Dia selalu datang dengan rambut setengah basah, selalu tampak terburu buru. Langkahnya selalu cepat menyebrang rel dan tergesa gesa menyusuri peron. Bukan karena Ia telat menuju tempat kerja, tapi ingin bertemu seseorang di peron itu, orang yang dia sayang.
Rambutnya tidak keriting mau pun ikal, hanya berantakan tak teratur. Tapi rambutnya selalu digulung gulung menyerupai keriting sosis, tak alami dan tak ditata, itu hanya kebiasaannya setelah selesai rapih berpakaian dengan rambut setengaj basahnya.
Selalu Ia berkata tentang ketidak sengajaannya dia berbuat seperti itu, bukan untuk siapapun juga Ia berbuat seperti itu. Rambut nya yang selalu dia keluhkan berantakan tak membuat orang yang Ia temui kesal, tetapi tersenyum melihat tingkahnya yang kikuk ketika dilihat terlalu lama menurutnya.
Sudah lama peron itu tidak lagi dilalui kakinya yang tergesa gesa, sudah lama rambutnya tidak diperlihatkan kepada yang Ia tunggu, sudah lama pula orang yang Ia tunggu merindu rambut nya yang Ia pilin saat rambutnya setengah basah.
Kini semakin lama, semakin sering orang yang Ia tunggu membayangkan rambutnya, sosoknya, dan juga kehadirannya. Jauhnya tempat bukanlah hal yang mereka masalahkan, hanya karena waktu atau takdir atau mereka sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar