Jumat, 01 April 2016

Mencinta Matahari

Seperti cinta, matahari bersinar malu malu pada dini hari di ufuk timur, begitu malunya hingga berkas sinarnya masih bercampur gelap malam dan belum terasa hangat.

Saat bumi sudah rela melepas malam, matahari beranjak naik dan bersinar lebih terang, lebih hangat. Semua celah di bumi disusupi oleh berkas sinarnya, seketika perasaan cerah layaknya jatuh cinta.

Hampir semua makhluk terbangun oleh keberadaan nya, burung burung bersuka cita, bernyanyi bersahutan seakan sambut kedatangan matahari. Tunas tumbuhan menggeliat bermandikan cahaya hangat, menari nari menyambut kelahiran tunas baru. Inilah jatuh cinta penuh suka cita.

Kian siang, kian panas, kian terasa panas matahari menguasai bumi, memaksa air terangkat ke langit dan merubahnya menjadi gumpalan awan awan.

Terkadang terlalu memaksa air ke langit, hingga awan menggumpal hitam dan tak kuasa langit menahan semua itu hingga turun kembali semua air ke bumi, hujan. Seperti itulah kesedihan dalam cinta yang memaksa, yang terlalu panas tak terkendali.

Setelah siang hari puas matahari menghujam langit dan bumi dengan sinarnya yang tak lagi hangat melainkan panas terik, perlahan mereda, berjalan seakan menghindar ke ufuk barat, sinarnya tak begitu panas hanya sedikit terasa panasnya.

Setelah lelah menggelora sinar matahari, kini meredup, melemah bagai remang lampu jalan, kuning sinar nya tak setegas siang namun tak sehangat pagi, kini sedikit menghilang sosoknya. Inilah cinta, kabur terasa setelah begitu panas menggelora.

Pelan pelan langit berwarna jingga, tidak seperti pagi yang berwarna kuning keemasan saat matahari datang, yang begitu terasa besar dan mewah sinarnya, kini jingga terasa malu malu tak jelas kuning maupun merah, jingga namanya.

Begitu romantis cara matahari meninggalkan bumi, diberi warna indah pada langit, rona jingga di ufuk barat, begitu puitis sehingga bumi rela ditinggal matahari yang sudah semestinya pergi.

Ketika malam perlahan datang, dengan sang bulan sebagai pertandanya, matahari mengecup manis bumi yang disebut senja. Begitu indahnya matahari berpisah dengan bumi, tanpa sadar bumi kehilangan cahaya, dan kembali lagi kelam dalam gelap.

Begitu pula cinta yang kadang melepaskan dirinya dengan indah dan begitu romantis, menutupi luka dengan sejuta kelembutan, menutupi amarah dan kekecewaan dengan lembut tipu rayuan.

Dan saat bumi ditelan malam, sinar bulan seakan teduh menyinari bumi di kegelapan, tetapi bumi mengacuhkannya karena tidak hangat sinar rembulan hanya dingin yang dirasa bumi walau indah mempesona berkas sinar sang rembulan.

Bumi tenggelam dalam kelam malam yang suram, acuhkan rembulan yang sinarnya tenang, hanya menunggu lagi jatuh cinta pada matahari yang terus menerus meninggalkan nya.

Seperti cinta, bumi tidak bersuka cita pada rembulan, hanya lirik sedih yang tercipta pada gelap nya malam, tak ada semangat dalam terang nya bulan, tak ada hangat. Menganggap kecil yang lain yang ingin mencinta walau tak besar rasa cinta nya, walau tak membakar rasa cinta nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar