Derik serangga dan teriknya matahari membuai mata menutup segera.
Sepoi angin dan lantunan musik yang mendayu ingin membuat kepala bersandar.
Suasana ini bagai sebuah lagu pengantar tidur, yang bahkan membuat tidur raksasa sekalipun.
Segelas kopi dingin tidak mampu meredam keadaan ini, tidak bisa meredam nikmat rayuan ini.
Akhir pekan yang indah untuk dinikmati, tapi sangat sayang untuk diakhiri.
Masih panjang hari ini, masih lama rasanya matahari bertatap muka dengan bumi.
Sedikit menggoda minuman dingin rasa lemon itu, sepertinya dapat hilangkan kantuk ini.
Seakan bisa menggoda mata terus terbuka, mengajaknya mengobrol sampai malam.
Sendiri hadapi hari yang cerah ini, merangkai kata menjadi kalimat hingga tercipta cerita.
Menunggu matahari lelah bersinar agar dapat nikmati sunyi di tempat remang malam kemarin.
Menyesap kopi dingin, menunggu kumandang suara suci yang mungkin tidak terdengar di dalam sini.
Semoga bisa rangkai cerita siang ini sebelum mereka berbondong ramaikan jalanan.
Biar malam ini sebagai akhir dari perjalanan penentu keputusan akan nanti.
Tak perlu tunggu akan jadi apa nanti saat kembali ke jam sembilan hingga jam enam.
Biar nanti dijalani saja, surat titah sudah di tangan biar rakyat yang menjalankan.
Tak ada ragu, semoga saja lega hati untuk kembali hadapi realita.
Jika jumpa lagi wahai perwujudan dari mimpi, kita akan berbincang lagi.
Saat itu mungkin akan tertawa lebih keras dari sebelumnya, dan tak ada drama dari masa lalu.
Saat ini biar derik serangga dan terik matahari ini menemani, dan juga dingin malam nanti.
Tak akan kusesap minuman rasa lemon itu, biar kuhadapi semua ini dengan tersadar akan apa yang terjadi nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar