Kematian kadang tidak bisa dihindarkan dan pada saat itu kita yang masih diberi kesempatan mendoakan yang tiada. Kematian juga berarti perpisahan yang dimana berpisah selama lama nya, tidak akan bertemu lagi sampai kita juga bertemu dengan kematian itu sendiri. Kesedihan dengan yang sudah tiada selalu mendatangkan kesedihan yang mendalam, karena mungkin kita punya keterikatan yang mendalam. Keterikatan yang mendalam yang membuahkan perasaan memiliki, entah itu keluarga, kerabat, atau pun teman.
Bisma selalu mengujar bahwa dia tidak selalu mengeluh setiap pagi, setiap dia datang ke kantor, tapi kelakuan dia yang kadang sekelilingnya melihat Bisma selalu mengeluh, setiap pagi. "Yaudah sih, saya kan cuma merasa capek aja karena perjalanan saya lebih jauh dari kalian, jadi gak masalah kalo saya mengerutu dan suka sedikit terlihat tidak menyenangkan" cerocos Bisma ketika Dika menghardiknya.
Dika tidak pernah suka dengan pembawaan Bisma yang kadang berujung membuat seisi ruangan kantor tidak betah atau kesal setiap pagi, "yasudah lah Bis, kalo kamu merasa kayak gitu mending kamu cari kos atau kontrakan dekat sini" memberi solusi adalah cara yang jitu untuk menenangkan Bisma saat ini menurut Dika.
Bisma melihat Dika yang sedari tadi vokal untuk membicarakan masalah ini. Ya betul, ini sudah menjadi masalah, lebih lagi ini sudah menjadi masalah publik kantor penerbit buku cerita anak atau novel yang dimana banyak penulis atau pekerja gambar yang menuntut mood bagus untuk kerja. Mood yang dimana dihancurkan oleh Bisma sang pembuat gambar idola di kantor itu, tapi sering membuat orang lain merasa berantakan paginya ketika Bisma datang dengan segala keluhan nya yang tidak diucapkan namun diperlihatkan dengan sikapnya.
"Mereka tidak akan kuberitahu bahwa selama ini aku naik angkutan umum karena ongkos nya jauh lebih murah, tapi apa perduli mereka jika kuberi tahu ini semua" Bisma tidak lagi menanggapi protes teman teman mereka termasuk Dika. Salah satu korban lagi adalah seorang gadis magang sebagai pembuat gambar yang ditunjuk untuk menjadi asisten Bisma. Dia merasa Bisma memberi aura negatif, karenanya Bisma selalu datang terlambat dan itu menghilangkan banyak waktu baginya.
"Mari, ikut saya untuk mendengarkan revisi dari kepala desain" ajakan Bisma membuat Mari anak magang tadi buru buru menyambar buku yang bertuliskan "revisi", sebuah buku untuk mencatat semua revisi an dari kepala desain. Padahal sudah dari tadi pagi betul Mari menyiapkan segala hal nya, untuk membantu Bisma yang akhirnya datang telat.
Bisma selalu makan di ruangannya, lebih tepatnya di meja kerja nya yang sedikit besar, sedangkan Mari selalu membeli makan diluar. Kekesalan Mari selanjutnya adalah kadang meja kerja Mari selalu di datangi sampah sampah dari hasil makan Bisma. "Mas Bisma! Sampahnya dong!" Hardik Mari yang kadang jadi lelucon buat Bisma, "iya nyonya, lagi pula itu juga meja saya jadi ya tidak apa apa kan?" Ya memang betul, meja Bisma itu lumayan besar seukuruan 2 setengah meja kantor biasa. Tapi tetap saja dibereskan oleh Bisma selesainya Bisma makan, ini lah sikap gentle yang membuat Mari kepincut. Walaupun negatif orangnya tapi tindakan tindakan kecil dari Bisma membuat Mari menyukainya.
Kadang Dika sering nimbrung ke meja Bisma untuk membahas tata letak isi buku yang mau dicetak, "Bis, mending kamu kos deket kosan nya Mari tuh, kalo gak salah murah kok gak sampe satu setengah juta daripada bolak balik rumah orang tua kamu" celetuk Dika yang sedang memeriksa tata letak halaman buku yang sedang dikerjakan oleh Bisma, "memangnya ada Mar yang Dika bilang tadi?" Selidik Bisma yang tidak mau percaya omongan Dika karena itu hanyalah bualan agar Bisma bisa lebih cepat datang dan tidak mengeluh pada saat pagi.
"Hey Marimar! Ditanya malah diam saja sih?" Mari yang dari tadi berpikir akan pulang dan berangkat bareng Bisma menjadi terdiam, apalagi di panggil dengan nama yang menurut Mari itu adalah panggilan sayang Bisma terhadap Mari, padahal itu hanya buah canda dari Bisma untuk akrab dengan anak magang nya itu. "Iya mas, ada kok, tempatnya bebas, rapih, kamar mandi ada di dalam, kasur ada, lemari ada, kunci gerbang pegang sendiri sendiri, tidak ada jam malam, bisa cuci juga, boleh pesen makan, minum air bebas, tidak ada uang listrik atau air tambahan, boleh bawa komputer, boleh ba..." "hei! Sabar Mar, jangan cepat cepat, lagipula kamu tahu betul sepertinya?" Potong Bisma yang gerah dengan penjelasan cepat dan gugup ala Mari jika sedang grogi, Mari pun terdiam setelah omongannta dipotong Bisma, "soalnya... temen saya kos disana, ijin sebentar mas ke toilet" dengan terburu buru Mari meninggalkan Bisma dan Dika karena menutupi muka nya yang memerah.
Bisma akhirnya memikirkan semua penjelasan dan penawaran yang dibicarakan oleh Dika dan Mari, dengan penuh tanya akhirnya Bisma memutuskan untuk melihat tempat kos yang dijabarkan oleh Mari. "Oke Mar nanti saya bareng ya sama kamu, antar saya ke tempat kos itu pulang kantor nanti" dengan gugup Mari hanya menjawab sekedar nya untuk menyetujui, Bisma masih belum melihat bahwa Mari menyukai Bisma.
Mereka akhirnya jalan kaki untuk mencapai tempat kos itu, tidak banyak percakapan diantara mereka karena Bisma sudah larut dengan deretan lagu yang sudah sering dia dengar, padahal Mari mencoba untuk membuka obrolan demi mencairkan suasana. Hanya berselang 15 menit jalan kaki dari gedung kantor mereka, sudah sampai di tempat kos, tapi tempat kos Mari. "Ini tempat nya Mar?" Tanya Bisma setelah tersadar dari timbunan lagu lagu yang dia dengarkan, "bukan mas, ini kosan saya, saya mau ganti baju dulu sebentar kalo mau mas Bisma tunggu tapi kalo tidak kita langsung ke tempat kos nya" dengan penuh harap Mari menjelaskan, maksudnya adalah memperpanjang waktu dia bersama Bisma "yasudahlah hak kamu juga buat ganti baju, memang nya masih jauh?" Tanya Bisma yang memang letih kaki nya berjalan dari kantor, "tidak begitu jauh, letak nya di ujung gang ini, kalo mau silahkan masuk mas tunggu di depan kamar kos ku saja" Bisma mengangguk karena memang sudah lelah dia berjalan yang menurut dia jauh padahal memang saja dia belum terbiasa berjalan sejauh itu belakangan ini.
Mari dengan senang membuatkan minuman dingin untuk Bisma yang sedang menunggu di depan kamar kos nya, "lho kenapa mesti repot bikin minuman dingin? memang nya kamu bakal lama ganti baju nya Mar?" pertanyaan Bisma membuat Mari salah tingkah karena memang benar Mari jarang sekali memperlakukan tamu nya sebegitu spesial nya, "tidak mas, tidak lama, saya cuma tidak enak saja sama mas Bisma" seraya Mari masuk dan segera melepas baju serta rok panjang yang dia pakai, "Mar pintu nya tidak di tutup? memang biasa nya seperti ini ya?" tegur Bisma karena mendengar Mari membuka pintu lemari pakaian nya.
Mari pun merah padam muka nya melihat pintu kamar kos nya masih terbuka lebar. Dengan sigap Mari loncat sambil menutupi badannya dengan handuk besar dan segera menutup pintu dengan keras, suaranya mengagetkan Bisma yang sedari tadi menyeruput minuman yang diberi Mari, "maaf mas saya lupa, maaf juga pintu nya saya tutup kencang kencang....aaaaaaa" seketika Mari terjatuh karena handuk nya membelit kaki Mari yang tidak beraturan langkahnya, spontan Bisma terbangun dan mengetuk pintu kamar, "Mari! kamu kenapa? kamu tidak apa apa?" "tidak apa apa mas, saya hanya terpeleset, jangan masuk mas saya tidak pake apa apa....." seketika muka mereka berdua merah padam dan terdiam.
Setelah Mari selesai mengganti setelan baju kerja dengan setelan baju biasa mereka berangkat kembali menuju tempat kos yang sudah ditentukan. Mari dan Bisma masih terdiam, karena kejadian tadi membuat Bisma tidak bisa berbicara apapun dan menjadi salah tingkah, bahkan untuk kembali mendengarkan lagu nya pun tidak. Sedangkan Mari terdiam sambil berjingkat jalannya, sepertinya kaki kanan nya sedikit terkilir saat dia jatuh tadi. Bisma melihat hal ganjil tersebut dan berusaha mendekati Mari yang berusaha berjalan di depan Bisma untuk tidak memperlihatkan wajah nya yang selalu merah ketika grogi, dengan sedikit keberanian Bisma mencoba memapah Mari dari samping kanan, spontan Mari meloncat ke samping kiri dan hasilnya dia terjatuh karena hilang keseimbangan. "duh kamu Mar kenapa mesti kaget dan loncat sih? saya kan gak mencoba buat kamu
Dengan segera Bisma mencoba membangun kan Mari yang tersungkur, "maaf mas saya kaget, tidak biasa juga saya diperlakukan seperti itu, aduh!" seketika mereka berdua sadar bahwa kaki kiri Mari terkilir juga, "hmmm, jadi dua dua nya kan yang terkilir, yasudah saya gendong kamu saja" dengan sigap Bisma menggendong Mari di punggung nya, Mari kelabakan dengan perlakuan Bisma yang begitu perhatiannya, "mas mending saya tunjukan saja deh arah nya biar mas Bisma ke tempat nya sendiri saja daripada saya digendong seperti ini" ucap nya dengan sedikit marah,
.
Walaupun Mari suka terhadap perlakuan Bisma tetap saja Mari merasa tidak pantas diperlakukan seperti itu. Mari walaupun bertubuh kecil tapi tetap saja tidak mau dimanja atau diperlakukan seperti orang lemah, dia tumbuh untuk menjadi mandiri walau tingkah lakunya seperti anak yang selebor. "sudahlah Mar, saya tidak suka dengan orang yang menjalankan tugas nya setengah setengah, kamu yang memberi usul tempat ini dan harus kamu yang menyelesaikan nya juga" Mari tidak mencoba untuk membalas perkataan penanggung jawab program magangnya di kantor, sedangkan Bisma dengan gagah nya menggendong Mari tanpa kesulitan.
"Ini mas tempatnya, sekarang saya minta tolong untuk diturunkan tidak enak nanti kalo tiba tiba teman saya keluar dan melihat saya seperti ini" tutur Mari malu malu, diturunkannya Mari dari punggung Bisma dan segera duduk di bangku yang ada di samping pintu besi kecil berwarna hitam yang ditempel tulisan "terima kos! harap pencet bel! jangan gedor pintu!" tersenyum Bisma melihat tulisan itu. Setelah bertemu dengan pemilik kos nya, Bisma tertarik untuk tinggal di tempat kos itu walaupun dia harus meninggalkan kebiasaan nya yang selama ini sudah terjadi setiap pagi nya, dia selalu berkata, "meninggalkan sesuatu itu berarti menyambut sesuatu yang baru" mungkin kali ini sesuatu yang baru itu adalah Mari.
Setelah dari tempat kos baru Bisma, Mari digendong kembali untuk balik ke tempat kos nya. Hanya sebentar kaki Mari diurut sedikit oleh Bisma, menurut Bisma tidak parah walaupun Bisma tidak tahu urusan mengurut tapi tidak ada yang fatal terjadi di kaki Mari. Semenjak malam itu, Mari dan Bisma semakin dekat karena mereka berangkat dan pulang selalu berbarengan, mereka pun saling bertutur kisah dan sesekali mereka menghabis kan larut malam hanya untuk bercerita hal hal yang terjadi di kantor, karena tetap saja Mari harus mencuri ilmu dari tempat magangnya itu, sekalian Mari juga mencuri pandang dan cinta nya Bisma.
Hubungan mereka dianggap hal yang positif bagi karyawan kantor yang lain, termasuk Dika, dia menganggap Mari memberi hal baru terhadap Bisma. Yang biasa nya Bisma selalu mengeluh sekarang selalu ceria, kerjaan nya pun lancar dan hubungan dengan Mari pun tidak mengurangi kinerja Bisma di kantor, "gitu dong, antara penanggung jawab dan anak magang harus ada ikatan, biar bisa saling bahu membahu menyelesaikan pekerjaan" celetuk Dika ketika lewat tepat di belakang Mari dan Bisma "senangkan diri mu melihat saya sudah tidak lagi mengeluh pagi pagi?" terdengar tawa Dika menjauhi mereka berdua, Mari terlihat tersenyum menanggapi ucapan Dika.
Sampai suatu hari dimana Bisma kaget mendengar cerita dari Mari, "lho kamu selesai dari sini tidak lanjut kerja disini? program magang disini kan setelah lulus magang akan diberi pekerjaan selama 3 bulan dihitung dari kamu lulus kuliah, kenapa kamu harus pergi keluar negeri untuk lanjut kuliah?" dengan nada bicara sedikit kencang Bisma mempertanyakan keputusan Mari "aku kan sudah pernah cerita tentang ini mas, aku akan pergi, maka dari itu terkadang aku merasa berat ketika harus memikirkan masa depan" Mari tidak punya hak untuk melawan keputusan yang sudah ditetapkan oleh keluarga nya yang membiayai kuliah lanjutan di luar negeri untuk nya.
Walaupun Bisma tahu dia akan berpisah setelah mereka merasa saling memiliki, tapi tidak menyurutkan kisah cinta mereka, semakin hari mereka semakin dekat. Setelah pulang ke tempat kos nya masing masing, mereka akan mengusahakan waktu malam mereka untuk bertemu, kadang di tempat kos nya Bisma dan kadang di tempat kos nya Mari. Terkadang sampai tertidur, jika sudah seperti itu biasanya setelah subuh Bisma atau Mari akan pulang ke tempat kos nya. Bisma pun sampai mengajak Mari untuk bertemu keluarga nya, sedangkan orang tua Mari pernah bertemu dengan Bisma ketika Mari dilanda demam yang cukup parah.
Hampir tepat 4 bulan Mari magang di kantor nya Bisma, bertindak sebagai asisten di pekerjaan nya dan juga asisten hidup nya. Mari terhitung spesial di tempat kerja Bisma, bukan karena hubungannya dengan Bisma yang membuat Bisma menjadi lebih baik dan di setujui oleh seluruh karyawan yang ada serta atasan Bisma, tapi kinerja Mari yang profesional dan rapih membuat atasan Bisma memperpanjang waktu magang Mari. Beberapa minggu terakhir menjadi saat yang berat untuk Bisma, sesekali dia tidak menempati kamar kos nya, malah berangkat dari rumah orang tua nya, begitu pula hal menggerutu nya. Mari beberapa kali pun tidak mau bertemu Bisma dengan alasan mengetik laporan magang dan tidak bisa diganggu.
"Mari sudah semua nya aku masuk kan ke dalam kardus, masih ada kah yang tertinggal?" sahut Bisma sedang merapihkan kamar Mari karena dua hari lagi Mari akan keluar dari kantor, sebagian barang barang nya mau di kirim ke rumah orang tua Mari agar dia tidak kerepotan saat hari terakhir di kantor. "Sudah mas, aku juga sudah mempersiapkan untuk dua hari kedepan nih, tinggal dibersihkan dan sudah kita bisa keluar makan" beberapa kali mereka menghabiskan waktu akhir pekan bersama sama dan sekarang adalah akhir pekan terakhir mereka untuk bersama. Mari akan pergi ke Jepang, program kuliah nya dilanjut kan kesana untuk memperdalam jurusan yang Mari tekuni. Mereka berdua merasa tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh dan juga Mari akan segera dicalonkan dengan anak dari kolega saudaranya.
"Andai kamu mau mas ikut aku ke Jepang, temani aku disana" "tidak lah Mar, aku sudah tidak bisa lagi menggapai mu, kau pun nanti akan dikenal kan sama anak dari orang jepang itu kan?" lirih Bisma sambil menyeruput minuman dingin kesukaannya, minuman yang disuguhkan waktu Bisma datang ke tempat kos nya Mari pertama kali. "Tapi kan masih tahap perkenalan mas, belum tentu jadi, masih wacana juga kan?" bela Mari yang masih ingin Bisma ikut ke Jepang, "sudahlah Mar, kalaupun memang masih wacana tapi kan urus hidup disana susah, gak cuma satu atau dua hari, apalagi urus yang lain lain, lagi pula men...." "meninggalkan sesuatu itu berarti menyambut sesuatu yang baru, itu yang mau kamu bilang kan mas?" potong Mari yang sudah menekuk muka nya sedari tadi. "Aku tidak mau menyambut sesuatu yang baru jika itu harus meninggalkan kamu mas!" tegas Mari sambil mencubit kecil tangan Bisma, "aku pun juga Mar, jika itu bisa aku lakukan".
Hari itu pun tiba, disamping kiri Bisma tempat Mari bekerja sudah kosong. Walaupun Bisma masih tetap menempati kamar kos nya tetap saja tidak bisa merubah yang ada, sesuatu yang baru yang membuat Bisma meninggalkan sesuatu itu pun telah hilang. Mari belum sepenuh nya pergi dari hidup Bisma, karena beberapa kali masih ber-komunikasi, Mari masih belum berangkat ke Jepang karena mengurus urusan kampus nya untuk pindah ke Jepang. Bisma beberapa kali menceritakan betapa berat nya hidup saat Mari tidak ada di samping Bisma lagi, begitu pula Mari, walau sibuk kesana kemari tetap saja berharap bahwa Bisma bisa ikut ke Jepang dan hidup disana.
Dua hari menjelang Mari berangkat ke Jepang, Mari kehilangan kontak dengan Bisma, Mari berpikiri bahwa Bisma tidak tahan jika harus ucapkan selamat tinggal. Obrolan terakhir Bisma adalah "yang ikhlas lah nanti jika bertemu dengan pemuda Jepang itu, jangan mau minum sake nanti kamu mabuk dan joget ala grup idola yang ada di jepang itu, jadi lah lebih baik untuk sesuatu yang baru seperti aku memutuskan untuk tinggal di kos" hanya pada saat saat terakhir Mari baru tahu alasan sebenarnya Bisma mau tinggal di tempat kos dekat kantor, tapi itu sudah percuma, Bisma tidak bisa di kabari, orang tua nya pun tidak tahu Bisma ada dimana, tapi masih berangkat ke kantor.
Menjelang berangkat ke bandara, Mari merasakan apa yang dirasakan Bisma, yaitu perih saat ditinggal. Mari merasa Bisma meninggalkan nya terlebih dahulu sebelum berangkat ke Jepang. Ketika di bandara pun berharap Bisma datang dengan ceria untuk ikut atau hanya mengantar Mari untuk yang terakhir kali nya. Barang barang yang besar sudah di masuk kan ke dalam pesawat saat check in, tetiba telepon genggam Mari berbunyi, dengan senyum Mari mengambil telepon nya berharap dari Bisma, ya setidak nya mengucapkan kata kata terakhir.
Tapi nomor ini bukan nomor telepon genggam Bisma tapi dari Dika, "Halo Mari! ini Dika, kamu sudah di Jepang?" tergesa gesa terdengar suara Dika, "belum mas ini masih di bandara, baru mau masuk, ada apa mas?" jawab Mari heran, apa ada yang salah dengan kantor? "Mar, Bisma meninggal, dia kolaps kecapean, dia meninggal di kamar kos nya dengan laptop menyala sedang mengerjakan pekerjaan sampingan, saya pernah dengar dia ambil pekerjaan itu untuk masuk perusahaan di Jepang".