Senin, 18 Januari 2016

Syukur

Saat terang datang pagi hari, tumbuhan mulai riang dan kecambah pun mulai bertumbuh jadi tunas.

Teruslah terang ini selamanya kata mereka agar terus tumbuh, agar bisa mereka berbunga dan berbuah.

Kegembiraan mereka tak terbendung sampai sampai tak perduli dengan semut semut yang berjalan di batang dan ranting nya.

Daun daun hijau mulai bergantian di pucuk teratas, beberapa kuncup bunga mulai terlihat bahkan beberapa akan segera bermekaran.

Tetiba mereka merenung, apakah ini akan terjadi terus? Apakah ini karena musim panas? Apakah ini hanya sesaat?

Cemas mereka memikirkan itu semua sampai merontokan beberapa daun yang agak tua.

Beberapa kuncup bunga yang akan berbunga seakan kembali ke kuncup dan enggan bermekaran.

Tak boleh kah kita cemas akan cahaya yang kita dapat ini? Dan seketika pun awan menutupi matahari.

Semua kembali gelap dan sendu, cahaya seakan tidak pernah datang sebelumnya.

Berteriak mereka karena merasa cemas ketika sedang menikmati cahaya, menyesal mereka akan cemas.

Perlahan tunas muda berpikir untuk tidak akan mengulang yang sudah ada.

Ketika mereka nanti akan bertumbuh, maka bersyukur lah yang mereka ucapkan ketika diberi cahaya.

Dan seterusnya mengucap syukur tanpa harus cemas akan hilangnya cahaya ketika mereka sedang menikmatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar