Minggu, 31 Januari 2016

Hancurkan

Jika nanti badan ini terbuat dari batu dan tiada aku bisa menggerakkannya

Hendak kah kau hancurkan ku dan meleburku hingga ku bisa bergerak?

Buatku jadi cair, hingga ku bisa memasuki ke sudut kecil negeri ini

Buatku bebas dan mungkin buatku jadi satu dengan sungai, mengalir menuju muara dan menjadi samudera

Hingga nanti terjadi hancur kan lah diriku ini hingga jadi kepingan, hancurkan sampai kepingan terkecil.

Biar mudah nanti kau meleburnya.

Penjual rindu 1

Gelombang cahaya dilumat malam
Kau datang membawa lentera
Mencoba melawan malam tetapi malah ditelannya

Kau datang kembali lagi
Mencoba membuat api unggun

Menata kayu kering setinggi menara
Dan membakarnya

Kau buat api unggun seterang matahari
Tetapi malam lebih besar dari matahari

Dilumatlah habis api besar itu

Kau terus datang dengan segala cara untuk lawan gelapnya malam

Pada akhirnya kau tidak menyadari
Engkau lah cahaya yang tidak bisa ditelan malam

Jikalau nanti kau sadari datanglah sendiri
Usir gelap ini dengan cahayamu

Jikalau kau bersedia untuk bercahaya
Datanglah lagi, datang dan peluklah malam

Biar nanti cahaya mu terangi malam
Merasuk ke kamar ini
Melalui lubang udara dan jendela

Dan menjadi sang penjual rindu

Kembali gelap

Kembali lagi sendiri dan menikmatinya, tersenyum lagi karena kesepian ini.

Kupikir tadinya tidak akan kembali ke keadaan ini, sunyi senyap dan menyenangkan.

Teriak teriak riang seluruh ruang gelap dalam tubuhku, karena mereka menjadi satu keriangan.

Lihat gelap ini begitu berwarna cerah seperti sudah dipersiapkan untuk ini semua.

Kosong yang kembali lagi setelah sekian lama perlahan menjadi menyenangkan, lagi.

Gelap selalu menakutkan, sepi dan menyeramkan, diri ini menjadi bagian dari itu.

Menjadi energi untuk hadapi apapun nanti, apapun, mungkin tidak semuanya bisa ku hadapi.

Ya, tidak semua, kehilangan tidak bisa kuhadapi dengan gelap ini.

Jika nanti kau datang kembali, aku ajak menari di gelap ini menjadi satu menjadi warna dan energi yang baru.

Gelapku menyenangkan, semoga kau nanti ikut merasakan denganku gelap yang kurasa ini.

Nanti juga mati

Kenapa harus lari

Kenapa bukan hadapi

Ini hidup yang pasti

Dan kita akan mati

Jumat, 29 Januari 2016

Rel tanpa kereta

Jalur ini biasanya ramai
Kereta bolak balik tanpa henti
Mengangkut ribuan penumpang
Riuh dengan tatapan dan obrolan

Tak henti rel kereta ini dilalui kereta
Biasanya berhenti menunggu giliran
Kereta pun berbaris seperti upacara
Sabar menunggu masuk stasiun

Semua nya berbeda kini
Rel kereta ini sepi seperti bisu
Tanpa suara decit roda dan rel
Tanpa ada lolongan klakson kereta

Seperti tidak pernah ada kereta yang lewat
Seperti ditinggalkan seluruh rangkaian kereta yang ada
Seperti tidak ada lagi kereta
Seperti dibuat tanpa ada guna

Terlihat bekas roda kereta
Yang pernah melintas hilir mudik
Bekas yang terlihat menahun
Seperti sudah lama ditinggal

Kenapa kereta kereta itu berhenti
Dan rel kereta ini terbujur sepi
Tidak adakah lagi penumpang kereta?
Atau tidak ada lagi kereta?

Rel kereta ini hanya diam
Entah menunggu kereta melintas
Atau hanya nikmati sepi yang ada

Kereta pasti akan melintas lagi

Menurutku

Entah kapan itu terjadi.

Tangis?

Terbangun di pagi ini dengan tanpa sadar ku mengusap mata, apakah ku menangis semalam tadi?

Ku tegarkan ingatan ku untuk mengingat apa yang terjadi semalam, dan tak ingat ku menangis.

Limbung diriku mengingat ingat apa yang terjadi, apalah ku bermimpi sedih dalam mimpiku dan menangis tanpa sadar?

Baru satu hari dimana dunia tampak beda, kupikir tidak perlu lah berpikir berat seperti biasa.

Satu hari tidak ada jaminan untuk dirimu berubah selamanya, ini mungkin hanya kebetulan.

Ku kembali berpikir tentang semalam dan lagi tidak ada apapun yang ku ingat.

Tapi dirimu akan pergi, mungkin inilah tangis ku berasal.

Kamis, 28 Januari 2016

Rasaku dibunuh

Sejenak hening tak ada gelombang
Bahkan udara enggan menjadi angin
Suara tak terdengar
Bagai tuli rasanya

Jantung berdetak pun tak terdengar
Kosong ini bagai hampa
Tapi tidak menyesakkan
Masih kuhirup udara ini

Aku bergerak bahkan tak bersuara
Seakan tak kurasa udara di kulitku
Berbicara pun tak keluar apa apa
Seakan semua pelan dan akan berhenti

Inikah mati rasa?

Di sini sejuk

Musim semi mereka diluar sana

Panas kata nya

Di sini mendung tak berkesudahan

Kenapa tidak kesini

Kurang lebihnya, kurang

Kurang lebih tidak ada yang kurang
Tapi nyata nya selalu kurang
Kurang saat waktu nya tidak lebih
Juga karena memang kurang tepat

Kadang waktu disalahkan
Kuantitas dipertanyakan
Padahal kualitas bisa membuat lebih
Jika kuantitas selalu kurang

Yang sudah lewat tidak bisa ditambah
Yang lebih tidak bisa dikurangi
Karena waktu nya kurang
Tidak bisa lagi dilebihkan

Mengurangi yang lebih itu tidak bisa
Karena berlebihan jika harus dikurangkan
Kualitas lah yang harus dilebihkan
Jangan permasalahkan kuantitas

Lebih kurang nya terimakasih
Terima saja jika nanti kurang
Jangan dikembalikan jika lebih
Mengerti sajalah kurang lebih nya

Kuantitas suatu kualitas jangan berlebihan
Suka menjadi kurang nantinya
Dan meminta lebih
Berlebihan akhirnya minta dikurangi

Kurang kurangi lah yang berlebih
Tapi jangan sampai merasa kurang
Jangan terus diulangi
Karena berlebih kita merasa kurang

Rabu, 27 Januari 2016

Gerimis mengundang

Derai gerimis menuntun ku untuk menguntai kembali ingatan akan stasiun ini, disaat ku menoleh untuk melihat nya pagi itu.

Sesosok yang kulihat yang sekarang menjadi penghuni pikiran ku, yang tentunya dia bebas keluar masuk seperti layaknya manusia menghuni sebuah rumah.

Tidak ada ingatan akan gerimis diantara kita, keadaan ini lah yang memaksa keluar semua ingatan tentang dia, semuanya.

Sosoknya yang membuat diri ini melakukan hal yang pertama kali ku lakukan di sepanjang ku hidup, yang membentangkan senyum di wajah ini.

Seakan titik titik hujan ini mulai merontok kan atap rumah yang menyimpan semua kenangan, dan menyembul lah semua nya ke udara mengisi kepala ini dengan cuplikan adegan yang pernah terjadi.

Rambutnya, senyumnya, wajahnya hingga tingkah lakunya terbayang jelas. Namun nyatanya mungkin akan jadi sulit untuk melihatnya langsung.

Gerimis ini reda dengan sendiri nya, tapi ingatan tentang nya masih menyala nyala dengan terang nya setelah lepas dari rumah ingatan yang menyimpannya selama ini.

Sepanjang jalan ini akan kunikmati tiap cuplikan nya, dan kupakai senyum yang diberi nya agar dia tersenyum juga disana jika dia merasakan gerimis yang membuatnya mengingat segala hal tentang kita.

Mengejar Mari

Kematian kadang tidak bisa dihindarkan dan pada saat itu kita yang masih diberi kesempatan mendoakan yang tiada. Kematian juga berarti perpisahan yang dimana berpisah selama lama nya, tidak akan bertemu lagi sampai kita juga bertemu dengan kematian itu sendiri. Kesedihan dengan yang sudah tiada selalu mendatangkan kesedihan yang mendalam, karena mungkin kita punya keterikatan yang mendalam. Keterikatan yang mendalam yang membuahkan perasaan memiliki, entah itu keluarga, kerabat, atau pun teman.

Bisma selalu mengujar bahwa dia tidak selalu mengeluh setiap pagi, setiap dia datang ke kantor, tapi kelakuan dia yang kadang sekelilingnya melihat Bisma selalu mengeluh, setiap pagi. "Yaudah sih, saya kan cuma merasa capek aja karena perjalanan saya lebih jauh dari kalian, jadi gak masalah kalo saya mengerutu dan suka sedikit terlihat tidak menyenangkan" cerocos Bisma ketika Dika menghardiknya.

Dika tidak pernah suka dengan pembawaan Bisma yang kadang berujung membuat seisi ruangan kantor tidak betah atau kesal setiap pagi, "yasudah lah Bis, kalo kamu merasa kayak gitu mending kamu cari kos atau kontrakan dekat sini" memberi solusi adalah cara yang jitu untuk menenangkan Bisma saat ini menurut Dika.

Bisma melihat Dika yang sedari tadi vokal untuk membicarakan masalah ini. Ya betul, ini sudah menjadi masalah, lebih lagi ini sudah menjadi masalah publik kantor penerbit buku cerita anak atau novel yang dimana banyak penulis atau pekerja gambar yang menuntut mood bagus untuk kerja. Mood yang dimana dihancurkan oleh Bisma sang pembuat gambar idola di kantor itu, tapi sering membuat orang lain merasa berantakan paginya ketika Bisma datang dengan segala keluhan nya yang tidak diucapkan namun diperlihatkan dengan sikapnya.

"Mereka tidak akan kuberitahu bahwa selama ini aku naik angkutan umum karena ongkos nya jauh lebih murah, tapi apa perduli mereka jika kuberi tahu ini semua" Bisma tidak lagi menanggapi protes teman teman mereka termasuk Dika. Salah satu korban lagi adalah seorang gadis magang sebagai pembuat gambar yang ditunjuk untuk menjadi asisten Bisma. Dia merasa Bisma memberi aura negatif, karenanya Bisma selalu datang terlambat dan itu menghilangkan banyak waktu baginya.

"Mari, ikut saya untuk mendengarkan revisi dari kepala desain" ajakan Bisma membuat Mari anak magang tadi buru buru menyambar buku yang bertuliskan "revisi", sebuah buku untuk mencatat semua revisi an dari kepala desain. Padahal sudah dari tadi pagi betul Mari menyiapkan segala hal nya, untuk membantu Bisma yang akhirnya datang telat.

Bisma selalu makan di ruangannya, lebih tepatnya di meja kerja nya yang sedikit besar, sedangkan Mari selalu membeli makan diluar. Kekesalan Mari selanjutnya adalah kadang meja kerja Mari selalu di datangi sampah sampah dari hasil makan Bisma. "Mas Bisma! Sampahnya dong!" Hardik Mari yang kadang jadi lelucon buat Bisma, "iya nyonya, lagi pula itu juga meja saya jadi ya tidak apa apa kan?" Ya memang betul, meja Bisma itu lumayan besar seukuruan 2 setengah meja kantor biasa. Tapi tetap saja dibereskan oleh Bisma selesainya Bisma makan, ini lah sikap gentle yang membuat Mari kepincut. Walaupun negatif orangnya tapi tindakan tindakan kecil dari Bisma membuat Mari menyukainya.

Kadang Dika sering nimbrung ke meja Bisma untuk membahas tata letak isi buku yang mau dicetak, "Bis, mending kamu kos deket kosan nya Mari tuh, kalo gak salah murah kok gak sampe satu setengah juta daripada bolak balik rumah orang tua kamu" celetuk Dika yang sedang memeriksa tata letak halaman buku yang sedang dikerjakan oleh Bisma, "memangnya ada Mar yang Dika bilang tadi?" Selidik Bisma yang tidak mau percaya omongan Dika karena itu hanyalah bualan agar Bisma bisa lebih cepat datang dan tidak mengeluh pada saat pagi.

"Hey Marimar! Ditanya malah diam saja sih?" Mari yang dari tadi berpikir akan pulang dan berangkat bareng Bisma menjadi terdiam, apalagi di panggil dengan nama yang menurut Mari itu adalah panggilan sayang Bisma terhadap Mari, padahal itu hanya buah canda dari Bisma untuk akrab dengan anak magang nya itu. "Iya mas, ada kok, tempatnya bebas, rapih, kamar mandi ada di dalam, kasur ada, lemari ada, kunci gerbang pegang sendiri sendiri, tidak ada jam malam, bisa cuci juga, boleh pesen makan, minum air bebas, tidak ada uang listrik atau air tambahan, boleh bawa komputer, boleh ba..." "hei! Sabar Mar, jangan cepat cepat, lagipula kamu tahu betul sepertinya?" Potong Bisma yang gerah dengan penjelasan cepat dan gugup ala Mari jika sedang grogi, Mari pun terdiam setelah omongannta dipotong Bisma, "soalnya... temen saya kos disana, ijin sebentar mas ke toilet" dengan terburu buru Mari meninggalkan Bisma dan Dika karena menutupi muka nya yang memerah.

Bisma akhirnya memikirkan semua penjelasan dan penawaran yang dibicarakan oleh Dika dan Mari, dengan penuh tanya akhirnya Bisma memutuskan untuk melihat tempat kos yang dijabarkan oleh Mari. "Oke Mar nanti saya bareng ya sama kamu, antar saya ke tempat kos itu pulang kantor nanti" dengan gugup Mari hanya menjawab sekedar nya untuk menyetujui, Bisma masih belum melihat bahwa Mari menyukai Bisma.

Mereka akhirnya jalan kaki untuk mencapai tempat kos itu, tidak banyak percakapan diantara mereka karena Bisma sudah larut dengan deretan lagu yang sudah sering dia dengar, padahal Mari mencoba untuk membuka obrolan demi mencairkan suasana. Hanya berselang 15 menit jalan kaki dari gedung kantor mereka, sudah sampai di tempat kos, tapi tempat kos Mari. "Ini tempat nya Mar?" Tanya Bisma setelah tersadar dari timbunan lagu lagu yang dia dengarkan, "bukan mas, ini kosan saya, saya mau ganti baju dulu sebentar kalo mau mas Bisma tunggu tapi kalo tidak kita langsung ke tempat kos nya" dengan penuh harap Mari menjelaskan, maksudnya adalah memperpanjang waktu dia bersama Bisma "yasudahlah hak kamu juga buat ganti baju, memang nya masih jauh?" Tanya Bisma yang memang letih kaki nya berjalan dari kantor, "tidak begitu jauh, letak nya di ujung gang ini, kalo mau silahkan masuk mas tunggu di depan kamar kos ku saja" Bisma mengangguk karena memang sudah lelah dia berjalan yang menurut dia jauh padahal memang saja dia belum terbiasa berjalan sejauh itu belakangan ini.

Mari dengan senang membuatkan minuman dingin untuk Bisma yang sedang menunggu di depan kamar kos nya, "lho kenapa mesti repot bikin minuman dingin? memang nya kamu bakal lama ganti baju nya Mar?" pertanyaan Bisma membuat Mari salah tingkah karena memang benar Mari jarang sekali memperlakukan tamu nya sebegitu spesial nya, "tidak mas, tidak lama, saya cuma tidak enak saja sama mas Bisma" seraya Mari masuk dan segera melepas baju serta rok panjang yang dia pakai, "Mar pintu nya tidak di tutup? memang biasa nya seperti ini ya?" tegur Bisma karena mendengar Mari membuka pintu lemari pakaian nya.

Mari pun merah padam muka nya melihat pintu kamar kos nya masih terbuka lebar. Dengan sigap Mari loncat sambil menutupi badannya dengan handuk besar dan segera menutup pintu dengan keras, suaranya mengagetkan Bisma yang sedari tadi menyeruput minuman yang diberi Mari, "maaf mas saya lupa, maaf juga pintu nya saya tutup kencang kencang....aaaaaaa" seketika Mari terjatuh karena handuk nya membelit kaki Mari yang tidak beraturan langkahnya, spontan Bisma terbangun dan mengetuk pintu kamar, "Mari! kamu kenapa? kamu tidak apa apa?" "tidak apa apa mas, saya hanya terpeleset, jangan masuk mas saya tidak pake apa apa....." seketika muka mereka berdua merah padam dan terdiam.

Setelah Mari selesai mengganti setelan baju kerja dengan setelan baju biasa mereka berangkat kembali menuju tempat kos yang sudah ditentukan. Mari dan Bisma masih terdiam, karena kejadian tadi membuat Bisma tidak bisa berbicara apapun dan menjadi salah tingkah, bahkan untuk kembali mendengarkan lagu nya pun tidak. Sedangkan Mari terdiam sambil berjingkat jalannya, sepertinya kaki kanan nya sedikit terkilir saat dia jatuh tadi. Bisma melihat hal ganjil tersebut dan berusaha mendekati Mari yang berusaha berjalan di depan Bisma untuk tidak memperlihatkan wajah nya yang selalu merah ketika grogi, dengan sedikit keberanian Bisma mencoba memapah Mari dari samping kanan, spontan Mari meloncat ke samping kiri dan hasilnya dia terjatuh karena hilang keseimbangan. "duh kamu Mar kenapa mesti kaget dan loncat sih? saya kan gak mencoba buat kamu 

Dengan segera Bisma mencoba membangun kan Mari yang tersungkur, "maaf mas saya kaget, tidak biasa juga saya diperlakukan seperti itu, aduh!" seketika mereka berdua sadar bahwa kaki kiri Mari terkilir juga, "hmmm, jadi dua dua nya kan yang terkilir, yasudah saya gendong kamu saja" dengan sigap Bisma menggendong Mari di punggung nya, Mari kelabakan dengan perlakuan Bisma yang begitu perhatiannya, "mas mending saya tunjukan saja deh arah nya biar mas Bisma ke tempat nya sendiri saja daripada saya digendong seperti ini" ucap nya dengan sedikit marah,
.
Walaupun Mari suka terhadap perlakuan Bisma tetap saja Mari merasa tidak pantas diperlakukan seperti itu. Mari walaupun bertubuh kecil tapi tetap saja tidak mau dimanja atau diperlakukan seperti orang lemah, dia tumbuh untuk menjadi mandiri walau tingkah lakunya seperti anak yang selebor. "sudahlah Mar, saya tidak suka dengan orang yang menjalankan tugas nya setengah setengah, kamu yang memberi usul tempat ini dan harus kamu yang menyelesaikan nya juga" Mari tidak mencoba untuk membalas perkataan penanggung jawab program magangnya di kantor, sedangkan Bisma dengan gagah nya menggendong Mari tanpa kesulitan.

"Ini mas tempatnya, sekarang saya minta tolong untuk diturunkan tidak enak nanti kalo tiba tiba teman saya keluar dan melihat saya seperti ini" tutur Mari malu malu, diturunkannya Mari dari punggung Bisma dan segera duduk di bangku yang ada di samping pintu besi kecil berwarna hitam yang ditempel tulisan "terima kos! harap pencet bel! jangan gedor pintu!" tersenyum Bisma melihat tulisan itu. Setelah bertemu dengan pemilik kos nya, Bisma tertarik untuk tinggal di tempat kos itu walaupun dia harus meninggalkan kebiasaan nya yang selama ini sudah terjadi setiap pagi nya, dia selalu berkata, "meninggalkan sesuatu itu berarti menyambut sesuatu yang baru" mungkin kali ini sesuatu yang baru itu adalah Mari.

Setelah dari tempat kos baru Bisma, Mari digendong kembali untuk balik ke tempat kos nya. Hanya sebentar kaki Mari diurut sedikit oleh Bisma, menurut Bisma tidak parah walaupun Bisma tidak tahu urusan mengurut tapi tidak ada yang fatal terjadi di kaki Mari. Semenjak malam itu, Mari dan Bisma semakin dekat karena mereka berangkat dan pulang selalu berbarengan, mereka pun saling bertutur kisah dan sesekali mereka menghabis kan larut malam hanya untuk bercerita hal hal yang terjadi di kantor, karena tetap saja Mari harus mencuri ilmu dari tempat magangnya itu, sekalian Mari juga mencuri pandang dan cinta nya Bisma.

Hubungan mereka dianggap hal yang positif bagi karyawan kantor yang lain, termasuk Dika, dia menganggap Mari memberi hal baru terhadap Bisma. Yang biasa nya Bisma selalu mengeluh sekarang selalu ceria, kerjaan nya pun lancar dan hubungan dengan Mari pun tidak mengurangi kinerja Bisma di kantor, "gitu dong, antara penanggung jawab dan anak magang harus ada ikatan, biar bisa saling bahu membahu menyelesaikan pekerjaan" celetuk Dika ketika lewat tepat di belakang Mari dan Bisma "senangkan diri mu melihat saya sudah tidak lagi mengeluh pagi pagi?" terdengar tawa Dika menjauhi mereka berdua, Mari terlihat tersenyum menanggapi ucapan Dika.

Sampai suatu hari dimana Bisma kaget mendengar cerita dari Mari, "lho kamu selesai dari sini tidak lanjut kerja disini? program magang disini kan setelah lulus magang akan diberi pekerjaan selama 3 bulan dihitung dari kamu lulus kuliah, kenapa kamu harus pergi keluar negeri untuk lanjut kuliah?" dengan nada bicara sedikit kencang Bisma mempertanyakan keputusan Mari "aku kan sudah pernah cerita tentang ini mas, aku akan pergi, maka dari itu terkadang aku merasa berat ketika harus memikirkan masa depan" Mari tidak punya hak untuk melawan keputusan yang sudah ditetapkan oleh keluarga nya yang membiayai kuliah lanjutan di luar negeri untuk nya.

Walaupun Bisma tahu dia akan berpisah setelah mereka merasa saling memiliki, tapi tidak menyurutkan kisah cinta mereka, semakin hari mereka semakin dekat. Setelah pulang ke tempat kos nya masing masing, mereka akan mengusahakan waktu malam mereka untuk bertemu, kadang di tempat kos nya Bisma dan kadang di tempat kos nya Mari. Terkadang sampai tertidur, jika sudah seperti itu biasanya setelah subuh Bisma atau Mari akan pulang ke tempat kos nya. Bisma pun sampai mengajak Mari untuk bertemu keluarga nya, sedangkan orang tua Mari pernah bertemu dengan Bisma ketika Mari dilanda demam yang cukup parah.

Hampir tepat 4 bulan Mari magang di kantor nya Bisma, bertindak sebagai asisten di pekerjaan nya dan juga asisten hidup nya. Mari terhitung spesial di tempat kerja Bisma, bukan karena hubungannya dengan Bisma yang membuat Bisma menjadi lebih baik dan di setujui oleh seluruh karyawan yang ada serta atasan Bisma, tapi kinerja Mari yang profesional dan rapih membuat atasan Bisma memperpanjang waktu magang Mari. Beberapa minggu terakhir menjadi saat yang berat untuk Bisma, sesekali dia tidak menempati kamar kos nya, malah berangkat dari rumah orang tua nya, begitu pula hal menggerutu nya. Mari beberapa kali pun tidak mau bertemu Bisma dengan alasan mengetik laporan magang dan tidak bisa diganggu.

"Mari sudah semua nya aku masuk kan ke dalam kardus, masih ada kah yang tertinggal?" sahut Bisma sedang merapihkan kamar Mari karena dua hari lagi Mari akan keluar dari kantor, sebagian barang barang nya mau di kirim ke rumah orang tua Mari agar dia tidak kerepotan saat hari terakhir di kantor. "Sudah mas, aku juga sudah mempersiapkan untuk dua hari kedepan nih, tinggal dibersihkan dan sudah kita bisa keluar makan" beberapa kali mereka menghabiskan waktu akhir pekan bersama sama dan sekarang adalah akhir pekan terakhir mereka untuk bersama. Mari akan pergi ke Jepang, program kuliah nya dilanjut kan kesana untuk memperdalam jurusan yang Mari tekuni. Mereka berdua merasa tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh dan juga Mari akan segera dicalonkan dengan anak dari kolega saudaranya.

"Andai kamu mau mas ikut aku ke Jepang, temani aku disana" "tidak lah Mar, aku sudah tidak bisa lagi menggapai mu, kau pun nanti akan dikenal kan sama anak dari orang jepang itu kan?" lirih Bisma sambil menyeruput minuman dingin kesukaannya, minuman yang disuguhkan waktu Bisma datang ke tempat kos nya Mari pertama kali. "Tapi kan masih tahap perkenalan mas, belum tentu jadi, masih wacana juga kan?" bela Mari yang masih ingin Bisma ikut ke Jepang, "sudahlah Mar, kalaupun memang masih wacana tapi kan urus hidup disana susah, gak cuma satu atau dua hari, apalagi urus yang lain lain, lagi pula men...." "meninggalkan sesuatu itu berarti menyambut sesuatu yang baru, itu yang mau kamu bilang kan mas?" potong Mari yang sudah menekuk muka nya sedari tadi. "Aku tidak mau menyambut sesuatu yang baru jika itu harus meninggalkan kamu mas!" tegas Mari sambil mencubit kecil tangan Bisma, "aku pun juga Mar, jika itu bisa aku lakukan".

Hari itu pun tiba, disamping kiri Bisma tempat Mari bekerja sudah kosong. Walaupun Bisma masih tetap menempati kamar kos nya tetap saja tidak bisa merubah yang ada, sesuatu yang baru yang membuat Bisma meninggalkan sesuatu itu pun telah hilang. Mari belum sepenuh nya pergi dari hidup Bisma, karena beberapa kali masih ber-komunikasi, Mari masih belum berangkat ke Jepang karena mengurus urusan kampus nya untuk pindah ke Jepang. Bisma beberapa kali menceritakan betapa berat nya hidup saat Mari tidak ada di samping Bisma lagi, begitu pula Mari, walau sibuk kesana kemari tetap saja berharap bahwa Bisma bisa ikut ke Jepang dan hidup disana.

Dua hari menjelang Mari berangkat ke Jepang, Mari kehilangan kontak dengan Bisma, Mari berpikiri bahwa Bisma tidak tahan jika harus ucapkan selamat tinggal. Obrolan terakhir Bisma adalah "yang ikhlas lah nanti jika bertemu dengan pemuda Jepang itu, jangan mau minum sake nanti kamu mabuk dan joget ala grup idola yang ada di jepang itu, jadi lah lebih baik untuk sesuatu yang baru seperti aku memutuskan untuk tinggal di kos" hanya pada saat saat terakhir Mari baru tahu alasan sebenarnya Bisma mau tinggal di tempat kos dekat kantor, tapi itu sudah percuma, Bisma tidak bisa di kabari, orang tua nya pun tidak tahu Bisma ada dimana, tapi masih berangkat ke kantor.

Menjelang berangkat ke bandara, Mari merasakan apa yang dirasakan Bisma, yaitu perih saat ditinggal. Mari merasa Bisma meninggalkan nya terlebih dahulu sebelum berangkat ke Jepang. Ketika di bandara pun berharap Bisma datang dengan ceria untuk ikut atau hanya mengantar Mari untuk yang terakhir kali nya. Barang barang yang besar sudah di masuk kan ke dalam pesawat saat check in, tetiba telepon genggam Mari berbunyi, dengan senyum Mari mengambil telepon nya berharap dari Bisma, ya setidak nya mengucapkan kata kata terakhir.

Tapi nomor ini bukan nomor telepon genggam Bisma tapi dari Dika, "Halo Mari! ini Dika, kamu sudah di Jepang?" tergesa gesa terdengar suara Dika, "belum mas ini masih di bandara, baru mau masuk, ada apa mas?" jawab Mari heran, apa ada yang salah dengan kantor? "Mar, Bisma meninggal, dia kolaps kecapean, dia meninggal di kamar kos nya dengan laptop menyala sedang mengerjakan pekerjaan sampingan, saya pernah dengar dia ambil pekerjaan itu untuk masuk perusahaan di Jepang".

Selasa, 26 Januari 2016

Mendengar tawa

Biarlah kudengar tawa mereka
Saat canda tawa mereka bagikan

Tak usah ku rindu kan itu
Disini pun kadang ku tertawa

Tak tahu jika ruangan ini bisu saat ku membutuhkan tawa, disaat itu pula mungkin ku kan berpisah

Diam kini tak hanya malam lagi
Sekarang sepi tak lagi kenal waktu
Semoga merela bahagia dalam sepiku

Arungi

Terhempas
Terombang ambing
Keadaan kita tak pernah stabil dalam arungi ombak nya kehidupan

Jika lautan hidup terasa tenang
Segerakan diri untuk hadapi badai masalah yang akan menantang

Dan nikmati lah tenangnya nanti setelah badai
Jangan terlena karena ombak ombak kehidupan akan segera datang kembali

Berjuanglah
Berjuanglah
Sampai nanti kau lelah bertualang di luas nya samudera hidup
Setelah itu pergilah berlabuh

Kemasi semua nya kembali, pulihkan jiwa mu lagi, ketika segar kembali lah berlayar

Arungi lagi ganas nya samudera kehidupan dengan lantang

Sampai nanti saatnya kau berlabuh untuk selama nya di pelabuhan terakhir samudera kehidupan.

Semoga sama

Susah ku berpikir
Karena selalu cemas
Dengan semua yang tidak seharusnya

Kepala ku panas seperti disiram air panas
Dada ini kembang kepis mengatur nafas agar tidak sesak

Dimana gerangan berada yang senantiasa buat ku tenang
Yang buat degup jantung ku normal

Disini ku cemas dan resah
Semoga kau rasakan hal yang sama

Semoga kita masih di gelombang yang sama
Seperti yang biasa kita bicarakan

Ingin Tahu

Terbangun pukul empat pagi
Merasa kosong kembali
Tak berani ku mencari
Mungkin ditempat si lelaki

Khawatir makin menjadi
Secuil kabar pun tak diberi
Apa mungkin tak tahu kalau dinanti
Sepotong pertanda pun itu berarti

Inilah sepi yang dirasa pagi
Ketika kalut menyelimuti
Harus dihadapi dengan berani
Fana nya sebuah dunia ini
Arsipkan rindu untuk usir sepi

Terasa dingin seperti mati
Alihkan angin yang menggigit kaki
Layak nya tertidur didalam peti
Amati diri yang merindumu lagi

Obati rindu dengan memeluk hati
Hanyalah sebentar kuendus lagi
Untungnya masih terasa hingga kini

Senin, 25 Januari 2016

Senyum kosong

Menyusuri tangga dan menatap ruang kosong dengan senyum.

Akhirnya kembali lagi sendiri di ruang ini.

Kali ini tersenyum, mungkin karena mendengar kabar.

Atau hanya lelah kaki ini melangkah dan pikiran ini diperas sampai kering.

Akhirnya merindu kan menyendiri dan kasur yang kosong.

Aku tahu akhirnya yang kau bilang sedang diam itu seperti apa.

Sebelum aku menulis ini, aku diam sejenak.

Besok tak tahu apakah sendiri ini aku nikmati lagi.

Atau aku tidak lagi sendiri untuk menikmati nya?

Terimakasih malam atas kabarnya, semoga pagi berlaku sama seperti malam.

Kosong

Dalam diam ini perlahan menusuk nusuk jiwa.

Merusak keseimbangan tenang yang ku dapat.

Dalam sunyi ini aku terperosok ke dalam palung terdalam.

Sesak mengikuti nya kemudian dan dalam seketika mati.

Dalam bungkam ini ku layu dalam kekeringan.

Tak ada setetes air yang menetes ke sekitar tanah ku.

Dalam hampa ini ku menciut mengecil.

Kemudian akan menghilang karena tekanan ruang hampa.

Dalam kosong ini aku melayang tanpa arah.

Tak pasti yang mana atas dan bawah hanya melayang tanpa kepastian.

Dalam diri ini aku perlahan hilang.

Hilang menjadi butiran, perlahan lahan hingga nanti nya akan hilang.

Dalam waktu ini aku akan tersenyum.

Menikmati semua yang tiada, yang tidak akan pernah ada.

Dalam hidup ini aku bersyukur.

Untuk menikmati yang ada, yang pernah ada, yang tidak pernah ada, yang tiada, dan yang tidak akan ada.

Minggu, 24 Januari 2016

Bau tubuhmu

Selalu saja ada yang mengingatkan tentang dirimu dan kita.

Kadang datang dari yang tak disangka.

Kadang dari apa yang kita baca.

Kadang dari apa yang kita tonton.

Kadang dari apapun yang kita rasa.

Dan kali ini datang dari bau.

Yang berbekas.

Yang tertinggal.

Yang membuat ku nyaris gila.

Karena ku merasa dipeluk mu.

Dipeluk bau tubuhmu.

Berjarak dua angkutan

Jika kau masih disana
Aku masih bisa berjumpa

Hanya dua kali
Dua kali naik kendaraan umum

Sekali kopaja
Dan sekali angkutan kecil

Hanya karena janji ku
Untuk tidak bertemu

Sedikit ku langgar
Dengan menantang Duel Otak

Sungguh berat memang
Tapi ini kesungguhan ku

Jika nanti bertemu
Dengan sebuah kesiapan

Maka tidak lagi ada jarak
Tidak ada lagi berjauhan

Nikmatnya pahit

Inilah cemas sang darah tinggi
Tak lagi nikmat menyeruput kopi

Dua cangkir kopi
Dan dicengkram kepala saya

Nikmat rasa pahitnya
Tapi sakit akhirnya

Ku seruput pelan
Sisa cangkir kedua

Mubazir jika ku sisa kan
Walau cengkraman masih terasa

Biar lah sehari ini saja
Dua cangkir kopi pahit

Lebih baik dicengkram kopi
Daripada dicengkram rindu

Bertemu yang dulu

Sekumpulan orang tua
Bersama sama kembali
Bercerita tentang sekarang
Dan yang dulu lagi

Beberapa memesan makan
Sisanya memesan minum
Dua gelas kopi hitam
Tanpa gula

Cerita mereka seputar hal hal biasa
Bercerita ria tentang yang dikenal
Sesekali tertawa, sesekali diam
Diam mendengarkan

Syahdu dalam cerita
Ramai mendengarkan
Karena bersahut bercerita
Apapun yang terlintas

Inilah cuitan yang sebenarnya
Sebuah aplikasi kehidupan
Temu kangen yang ada hasil
Pada akhirnya dunia ini sempit

Berbatang rokok dihisap mereka
Sudahlah mereka sudah biasa
Walau sudah tua
Senyum mereka lah yang berharga

Semoga ini pertemuan jadi abadi
Walau pernah hilang lalu
Biar senyum mereka tidak lepas
Disetiap pertemuan yang ada

Cerita untuk seseorang nanti

Hay kau disana, kubaca habis cerita tentang gadis jeruk.

Secuil cerita tentang kita ada di beberapa baris cerita itu.

Dan kau selalu berkata kita ini keren.

Setelah kubaca habis cerita tentang gadis jeruk.

Akan ku katakan dengan lantang dan menyetujui nya.

Kita keren! Jika nanti kita bertemu lagi dalam satu kesiapan.

Kesiapan yang telah kita setujui nya di malam "terakhir" yang kita lalui itu.

Semoga cerita kita akan bisa menjadi kisah menarik untuk seseorang nantinya.

Ya, cerita untuk seseorang yang kita cintai nanti.

JZ10LEV

Bapak ku
Seorang hebat

Berteman di udara
Bersahabat di darat

Berpikir kolot kadang
Namun luwes bersosialisasi

Jiwanya pemimpin
"ing madyo mangun karso"

Malu dalam berpendapat
Giat dalam berkegiatan

Dialah hebat
Si engkong JZ10LEV

Sabtu, 23 Januari 2016

Ikh...

Berkas cahaya langit menjunjung tinggi ke angkasa, sinarnya bahkan silaukan semua.

Tidak membutakan namun terang nya membuat matahari siang terlihat seperti senja.

Walau terang tapi tidak membakar seperti siang, malah menyejukkan layaknya subuh.

Berkas cahaya tidak mungkin lama, tapi tak pernah terlupa.

Dan kau bukan seberkas cahaya yang ku ceritakan, melainkan ikh...

Datang dan pergi

Lara datang bawa nestapa
Tanpa diundang dia selalu ada

Bahagia datang bawa ceria
Selalu malu datang walau diundang

Dendam merekah diikuti amarah
Datang memburu ketika bertemu

Semua nya akan berlalu ketika hilang semua rasa

Kecuali cinta darimu

Ketika kau akan pergi menghilang
Cinta mu abadi bersama kenanganmu

Rel kereta

Tentunya, ini lah yang nanti tidak akan terjadi.

Sepasang rel kereta yang berubah menjadi sebuah rel kereta.

Bukan terpisah karena itu hal yang biasa.

Inilah yang terjadi, hal yang biasa yang kita berdua selalu benci.

Karena merasa kita berbeda dari yang lain.

Tetapi kita ini sepasang rel kereta yang biasa.

Menjadi sebuah jalur kereta, selalu berdampingan tapi tidak pernah bersatu.

Jika melihat bersatu, tidak akan sampai jauh, karena itu hanya sebuah pergatian, pada akhirnya.

Kita berbeda karena kita adalah jalur bagi kereta memori yang selalu melewati pemandangan yang belum kita lalui.

Sampai akhir persimpangan kita pun kereta ini masih selalu diberi pemandangan yang baru.

Ya, persimpangan terakhir.

Seperti ini, pada akhirnya kita adalah sebuah rel kereta yang biasa.

Jumat, 22 Januari 2016

Arungi

Lihat sungai alirnya deras
Tidak ada ikan berenang disana
Yang terlihat hanya di pinggir sungai
Dimana tenang alirnya

Lihat derasnya hidup
Sedikit orang berada disana
Banyak dari mereka menepi
Dimana tenang hidup mereka

Tidak ada yang salah
Namun jarang yang benar
Mereka yang terlalu berani
Dan mereka yang tidak mau perduli

Berenanglah arungi arus
Jika lelah menepilah
Jangan terlalu lelah nikmati arus
Atau terlena dengan tenang sungai hidup

Tidak ada

Seraya berdoa
Kini hanya bisa nikmati saja
Yang ada
Nanti biar saja apa adanya
Atau tidak adanya

Hadir

Seraya diam dia melangkah
Kadang lunglai, kadang tegap
Tapi tak pernah membuka kata

Jauh bukan lah alasannya
Tapi raga nya yang menjadi sebab
Badannya menjadi berat
Berat karena hati nya penuh sesak

Pandangan nya tak pernah jelas
Sesekali dia melihat lurus
Terkadang tidak melihat
Bukan memejam tapi gelap terlihat

Menuju kemana juga bukan alasan
Karena pulang tak harus ke rumah
Dan rumah bukan berarti tempat tinggal

Dalam diam dia berdoa
Disetiap langkahnya dia ucap di hati
Berdoa sama setiap jejaknya
Semoga didengar kepada yang kuasa

Kini hadir itu bukanlah ada ditempat
Bukan hanya raga nya saja
Bagi dia kini hadir itu berbeda arti

Hadir adalah suatu keberadaan dimana jiwa dan raga berada di tempat yang sama

Dan kini dalam senyum
Dia sembunyikan arti itu
Agar semua tidak lagi melihat dia
Melihat dia berbeda

Senyum sebuah mata

Seorang joker atau badut selalu tersenyum jika berkerja, malah yang lebih hebat dia akan tersenyum walau sedang tidak berkerja.

Senyumannya menutup semua rasa yang ada, bahkan jauh lebih baik, mengganti rasa yang ada.

Bukan menjadi baik atau bahagia, tapi tidak terlihat jelas dia bahagia atau tidak bahagia, takut atau tidak takut.

Senyum membuat seisi kota melihat kita dengan berbeda, padahal hanya menarik otot yang ada di pipi.

Tidak ada makna sebenarnya, mungkin karena manusia harus memiliki perasaan maka gerakan tersebut dinamakan senyum, dan diberi label bahagia atau senang.

Senyum juga kadang membahagiakan orang lain yang melihat, tetapi mereka tidak atau apa yang ada di balik arti senyum itu.

Walau bibir menyunggingkan senyum dunia sekitar kita akan melihat kita bahagia.

Walau pun seperti itu, hanya mata yang tidak bisa bohong dari apa yang kita rasa.

Senyum lah dengan sungguh agar mata mu ikut tersenyum, agar mereka tidak tahu remuk redam kita didalam.

Kamis, 21 Januari 2016

Festival jiwa

Senyum menyungging di pinggir bibir ini, seakan dunia akan meledak penuh dengan warna.

Ramai riuh kepala ini dengan sahutan yang tak kunjung reda sampai sampai dada ini sesak dibuat nya.

Festival dibuka di jiwa ini, banyak yang berkunjung hingga penuh tak bisa bergerak.

Saling berebut menaiki wahana komidi putar, yang hanya berputar tiada hentinya, beberapa tidak mau turun.

Dada ini riuh dengan gemuruh yang seakan akan menyempit karena tidak ada tempat lagi.

Sesak berjejal penuh dengan berbagai kata yang berloncatan dan kembali jatuh karena ramai ramai mereka datang.

Inilah dunia yang lama tak dijumpa dimana semua penuh riuh tiada yang terdiam, semua bersuara saling melempar kata.

Gelora gelora yang ada sedikit demi sedikit mengikis dinding batin, mengikis nya hingga tipis.

Setelah hancur karena dikikis, tumpah ruah semua, masuk ke relung relung jiwa.

Sorak sorai semua, mereka bergembira sampai nanti tidak bisa menuai kata.

Dan perlahan mata ini mengabur untuk menutup selama nya, diawali dengan dikurasnya sungai sendu.

Dibongkar nya bendungan lirih, berhamburan mereka semua bermandi duka.

Air duka yang dinikmati oleh suka cita para penikmat festival, beberapa gajah dari sirkus bahkan meminumnya.

Tubuh ini akan rubuh dengan festival yang berlangsung, karena dua kaki ini dibuatnya terkubur dalam dalam.

Bukan tertanam agar kuat nanti nya tapi dikubur karena rapuh, digerogoti para kuda yang diikat di tulang tulang kaki.

Akhirnya tangan tangan ini hanya bisa memegang dada untuk menahan agar festival ini tidak tumpah keluar.

Yang mungkin seketika bisa meledakan tubuh ini karena sesak tidak bisa disangkal.

Bukannya meledak tapi malah runtuh perlahan, ketika festival berhenti.

Tinggal lah relung relung kosong di tubuh yang fana ini, runtuh perlahan hingga tidak akan lagi ada festival digelar.

Menanti nanti

Kosong lowong kereta pagi ini
Dengan tatapan yang kosong pula
Berpikir tentang pertanda
Akan kah kita ini berakhir sempurna

Sempurna di wadah yang benar
Menata hidup dibawah sang kuasa
Pemilik jagat raya dan hidup kita
Mendulang pahala dengan menikah

Kereta semakin kosong
Dan stasiun ku semakin mendekat
Pemberhentian ku distasiun itu
Dimana akan berakhir kereta ku

Semakin pula kita merasa dekat
Dan kau akan segera menjauh
Jarak jadi halangan
Semoga perasaan ini buat kita dekat

Nanti jika takdir kita pasti
Aku akan berbincang
Tentang masa depan
Dengan kedua orang tua mu

Semoga ini tidak lah menyiksa kita
Tentang yang tidak dijanjikan
Tentang perasaan yang pasti
Namun takdir telah menanti

Rabu, 20 Januari 2016

Bukit pasir

Dusta selalu bawa petaka
Terlebih jika kita disangka dusta
Tak perlu mereka berburuk sangka
Ketika musibah menimpa manusia

Mungkin pasir dibawa angin pergi
Tapi padang pasir tidak akan lari
Manusia tidak akan sembunyi
Karena dosa tidak bisa ditutupi

Jangan kau lihat dari sebutir pasir
Tapi lihat lah bukit besar tak bergetir
Tak berubah walau telah disingkir
Sang buruk yang hanya sebutir pasir

Selasa, 19 Januari 2016

Rindu

Kini selalu akan ku baca setiap buku, karena dengan kata kata aku bisa mengucap rindu.

Rindu akan apapun yang selalu ku rindukan.

Rindu yang ditulis dengan kata kata kadang tidak semua orang mengerti, apa arti dari kata kata itu.

Kata kata dibentuk oleh ingatan, ingatan akan satu orang dengan beberapa kenangan.

Tak pernah lagi ku terpenjara dengan rindu, kadang bisa kutumpahkan dengan kata kata yang diiringi sendu.

Gembira mungkin dituliskan dengan senyum yang dipahat di muka kita oleh bibir kita sendiri.

Kata kata tentang gembira kadang lebih dari apa yang kita bayangkan, tetapi hanya satu yang terlintas, cinta.

Dan setiap buku yang ku baca demi perbanyak kosakata yang kupunya, untuk bisa lebih mengungkapkan.

Mengungkapkan rasa rindu, cinta dan sedikit sendu, semoga selalu ada cinta dibalik kata kata yang aku punya.

Braga

Braga, sedikit berbeda dengan Praga.

Pengucapan dan daerahnya pun berbeda, tetapi entah mengapa menjadi tempat yang didatangi banyak orang.

Entah mengapa menjadi satu tempat yang ingin ku kunjungi, ya Braga, begitu juga Praga. Walau kini hanya bisa ku datangi Braga semata.

Banyak kisah tentang Braga, dari romantis sampai yang membosankan, mungkin juga sedikit mistis dan klasik.

Aku tidak ingin mendengar kisah yang lain, aku hanya ingin membuat kisah ku di Braga. Kisah tentang apapun yang membuat ku tersenyum karenanya.

Entah romantis atau membosankan sekalipun, apapun itu akan ku kenang dengan senyuman

Braga - Kranji, semoga nanti banyak kisah yang dinanti.

Coklat hangat

Jarang ku memesan minuman hangat, hanya karena masalah ukuran saja.

Minuman dingin selalu disajikan lebih banyak dan terkadang diberu tambahan es.

Melepas dahaga lah maksudku walaupun tidak terlalu haus.

Hari ini tidak ku niat kan memesan secangkir cokelat hangat, aku hanya memikir kan enak nya diminum setelah hujan.

Dan menunggu nya aku terduduk di sofa kecil yang nyaman serta membaca buku.

Tetiba databg pelayan membawa apa yang ku pesan, secangkir cokelat hangat.

Tak pernah kusangka cokelat hangat ini dihias seperti layak nya kopi ber krim.

Takjub ku lihatnya karena jarang sekali ku lihat cokelat hangat seperti ini.

Terkadang hal yang indah datang dari sesuatu yang kita tidak sangka, sampai akhirnya kita menyadari lakukan sesuatu yang tidak pernah kita lakukan.

Atau pesan sesuatu yang selalu kita hindari, terkadang kita akan mendapatkan sesuatu yang membuat kita takjub dalam hidup kita.

Coklat hangat

Jarang ku memesan minuman hangat, hanya karena masalah ukuran saja.

Minuman dingin selalu disajikan lebih banyak dan terkadang diberu tambahan es.

Melepas dahaga lah maksudku walaupun tidak terlalu haus.

Hari ini tidak ku niat kan memesan secangkir cokelat hangat, aku hanya memikir kan enak nya diminum setelah hujan.

Dan menunggu nya aku terduduk di sofa kecil yang nyaman serta membaca buku.

Tetiba databg pelayan membawa apa yang ku pesan, secangkir cokelat hangat.

Tak pernah kusangka cokelat hangat ini dihias seperti layak nya kopi ber krim.

Takjub ku lihatnya karena jarang sekali ku lihat cokelat hangat seperti ini.

Terkadang hal yang indah datang dari sesuatu yang kita tidak sangka, sampai akhirnya kita menyadari lakukan sesuatu yang tidak pernah kita lakukan.

Atau pesan sesuatu yang selalu kita hindari, terkadang kita akan mendapatkan sesuatu yang membuat kita takjub dalam hidup kita.

Zaman beton

Perjalanan di kereta terkadang seperti melihat perubahan zaman.

Pemandangan diluar yang terlihat dari dalam kereta seakan perlihatkan perubahan yang dipercepat dalam sebuah film.

Dari hamparan rumput yang hijau sampai gedung gedung yang congkak menjulang menantang langit.

Dari perumahan perumahan yang mewah sampai gubuk gubuk yang terlihat disekitar pinggir rel.

Gedung gedung tua peninggalan belanda yang kadang terlihat di beberapa stasiun sampai gedung yang mengikuti mode futuristik.

Lamban laun kita akan melihat atap atap oranye yang terbentang ketika akan menuju jakarta kota.

Melihat mereka penuh sesak untuk hidup sampai kita tidak dapat melihat jalan setapak yang mereka lalui setiap hari.

Atau sebelumnya kita melihat gedung gedung yang memiliki ruang parkir yang masih luas untuk dihidupi satu kampung.

Inilah perkembangan zaman yang dimaksud, tapi inikah perkembangan zaman yang kita mau?

Dimana batu dan beton menggantikan hijau nya paparan rumput dan pohon serta gedung gedung yang menutup jalan jalan setapak.

Tidak lah harus ada hutan besar di tengah kota jika kita bisa menempatkan hutan hutan kecil disekitar kita hidup diantara bekasi dan jakarta.

Senin, 18 Januari 2016

Lorong waktu

Lorong waktu membawa kita ke masa lalu, atau bahkan menemukan kita di waktu yang baru.

Cerita akan kisah lama bisa kita saksikan bagai menonton cerita di televisi, yang tentunya mungkin kita tidak bisa merubahnya lagi.

Waktu yang baru mungkin adalah yang terburuk dari sebuah lorong waktu itu sendiri.

Mampukah kita menjadi seperti itu nanti? Atau apakah kita sanggup menerima realita akan apa yang terjadi di waktu yang baru nanti?

Terkadang menutup lorong waktu itu sendiri adalah suatu kebaikan, karena tidak ada yang bisa kita lakukan dengan waktu.

Masa lalu yang tidak bisa kita ubah, dan waktu yang baru yang mungkin kita tidak ingin tahu.

Waktu akan berlalu dan masa akan berganti, kita hanya tahu apa yang kita jalani sekarang.

Jalani tanpa terlalu banyak melihat masa lalu dan terus maju tanpa harus tahu nanti seperti apa di waktu yang baru.

Kiri

Lengan kiri ku adalah tempat baru yang indah bagi ku sekarang ini.

Tempat dimana dia berada ketika bersama ku di sepanjang rel menuju kota.

Terasa berat sampai kini, walau dia tidak berada di sebelah kiri ku.

Ingatan tentangnya yang membuat ku ingin mendirikan sebuah kuil suci di lengan kiri ku ini.

Hingga kadang ku tak rela jika ku duduk berada di pojok sebelah kanan.

Kau disana. Sampai nanti, sisi kiri milik ku ini akan berada di hidup mu.

Syukur

Saat terang datang pagi hari, tumbuhan mulai riang dan kecambah pun mulai bertumbuh jadi tunas.

Teruslah terang ini selamanya kata mereka agar terus tumbuh, agar bisa mereka berbunga dan berbuah.

Kegembiraan mereka tak terbendung sampai sampai tak perduli dengan semut semut yang berjalan di batang dan ranting nya.

Daun daun hijau mulai bergantian di pucuk teratas, beberapa kuncup bunga mulai terlihat bahkan beberapa akan segera bermekaran.

Tetiba mereka merenung, apakah ini akan terjadi terus? Apakah ini karena musim panas? Apakah ini hanya sesaat?

Cemas mereka memikirkan itu semua sampai merontokan beberapa daun yang agak tua.

Beberapa kuncup bunga yang akan berbunga seakan kembali ke kuncup dan enggan bermekaran.

Tak boleh kah kita cemas akan cahaya yang kita dapat ini? Dan seketika pun awan menutupi matahari.

Semua kembali gelap dan sendu, cahaya seakan tidak pernah datang sebelumnya.

Berteriak mereka karena merasa cemas ketika sedang menikmati cahaya, menyesal mereka akan cemas.

Perlahan tunas muda berpikir untuk tidak akan mengulang yang sudah ada.

Ketika mereka nanti akan bertumbuh, maka bersyukur lah yang mereka ucapkan ketika diberi cahaya.

Dan seterusnya mengucap syukur tanpa harus cemas akan hilangnya cahaya ketika mereka sedang menikmatinya.

Minggu, 17 Januari 2016

Sang penjual rindu

Ku jual rindu ini kepada sang penjual rindu, dia katakan kepada ku kenapa ku menjual nya.

Aku punya rindu tak terbatas untuk seorang yang ku sayang, yang kadang tak cukup aku tunai setiap hari nya.

Sang penjual rindu bertanya sekali lagi, saat ini dia bertanya tentang harga yang harus dia bayar setiap rindu yang ku jual.

Ku bilang tidak usah membayar ku dengan apapun, hanya saja simpan kan untuk ku beberapa rindu.

Kenapa harus kusimpan beberapa rindu jika kau memberi ku secara cuma cuma teriak sang penjual rindu.

Aku hanya menghela nafas dan berkata, mungkin nanti aku tak merindu lagi dan ketika itu aku akan merana, saat itu aku akan datang untuk mengambil rindu yang kau simpan untuk ku.

Aku pun berlalu dengan sebuah catatan dari toko sang penjual rindu.

Aku akan simpan rindu mu, tapi semoga kau tidak akan mengambilnya lagi karena rindu akan dirinya tidak akan pernah habis dimakan waktu.

Bukan matahari

Apa rencana mu hari ini?
Bermalas malasan, untuk tidak menjadi malas nantinya.

Karena kita bukan matahari yang membakar dirinya untuk menerangi semuanya.

Sabtu, 16 Januari 2016

Samarkan gelapku

Dia itu bukan sosok yang gemerlap diantara yang lain, tapi Dia punya cahaya yang cukup untuk terangi aku di gelap yang ku huni.

Dia itu bukan milik ku, Dia akan menjadi milik orang lain. Tapi pendar cahayanya tenangkan aku.

Terkadang aku rasa pendarnya melemah dan aku tak melihat apapun di gelap ini, sampai terkadang ku cukupkan saja gelap ini agar aku bertemu gelap yang jauh lebih pekat.

Sekarang pendarnya menyala lagi, setelah Dia memerah marah karena ku ucap selamat tinggal.

Sesuai namanya, Dia menyamarkan gelap ku. Agar aku hidup dengan nyaman di gelapku ini. Dengan pendar cahayanya.

Gelaphari

Sudah aku katakan jika matahari itu panas membara, tetaplah pula kau tatap dengan mata telanjangmu itu!

Apalah nanti jika dirimu buta tidak bisa melihat, mana yang tidak akan pergi dan mana yang akan meninggalkan.

Lihat saja bulan sana! Dan juga bintang bintang! Mereka bersinar dari sinar ku dan cahayanya tidak akan membakarmu.

Malam hari! Ya keluarlah pada malan hari! Dan bertemu mereka, jangan lagi kau menunggu pagi.

Tidak lagi ku percaya matahari! Dia hanya sebongkah api besar yang melayang di angkasa hampa.

Cahaya nya hanya kau nikmati sebentar saja, setelah itu kau akan mengeluh panas dari nya.

Sudahlah, biarkan saja malam datang dan jangan takut akan gelapnya, gelap hanyalah hal yang murni.

Kembali lah ke dalam gelap, kembali menjadi murni dimana tidak akan lagi dibakar matahari.

Mati akan benci

Injak kaki di tanah kranji
Teringat lagi kisah tentang mati
Menangis meraung di malam hari
Karena tidak selalu tepati janji

Bosan sudah ku meratapi
Kini saat nya semua kusudahi
Tinggalkan mereka tidak lagi nanti
Melainkan segera sebelum pagi

Banyak kata kutulis selama ini
Banyak imaji kugambar selama ini
Semua adalah perasaan ku murni
Tidak semua bercerita tentang mati

Dan kasih, jika kau baca ini
Mungkin aku belum mati
Tapi ini bentuk rindu akan mati
Semoga kau tidak membenci

Layang melayang

Layang layang terbang terbawa angin ke angkasa, meraih awan dan terkadang menyentuh langit.

Jiwa nya lepas kemanapun angin membawanya, tidak ada yang tau kemana akan pergi dirinya.

Ini semua setelah dia lepas dari benang yang mengikatnya, yang membawanya terbang dari daratan.

Dan kini layang layang itu terbang sampai nantinya dia akan jatuh terhempas kembali lagi ke bumi.

Membara walau tak nyata

Tidak terwujud dalam raga
Semalam kita hanya bercengkrama
Melalui udara
Bertukar pikiran untuk hilangkan lara
Merengkuh nikmat yang kita rasa
Tak kusentuh raga mu adinda
Hanya kudengar desahmu nyata
Berdesir seluruh jiwa raga
Saat kau panggilku dengan nama
Penuh denganmu isi kepalaku seketika
Berbagi peluh walau hanya bertukar kata
Saling memanggil saat di puncaknya
Sungguh malam penuh hasrat membara
Sampai lelah menutup mata kita

Kamis, 14 Januari 2016

Ledakan hadirmu

Hadirmu pada hidup ini seperti ledakan sebuah planet di luar angkasa.

Ledakannya begitu besar dan cahaya nya tetap bertahan sampai ribuan tahun.

Rabu, 13 Januari 2016

Sungai pujian

Pujian mengalir bagai sungai yang tenang, terkadang sedikit kencang arusnya.

Tak apalah sedikit terhanyut, biarkan saja dirimu itu ikut mengalir bersama pujian itu.

Tak usah lah melawan tak usahlah berpegangan dengan batu batu besar yang ada.

Mereka ada karena ingin memecah alir pujian pujian yang ada, lepaslah biar nanti kita sampai ke ujung.

Teruskan kau bergerak dari pujian pujian itu, jangan sampai kau terantuk batu dan mati.

Karena sungai pujian akan deras nantinya, mungkin pula akan ada air terjun yang menjeremuskan mu.

Tetap tenang, karena cuma itu caramu untuk tetap tenang, kata seorang yang sudah berada diujung sana.

Jika kau tenggelam dalam pujian, segera lah kembali ke permukaan karena kau akan mati menelan semuanya itu.

Arus mungkin sedikit pelan setelah air terjun itu, tapi tetaplah tenang karena arus itu masih terasa.

Teruskanlah ikuti sampai nanti akan bertemu lautan pujian, yang jauh lebih besar dan tak terbatas.

Kuatkanlah dirimu ketika disana, karena dengan pujian dirimu akan lebih besar.

Dan juga karena pujian kau akan tenggelam dan mati, jangan terlena dengan semua pujian yang menenggelamkanmu.

Hendak lah mungkin tidak perlu ada mereka hanya sendiri saja, mungkin hidup ini akan terasa lebih singkat.

Tanpa mereka semua hanya terlihat sekelebat dalam sekejap dan tidak perlu banyak warna.

Tidak lagi perlu mewarnai hanya perlu tinta hitam, selebihnya biarkan corak noda yang bertambah.

Sedikit terasa lega walau sempit terasa di dada ini, seakan bernafas di dalam botol yang kecil.

Semua telah terjadi, semua warna kini kupakai pada akhirnya semua kembali lagi hitam dan putih.

Terlalu banyak warna malah membuat ini semua tidak berwarna, biarkan saja yang sudah ada.

Sendiri kini bisa, semua telah siap, semua telah berubah, tidak ada lagi mereka semua nantinya.

Tidak ada keluh kesah atau berbagi canda gelak tawa, semua kusudahi saja.

Mungkin hanya kau yang melihat ini
Tulisan ku tentang nestapa
Disini berbagi rasa tentang pahit
Berbagi yang kurasa
Mungkin kau hanya sekedar melihat
Karena kali ini aku kembali lagi
Jatuh ke lubang yang dulu aku tinggalkan
Kali ini mungkin
Akan kupendam diriku
Hingga membusuk dimakan tanah
Semoga rumput kan subur
Pohon menjulang tinggi
Ketika aku sudah bersatu dengan tanah

Selasa, 12 Januari 2016

Datanglah dan pergi

Banyak lah orang yang datang
Dan pergi didalam hidup
Beberapa tinggal sampai nanti
Beberapa sambil lalu tanpa salam
Disini hidup statis
Ketika semua berlalu dengan kencang
Ketika hidup bergerak dinamis
Semua berlalu jauh lebih kencang
Dan kau masih berdiri di depan ku
Seakan bisa kuraih
Seakan bisa kupeluk
Seakan bisa......
Padahal kau hanya bayang yang bergerak cepat
Tetapi begitu nyata
Pergi teriak ku
Sesal kemudian ku rasakan
Kembali lagi sekali lagi
Teriak ku kembali
Tak apa ku hanya ku lihat
Tak apa
Banyak lah yang datang
Dan banyak yang pergi
Semoga nanti bayang mu perlahan pergi
Dan tinggalkan senyum mu
Untuk ku pakai

Nama di kepalaku

Hati hati ku ucap namanya ketika ku berbincang dengannya.
Bukan karena namanya susah dilafalkan.
Tapi karena hampir terucap nama yang sering terngiang di kepala ku.
Nama seseorang yang mungkin tidak bisa jadi pendamping hidupku nanti.

Sabtu, 09 Januari 2016

Jangan buat ku tinggi

Semoga benci tidak menutupi rindu
Dan ilmu tidak membuat ku pongah
Sungguh sesal diriku jka nanti aku menutup silahturahmi dengan dendam
Sedih rasanya menatap masa lalu dengan benci
Semua orang kutatap bodoh dengan ilmuku yang sedikit ini
Berhenti berbicara karena ku tinggi dengan apa yang ku tahu
Semoga dengan agama buat ku rendah diri
Karena kutahu jasad ku akan kembali rendah
Ke dalam tanah bumi ini

Sungai jenazah

Tidak kupercaya sungai yang jernih membawa jasad yang membusuk, kulihat sekitar semua kampung baik menyapa dengan senyum.
Apakah ada yang membenci senyum semua ini?
Tidak ku sangka sungai yang jernih ini ternyata banyak yang tidak suka

Milik kita

Tubuh ini milik kita
Jiwa ini milik kita
Tidak akan pernah jadi milik siapapun
Tidak akan pernah direbut oleh siapapun
Dimiliki siapapun
Atau dimiliki oleh apapun
Kecuali kita membagi nya
Dan sang pencipta
Yang telah mencipta kan kita

Arus

Jika mengalir maka semuanya akan mengikuti.

Arus yang lembut maka semuanya akan mengikuti.

Lambat laun akan menjadi satu dengan arus.

Tidak perlu ombak yang besar yang bisa mengikis karang yang keras.

Hanya alunan arus yang lembut yang bisa mengubah daratan menjadi sebuah delta.

Kepastian rel kereta

Lalu lalang semua yang kupikirkan
Tak pernah jadi satu melainkan abstrak
Semuanya terkecuali tentang kamu
Berada di tengah tengah semua yang ada
Seperti rel kereta yang pasti
Tak akan berubah walau banyak kereta yang melalui

Sesosok yang ku rindu

Sepi menunggu kabar dari mu, walau telah lama kusadar bukan ramai yang kurindu ketika bersama mu.
Tapi sosok mu yang ku rindu dan kemudian ramai yang terjadi setelahnya

Jumat, 08 Januari 2016

Pulang

Malam sudah datang
Roda roda kembali merayap
Menggerus aspal ibukota
Kembali mereka pulang

Hati ini sudah rindu
Dengan dirimu yang akan dipinang
Setiap jalan kulewati terbesit rindumu
Ingin ku kembali pulang

Malam sudah datang
Jiwa jiwa akan beristirahat
Akan deras nya rindu
Rindu untuk pulang

Kabarmu kadang aku dapatkan
Walau sedikit aku hiraukan
Agar menjaga rindu di sangkar
Untuk tidak terlepas untuk pulang

Malam sudah datang
Gelap akan tiba
Sedangkan jalan masih terbentang
Jauh dari pulang

Bohong ku katakan kita berjauhan
Tetapi benar jika tentang jarak
Atau tentang masa depan
Dan mungkin aku tidak akan bisa pulang

Pulang

Malam sudah datang
Roda roda kembali merayap
Menggerus aspal ibukota
Kembali mereka pulang

Hati ini sudah rindu

Rabu, 06 Januari 2016

Tertunda rindu

Terpintas menghilang dari hidupmu
Kutinggalkan saja beban ini
Lepaskan saja rasa ini
Karena tidak lagi guna ku merasa

Ku pandang lagi fotomu
Ku dengarkan lagi lagu darimu
Ku baca lagi pesan pesan sigkat darimu
Tidak lah yakin aku bisa melepasmu

Kulihat lagi kalender
Bulan Januari ini masih panjang
Bukan perkara gaji kali ini
Tapi perkara janji sehidup semati

Ku tak perlu lagi ragu
Ku tunggu sampai nanti
Akan kulanjutkan membaca cerita ini
Sampai habis cerita kita nanti

Tidak sampai 3 purnama ku menunggu
Atau tidak ku harus menghitung hari
Aku kan berkerja seperti biasa
Sambil ku putar lagu pemberianmu

Tidak lagi ku merasa sepi
Mungkin sudah mati rasa
Kadang hanya gejolak rindu
Tapi bukanlah rindu yang ku benci

Semoga kau kuat disana
Jika kau merasa rindu yang sama
Nantilah indah yang kau dapat
Semoga indah juga yang kurasa nanti

Pagi

Senang pagi ku tenang

Walau dirimu masih terkenang

Memikirkan mu di awang awang

Semoga pagi ini buatmu senang

Untukmu yang paling kusayang

Selasa, 05 Januari 2016

Sudah mengental

Aku larutkan diriku dengan sekitar
Agar aku dapat terpisah sesaat
Melepaskan sejenak
Sebuah pemikiran yang harusnya kurelakan
Ku aduk dengan kencang diriku ini
Aku berputar dalam satu bejana besar
Berharap diriku larut dengan isi bejana ini
Tapi tetap saja mengental
Diriku tetaplah satu
Tidak banyak yang terlarut
Malah jika didiamkan
Aku mengental menjadi satu kembali
Pada akhirnya aku tenggelam
Di bejana itu
Terdampar di bawah bejana
Tidak terlarut jadi satu
Biarkan saja akhirnya
Mungkin nanti akan terlarut
Tanpa harus ku paksa

Pekerja dan kereta

Sepagi ini mereka berangkat berkerja
Menjejali gerbong kereta
Menuju arah Jakarta Kota
Berhenti di Manggarai mereka
Sebagian berpindah kereta
Sisanya berhenti di Cikini, Gondangdia, dan Juanda
Lelah masih menggantung di mata
Rindu masih sesal di dada
Beberapa bahkan sudah memulai kerja
Dengan telepon pintar digenggaman mereka
Mereka mulai turun di stasiun tujuannya
Sampai nanti berhenti di Jakarta Kota
Kereta pun lowong ditinggal pekerja
Yang berlanjut ke belakang meja
Untuk meraih cita-cita
Atau hanya sekedar mencari harta

Senin, 04 Januari 2016

Brengsek

Hai saudara sedarah ku
Aku tidak pernah membencimu
Aku selalu menginginkan mu
Disini tumbuh bersama

Aku tidak butuh semua yang aku jalani sekarang
Jika ada jalan untuk kembali ke masa lalu
Akan ku habiskan waktu ku denganmu
Untuk tumbuh bersama

Selesaikan lah yang kamu mulai
Jangan kau rusak hati orang tua mu
Kau tidak lah perlu berkorban demiku
Tapi berkorbanlah demi orang tua mu

Yang pasti tidak akan lama

Tidak kuhitung hari semenjak kau pergi
Semua berjalan seperti biasa
Sedikit baru sebagian
Banyak yang datang mengisi
Silih berganti
Kadang menambah banyak
Dan beberapa malah pergi
Kupikiri ini berhasil
Karena sedikit yang kurindu darimu
Hanya sedikit
Tapi perlahan timbul lagi
Malah menambah rindu
Bukan karena ku melanggar aturan yang ada
Hanya karena ada banyak dirimu
Di benak ku serta di hari hari ku
Mungkin baru seminggu
Atau mungkin kurang
Mengapa kurasa lama
Lama menanti yang mungkin sudah pasti

Senyum karena rindu

Masih kubaca cerita kita
Dari 3 bulan lalu
Kubaca lagi terus menerus
Belum habis cerita kita
Selalu ku baca ulang cerita kita
Bukan untuk merindu
Ini hanya masih tersisa
Tak mau nantinya kita akan sedih
Sedih ketika kita merindu
Jadi kubaca lagi cerita kita
Biar merindu jadi senyum
Senyum yang kupakai nantinya
Ketika cerita kita berakhir

Karena kau lebih dariku

Tinggalkan aku karena cintamu

Tinggalkan aku karena baik dirimu

Tinggalkan aku karena perhatianmu

Tinggalkan aku

Karena aku tidak bisa memberi mu lebih dari kamu memberi kepada ku

Berpisah

Berpisah itu sulit

Karena ku tak tahu bagaimana

Bagaimana mengatakan selamat tinggal kepadamu

Kereta tanpa rel

Kereta melaju menuju stasiun berikutnya
Tak pernah ada yang bertanya
Karena jelas apa nama stasiun berikutnya

Sama seperti manusia yang selalu melaju
Hanya banyak yang bertanya akan kemana dia melaju?
Karena tidak semuanya tahu pasti akan berakhir atau berhenti dimana

Kereta selalu mengangkut ratusan orang baru ataupun lama
Bertemu dan berpisah tidak rasakan sebuah perasaan
Karena hidupnya lah seperti itu

Manusia pun selalu bertemu orang baru dan bertemu (lagi) orang lama
Pertemuan dan perpisahan selalu disertai perasaan yang kadang mendalam
Tidak pernah ada yang tahu perasaan dua orang ketika bertemu atau berpisah

Sedih atau marah ketika kereta tidak pada jadwalnya
Jadwal dibuat karena banyak orang menggunakan transportasi ini
Kadang kereta menjadi sangat penuh ketika terlambat datang

Ketika manusia diberi jadwal kurang lebih tidak pernah patuh pada jadwalnya
Karena tidak semua orang butuh jadwal atau hal yang teratur
Penuh atau tidak kegiatan mereka tidak masalah karena menikmatinya lah yang menjadi kendala

Kereta tidak pernah lelah
Namun seringkali rusak karena tidak dirawat
Selalu ada orang yang memperhatikan nya walau kadang tidak sesuai jadwal

Lelah adalah keluhan terbesar manusia sehari hari
Walau sering berolahraga atau hanya melakukan sedikit kegiatan pun akan lelah
Terkadang perlu orang untuk memperhatikan nya walau tidak perlu ada hubungan apapun

Seakan kita perlu sesekali hidup sebagai kereta
Tapi bukanlah manusia jika hanya berjalan di atas rel yang sama setiap harinya
Dan tidak hanya terpaku pada orang yang memperhatikan kita

Mungkin kita ini sebuah kereta
Yang terus melesat sampai nanti akan bertemu stasiun terakhir yang tak perlu ditanyakan kembali
Sebuah kereta yang melesat tanpa membutuhkan rel

Senyum rindu

Jarang kurasa sinar matahari pagi di halte Transjakarta Juanda ini
Sinarnya belum terik seperti waktu nya makan siang
Banyak wajah baru yang kulihat
Satu dari mereka menarik untuk dilihat
Kulihat paras dan tingkahnya
Kulihat tawa dan senyumnya
Sungguh...
Sungguh tidak bisa menghilangkan sosok wanita di kepala ku ini
Sosok yang selalu ada selama 3 kali terima gaji
Yang selalu berikan kejutan
Berikan petuah walau dia tidak selalu bijak
Memberitahu betapa luasnya hidup
Jangan menuduh jika ku membuat puisi ini dengan wajah sedih
Aku hanya rindu
Bukan karena sedih aku merindu
Tidak ku benci rindu kali ini
Kali ini aku memakai senyum yang dia beri kepada ku

Minggu, 03 Januari 2016

Sedih merindu

Kabar datang memberi kata
Kata terangkai dengan rindu
Sehari saja tiada berkata
Abadi rasanya rindu ini
Kuberi penghilang rindu
Namun sedih yang terasa
Seringkali sedih ku pun merindu
Nyata nya sekarang rindu pun sedih

Jumat, 01 Januari 2016

Malam datang

Malam datang dengan cepat
Tinggalkan sore seketika
Dari ceracau di tempat sakral itu
Kita berpindah menuju penyimpanan anggur
Beristirahat di depan toko waralaba
Mengistirahatkan hati yang sakit
Dan sedikit mendengar
Lantunan musik penggoyang ibu jari di seberang jalan
Melanjutkan lagi perjalanan
Menekan perut agar tidak sakit
Tetiba di depan penyimpan anggur
Dan segera aku melepasnya
Tanpa sedih dan drama
Malam datang
Januari pun tiba
Hitungan menit tidak akan lagi sama
Detik berganti tapi ak tidak lagi sama