Jumat, 01 April 2016

Pemuja

Rasanya ingin memetik bunga dan menyimpannya hingga layu.

Menikmati keindahan tanpa harus membawa semua nya.

Ku petik hanya sekuntum dan ku taruh di atas meja kerja ku.

Masih cerah warnanya dan mungkin kupu kupu pun akan datang karena segar nya masih melekat.

Ingin sekali ku memandang nya seharian tanpa harus melakukan apapun.

Hanya menatap nya lurus nikmati warna nya serta cantiknya bentuk nya.

Tak akan ku sentuh, tak akan ku genggam, hanya dipandang.

Melihat kuntum nya yang selalu memikat serangga mendekat dan penyair akan menulis tentangnya.

Tak akan ku buat sia sia sekuntum bunga.

Daripada jatuh ke tanah dan terinjak kemudian membusuk.

Tak dipandang, tak dipuji, dan diacuhkan.

Bunga yang indah yang tak terlihat, hanya ditanam tanpa diberi pujian seperti biduan tanpa penonton.

Bunga yang indah yang hanya ditanam, disiram setiap harinya, yang hanya penghias taman belaka.

Bunga itu seperti putri jelita yang tidak boleh keluar rumah, dipenjara tanpa boleh orang memuji.

Biar ku petik, ku puji dengan indah, tulus ku puji semua yang ada di kuntum itu.

Walau ku tahu cantiknya tak akan lama, setelah ku petik dia akan perlahan memudar.

Makin lama akan berubah warnanya, akan berkerut permukaannya dan mengering layaknya kertas yang perlahan jadi abu.

Biar saja biar, ku membunuhnya pelan, biar saja biar, ku memisahkannya dari tempatnya berasal.

Biar saja ku jahat, biar ku dihukum, biar saja, agar tak sia sia kecantikan nya dibiarkan begitu saja.

Ku kagumi kuntum bunga itu, ku puji cantik nya, daripada jatuh diacuhkan dan mengering menghilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar