Rabu, 27 Januari 2016

Gerimis mengundang

Derai gerimis menuntun ku untuk menguntai kembali ingatan akan stasiun ini, disaat ku menoleh untuk melihat nya pagi itu.

Sesosok yang kulihat yang sekarang menjadi penghuni pikiran ku, yang tentunya dia bebas keluar masuk seperti layaknya manusia menghuni sebuah rumah.

Tidak ada ingatan akan gerimis diantara kita, keadaan ini lah yang memaksa keluar semua ingatan tentang dia, semuanya.

Sosoknya yang membuat diri ini melakukan hal yang pertama kali ku lakukan di sepanjang ku hidup, yang membentangkan senyum di wajah ini.

Seakan titik titik hujan ini mulai merontok kan atap rumah yang menyimpan semua kenangan, dan menyembul lah semua nya ke udara mengisi kepala ini dengan cuplikan adegan yang pernah terjadi.

Rambutnya, senyumnya, wajahnya hingga tingkah lakunya terbayang jelas. Namun nyatanya mungkin akan jadi sulit untuk melihatnya langsung.

Gerimis ini reda dengan sendiri nya, tapi ingatan tentang nya masih menyala nyala dengan terang nya setelah lepas dari rumah ingatan yang menyimpannya selama ini.

Sepanjang jalan ini akan kunikmati tiap cuplikan nya, dan kupakai senyum yang diberi nya agar dia tersenyum juga disana jika dia merasakan gerimis yang membuatnya mengingat segala hal tentang kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar