Kamis, 12 Desember 2019
Sampai nanti
Rabu, 27 Februari 2019
Halo mas, revisi ya
Karena larutan begitu mudah masuk ke dalam tenggorokan ku
Begitu pula dengan semua tindak tanduk mu yang mengalir begitu saja
Tanpa sempat kuresapi, tanpa sempat kukecap, masuk begitu saja
Seketika ku tersedak, terasa sesak
Tidak enak rasanya begitu tercekak
Kupikir batuk bisa menyelesaikan masalah ternyata tidak
Sampai kapan ku harus seperti ini
Sejak dahulu kala ku merasa seperti ini
Tersiksa terus menerus seperti ini
Langkahku sudah jauh ke depan, sudah banyak yang ku lalui
Langkahku sudah bergerak segera, sudah banyak yang ku lewati
Tapi tak bisa lepas dari sesak yang kau ciptakan, dari cairnya sikapmu
Ingin ku sudahi tapi inilah jalanku
Ingin ku acuhkan tapi ini hidup ku
Ingin ku buang tapi tak bisa
Coba sekali lagi sini aku telan semua tingkah laku mu
Coba sekali lagi sini aku telan semua yang kau berikan kepadaku
Coba kali ini aku tidak akan tersedak
Biar saja sesak yang pelan pelan akan hilang mereda sendiri nanti
Biar saja sakit perih yang akan hilang merda sendiri nanti
Biar saja nanti akan ku lewati semua ini
Dasar revisi!
Selasa, 26 Februari 2019
Kamis, 21 Februari 2019
Jatuh
Sekejap melayang tak bisa lagi menapak
Perlahan tinggi
Sampai gedung terlihat sebesar ibu jari
Ragu ini hanya mimpi semata
Terasa nyata hembusan angin kencang diatas sini
Kemudian senyap datang
Sunyi
Perlahan gelap
Dan seakan sekeliling bergerak keatas
Terus bergerak cepat
Sampai gedung pun tak terlihat
Sampai semua gelap kembali
Sunyi kembali
Dan tersadar kini sudah menapak kembali
Bukan hanya kaki namun seluruh badan
Kini berada di tanah
Senin, 18 Februari 2019
Baiklah
Lain kali bilang dahulu sebelum semua berjalan
Setidaknya ada satu kata untuk memulai
Jangan terlalu mendesak jika tak terpaksa
Mendung dahulu kemudian hujan
Walau kadang seketika badai
Setidaknya ada pertanda untuk memulai
Satu kata saja
Baiklah.
Minggu, 17 Februari 2019
Sebat duls
Yang usil terusik,
yang asik berisik,
yang melantur
suka nya membentur,
sudahlah mending kita akur,
daripada debat mending sebat,
biar lentur dan saling baur.
Sabtu, 16 Februari 2019
Awal yang berganti
Balik lagi ke titik nol untuk melihat lagi tujuan awal sebuah rencana
Terpana ternyata titik itu sudah bergeser
Ingat kembali
Susun kembali
Dengarkan kembali semua cerita tentang awal nya rencana
Sebelum berganti
Sebelum terganti
Halu yang lalu
Yang lalu mungkin terulang tapi tak akan jadi sekarang
Sekarang bukanlah yang lalu karena yang lalu sudahlah berlalu
Dan masa lalu pun tak akan jadi sekarang karena apapun itu sekarang adalah yang kita rasa
Masa lalu mungkin dikenang dan akan terkenang
Sekarang tidak mungkin dikenang yang ada hanya dirasa
Yasudahlah tidur saja yang lalu mungkin jadi halu biar tenang hadapi sekarang
Jumat, 15 Februari 2019
Angkuhnya kereta
Kusampingkan tali tas yang menyilang di dadaku karena sesak menahan beban yang kupanggul ini
Lelah ku duduk bersandar pada tiang besi stasiun tua ini
Sedangkan orang lain lalu lalang mencari ruang untuk menunggu
Menunggu sesuatu yang tak menunggu
Bukan harapan yang selalu diucapkan dalam doa
Bukan pula gaji yang kadang tak pasti
Bukan pula kematian
Hanyalah kotak besi panjang beroda besi yang angkuh
Yang tak menunggu walau sudah ditunggu
Rabu, 13 Februari 2019
Penyanyi brengsek
Ku kutip syair dari sebuah lagu sedih yang dinyanyikan dengan syahdu oleh sang penyanyi
Tak ada gelisah dari kata kata itu hanya saja terasa rapuh saat dinyanyikan oleh sang penyanyi
Terduduk ku berpikir mungkin kisah dari lagu ini seperti kisah yang dirasakan oleh sang penyanyi
Larut lagi kudengarkan dan kuresapi syair lagu sedih itu untuk merasakan yang juga dirasa oleh sang penyanyi
Perlahanku menitikkan air mata disertai amarah yang menyesakkan dada tak tertahankan saat syair itu diulamg oleh sang penyanyi
Sang penyanyi turun dari panggung menyelesaikan aksinya tapi rasa ini masih tersisa
Sesak
Risau yang kacau
Pada gelak tawanya kadang bersembunyi risau yang kacau jika nanti pada waktunya tak bisa diulang lagi
Tatapnya tajam walau kadang tertutup riuh gemuruh canda disekitar yang membuat apapun yang dipikirkan tak tampak
Tapi tak ditampik bila perasaannya tak mempan dengan keriangan meriah celoteh kawan yang membahana
Sudahlah pulang sudah malam, istirahatlah sampai nanti bertemu kembali gelak tawa berisik untuk tutupi risau
Senin, 11 Februari 2019
Nanti
Aku takut berbalik nanti
Jadi sendiri lagi nanti
Walau tak terikat lagi nanti
Makin terasa sepi nanti
Tak ada yang pasti nanti
Masih gelap gulita nanti
Sekarang bahagia belum tentu nanti
Masih ringan langkahku tak tahu nanti
Perlahan mati diriku sekarang
Dimakan ego sendiri sekarang
Jumat, 08 Februari 2019
KRL
Banyak orang duduk berhadapan
Suara pemandu dari pengeras suara
Badan letih berjalan menyusuri gerbong
Beberapa menatap kotak bercahaya
Oh rindu ku rindu
Duduk menunggu si kotak besi
Tak harap apapun
Hanya menunggu
Berpulang entah kemana waktu itu
Selama langkah masih sigap
Terkadang khamr ku tenggak
Tak jarang ku lahap sebuah buku
Gelap memang sudah waktunya
Lampu lampu dan bulan saja yang ada
Tak ada yang dipikirkan terkadang
Kadang penuh pula yang kupikirkan
Dari senang hingga gamang
Walau lelah ingin rebah
Tetap saja kadang berdiri
Jika duduk kadang dipaksa berdiri
Tak peduli semalam apapun
Selama kotak besi ini belum berhenti
Tak peduli kemanapun pergi
Sampai jiwa puas dengan apa yang dirasa
Oh,
Kereta listrik
Ku rindu pulang diantarmu
Terjun (tanpa) Payung
Terjun saja sana
Bermodalkan keyakinan semata
Tanpa kuat jiwa dan raga
Nikmati cakrawala dari atas
Luas hijau membentang
Indah gunung berjajar di ujung sana
Sampai nanti kau sadar
Panik tak karuan
Takut menyeruak
Angin kencang menekan
Tanah keras di bawah sana
Tak memelan pun semakin melaju
Sedetik kemudian
Rata kau dengan tanah
Hancur berkeping
Terjun saja sana
Rabu, 06 Februari 2019
Pembunuh bernama waktu
Lelah raga dipaksa jiwa yang terus menggerus waktu, waktu yang sebenarnya tak ada, waktu yang sebenar-benarnya kosong
Jiwa yang lupa bahwa tak harusnya mengurung dirinya, dalam sangkar waktu yang sebenarnya tak ada, tapi memaksanya untuk berubah
Jiwa mengulang setiap geraknya membuat raga kini letih, berteriak perlahan-lahan agar jiwa tak sedih dalam ketiadaan, mati perlahan-lahan
Akhirnya terhenti jiwa yang inginkan perubahan, duduk lemas tak berdaya tanpa disangka raga telah tiada, menatap waktu yang tak berwujud
Waktu tak lagi memaksa jiwa untuk berubah, meninggalkan nya dalam kosong seakan menipu jiwa yang dulunya bergejolak, kini tergeletak terurai tak berdaya
Waktu yang sebenarnya hanya menunggu semuanya sia sia, memanfaatkan gejolak jiwa yang menggebu-gebu, hanya untuk melihat semua hilang tak berguna
Waktu yang sebenarnya nyata, tapi bukan sangkar yang mengurung, hanya luas tak berbatas menipu jiwa yang kikiskan raga hanya untuk merasa berharga
Arah
Sukar dimakna sebuah kata yang ambigu, dimana dua arah tak membuat semua menjadi nyata
Jika langkah ini gontai, kenapa harus terus lurus jalan searah?
Tapi buat banyak arah, jika semua tidak ada yang nyata