Terungkap rindu dalam sebuah kalimat, dalam percakapan singkat yang tidak bisa merangkum kerinduan yang panjang.
Tak perlu ada kata rindu untuk mengetahui, yang diucapkan malah kata kata memancing tawa untuk sembunyi kan air mata.
Nantinya sudah tak mungkin bercengkrama atau tak mungkin lagi bertemu muka, tetaplah sudah dan tak akan ada lagi nanti.
Semuanya akan dingin hampa menutupi hari yang bisa dipalsukan dengan kata kata manis untuk orang yang ada.
Bias yang ada perasaan kepada mereka, sebuah ketiadaan yang tak bisa dihilangkan walau diiisi terus menerus dengan galon besar kalimat dan kata kata.
Nuansa remang bersahaja ketika rindu tidak dibenci sudah berganti muram nya warna hitam saat pemakaman.
Bergulat dalam resah digelimangi hampa yang terus menerus mendesak kerongkongan untuk berkata negatif akan sebuah kehidupan.
Pada akhirnya harus bersujud pasrah meminta ampun akan segala yang pernah dilalui kepada yang kuasa pada semesta kita.
Tapi nanti ketika sudah hilang hukuman karena mendengak air penghilang kesetiaan akan diri Nya.
Saat itu akan lebih khidmat dalam doa yang bercampur asin air mata yang akan mengalir dalam ampunan alunan doa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar