Kamis, 21 Januari 2016

Festival jiwa

Senyum menyungging di pinggir bibir ini, seakan dunia akan meledak penuh dengan warna.

Ramai riuh kepala ini dengan sahutan yang tak kunjung reda sampai sampai dada ini sesak dibuat nya.

Festival dibuka di jiwa ini, banyak yang berkunjung hingga penuh tak bisa bergerak.

Saling berebut menaiki wahana komidi putar, yang hanya berputar tiada hentinya, beberapa tidak mau turun.

Dada ini riuh dengan gemuruh yang seakan akan menyempit karena tidak ada tempat lagi.

Sesak berjejal penuh dengan berbagai kata yang berloncatan dan kembali jatuh karena ramai ramai mereka datang.

Inilah dunia yang lama tak dijumpa dimana semua penuh riuh tiada yang terdiam, semua bersuara saling melempar kata.

Gelora gelora yang ada sedikit demi sedikit mengikis dinding batin, mengikis nya hingga tipis.

Setelah hancur karena dikikis, tumpah ruah semua, masuk ke relung relung jiwa.

Sorak sorai semua, mereka bergembira sampai nanti tidak bisa menuai kata.

Dan perlahan mata ini mengabur untuk menutup selama nya, diawali dengan dikurasnya sungai sendu.

Dibongkar nya bendungan lirih, berhamburan mereka semua bermandi duka.

Air duka yang dinikmati oleh suka cita para penikmat festival, beberapa gajah dari sirkus bahkan meminumnya.

Tubuh ini akan rubuh dengan festival yang berlangsung, karena dua kaki ini dibuatnya terkubur dalam dalam.

Bukan tertanam agar kuat nanti nya tapi dikubur karena rapuh, digerogoti para kuda yang diikat di tulang tulang kaki.

Akhirnya tangan tangan ini hanya bisa memegang dada untuk menahan agar festival ini tidak tumpah keluar.

Yang mungkin seketika bisa meledakan tubuh ini karena sesak tidak bisa disangkal.

Bukannya meledak tapi malah runtuh perlahan, ketika festival berhenti.

Tinggal lah relung relung kosong di tubuh yang fana ini, runtuh perlahan hingga tidak akan lagi ada festival digelar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar