Jumat, 05 Februari 2016

Lemari pendingin bergerak

Kupikir dingin ini terasa pedesaannya, ternyata bukan ini pendingin ruangan.

Seperti daging di lemari pendingin tetapi bergerak, dan berhenti di tempat tempat tertentu.

Pagi ini gelap mereda setelah sinar matahari menembus dinginnya pagi, tapi belum terasa disini.

Diperlihatkan pemandangan segar seperti bagian sayur mayur di pasar swalayan.

Akhirnya mata ini diperlihatkan warna warna segar hasil alam bukan layar dalam format merah hijau biru.

Kabut tipis masih terlihat bercumbu dengan hamparan sawah hijau yang diselingi pepohonan dan rumah warga.

Padahal di ibukota sudah tercium bau asap knalpot dari tiap tiap kendaraan, entah dua roda atau empat bahkan lebih.

Sungguh mau kubuka jendela ini jika saja diperbolehkan, lebih baik dingin alam daripada buatan.

Aku ini manusia bukan daging yang digantung di lemari pendingin yang akan dijual.

Sekitar empat jam lagi lemari pendingin ini akan sampai tujuan ku, bertahanlah aku selama itu.

Sampai nanti bertemu hangatnya sinar matahari bukan lampu yang menghangatkan ayam goreng cepat saji.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar