Senin, 28 Maret 2022

Jangan Takut Sedih

Tutup hening telinga Dia lakukan
Ketika suara lirih terdengar
Dari mulut kawan yang ternyata
Ketakutan dengan hidup nya

Tak ada yang salah tentang cerita
Hanya esensi yang membuat Dia
Ketakutan akan sebuah kalimat panjang
Tutup saja telinganya

Tapi lirih yang terdengar itu
Karena suara pipa besi berasap
Nyaring hingga suara lantang kawan
Terdengar seperti lirih orang sakit

Mungkin karena itu?
Atau kah karena hal yang pernah
Atau karena hal yang sekarang
Atau Dia hanya takut?
 
Hai, kamu, Dia dalam tulisan ini
Ingatlah untuk terbuka dengan ku
Ingatlah bahwa kau tak sendiri
Tak perlu sedih sendiri
 
Hai, kamu, Dia dalam tulisan ini
Ingatlah tidak ada yang perlu kau takutkan
Ingatlah ada yang butuh dirimu untuk lebih
Lebih menjadi apa yang kau raih sekarang

Kamu, Dia dalam tulisan ini
Kamu hebat walau banyak yang harus diubah
Kamu hebat walau banyak yang perlu direvisi
Kamu hebat

Ingatlah dimana kamu berteriak
Ketika diganggu didalam kamarmu
Agar tidak riuh suara di layarmu
Disitulah kamu disayang oleh yang ada dilayar dan diluar layarmu

Minggu, 20 Maret 2022

Logika Fakta Rasa Cinta dan nasi goreng rempah

Logika disanggah oleh fakta
Cinta dibantu oleh rasa
Tapi kadang
Logika membuat jatuh cinta

Rasa bukanlah fakta
Karena tiap lidah itu
Berbeda rasa pedas
Apalagi matah dan rica rica

Fakta kadang dibelokkan cinta
Banyak yang bilang
Buta karena cinta
Padahal jatuh cinta bisa lewat suara

Cinta itu rumit
Buat mereka yang mencoba
Mencampurkan logika dan rasa
Pada sebuah fakta yang belum tentu ada

Semoga saja logika dan fakta
Membuat cinta menjadi
Kaya akan rasa
Layaknya nasi goreng rempah

Sabtu, 19 Maret 2022

Cinta Awal dan Akhir

Jika nanti tuhan tahu bahwasanya tidak ada manusia yang tidak tahan dengan cinta. Apa mungkin nanti nya manusia menyerah akan cinta? Apakah tuhan akan membuat manusia tetap setia dengan cinta? Yah apalah itu cinta, jika tuhan sudah membuat nya menyatu kadang memisahkannya pun susah. Ada yang seperti itu, ada pula yang mudah, dan kenapa pula ada perbedaan? Apakah memisahkan cinta itu ada kriteria nya? Harus menyakiti misalnya, harus terus menerus menyiksa misalnya, harus tidak mencintai lagi misalnya, haruskah seperti itu?

Mencintai itu diawali oleh kelembutan, dan keseharian yang penuh kehangatan. Tak ada benci diantara sisipan senyum dan tawa, tak ada kata kasar yang tanpa makna berkumandang di ruangan 3 x 4 meter. Semua penuh ketenangan. Sedangkan bagaimana cara mengakhiri cinta? seperti akhir paragraf awal dalam tulisan ini kah? Yang dimana harus ada kehancuran disetiap kata cinta, yang harus ada siksa disetiap tatap atau ucap.

Tuhan tidak akan mengizinkan (mungkin) seseorang yang ingin meninggalkan cinta nya yang sudah dijanjikan, tapi manusia adalah makhluk yang ingkar walaupun banyak dari mereka yang patuh akan hukum yang ada. Untuk makhluk ingkar, apa yang ada didalam pikirnya? Mereka kira semua ini mudah untuk didapat dan dilepas? Seperti karet gelang pada bungkus nasi uduk yang kadang isi nya banyak dan sulit untuk tutup, ketika karet tersebut dilepas dengan sengaja, bukannya tidak mungkin tapi sudah pasti karet tersebut melar dan sudah tidak bisa mengunci atau menahan kertas isi nasi tersebut.

Bagi mereka yang taat, yang percaya akan hubungan yang cinta nya akan terus menerus ada dalam hati yang tumbuh kuat tiap hari, percayalah kalian luar biasa. Tapi bukan berarti mereka yang beda dari kalian tidak boleh hidup di dunia yang hampir sempurna ini. Mereka hanya tersisih dari semua yang indah di dunia, mereka hanya terasa terpinggirkan dari indah nya cinta yang sudah pernah diberikan. Mereka lelah, ingin lepas, ingin pergi namun tak berani. Sudah diakhiri saja atau menunggu lelah hingga tak mampu berteriak pada rasa beban yang sepertinya tak akan bisa dihilangkan begitu saja.

Jika nanti tuhan tahu bahwa manusia, atau beberapa dari mereka ingin pergi dari cinta yang dia rasa itu hampa. Apakah tuhan mengizinkan? atau membiarkan saja mereka luntang lantung hidup di dunia tanpa tahu rasa mencinta untuk selamanya. Atau mengakhiri dunia nya dengan menekan urat nadi dengan ujung tajam yang Ia dapat.

Jumat, 18 Maret 2022

Tawa dan Realita

Empat orang berbagi layar
Tawa juga serta hinga senda gurau
Ditambah satu walau tak selayar
Ikut tertawa walau hanya dengarkan satu orang

Riang gembira bahas tentang hal yang tidak mungkin
Di layar lain ikut tertawa karena ikut diceritakan
Semua tertawa tanpa ada yang memerintah
Semua gembira tanpa ada rencana

Satu orang bangkit dari duduknya untuk menjawab panggil dari luar
Dan semua orang masih tertawa terpingkal walau hanya satu yang tidak
Satu tersebut mendengar semua suara yang hanya dia yang bisa mendengar

Patah hari nya ketika mendengar hal yang seharusnya tak perlu didengar
Kemudian patah pula yang berbicara
Tapi tiga orang lain tak ada yang tahu mengenai itu
Mereka masih berbicara seakan layar adalah wajah temannya
 
Runtuh hari kedua orang itu
Tapi sayang tidak ada yang tahu selain mereka
Terdiam sejenak yang terpisah layar
Senyumnya tertutup kecewa dan dipisahkan realita
 
Seakan tak mau kalah
Yang satu ikut tertekan dengan keadaan
Tak terima yang tadi merasa kecewa
Ikut pula tertampar realita
 
Kini tinggal layar putih
Suara yang putih
Dan sayup lirih
Doa nya disampaikan

Minggu, 13 Maret 2022

Siksa Pikiran

Jatuh cahaya perlahan meredup
Bulatan kecil di angkasa makin terlihat jelas
Makin menguning
Makin bersinar

Sementara angkasa makin gelap
Di darat lampu berbinar
Makin terang
Making berwarna

Kendaraan berjalan pulang
Jalan raya mulai lengang
Makin sepi
Makin kosong

Tiap tiap rumah makin riuh
Sang ayah pulang, sang ibu riang
Makin ramai
Makin senang

Tapi disini,
Kepala ini seperti malam
Seperti angkasa pada malam
Pekat hitam

Sayang nya,
Tanpa binar bintang
Tanpa rembulan
Hanya hampa

Sayang nya ketika kepala ini penuh
Penuh dengan kecaman
Kecaman yang bukan mengancam diriku
Tapi ini mengancam yang lain
 
Semua isi kepala diisi dengan darah
Merah rasanya tapi bukan amarah yang keluar
Bukan benci yang dirasa untuk mengganti
Tapi hilang atau menghilangkan yang sekarang

Ketika di luar makin sunyi
Tetapi di pikiran ini makin riuh
Makin cemas
Makin mengganas
 
Pikiran ku menggila tak terarah
Sudah tidak bisa membeda
Makin parah
Makin gila
 
Siang hari tidak boleh melihat sudut siku
Seakan memanggil untuk menghujam
DIRIKU
DAN DIRINYA


MAKIN INGIN HILANG



MAKIN INGIN MENGHILANGKAN

Bangga, semoga

Kebanggaan bukan segalanya
Tetapi keluarga
Adalah kebanggaan ku
Dan keluarga adalah segalanya
 
Bukan berarti segala sesuatu
Harus berkaitan dengan
Keluarga
Tidak juga

Tapi apa yang kulakukan
Kulakukan dengan bangga
Karena aku
Bagian dari keluargaku

Nah,
Harusnya aku bangga
Dengan diriku
Karena aku bagian dari keluargaku

Kadang ini,
Ini yang kurasakan
Setiap hal yang kulakukan
Tidak membuatku bangga
 
Pelan, pelan, perlahan
Yang kulakukan dengan bangga
Harus juga membuatku bangga
Semoga

Saat nanti,
Aku sudah merasa bangga
Semoga keluarga ku juga bangga
Pada diriku

Semoga