Tali kekang kendali arah
Dipecut hanya menambah cepat
Berdarah kadang dibuatnya
Menyiksa saat kekang ditarik
Hanya berjalan lurus ke depan
Tak perduli halang dan rintang
Terus dipacu lompati rintangan
Tak perduli duri belukar
Kekang ditarik bersamaan
Berhenti bukan karena patuh
Tersiksa terasa sebenarnya
Hati melemah walau pikiran memberontak
Kaki dipalu dipasang sepatu
Sebuah besi penguat pijakan
Lumatkan tanah setiap langkah
Derap tinggalkan jejak berbentuk
Pelana berkulit sapi
Diletakkan si kelana di punggung ini
Pelindung genital dan pijakan kaki
Ditendang perut agar cepat larinya
Mata memandang kejauhan
Lihat ujung tak bertepi
Hanya derap langkah kuatkan diri
Terus dipacu, dipecut perih terasa
Empat kaki ini kokoh ku banggakan
Tidak seperti mata, sayu lelah terlihat
Badan penuh luka pecut
Kadang berlari walau lelah tak kenapa
Tujuan tak dicapai
Tapi memutar jalannya bercabang
Banyak mendapat cerita
Saat dipacu dengan nafas menderu
Bermimpi ke tempat yang dituju
Rasakan setiap jengkal tempat itu
Merasakan setiap sudut yang fana
Walau tak pernah sekali kesana
Kekang pun ditarik sangat keras
Terjungkal si kelana
Tersungkur kemudian sirna
Menghilang menjadi bumi
Kini kekang sudah terlepas
Melegakan hidup rasakan bebas
Ku lari sekencang mungkin bisa
Berbelok kemana tanpa di kekang
Hilang mungkin sebuah tujuan
Dan berlari kemana saja
Nantinya ku melangkah pasti
Peraduan terakhir ke sang pencipta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar