Senin, 22 Mei 2017

Sesat

Mungkin aku tidak cukup sekali melakukan tindakan bodoh seperti ini, kembali lagi tersesat di jalan yang sama. Seharusnya aku belok ke arah kanan sebelum toko kelontong, dan sekarang di mana aku? Tak adakah orang lewat atau bapak hansip yang kebetulan berjaga di lingkungan sekitar? Sudah takdir mungkin aku sering tersesat setidak nya dua kali di tempat atau jalan yang sama. Tapi tak ada yang namanya takdir, selama kita masih bisa hidup dan merubah takdir itu, setidaknya. Jika saja peta di telepon genggam bisa ku pakai, mungkin takdir ku akan sedikit berubah.

Syarnah nama ku, kebanyakan orang memanggil ku Syar dan lebih banyak lagi yang memanggil ku, si Tukang Nyasar. Bagaimana tidak, aku selalu mengendarai motor ku ke tujuan dan rute yang sama setiap hari, dan pulang pun dengan rute dan tujuan yang sama. Jika berbeda, sudah tentu aku akan tersesat walau sudah pernah ku ke tempat itu dan dengan rute yang sama. Tapi tetap aku akan tersasar. Sempat ku menepis julukan itu setelah telepon genggam ku dilengkapi dengan peta yang akurat, yang bisa mengetahui posisi ku dengan tepat.

Waktu sudah menunjukan pukul satu pagi, dan aku tidak tahu ini berada di mana. Yang aku tahu, ini masih di daerah yang sering aku kunjungi setiap malam minggu. Hanya dengan salah berbelok sekali saja sudah membuat ku buta arah, terlebih telepon genggam ku mati. Lengkap sudah malam ini, hanya memakai lampu motor ku untuk menerangi jalan kecil ini. Semakin lama aku semakin memasuki daerah perkampungan, makin banyak pohon-pohon besar dan semakin jarang rumah. Jalan nya pun sudah bukan beton maupun aspal, tapi sudah tanah yang padat seperti sering dilalui oleh penduduk sekitar.

Jam tangan ku berbunyi, setiap jam nya. Kali ini tanpa ku melihat nya aku tahu ini sudah pukul dua pagi, mata ku tak sanggup lagi melihat jalan. Sudah ku berputar balik ke jalan yang ku lalui sebelumnya, tapi hasilnya sama saja malah aku tidak mengingat apakah ini jalan yang sudah aku lalui sebelumnya. Dengan mencoba tenang aku berhenti di sebuah saung kecil. Aku melihat cahaya remang rumah terakhir yang kau lihat, mungkin sekitar 5 atau 7 kilometer jaraknya sudah. Ini tidak akan terjadi jika aku menanggapi panggilan dari kantor sore tadi.

Berkunang kunang mataku sepertinya tapi tak ku gubris, ku tetap mengendarai motor ku hingga mataku tertutup. Sejenak gelap pandangan ku, kemudian ku membuka mata kembali. Terasa kaget karena kupikir akan jatuh dari sepeda motor ku, dan ku kembali terkaget. Ini bukan lagi jalan yang tadi, ini berbeda tapi terasa sama. Ku teliti kembali sekitar ku, jalan tanah dan pepohonan, rumah-rumah sekitar, mereka seperti terbalik arah antara kiri dan kanan. Tulisan pun terbalik, sekejap ku berdoa meminta arah yang benar dan segera dikeluarkan dari tempat ini pintaku.

Sambil memejamkan mata ku berdoa, dan mengingat kembali keluarga ku beserta orang orang terdekat ku. Dengan mengucap amin dan mengusap wajah aku membuka mata, segalanya masih sama tidak ada yang berubah, hanya di benak ku merasa yakin aku harus berjalan ke arah yang semesti nya. Semakin aku mengendarai motor ku, semakin yakin aku menuju ke arah yang benar. Di ujung jalan terlihat bangunan yang berbeda menurutku, mungkin karena terlihat sedikit bercahaya dibanding rumah warga yang lain. Aku mendekati, dan ternyata sebuah musholla yang bentuk bangunannya seperti rumah kecil.

Tanpa ada rasa curiga atau takut, aku memasuki motor ku ke dalam musholla yang tanpa pagar itu. Ku parkir motor di pekarangan, tepat terlihat sepasang sandal kulit yang terlihat lusuh. Aku pun terduduk di depan pintu musholla tersebut. Aku terkaget karena tepukan di pundak ku, seorang bapak yang sudah berumur menyapa ku dan bertanya apakah diriku sudah melaksanakan shalat isya, sedikit ku berpikir memang aku belum melaksanakannya. Dengan ringan langkah ku menuju tempat wudhu dan menyegerakan shalat. Setelah ku selesai beribadah dan berdoa agar ditunjukan jalan ku, aku segera berberes untuk melanjutkan jalan ku.

Sekali lagi aku dikagetkan oleh bapak itu, dengan mengucap salam aku pamit. Tapi ku mendengar bapak itu berbicara walau dengan nada yang rendah, dia berbicara tentang diriku yang selalu meninggalkan ibadah ku. "Jangan kau tinggalkan sujud mu". Setelah ku melangkahkan satu langkah kaki ku keluar pintu musholla, sekejap ku terkaget.

Aku terbangun? Aku jatuh? Sejak kapan? Kepalaku sakit rasanya, motor ku terlihat buyar tetapi dalam keadaan tergeletak jauh di depan ku. Banyak orang mengelilingi ku dan kulihat satu wajah yang ku kenal, waajah yang aku tahu bahwa kita saling mencinta. Sekejap tenang pikiranku, aku mengantuk, dan semuagelap kembali.

Minggu, 14 Mei 2017

Kalau daun plastik?

Apakah diri ini bagai daun
Yang tumbuh berguna
Hingga akhirnya pun
Tetap berguna

Berguguran
Jatuh ke tanah
Menyatu
Menjadi guna

Atau diri ini bagai kantong plastik
Yang dibuat berguna
Tapi akhirnya
Dibuang percuma

Terbawa angin
Jatuh ke tanah
Tidak menyatu
Merusak semua

Atau aku ini plastik
Yang dibuat berguna karena mesin
Berakhir kembali ke mesin
Dan berguna kembali

Dibuang
Dipungut pemulung
Di daur ulang
Dan menjadi guna

Senin, 08 Mei 2017

Sekilas bercerita

Kala laut disambar api
Dan petir pun menari gembira
Walau dikekang awan hitam
Menggantung di langit

Laut meringis panas
Api pun tak lama kemudian lenyap
Dan berkali kali petir berjingkrak
Tertawa melihat bodoh dua unsur

Badai muncul dan makin bergemuruh
Karena petir dan gelak tawa nya
Sedang awan tak sanggup menahan
Hingga sesekali petir menyentuh lautan

Sang angin bijak pun datang
Hilangkan perih laut yang terbakar
Membawa pergi sang awan hitam
Serta petir yang tak kenal iba

Hanya sekejap matahari pun datang
Terlambat membawa cerah
Hingga hilang semua yang ada
Kembali sepi tiada cerita

Rabu, 01 Maret 2017

Bintang telah jatuh

Menengadah aku ke langit malam
Yang selalu dihiasi bintang
Seperti tak diizinkan terasa kelam
Malam yang terang membuat tenang

Satu terang bintang begitu besar
Yang begitu gemerlap terang
Semakin terang membesar berpijar
Membuat malam seakan siang

Bukanlah bintang berkelip kupandang
Dan bukan sekedar bintang jatuh
Yang dikikis udara kemudian hilang
Di ujung malam paling terjauh

Cahaya ini tak lagi ku kagumi
Rasa tenang tadi berubah mencekam
Ku harap segera bangun dari mimpi
Saat langit memerah membakar malam

Semua sudah terlambat dirasa
Tak ada lagi tempat ku bersembunyi
Terakhir kulihat sinar putih di mata
Terasa tenang kembali kemudian sepi