Kamis, 12 Desember 2019

Sampai nanti

Jika sampai nanti
Disaat langkah pertama berjalan penuh gontai
Limbung tak pasti
Mencoba tegak namun tak sampai ke hati
Merasa melayang walau tanah sudah ditapaki

Jika sampai nanti
Ketika langkah kedua berjalan tak kunjung pasti
Dan kini justru malah memaki kaki
Yang katanya melenceng walau sudah diarahi

Kemudian mencoba berlari
Karena takut tidak bisa berdiri
Walau tanah merasa mantap ditapaki
Tapi limbung tak tahu arah walau dicari

Jika sampai nanti
Walau sudah jauh langkah berlari
Dan tetap limbung setiap jengkal yang ditapaki
Akan hilang tujuan dari niat di hati

Jika sampai nanti
Mencoba berjalan setelah lelah berlari
Kemudian kembali memaki kaki
Yang sudah jauh dari tujuan yang disepakati

Kemudian sesal menggerogoti
Menggerutu tiap malam yang tidak dinanti-nanti
Bergetar kaki tak kuat berdiri
Sampai ambruk sambil mencaci

Sampai nanti
Jika memaksa hati
Dan langkah yang tak pasti
Tidak akan sampai apa yang dinanti

Rabu, 27 Februari 2019

Halo mas, revisi ya

Karena larutan begitu mudah masuk ke dalam tenggorokan ku
Begitu pula dengan semua tindak tanduk mu yang mengalir begitu saja
Tanpa sempat kuresapi, tanpa sempat kukecap, masuk begitu saja

Seketika ku tersedak, terasa sesak
Tidak enak rasanya begitu tercekak
Kupikir batuk bisa menyelesaikan masalah ternyata tidak

Sampai kapan ku harus seperti ini
Sejak dahulu kala ku merasa seperti ini
Tersiksa terus menerus seperti ini

Langkahku sudah jauh ke depan, sudah banyak yang ku lalui
Langkahku sudah bergerak segera, sudah banyak yang ku lewati
Tapi tak bisa lepas dari sesak yang kau ciptakan, dari cairnya sikapmu

Ingin ku sudahi tapi inilah jalanku
Ingin ku acuhkan tapi ini hidup ku
Ingin ku buang tapi tak bisa

Coba sekali lagi sini aku telan semua tingkah laku mu
Coba sekali lagi sini aku telan semua yang kau berikan kepadaku
Coba kali ini aku tidak akan tersedak

Biar saja sesak yang pelan pelan akan hilang mereda sendiri nanti
Biar saja sakit perih yang akan hilang merda sendiri nanti
Biar saja nanti akan ku lewati semua ini

Dasar revisi!

Selasa, 26 Februari 2019

Kamis, 21 Februari 2019

Jatuh

Sekejap melayang tak bisa lagi menapak

Perlahan tinggi

Sampai gedung terlihat sebesar ibu jari

Ragu ini hanya mimpi semata

Terasa nyata hembusan angin kencang diatas sini

Kemudian senyap datang

Sunyi

Perlahan gelap

Dan seakan sekeliling bergerak keatas

Terus bergerak cepat

Sampai gedung pun tak terlihat

Sampai semua gelap kembali

Sunyi kembali

Dan tersadar kini sudah menapak kembali

Bukan hanya kaki namun seluruh badan

Kini berada di tanah

Senin, 18 Februari 2019

Baiklah

Lain kali bilang dahulu sebelum semua berjalan

Setidaknya ada satu kata untuk memulai

Jangan terlalu mendesak jika tak terpaksa

Mendung dahulu kemudian hujan

Walau kadang seketika badai

Setidaknya ada pertanda untuk memulai

Satu kata saja

Baiklah.

Minggu, 17 Februari 2019

Sebat duls

Yang usil terusik,
yang asik berisik,
yang melantur
suka nya membentur,
sudahlah mending kita akur,
daripada debat mending sebat,
biar lentur dan saling baur.

Sabtu, 16 Februari 2019

Awal yang berganti

Balik lagi ke titik nol untuk melihat lagi tujuan awal sebuah rencana

Terpana ternyata titik itu sudah bergeser

Ingat kembali
Susun kembali

Dengarkan kembali semua cerita tentang awal nya rencana

Sebelum berganti
Sebelum terganti

Halu yang lalu

Yang lalu mungkin terulang tapi tak akan jadi sekarang

Sekarang bukanlah yang lalu karena yang lalu sudahlah berlalu

Dan masa lalu pun tak akan jadi sekarang karena apapun itu sekarang adalah yang kita rasa

Masa lalu mungkin dikenang dan akan terkenang

Sekarang tidak mungkin dikenang yang ada hanya dirasa

Yasudahlah tidur saja yang lalu mungkin jadi halu biar tenang hadapi sekarang

Jumat, 15 Februari 2019

Angkuhnya kereta

Kusampingkan tali tas yang menyilang di dadaku karena sesak menahan beban yang kupanggul ini

Lelah ku duduk bersandar pada tiang besi stasiun tua ini

Sedangkan orang lain lalu lalang mencari ruang untuk menunggu

Menunggu sesuatu yang tak menunggu

Bukan harapan yang selalu diucapkan dalam doa

Bukan pula gaji yang kadang tak pasti

Bukan pula kematian

Hanyalah kotak besi panjang beroda besi yang angkuh

Yang tak menunggu walau sudah ditunggu

Rabu, 13 Februari 2019

Penyanyi brengsek

Ku kutip syair dari sebuah lagu sedih yang dinyanyikan dengan syahdu oleh sang penyanyi

Tak ada gelisah dari kata kata itu hanya saja terasa rapuh saat dinyanyikan oleh sang penyanyi

Terduduk ku berpikir mungkin kisah dari lagu ini seperti kisah yang dirasakan oleh sang penyanyi

Larut lagi kudengarkan dan kuresapi syair lagu sedih itu untuk merasakan  yang juga dirasa oleh sang penyanyi

Perlahanku menitikkan air mata disertai amarah yang menyesakkan dada tak tertahankan saat syair itu diulamg oleh sang penyanyi

Sang penyanyi turun dari panggung menyelesaikan aksinya tapi rasa ini masih tersisa

Sesak

Risau yang kacau

Pada gelak tawanya kadang bersembunyi risau yang kacau jika nanti pada waktunya tak bisa diulang lagi

Tatapnya tajam walau kadang tertutup riuh gemuruh canda disekitar yang membuat apapun yang dipikirkan tak tampak

Tapi tak ditampik bila perasaannya tak mempan dengan keriangan meriah celoteh kawan yang membahana

Sudahlah pulang sudah malam, istirahatlah sampai nanti bertemu kembali gelak tawa berisik untuk tutupi risau

Senin, 11 Februari 2019

Nanti

Aku takut berbalik nanti
Jadi sendiri lagi nanti

Walau tak terikat lagi nanti
Makin terasa sepi nanti

Tak ada yang pasti nanti
Masih gelap gulita nanti

Sekarang bahagia belum tentu nanti
Masih ringan langkahku tak tahu nanti

Perlahan mati diriku sekarang
Dimakan ego sendiri sekarang

Jumat, 08 Februari 2019

KRL

Banyak orang duduk berhadapan
Suara pemandu dari pengeras suara
Badan letih berjalan menyusuri gerbong
Beberapa menatap kotak bercahaya

Oh rindu ku rindu
Duduk menunggu si kotak besi
Tak harap apapun
Hanya menunggu

Berpulang entah kemana waktu itu
Selama langkah masih sigap
Terkadang khamr ku tenggak
Tak jarang ku lahap sebuah buku

Gelap memang sudah waktunya
Lampu lampu dan bulan saja yang ada
Tak ada yang dipikirkan terkadang
Kadang penuh pula yang kupikirkan

Dari senang hingga gamang
Walau lelah ingin rebah
Tetap saja kadang berdiri
Jika duduk kadang dipaksa berdiri

Tak peduli semalam apapun
Selama kotak besi ini belum berhenti
Tak peduli kemanapun pergi
Sampai jiwa puas dengan apa yang dirasa

Oh,
Kereta listrik
Ku rindu pulang diantarmu

Sudahlah

Terdiam terus mendendam
Tak ada ruang untuk tenang
Kemudian menyerah

Terjun (tanpa) Payung

Terjun saja sana
Bermodalkan keyakinan semata
Tanpa kuat jiwa dan raga

Nikmati cakrawala dari atas
Luas hijau membentang
Indah gunung berjajar di ujung sana

Sampai nanti kau sadar
Panik tak karuan
Takut menyeruak

Angin kencang menekan
Tanah keras di bawah sana
Tak memelan pun semakin melaju

Sedetik kemudian
Rata kau dengan tanah
Hancur berkeping

Terjun saja sana

Rabu, 06 Februari 2019

Pembunuh bernama waktu

Lelah raga dipaksa jiwa yang terus menggerus waktu, waktu yang sebenarnya tak ada, waktu yang sebenar-benarnya kosong

Jiwa yang lupa bahwa tak harusnya mengurung dirinya, dalam sangkar waktu yang sebenarnya tak ada, tapi memaksanya untuk berubah

Jiwa mengulang setiap geraknya membuat raga kini letih, berteriak perlahan-lahan agar jiwa tak sedih dalam ketiadaan, mati perlahan-lahan

Akhirnya terhenti jiwa yang inginkan perubahan, duduk lemas tak berdaya tanpa disangka raga telah tiada, menatap waktu yang tak berwujud

Waktu tak lagi memaksa jiwa untuk berubah, meninggalkan nya dalam kosong seakan menipu jiwa yang dulunya bergejolak, kini tergeletak terurai tak berdaya

Waktu yang sebenarnya hanya menunggu semuanya sia sia, memanfaatkan gejolak jiwa yang menggebu-gebu, hanya untuk melihat semua hilang tak berguna

Waktu yang sebenarnya nyata, tapi bukan sangkar yang mengurung, hanya luas tak berbatas menipu jiwa yang kikiskan raga hanya untuk merasa berharga

Arah

Sukar dimakna sebuah kata yang ambigu, dimana dua arah tak membuat semua menjadi nyata

Jika langkah ini gontai, kenapa harus terus lurus jalan searah?

Tapi buat banyak arah, jika semua tidak ada yang nyata