Rabu, 03 Februari 2016

Kota aspal

Lagi ku terjebak diantara aspal dan baja, dimana ku melihat deretan lampu rem berwarna merah yang begitu panjang kedepan.

Duduk di dalam sebuah bus, memakai kendaraan umum yang kadang terlalu dipaksakan pemakaiannya hingga terasa panas karena tempat duduk tepat diatas mesin.

Jalur bus dibuat khusus untuk memperlancar laju bus ini pun dipakai untuk laju kendaraan yang lain, yang tak sedikit hanya ada satu orang didalam kendaraan itu.

Heran jika nanti akan ada sebuah kendaraan bawah tanah yang mempercepat laju globalisasi bagi penduduk kota ini dan masih saja kemacetan ini berlanjut.

Langit malam ini mendung dan segera mungkin akan turun hujan, dan segera mungkin akan timbulkan kemacetan tambahan yaitu banjir.

Dimana kita mengadakan beratus kampanye buang sampah pada tempatnya tetapi tidak membuat kampanye pemulihan saluran air.

Sedih jika banjir selalu ada tetapi banyak saluran yang kering, salah fungsi atau merusak fungsi yang ada.

Kota seribu harapan dan beribu kenangan ini tertutup oleh aspal hitam dan kabut asap knalpot yang terlalu indah untuk dinikmati dari kemacetan dan ancaman banjir yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar