhnya, melonjak kegirangan tanpa henti.

Sejenak kelelahan tapi bangkit lagi setelah dengar lagu yang dia suka terdengar.

Banyak gerak banyak teriak edikit berbicara, ya saat itu tidak banyak kata yang keluar.

Loncat, teriak, loncat, teriak dan tetiba hal ajaib terjadi, hal yang sempat aku tampik kan.

Ajaib karena itu terjadi tiba-tiba dan tidak disangka, indahnya sesaat tapi mengejutkan nya selamanya.

Tidak bisa lagi kita kesana, sudah bukan jaman nya kata dia, tapi aku ingin lagi liat senyumnya.

Parasnya, semangatnya, energinya, atau aku ingin bertemu dia dan menyenangkan dia.

Jauh ke timur

Kembali lagi di sini
Kranji

Setelah selesaikan yang lalu
Di sana

Berbicara empat mata
Tentang dia

Mengutarakan isi benak
Di kepala

Menahun sudah ditahan
Jadi sesak

Sekarang tinggal jalani
Masa depan

Semoga dia lebih mengerti
Masa lalu

Semoga dia perbaiki
Dirinya

Sembari ku perbaiki diriku
Sendiri

Karena hanya aku yang mengerti
Nanti nya

Sekarang sedikit lebih lega nafasku
Lepas sedikit

Tak apa karena nanti kan selesai
Cerita nya

Bukan tentang jawa yang di timur
Selesai sudah

Cerita dari neng di jawa barat
Belum selesai

Ketika selesai nanti ceritanya
Semoga lega

Dan aku akan melangkah jauh
Ke timur

Senin, 08 Februari 2016

Jangan harap mati

Aku akui jika suatu saat didalam sini mati, tak merasa dan tak dirasa.

Sekelumit kisah yang sudah diceritakan pasti akan teringat.

Perasaan nya lah yang akan terlupa, terbungkam rapat rapat kemudian lenyap.

Andai berharap itu selalu jadi nyata pastinya aku telah berbuat kejam.

Melangkah gontai sekarang, esok hari akan kutegap kan kaki ini.

Jika di dalam ini telah mati, pastilah akan ada yang membangkitnya lagi.

Ke bandung? Dari surabaya?

Surabaya, ku injakkan kaki ku di sebagian kecilmu.

Tak ada kesempatan atau mengenalmu lebih, bahkan untuk masuk ke jantung kota mu.

Sedikit terkatung katung untuk memilih meninggalkan mu, karena tak ada satu pun menungguku di sini.

Ku menatap nama kota-kota yang tertera di atas plang berwarna hijau, Bandung, kesanakah aku akan berlanjut?

Tidak sekarang, mungkin nanti akan kesana ke tempat yang menungguku atau tepatnya ke tempat orang yang aku tunggu.

Sekarang, ke Jogja, 10 jam lagi.

Ke Bandung? Entah kapan berapa lama lagi.

Karena neng dari sunda

Cemas neng hati abang dengar kabar tentang itu, tentang nanti kau akan dipinang.

Kalau pun hati abang bisa sebesar lapangan bola kalau neng dipinang tetap saja terbelah dua.

Sekarang abang masih senang bisa dengar suara neng dari jauh, dan masih bisa dapat kabar dari neng.

Kalau langit mendung siang hari abang berharap cemas malam hari terang disambut bulan.

Biar sinarnya masuk ke celah jendela dan lubang angin, sembari abang dengar suara neng.

Pelan pelan neng makin jauh, makin susah buat ketemu muka neng dan rambut neng yang sering diputerin.

Masih suka lihat ujung peron, kadang suka melihat bayang neng lari keburu buru.

Nanti ketika neng dipinang, abang cuma ucap alhamdulillah bisa ketemu neng.

Kalo ada waktu bertemu, ingin abang bercakap dengan orang tua neng yang abang kagumin.

Bertemu muka kepada orang yang neng nantinya bikin tenang hati mereka dan bikin senyum bibir mereka.

Walau rindu tidak akan ada obatnya lagi nanti, hati ini akan belajar mengobati rindu nya sendiri.

Menatap langit kamar saat cerah malam hari, mendengar lagu yang kau beri, dan menjaga sisi kiri ini.

Atau nanti berkunjung ke tempat yang kau tunjuk dan duduk menikmati sisa malam.

Dan juga menikmati minuman yang pernah kita pesan sewaktu datang kita bersama.

Minggu, 07 Februari 2016

Saat sendiri dan tak sendiri

Akhirnya nanti jika sendiri lagi
Aku akan kembali
Melangkah lagi
Lebih jauh lagi

Ke barat aku pergi
Dan ke timur aku menanti
Hingga tak punya langkah lagi
Akan kembali menunggu mati

Tak perlu lama lagi
Setelah pulang dari sini
Aku benahi diri
Untuk nanti sang istri

Tapi itu nanti
Jika aku tak sendiri
Dan tak harus pergi jauh lagi
Saat aku tidak sendiri

Sabtu, 06 Februari 2016

Latar belakang

Kini semua ingatan tersimpan di kotak kecil yang bisa kita liat sepanjang waktu.

Otak kita seakan tidak diberi kepercayaan untuk mengingat semua nya itu.

Hal indah yang kita nikmati termakan waktu mencari tempat dan gaya untuk disimpan di kotak kecil itu.

Mungkin sudah zamannya seperti ini, keindahan yang dinikmati lewat kotak kecil dan ingatan yang sedikit kita hargai.

Beruntung bagi mereka yang menghargai tempat dan menikmatinya hingga puas tanpa harus mencari gaya.

Karena alam ini sebenarnya hanya sekedar ingin dihargai bukan untuk dijadikan latar belakang wajah kalian.

HDP

Selalu kulihat tinggi dirimu
Gagah besar berwibawa
Tegar sorot matamu
Seperti tak pernah gagal

Jalanmu tegap
Tak kenal takut rasanya
Namun sopan
Berjiwa sosial

Tak perduli dimana dirimu
Seseorang' akan menyapamu
Mengenalmu seakan saudara
Karena apa yang dirimu

Dari dulu tak pernah berubah
Lekat dengan sahabat
Dan membuat banyak teman
Itulah dirimu

Jangan kau kubur lagi
Jangan kau tutup lagi
Masa depan mu
Bangkitlah

Hadi Dera Pradityo

Jumat, 05 Februari 2016

Kota kelahiran kedua mu

Disini Malang
Dimana pedas masih terasa manis
Ini tentang makanan
Bukan hidup

Jika hidup ini pedas
Mungkin tidak terasa baginya
Tak tahu bahkan yang dia rasa
Yang kutahu tempat ini berantakan

Ini Malang
Kota kelahiran yang kedua bagi nya
Hampir setengah hidupnya disini
Setengahnya lagi mungkin dia lupa

Dia sedang berusaha untuk menang
Menang dari sebuah cobaan
Cobaan yang kusebut kenyamanan
Yang telah dia lawan selama 12 tahun

Kutunggu kau kembali ke Bekasi
Kita akan memulai lagi dari sana
Taklukan kota kota yang lain
Dan jadi pemenang lagi

Biar saja hijau

Lihat lembah hijau dibelah sungai kecoklatan, batang tebu tinggi menjulang tak kalah dengan ilalang.

Batu batu kerikil dan rel kereta seakan sudah jadi satu dengan alam, bersinergi berikan semangat kepada alam.

Walau kini pagi ditutupi awan abu abu, halangi matahari untuk bercumbu bumi tak menghalangi gerak petani menanam bibit padi.

Lagi lagi bertemu lembah, dan kereta ini bagaikan terbang diantara pucuk pucuk hijau pohon karet yang tinggi dari dasar lembah.

Begitu banyak hijau bahkan tak terhingga, sungguh ini berbeda dengan ibukota yang terlihat seperti langit mendung pagi ini, suram dan abu abu.

Sang pencipta adil menciptakan, kota penuh aspal, debu, dan baja sedangkan desa tetaplah hijau, sejuk, dan rindang.

Biarkan saja globalisasi tidak menyentuh desa, biarkan saja, biar kita makhluk kota dapat menghargai alam dan menikmati udara segar setelah dicekik asap asap knalpot.

Lemari pendingin bergerak

Kupikir dingin ini terasa pedesaannya, ternyata bukan ini pendingin ruangan.

Seperti daging di lemari pendingin tetapi bergerak, dan berhenti di tempat tempat tertentu.

Pagi ini gelap mereda setelah sinar matahari menembus dinginnya pagi, tapi belum terasa disini.

Diperlihatkan pemandangan segar seperti bagian sayur mayur di pasar swalayan.

Akhirnya mata ini diperlihatkan warna warna segar hasil alam bukan layar dalam format merah hijau biru.

Kabut tipis masih terlihat bercumbu dengan hamparan sawah hijau yang diselingi pepohonan dan rumah warga.

Padahal di ibukota sudah tercium bau asap knalpot dari tiap tiap kendaraan, entah dua roda atau empat bahkan lebih.

Sungguh mau kubuka jendela ini jika saja diperbolehkan, lebih baik dingin alam daripada buatan.

Aku ini manusia bukan daging yang digantung di lemari pendingin yang akan dijual.

Sekitar empat jam lagi lemari pendingin ini akan sampai tujuan ku, bertahanlah aku selama itu.

Sampai nanti bertemu hangatnya sinar matahari bukan lampu yang menghangatkan ayam goreng cepat saji.

Kamis, 04 Februari 2016

Lelah sejenak

Lelah akhirnya mata ini
Dan terasa lelah pula pikiran ini
Dimana akhirnya berpikir
Apakah aku pantas?

Merasa hilang
Diantara tujuan
Bukan banyaknya cabang
Tapi jauhnya ujung jalan

Tersesat dijalan yang lurus
Apakah ini jalan yang benar?
Atau hanya berjalan tanpa tujuan?
Akhirnya berhenti sejenak

Mungkin ini lelah
Aku hanya perlu istirahat
Sejenak atau mungkin
Selamanya

Mak

Mak,
Tiga lelakimu pergi keluar
Dengan berat hati meninggalkanmu
Kita pasti akan kembali
Ke rumahmu
Ke tempat kita dulu bersama
Berbagi hidup

Mak,
Aku lelaki termudamu
Pergi menjemput lelaki keduamu
Abang di hidupku
Mungkin dia lelah
Sehingga tidak bisa pulang
Semoga punggung ini
Dapat menggendongnya pulang

Mak,
Lelaki pertamamu masih diluar sana
Masih bekerja dihari tuanya
Aku merasa gagal
Jika Bapak masih bekerja sampai lelah
Tidak cukup diriku untuk hidupi kalian

Mak,
Semoga nanti masih ada waktu
Untuk kalian berdua pergi beribadah
Ke tempat jauh yang disebut tanah suci
Menyempurnakan islam kalian

Mak,
Bersabarlah lebih lagi
Biar lihat kita berdua besar
Dan kau bangga melihatnya

Semoga itu belum terlambat.

Kerja malam

Larut malam gelap di luar sana
Sedikitpun tanah tak terlihat
Terbayang Bapak bekerja

Walau gelapnya tidak sama
Tetap saja malam sama menakutkanya

Titik cahaya jatuh di ujung pandanganku
Apa mungkin bapak masih diberi terang?
Jika bekerja di larut malam

Ku merasa dingin dapat mengoyak tulang
Tanpa harus menyilet daging ini

Semoga bapak diberi kehangatan
Diantara relung dingin ibukota

Ke timur jawa

Kembali lagi ku ke timur jawa
Menuju stasiun tertinggi

Kereta berangkat menunggu malam
Seakan gelap jadi penggeraknya

Meluncur seperti peluru di atas rel
Dan menggetarkan kerikil yang ada

Cahaya melintas melewati jendela
Seperti melihat kilatan masa depan

Dan kini aku ingin hadapi masa lalu
Selesaikan yang belum selesai

Penantian yang terasa abadi
Seperti kereta berjalan tanpa henti

Biar nanti kuantar dia ke stasiun
Dimana nanti dia akan berangkat

Semoga nanti dia berminat
Menaiki kereta menuju masa depannya

Maaf, semoga...

Bapak, mamak, aku ucapkan maaf atas semua yang kuperbuat, dari semua yang telah kulakukan.

Maaf hingga sampai saat ini bapak masih bekerja hingga larut dan tidak pulang.

Maaf harus membuat mamak merasa benci dengan keadaan di rumah saat ini.

Maaf karena belum bisa ku memakai toga untuk kalian hingga saat ini.

Maaf karena harus menanggung beban lagi yang kalian pernah bagi kepadaku.

Maaf harus membuat bapak tidak bisa menunaikan ibadah subuh karena lelah bekerja.

Maaf telah membuat mamak marah karena bapak harus bekerja lebih keras dari sebelumnya.

Maaf jika kepergian ku saat ini membebani kalian.

Maaf aku tidak bisa berikan senyum untuk kalian pakai setiap hari.

Maaf jika bicaraku kasar dihadap mu mamak pagi ini.

Maaf tidak bisa mengerti keadaan pagi ini.

Semoga ada waktu untuk ku menebus semua maaf yang bahkan tidak cukup ku tulis atau ku ucapkan.

Semoga kepergian ku ini bisa membawa kembali abang ke kranji dan kita hidup bahagia.

Semoga bapak mamak sehat sampai nanti aku dan abang membuat kalian bahagia.

Semoga

Semoga sempat.

Harapan Lentera

Harapan kadang menjadi sebuah penderitaan, yang kadang bukan membuahkan kebahagiaan namun kesengsaraan yang menahun. Dari harap timbul sebuah kecemasan disaat semua yang diharapkan tidak terlihat nyata. Membuat diri kita berharap sama hal nya meniti jembatan dari seutas tali yang tipis, mungkin saja kita dapat menyebrangi nya atau kita terjatuh jauh di jurang kenyataan.

Beri bekal pada diri kita agar ketika menitinya kita merasa aman, apalagi ketika kita jatuh di jurang kenyataan itu. Ketika jatuh mungkin saja kita bisa membawa parasut atau payung besar untuk melayang saat jatuh agar bisa mendarat dengan selamat di dasar jurang kenyataan.

Tak akan pernah bisa kita mengabaikan harapan, karena harapan adalah produk dari pendidikan yang kita jalani sewaktu kecil. Hanya pengalaman hidup lah yang membuat kita bertahan dari kegagalan sebuah harapan. Berbesar hati menerima kenyataan dan menjalaninya.

Anggap saja harapan menjadi sebuah mitos bagi seorang Tera. Mahasiswa jurusan sastra Indonesia semester akhir yang mengorbankan studi kuliah nya untuk mengejar materi, atau karir atau apapun alasannya agar orang lain bisa menerima keputusannya untuk cuti dari kuliahnya. Kedua adiknya sudah lulus terlebih dahulu dan satu diantara nya melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Alasan utama Tera adalah ingin membantu keluarga nya, karena orang tua nya berpisah semenjak Tera baru menginjak bangku sekolah menengah pertama. Kakak dan adik pertamanya dibawa oleh ibu nya, sedangkan adik kedua nya dibawa oleh bapak nya karena adik keduanya sedang menjalani pengobatan rutin untuk menyembuhkan asma nya. Bapaknya seorang pengusaha kelas menengah yang menikah dengan janda kaya yang bisa dibilang teman berbinis nya, maka dari itu adik kedua nya dibawa oleh bapaknya.

Tera sendiri disuruh memilih mau ikut siapa hidupnya nanti, sebuah pilihan sulit untuk anak 13 tahun. Akhirnya dia dipinta kakak nya untuk menemani adik kedua nya di keluarga baru bapaknya. Dengan berat hati Tera meninggalkan ibu dan dua saudara kandung nya. Ibu kandung Tera seorang dosen salah satu universitas swasta terkemuka, merasa masih mampu menafkahi kedua anaknya, anak pertama nya seorang siswa sekolah teknik yang pandai matematika dan mesin sedangkan anak keduanya yang juga adik pertama Tera adalah siswi sekolah menengah yang bersekolah sama dengan Tera. Saat sekarang kakak pertama Tera menjadi mahasiswa abadi di suatu kampus swasta di sekitaran jawa timur dan adik pertamanya menjadi mahasiswi lulusan terbaik di kampus negeri di Jakarta.

"Mas Tera, aku mau urus skripsi ku dulu baru jenguk ibu ya" terburu buru Cahya yang biasa dipanggil Aya karena tidak mau dipanggil Cah oleh Tera. Aya adalah adik kedua Tera, yang sudah sembuh dari penyakit asma nya 3 tahun yang lalu. "Iya Ya, hati hati, nanti aku jemput ya di rumah sakit setelah aku selesai kerja" teriak Tera dari kamarnya. Jam 6 pagi dan Aya harus mengejar kereta pagi untuk sampai ke kampus nya demi mendapatkan tanda tangan pembimbing nya, sedangkan Tera belum mau beranjak dari kamar nya setelah semalaman mengerjakan tulisan untuk buku cerita anak, Tera berkerja sampingan menjadi penulis untuk buku anak anak.

Tera sebenarnya mau tidak mau bekerja dan meninggalkan kuliah nya, semenjak ibu kandung nya masuk rumah sakit dan kakaknya menjadi tak karuan setelah meninggalkan ibu nya untuk kuliah. Tak usah lagi lah dipikirkan apa yang kakaknya kerjakan, itu pikir Tera selama ini, dia hanya khawatir dengan ibu kandungnya yang terus dirawat karena penyakit yang sudah pasti akan merenggut nyawa ibunya cepat atau lambat. Inilah Tera yang penuh dengan kebencian, karena bapak kandungan nya sudah tiada lebih dahulu dan ibu angkatnya tidak mau perduli dengan apa yang terjadi

Keseharian Tera selalu dipojokkan oleh ibu tiri nya yang selalu saja tidak mengerti apa yang dikerjakan Tera, karena ibu tiri nya itu selalu memberi perhatian yang lebih dengan adik tiri Tera hasil perkawinan dari bapak kandung Tera. Keberhasilan Aya dalam pendidikan nya semakin membuat Tera dikucilkan di dalam rumah, padahal Tera pernah menyampaikan maksud kenapa dia harus meninggalkan kuliah kepada ibu tiri nya. Pekerjaan sampingan nya itu sebenarnya tidak lah terlalu sulit bagi Tera, hanya saja karena ingin mendapat uang lebih dia harus menulis banyak cerita dan tentu nya dengan kualitas yang bagus, maka dari itu lah seringkali Tera tidur larut hanya untuk mendapatkan cerita yang bagus untuk dia jual.

Sejak ayah kandungnya meninggal Tera tidak pernah lagi meminta uang jajan dari ibu tiri nya, dia anggap diri nya sudah besar dan sudah bisa mendapat uang dari hasil keringat dia sendiri, mulai dari menjajakan koran sampai harus kerja menjadi penjaga distro. Sampai akhirnya uang dari hasil kerja tersebut tidak sanggup untuk membantu biaya perawatan ibu kandung nya yang sedang sakit Tera harus membuang semua pekerjaan itu dan mencari pekerjaan yang lebih menghasilkan uang, walaupun mengorbankan waktu untuk mengenyam pendidikan.

Aya sendiri awalnya ikut untuk membantu Tera, karena dia merasa ikut andil untuk membantu ibu kandungnya yang sedang sakit itu, sampai dimana Tera sangat marah ketika Aya sering pulang larut dan nilai kuliah nya anjlok selama 2 semester. "Buat apa kamu cari uang segala! Kamu itu fokus saja untuk kuliah biar aku yang membantu ibu" sifat temperamen nya memang tak bisa dibendung ketika tahu bahwa Aya nilai nya anjlok "Tapi mas aku kan anak nya ibu juga! aku punya hak untuk ikut bantu!" sahut Aya tak mau kalah ketika Tera tidak mau adik nya itu ikut mencari uang, dengan menarik nafas panjang Tera akhirnya tenang dan menjelaskan maksud dari amarah yang dia keluarkan "lebih baik kamu membantu setelah kamu lulus nanti, percepat lah studi kamu dan segera lulus dengan nilai yang bagu, nanti ada giliran kamu ikut andil membantu ketika kamu diterima kerja kantoran yang gaji nya lebih besar dari upah tulis mas", Aya pun segera mengerti maksud kakak nya dan menyetujuinya segera.

"Mas Har! Mau sampai kapan kamu main main dengan tugas akhir kamu!? Lihat ibu di rumah sakit sana mengerang menyebut nama kamu mas! Gak ada tega nya apa mas masih mau nunda nunda terus tugas akhir mas!?" seluruh ruangan kantor penerbit buku itu sontak dikagetkan dengan teriakan Tera yang memaki kakak nya, Matahari atau singkatnya Hari, terdiam sejenak Tera menunggu balasan dari kakaknya itu dan tak lama terdengar nada suara telepon ditutup "BRENGSEK!" tangan Tera terangkat seperti hendak membanting telepon genggam nya dan terhenti ketika teringat Aya yang akan sidang skripsi esok hari. Lagi lagi kakaknya harus mengulang tugas akhir setelah Tera diberitahu bahwa kakaknya tidak membayar uang kuliah. Benci makin menumpuk dan dendam nya makin berkelanjutan dengan mas Hari, mengingat bahwa mas hari adalah panutan dia dari sejak kecil dan sosok yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga.

Muncul sesosok wanita tinggi berwajah ketus saat pintu dibuka "Dah selesai ngomong sama mas mu yang super itu?" dengan nada ketus wanita itu bertanya sembari membalik badannya, inilah Gun, kependekan dari Unggun sang adik pertama, wanita ini telah lanjut ke S-2 untuk mengambil gelar master dibidang komunikasi. Bekerja sebagai Marketing Komunikasi sebuah perusahaan telekomunikasi terkemuka, dia tinggal di kosan yang dekat dengan kantor nya dan juga dekat dengan rumah sakit yang merawat ibu nya. Tera masuk kedalam kamar kos milik Gun yang sama pemilik kos nya sudah dianggap wajar wajar saja karena pemilik kos nya sudah tahu Tera itu siapa, "Gila mas mu satu itu, sudah aku telpon tetap saja gak digubris juga, gila!" "ya lagi kamu sih mas, tiba tiba aja langsung marah marah!" balas Gun dengan nada yang mencoba membela kakak yang paling tua itu, "lah kamu malah belain mas Har? Aku kan ngomong apa ada nya" setelah itu omongan Tera tidak digubris oleh Gun yang sedang masak untuk mereka berdua, dan Tera tetap mencoba untuk membuat argumen tentang apa yang sudah dia lakukan terhadap kakak pertama nya dan Gun tetap diam.

Suara nada dering telpon yang khusus pertanda telpon dari Gun, "Kakak cantiiikk! Haloooo..." dengan ceria Aya mengangkat telpon dari Gun, hubungan mereka sangat dekat dibanding dengan hubungan Tera dan Hari, "Hai Cah, besok bawa surat lamaran kamu dan juga CV kamu terbaru! Gak pake tanya apa apa okeh?" Gun yang tak suka basa basi ini langsung memerintah adik kecil nya yang selalu cemberut jika dipanggil "Cah" oleh kakak perempuan satu satu nya ini dengan cepat padahal Aya baru menjawab sepatah kata dan langsung ditutup oleh Gun. Tera yang mengetahui hal tersebut merasa ringan badannya dan pikirannya plong, dia merasa bisa melanjutkan kuliah nya kembali jika Gun dan Aya bekerja di kantoran dengan perkiraan gaji mereka berdua sama dengan upah tulis nya selama 4 bulan dan kembali menulis cerita berikut nya dengan ceria.

Aya lolos tes masuk ke perusahaan yang sama dengan Gun, duo kakak beradik ini menjadi buah bibir di seluruh divisi. Sebenarnya Tera juga mau direkrut ke dalam divisi Marketing Komunikasi bahkan sebelum Gun masuk, karena Tera sering membantu untuk urusan penulisan konten marketing untuk iklan televisi dan radio. "Sekarang aku bisa konsen buat kuliah, tabungan siap, kerjaan lagi lancar dan gak ada revisi revisi, sip!" Mulai dari itu timbul harapan bagi seorang Tera.

Ketika semua memberikan rasa pengharapan muncul lah suatu keadaan yang dimana kita hanya melihat cahaya terang diujung jalan, yang pasti akan kita rengkuh cahaya terang itu. Harapan membuat suasana menjadi riang dan kita hanya melihat semua dengan rasa percaya diri dan optimis dan juga dibutakan dengan semua itu. Hal yang biasa kita waspadai kadang menjadi samar, tak terlihat, tak terasa, bahkan kita abaikan. Lubang dijalan menuju cahaya itu tidak tampak karena berkas sinarnya begitu menyilaukan, tapi kita masih bisa merasakan tapak kaki kita menuju sana.

Perlahan lubang lubang di jalan itu akan muncul ketika kita terlena. Satu lubang kita lewati dan makin jumawa kita menghadapi masalah, makin lama lubang lubang makin banyak dan kita masih bisa loncat jauh ke depan dan mendarat dengan selamat. Tapi rasa sombong ini lah yang membuat kita akhirnya jatuh di lubang disaat kita akan menapaki jalan yang bersinar itu.

"Aya kamu sudah mau pulang belum? mama sudah mau pergi nih jam 8 nanti" "Sebentar lah mas, aku masih ada kerjaan ini" "Cepetan maka nya.... Huft, langsung ditutup! Sudah mulai kurang ajar ini adik satu mulai ikut perangai si Gun Begundal!" Tera selalu menjemput Aya pulang kantor karena satu arah pulang dari kampus nya. Kehidupan kantor Aya membuat dirinya ingit berpacu mengikuti jejak kakak perempuannya, padahal dia fisik nya tidak sama dengan Gun yang jauh lebih sehat. "Ayaaa.. sudah dulu kerja nya, besok saja kita rangkum lagi, kamu pulang sana sama mas Tera. Ini aku malah kena damprat gegara kamu main tutup telpon nya mas" tidak ada jurus lain bagi Tera untuk menyuruh Aya segera pulang istirahat karena fisik nya sudah mulai lemah lag setelah dihajar habis habisan dengan karir baru nya.

Gun mendapat telpon dari rumah sakit, katanya ada seorang pria yang menjenguk ibu nya di rumah sakit. Setelah mendengar penjelasan dan ciri ciri dari pria tersebut Gun pun menyuruh petugas rumah sakit untuk menahan pria itu jika pria itu sudah mau pergi "Mas! Mas Har ke rumah sakit sendiri!" dengan panik Gun menelpon Tera yang sedang mengerjakan ujian di kampus nya, tanpa basa basi seperti biasanya Gun pun langsung menutup telpon nya tanpa menunggu reaksi dari Tera. Setelah menyelesaikan ujian nya dengan cepat mahasiswa sastra itu berlari menuju parkiran motor, tanpa pikir panjang dia langsung memacu motornya menuju rumah sakit.

Aya berlari lebih dulu daripada Gun yang sempat tertahan untuk administrasi rumah sakit, dengan cepat membuka pintu ruangan tempat ibu nya dirawat. DIlihat nya sesosok pria tinggi walaupun dia sedang duduk di bangku lipat bertulang besi itu, tidak menoleh nya sedikit pun pria itu menanggapi panik nya gadis kecil yang rambutnya diikat poni itu. "Mas Har!" sedikit teriak ketika Gun sudah di belakang Aya yang belum berani melangkah kan kaki nya untk masuk ke ruangan. Aya punya memori yang tidak indah ketika berhadapan dengan kakak tertua nya itu, sifat nya yang lebih temperamen jika sedang marah daripada Tera membuat Aya pernah dibentak ketika masih kecil sampai asma nya kambuh.

Ketika mereka berdua telah memberanikan diri untuk masuk ke ruangan Hari hanya memutar badan nya untuk melihat dua bidadari yang rambutnya sudah berantakan itu, tubuh Hari terlihat lusuh dan mata nya seperti tidak bernyawa. "Mas Hari ada apa kemari!?" dengan sedikit emosi Gun langsung bertanya dengan singkat, "Aku mimpi ibu dua hari yang lalu, disitu aku lihat ibu sedang berjalan menjauh dari pintu kosan aku, sejauh aku mengejar nya ibu semakin jauh dan semakin jauh dan jauh. Aku tidak sempat mengabarkan kalian, maaf, karena aku langsung mengejar pesawat menuju jakarta tadi pagi" dengan lemas Hari menjelaskan kedatangannya kepada Gun. Sedangkan Aya mulai aneh, dia tidak berhenti meremas baju nya di bagian dada, dan tidak ada yang menyadari itu.

Parkiran motor rumah sakit heboh dengan jatuh nya pengendara motor yang hendak mau masuk, makin senewen lah Tera melihat kejadian itu, tidak mau kehilangan waktu dia memberi uang dua puluh ribu kepada petugas parkir untuk menitip kan motor nya yang tidak dikunci setang. Ketika sampai di ruangan, ibu akhirnya bangun sedari tadi tertidur pulas karena pengaruh obat "mas Tera kok buru buru gitu? ada apa?" sahut ibu dengan lemah menyambut kedatangan Tera yang masih tersengal nafasnya. Mata nya tidak melihat ke arah ibu kandung nya yang masih terbujur lemah di ranjang rumah sakit melainkan ke arah kakak nya, Matahari.

Dengan sigap Gun menahan Tera yang sudah tahu akan menuju Hari, sedari tadi memang Gun sengaja menempatkan dirinya berdiri di ujung tempat tidur, sedangkan Aya duduk disamping nya dan masih menahan dada nya. Aya duduk membelakangi Gun, sedangkan Hari menatap kosong Tera. "Sudah, sudah, uhuk uhuk, kalian ini baru ketemu sudah pake emosi" "gak kok bu, mas Tera cuma capek aja mungkin jadi sedikit emosi, ya kan mas?" Gun yang selalu bisa menjadi penengah berusaha meyakinkan ibu nya dan mencoba membuat tenang Tera.

Akhirnya mereka semua terperangkap dalam situasi yang canggung dalam sebuah keluarga, semua terdiam dan memikirkan perasaan mereka masing masing. Hari masih diam tidak satu pun kata yang diucapkan dan tatapannya masih kosong walau sedang menatap Tera yang sudah mulai menata kembali nafas nya yang tersengal sengal tadi, Gun berjalan menuju samping Aya dan menaruh tangan nya di pundak adiknya itu. Semua masih tidak sadar ada yang berubah dari Aya.

Tidak berapa lama kemudian dokter masuk ke dalam ruangan dan menjelaskan kesehatan ibu mereka, penjelasan dokter sedikit membuat mereka semua tersenyum, Hari pun sedikit menunjukkan perasaan senangnya melalui wajah nya yang sedikit ceria dan tanpa kata dia beranjak pergi begitu saja setelah dokter meninggalkan ruangan, dan tidak ada satu pun yang mencegah nya pergi. Para gadis merapat menuju sisi kiri dan kanan ibunya, memijat mijat pundak ibu nya yang sudah lemah karena penyakit yang diderita. Tera tidak mau berlama lama dalam harapan yang dia rasakan ini, beranjak pergi kembali ke kantor nya.

Seminggu berlalu tanpa ada kabar lagi dari Hari, dia kembali menjadi ksatria yang hilang dari peradaban yang hanya muncul ketika akan menang dari peperangan, Tera tidak lagi ambil pusing karena semua yang dia jalani lancar adanya. "Aya kamu sudah makan belum? Kemarin aku lihat kamu lemas sekali sepulang dari kantor, ada apa memangnya?" "Iya mas aku sudah makan, ini sedang makan disebelah kak Gun, aku lagi tidak ada pekerjaan mendesak mungkin saja aku lagi tidak enak perasaan nya karena beberapa hari ini projek aku sama kak Gun banyak yang ditolak, tapi aku baik baik saja mas aku lanjut makan ya, daaa" percakapan singkat ini dianggap suatu hal yang biasa setelah Aya masuk ke dalam tim Gun, ajaran dari Gun adalah tidak boleh ada telepon jika sedang makan karena yang menelpon adalah kakak  kandung nya sendiri maka diberi kelonggaran untuk itu.

Setelah curiga dengan keadaan adik kecil nya itu Tera bermaksud untuk lebih memerhatikannya jika sedang di rumah, padahal beberapa waktu ini waktu bertemu mereka sangat lah sedikit untuk memerhatikan adiknya. Telepon pun berdering kali ini Tera yang kebagian mendapatkan kabar dari rumah sakit tempat ibu nya dirawat, setelah berulang kali Gun yang biasanya dikabari terlebih dahulu] ditelpon oleh pihak rumah sakit tidak dijawab yang pasti nya sedang dalam rapat. Tanpa ada rasa takut, Tera dengan motor nya beradu cepat dengan detak jantungnya karena tiba tiba ibu nya melemah dan tidak bangun setelah tidur semalam, sudah 10 jam dan tidak ada reaksi ibu nya akan terbangun.

Pintu ruangan Gun dibuka dengan tergesa-gesa, dilihatnya wajah yang dikenal sepanjang hidup nya, Tera masuk ke dalam ruangan Gun yang sedari tadi sibuk melayani rapat sehingga lupa untuk menjawab pesan dari Tera, "Ibu makin parah dan kamu disini sibuk dengan dunia kamu sendiri!" dengan perasaan yang makin marah setelah melihat adik kecilnya juga sibuk tanpa sempat membuka telepon genggam nya, Tera hanya duduk sebelum dipersilahkan disamping Aya yang kaget kakak nya datang. Ketika menceritakan bahwa ibu kandung mereka memburuk keadaannya otomatis mereka berdua menghentikan aktifitas mereka. Gun tidak lagi bisa menyelesaikan pekerjaan yang harusnya ia kerjakan karena lemas mendengar berita yang diceritakan setelah Tera datang ke rumah sakit.

"Ada apa mas Tera? Kamu dapat kabar dari rumah sakit? Ibu kritis?" Gun terbangun setelah Tera menelpon nya di tengah malam, panik langsung menyerang Gun karena ia takut mendapat kabar buruk lagi, "Aya kemana Gun!? Sampai sekarang belum pulang! Kantor kamu tuh dah mulai keterlaluan deh, aku mencoba telepon nya tapi tidak bisa" "Aya sudah pulang daritadi sore mas, dia pulang bareng aku keluar dari kantor!" tidak berapa lama dari percakapan mereka pintu rumah tempat kediaman Tera dan Aya digedor, seketika semua yang tinggal di rumah itu bangun dan keluar dari kamar nya termasuk ibu tiri nya Tera dan Aya. Tera segera turun dari kamar nya yang terletak di lantai 2 dia pikir ada maling atau sejenis nya karena sedang marak nya pencurian di daerah sekitar rumah kediaman ibu tiri nya itu.

Tak pernah disangka memang, Aya dibopong oleh salah satu kenalan nya karena Tera mengenalinya bahwa dia adalah teman satu kampus Aya sewaktu masih kuliah, teman nya memasang raut wajah yang panik serta ketakutan saat memasuki rumah tersebut. Aya dibawa masuk ke kamar nya dan segera dibaringkan di ranjang, sementara Tera berusaha tenang mendengar penjelasan dari teman kuliah nya Aya bahwa mereka mendapatkan proyek sampingan dan sedang memasuki tahap deadline, mereka tidak mengetahui bahwa penyakit asma yang diderita Aya kembali lagi setelah dinyatakan sembuh total. Setelah teman nya dibolehkan untuk pamit, Tera mencoba menghubungi Gun untuk segera mengurus rumah sakit untuk Aya.

Gun tidak hadir dalam setiap rapat tiga hari setelah Aya dimasukan ke rumah sakit yang sama seperti ibu nya walau berbeda lantai, penyakit nya berbeda jadi tidak bisa dimasukan ke ruangan yang lantai nya sama seperti ruangan ibu nya. Gun menyesal bahwa ia tidak mengetahui apa yang sedang Aya kerjakan diluar jam kantor, sama hal nya dengan Tera setelah ia mengetahui Aya berusaha membantu pengobatan ibu nya dengan mengambil banyak proyek sampingan dengan teman sekampus nya, mereka berdua lebih menyesal penyakit Aya ternyata muncul kembali tanpa sepengetahuan mereka. Gun mengajukan cuti panjang setelah tiga hari absen dan Aya semakin memburuk kesehatannya.

Sepanjang hari Gun tidak tenang karena kedua kakak kandung nya tidak dapat dihubungi, Tera menghilang ketika tahu bahwa adik pertamanya bisa menjaga ibu kandung nya dan adik kedua nya di rumah sakit dan Gun sedikit benci saat dia menelpon kantor Tera, "Jadi dia sudah tidak lagi kerja!? Sejak kemarin?" Gun semakin tidak tenang karena sudah dua hari dia tidak bisa menghubungi kedua kakak kandung nya itu. Sementara Tera sendiri sedang berjalan menuju bangunan yang sudah lama dia tidak kunjungi, kos kosan tempat Hari, kakak kandung nya tinggal selama ini, "Lho apa kabar mas Tera? Sudah lama betul tidak kesini" seorang wanita yang tidak ia kenali menyapanya dan berbincang dengan nya "Apa!? Sudah pindah dari 4 tahun yang lalu? Terus maksud kamu sekarang mas Hari masuk penjara? Jangan bercanda kamu Rin!?" Tera pun mengetahui bahwa wanita itu adalah anak pemilik kos karena sudah lama maka Tera tidak mengenali awalnya, dan cerita dari Ririn mengejutkan Tera.

Ternyata Matahari masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang kesatuan polisi di daerahnya, dia terlibat pembunuhan yang menurut kabar hanya untuk membela diri bukan suatu pembunuhan berencana. Kehadirannya di kota tempat saudara kandung dan ibu nya dirawat waktu itu hanya sekedar untuk melarikan diri dari kejaran para polisi, setelah mengetahui kondisi ibu nya Hari kembali lagi dan menyerahkan diri tanpa diketahui oleh keluarga nya sendiri. Tera mengunjungi Hari di penjara, Hari meneteskan air mata dengan semua penyesalan yang sudah ia lakukan tanpa memberitahu Tera bahwa dia melakukan pekerjaan yang tidak halal untuk membantu pengobatan ibu nya, niat yang baik tapi diselesaikan dengan buruk.

Gontai tubuh Tera ketika masuk ke dalam ruangan tempat Aya dirawat, Gun masih terisak duduk disamping tubuh adik ya yang terbujur di ranjang. Aya telah tiada walaupun telah dilakukan upaya penyelamatan yang maksimal oleh dokter, tubuh Aya tidak lagi kuat untuk melanjutkan hidup nya penyesalan dibebankan oleh Gun yang mengajak nya ke dunia kerja. Tera tak tahu lagi apa yang mau ia katakan, ia pun menyesal tidak mengetahui penyakit Aya ternyata sudah kembali parah dan fakta bahwa Aya berusaha jauh lebih keras untuk membantu keuangan pengobatan ibu kandung nya sendiri.

Sudah sebulan setelah pemakaman Aya mereka bertiga kembali lagi bersatu, Matahari, Lentera, dan Unggun bukan untuk reuni atau temu kangen, melainkan mengubur jenazah ibu nya. Tidak berapa lama setelah Aya meninggal, Gun dipecat dari kantor nya karena performa di kantor nya menurun, walaupun kantor nya mengerti keadaan nya tetapi profesionalitas lah yang dijunjung di perusahaan itu, di kamar kosannya Gun selalu murung sembari mencari lagi pekerjaan untuk meneruskan pengobatan ibu nya. Harap malah jadi beban dan Gun susah untuk mendapatkan pekerjaannya lagi sedangkan Tera tidak bisa menutupi pengobatan ibu nya dengan penghasilan yang ia terima.

Hari datang dengan dikawal beberapa orang dari kepolisian, itu pun setelah di telepon oleh Tera meminta ijin untuk menghadiri pemakaman ibu kandung nya sendiri, pihak kepolisian akhir nya melunak dan mengijinkan nya. Hari menangis tanpa suara, begitu juga Gun, sedangkan Tera mencoba menahan tangis nya ketika membersihkan nisan yang bertuliskan nama ibu kandung nya Nur dan juga adik kecil nya Cahaya, jenazah kedua nya disatukan dalam satu liang kubur atas permintaan ibu nya. Mereka bertiga menyesali atas tindakan mereka selama hidup yang mereka jalani dan lagi Tera terpukul karena berharap terlalu besar ketika Aya mulai bekerja untuk membantu pengobatan ibu kandung nya.

Gun tidak lagi mengejar karir, kini ia menghadapi hidup nya dengan hidup berdua kakak kandung nya. Mereka berdua pindah ke kota tempat Hari di penjara. Sudah tidak ada lagi yang bisa mereka pertahankan selain ikatan persaudaraan yang masih mereka punya. Kini harapan Tera adalah hidup, hanya hidup untuk menjaga yang masih ada agar tetap dekat untuk selamanya.

Rabu, 03 Februari 2016

Tebet

Dulu disini hidup berlangsung, tempat dimana pertama kurasakan hidup sendiri dari bangun hingga tidur lagi.

Penuh romansa, kerja, dan kehidupan lainnya yang penuh drama yang sudah ada jalannya, mungkin.

Temukan rumah kedua, tempat mencari uang sekaligus melepas lelah, di tempat yang sama.

Dari baratnya sampai ke timurnya ak sudah kurasakan, sedihnya sakit sendiri hingga senyum berdua.

Kenangan sudah jadi kenangan, kini semua masih sama masih pada tempatnya hanya berbeda rasa.

Biar saja disana, biar pada tempatnya, titik awal dari segalanya dari kerja, cinta, dan perkara.

Senyum untuk nanti

Tersenyum dalam hati
Teringat dia yang dinanti
Berpikir kapan bertemu lagi
Sebelum semua berhenti

Kemudian gelap menyelimuti
Terkadang tapi
Karena sedih ini kupaksa tutupi
Biar dia tidak juga sedih lagi

Senyum mu kupakai
Kuat ku hadapi hari
Daripada kau ku jauhi
Sesak kurasa seperti mati

Jika nanti harus berhenti
Akan kupaksa hati
Biar dia mandiri
Memakai senyum tanpa disuruh lagi

Kota aspal

Lagi ku terjebak diantara aspal dan baja, dimana ku melihat deretan lampu rem berwarna merah yang begitu panjang kedepan.

Duduk di dalam sebuah bus, memakai kendaraan umum yang kadang terlalu dipaksakan pemakaiannya hingga terasa panas karena tempat duduk tepat diatas mesin.

Jalur bus dibuat khusus untuk memperlancar laju bus ini pun dipakai untuk laju kendaraan yang lain, yang tak sedikit hanya ada satu orang didalam kendaraan itu.

Heran jika nanti akan ada sebuah kendaraan bawah tanah yang mempercepat laju globalisasi bagi penduduk kota ini dan masih saja kemacetan ini berlanjut.

Langit malam ini mendung dan segera mungkin akan turun hujan, dan segera mungkin akan timbulkan kemacetan tambahan yaitu banjir.

Dimana kita mengadakan beratus kampanye buang sampah pada tempatnya tetapi tidak membuat kampanye pemulihan saluran air.

Sedih jika banjir selalu ada tetapi banyak saluran yang kering, salah fungsi atau merusak fungsi yang ada.

Kota seribu harapan dan beribu kenangan ini tertutup oleh aspal hitam dan kabut asap knalpot yang terlalu indah untuk dinikmati dari kemacetan dan ancaman banjir yang akan datang.

Senin, 01 Februari 2016

Penjual rindu 2

Jalan dalam rintik hujan
Kian jauh dalam kenangan
Malam jadi syahdu
Dengarkan lagu dari yang disayang

Tiap langkah riang berjingkat
Senang merindu
Walau sedih kadang mengganggu
Tapi hilang ditelan lagu

Jauh tak halangi
Kaki ini biasa melangkah
Kadang lelah bercampur letih
Nikmati saja dengarkan lagu darimu

Ramai ramai orang berlalu
Rintik hujan sisakan basah di wajah
Tak perduli dengan semua nya
Ku terlena alunan Ong Ong

Dari rintik hujan turun jadi genangan
Ubah kenangan jadi senyuman
Kaki jadi basah campur kotor
Tersenyum dengar lagu tentang kita

Biar saja nanti mandi
Setelah kuyup ku dimandi hujan
Di hujam seribu rintik air
Lagu demi lagu tetaplah mengalir

Rindu dan kenangan
Lebur jadi satu
Tersimpan dalam nada
Didalam lagu tentang kita

Suara penghilang rindu

Tenang lagi hati ini setelah gempa melanda hatiku dari siang hari ini

Sepotong kabarmu sore tadi lenyapkan gundah

Tetapi pesan yang kau kirim dari rumah pemilik surga mu buatku hilangkan sesak

Dan kubasuh rindu dengan mendengar suaramu malam ini

Walau ku mendengar badai dari hari yang kau alami tadi, tapi tenang kau hadapi

Dengan tenang kau ucapkan salam pertanda akhir hari

Semoga pagi nanti seindah ku mendengar suara mu dimalam ini

Logika hapuskan jiwa

Perang jiwa bertempur dengan logika
Tidak akan ada akhirnya
Bergantian mereka menang dalam perang
Bersimpah darah demi menentukan keputusan
Berharap kepastian dari logika
Atau berperasaan dari jiwa
Kedua ini hampir tidak akan mungkin berdamai
Jika perang telah usai
Salah satu dari mereka akan tunduk kepada pemenangnya
Walau itu kadang berakibat buruk jika tunduk kepada pemenang